Periksa Data

Ketika Indonesia Tidak Kebal COVID-19

Oleh: Irma Garnesia - 26 Februari 2020
Dibaca Normal 2 menit
Hingga 19 Februari 2020, Virus Corona telah menyebar ke 30 wilayah di seluruh dunia.
tirto.id - Pemerintah mengonfirmasi telah ada empat WNI yang menderita COVID-19 per 19 Februari 2020, tiga WNI di Jepang dan satu di Singapura. Tiga WNI di Jepang merupakan awak kapal pesiar Diamond Princess yang dikarantina di perairan Yokohama, Jepang.

"Berdasarkan komunikasi terakhir termasuk pembicaraan dengan duta besar Jepang, maka diperoleh info bahwa 3 dari 78 kru WNI dinyatakan confirmed (terjangkit virus corona)," kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di Jakarta, Selasa (18/2/2020).

Dua WNI yang dinyatakan positif terjangkit virus corona telah dibawa ke rumah sakit di Kota Chiba, sementara satu WNI sedang menjalani proses menuju rumah sakit. Kapal Diamond Princess sendiri dikarantina di pantai Yokohama sejak 5 Februari 2020 akibat infeksi COVID-19. Kapal itu membawa 3.714 orang yang terdiri dari 2.666 penumpang dan 1.045 kru dari 56 negara.

Di Singapura, seorang WNI yang dirawat karena terinfeksi COVID-19 telah sembuh. Hal itu disampaikan KBRI Singapura dalam siaran pers yang diterima di Batam. "Pada tanggal 18 Februari 2020, Kementerian Kesehatan Singapura menyampaikan bahwa WNI yang dinyatakan sebagai kasus ke-21 positif COVID-19 di Singapura, telah dinyatakan sembuh dan negatif COVID-19 serta telah dipulangkan dari rumah sakit."


Kendati letaknya cukup dekat dengan Cina, Indonesia dan juga Kamboja masuk dalam wilayah dengan jumlah penderita COVID-19 yang sangat kecil. Kamboja baru melaporkan satu kasus hingga 19 Februari 2020. Seluruh warga Indonesia yang dievakuasi dari Wuhan pada 30 Januari lalu, sementara itu, dikonfirmasi tidak terjangkit COVID-19.

Hal tersebut dikonfirmasi Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto pada 15 Februari lalu. Ia menyatakan kalau 238 WNI dari Wuhan yang telah melalui masa karantina selama 14 hari dikonfirmasi sehat dan bisa menjalankan aktifitasnya dengan normal tanpa perlu menjalani pemantauan atau karantina tambahan.

Minimnya kasus Corona yang ditemukan membuat sejumlah warganet 'berkelakar' bahwa Indonesia seolah kebal dari virus ini, seperti akun Twitter @vibebyst dan @AmmarGill. Beberapa bahkan menggambarkan bahwa Virus Corona jauh lebih inferior dibanding beberapa virus lain.

Banyak hipotesis yang menerangkan mengapa COVID-19 belum terdeteksi di Indonesia, termasuk bagi WNI di Wuhan, Cina. Perwakilan dari World Health Organisation (WHO) di Indonesia, Dr. Navaratnasamy Paranietharan, misalnya, menduga kalau ke-238 WNI itu memang tidak berinteraksi sama sekali dengan warga Wuhan yang mengidap Corona.


"Periode inkubasi 1-14 hari berdasarkan panduan dari kami. Kita belum menemukan buktinya. Tapi jika seseorang tidak menunjukan gejala apa-apa selama 14 hari, berarti tidak ada alasan untuk mengkhawatirkan itu,” ucap Ranie.

Ranie mengatakan, belum ada data yang menjelaskan mengapa WNI dari Wuhan tidak terpapar virus Corona meski di negara lain warganya sudah ada yang terjangkit.

Di sisi lain, laporan yang dirilis oleh We-jie Guan,dkk berjudul “Clinical characteristics of 2019 novel coronavirus infection in China” menyarankan masa inkubasi yang lebih lama, yakni 24 hari. Menurutnya, seseorang bisa menunjukkan gejala terpapar Corona paling tidak dalam 24 hari. Nanshan meneliti 1.099 kasus Virus Corona dari 522 rumah sakit yang terletak di 31 provinsi di Cina. Hanya saja, laporan ini, seperti banyak laporan dini terkait Virus Corona, belum melalui proses peer-review.

Namun, seperti halnya Paranietharan, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dari Departemen Kesehatan Amerika Serikat meyakini masa inkubasi selama 14 hari sudah cukup.

Jika WNI dari Wuhan bisa tidak terpapar virus karena tidak melakukan kontak dengan warga Wuhan pengidap Corona, maka penyebaran COVID-19 di kapal pesiar Diamond Princess dapat terjadi karena berada di lingkungan tertutup. Menurut CDC, orang-orang di kapal pesiar punya risiko tinggi menyentuh permukaan yang terkontaminasi. Kemudian, lamanya durasi penumpang bepergian di kapal, risiko terinfeksi juga lebih tinggi dibanding bentuk transportasi lain seperti pesawat atau kereta api.


Sementara itu, sejumlah peneliti dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, Harvard University memaparkan bahwa terdapat korelasi positif antara jumlah penumpang yang melakukan perjalanan udara dari Wuhan terhadap meningkatnya kasus Virus Corona di negara lain. Negara-negara yang memiliki penerbangan langsung dari Wuhan dengan kasus Virus Corona dengan penghitungan kurang dari 95 persen interval prediksi (PI) mengindikasikan kemungkinan adanya potensi kasus Virus Corona yang belum terdeteksi, termasuk pada Indonesia dan Kamboja.

Paranietharan mengatakan Kementerian Kesehatan sudah cukup baik dalam melakukan pencegahan termasuk di antaranya dengan deteksi dini suhu tubuh di tiap batas-batas internasional dan persiapan di sejumlah rumah sakit. "Namun, Indonesia tetap butuh memperluas area pengawasan,” ujar Paranietharan, seperti dikutip Sydney Morning Herald.

Menanggapi hasil penelitian dari Harvard, Menkes Terawan menyayangkan adanya anggapan ketidakmampuan suatu negara dalam menangani kasus tersebut. Namun, ia tidak membantah hasil studi peneliti Harvard University AS terkait keberadaan Virus Corona di Indonesia.

"Kalau ada orang lain mau melakukan survei, riset dan dugaan, ya silakan saja; tapi janganlah mendiskreditkan suatu negara. Itu namanya menghina itu,” kata Terawan usai rapat koordinasi Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) di Gedung Grand Kebon Sirih Jakarta, Selasa (11/2/2020).

Hingga 19 Februari 2020, Virus Corona telah menyebar ke 30 wilayah di seluruh dunia. Total terdapat 75.282 kasus yang terjadi dalam satu bulan terakhir dan menyebabkan kematian 2.012 orang.


Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight