Menuju konten utama

Ketahui Kesalahan Saat Isolasi Mandiri di Rumah & Cara Mengatasinya

Isolasi mandiri dilakukan dengan memisahkan yang sakit agar tidak menjadi sumber penularan.

Ketahui Kesalahan Saat Isolasi Mandiri di Rumah & Cara Mengatasinya
Ilustrasi Isolasi Mandiri. foto/istockphoto

tirto.id - Isolasi mandiri wajib dilakukan bagi mereka yang positif terinfeksi COVID-19 tetapi tak menunjukkan gejala selama 14 hari. Isolasi mandiri juga sebaiknya dilakukan bagi mereka yang tanpa sengaja berinteraksi dengan seseorang yang positif COVID-19.

Isolasi mandiri bertujuan untuk mencegah semakin meluasnya penularan virus Corona jenis baru, COVID-19. Namun sayangnya saat menjalani protokol isolasi mandiri terdapat beberapa keselahan yang sering kali tanpa sengaja atau tanpa disadari dilakukan seseorang.

Ketua Umum Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (PERSAKMI) sekaligus epidemiolog Universitas Hasanuddin, Prof. Ridwan Amiruddin menyebut, sejumlah kesalahan yang disadari atau tidak saat orang dengan COVID-19 melakukan isolasi mandiri menjadi penyebab munculnya klaster keluarga dan transmisi di komunitas.

Ridwan Amiruddin mengatakan, seiring bertambahnya kasus COVID-19 beberapa waktu terakhir, proporsi orang yang melakukan isolasi mandiri menjadi sekitar 35-40 persen.

"Ada beberapa kebocoran memang diisolasi mandiri sehingga terbentuk kluster keluarga, transmisi di komunitas, pergerakan populasi di tempat-tempat umum sebenarnya menjadi pemicu kasus naik," kata Ridwan, dikutip dari Antara News.

Isolasi mandiri dilakukan dengan memisahkan yang sakit agar tidak menjadi sumber penularan.

Selama isolasi mandiri, pasien perlu berada di dalam rumah atau ruangan selama 14 hari, tetapi harus memeriksakan diri ke klinik atau rumah sakit jika gejala memburuk.

Tetapi pada kenyataannya, pasien positif COVID-19 masih keliru mengenai hal tersebut, salah satunya tidak berdiam di rumah atau ruangan selama 14 hari.

Pasien positif COVID-19 yang melakukan isolasi mandiri di rumah tetap berinteraksi sosial secara langsung dengan anggota keluarga lain sehingga dia menjadi sumber penularan bagi keluarganya atau tetangga.

"Semakin tinggi tingkat pertemuan seperti makan bersama maka tingkat penularan makin tinggi. Apabila mobilitas penduduk naik satu persen maka kasus COVID-19 bisa naik 8-15 persen", kata Ridwan menambahkan.

Sehingga, pasien positif COVID-19 tanpa gejala atau OTG yang menjalani isolasi mandiri di rumah sebisa mungkin menghindari sentuhan dengan anggota keluarga lainnya guna menghindari penularan.

Dokter Spesialis Paru-paru RS Siloam ASRI Jakarta Maydie Esfandiari mengatakan, terdapat lima hal penting yang perlu diperhatikan bagi pasien OTG sebagaimana dikutip dari Satgas COVID-19:

  1. Pantau suhu tubuh dua kali sehari guna memastikan stabil. Jika suhunya terus naik, maka segera periksakan ke rumah sakit terdekat.
  2. Pasien harus berada di dalam kamar dan tidak keluar guna menghindari penularan ke anggota keluarga lainnya. Bagi anggota keluarga, harus menggunakan masker.
  3. Fasilitas kamar yang ditempati pasien diusahakan terdapat ventilasi agar sirkulasi udara berjalan normal.
  4. Usahakan peralatan makan seperti piring, gelas, sendok, dan garpu tersendiri atau tidak campur dengan anggota keluarga lainnya. Begitu juga dengan pakaian yang dikenakannya dipisahkan, serta direndam menggunakan air panas dan deterjen.
  5. Keluarga terdekat harus menjalani rapid test dan jika statusnya pekerja maka wajib segera menginformasikan ke kantornya agar segera melakukan tracing dan penyemprotan desinfektan di lingkungan tempat kerja.
Selain itu, RSUD RAJA AHMAD TABIB juga membagikan tips aman melakukan isolasi mandiri di rumah jika ada anggota keluarga yang tertular COVID-19, yaitu,

  1. Tempatkan pasien di dalam ruangan tersendiri yang memiliki ventilasi yang baik (memiliki pintu dan jendela terbuka).
  2. Batasi pergerakan pasien dan meminimalkan berbagi ruangan yang sama dengan pasien. Jika ada ruangan yang digunakan bersama (seperti dapur, kamar mandi) pastikan memiliki ventilasi yang baik.
  3. Anggota keluarga lain tidur di kamar berbeda dan jika tidak memungkinkan, maka jaga jarak minimal 1 (satu) meter dari pasien dan tidur di kasur yang berbeda dengan pasien.
  4. Batasi jumlah yang merawat, idealnya 1 (satu) orang dan pastikan orang tersebut dalam keadaan sehat.
  5. Segera bersihkan tangan dengan sabun dan air atau pembersih yang berbahan dasar alkohol ketika setelah kontak dengan pasien atau lingkungan, sebelum, selama dan setelah menyiapkan makanan, sebelum makan dan setelah menggunakan toilet.
  6. Pasien dan orang yang memberikan perawatan menggunakan masker bedah ketika berada di ruangan yang sama, jangan menyentuh masker selama digunakan dan membuang setelah digunakan kemudian segera cuci tangan.
  7. Gunakan sarung tangan dan masker bedah jika harus memberikan perawatan mulut atau saluran nafas dan ketika kontak dengan darah, tinja, air kencing atau cairan tubuh lainnya seperti ludah, dahak, muntah dan lain-lain kemudian segera cuci tangan.
  8. Pisahkan alat makan untuk pasien (cuci dengan sabun dan air hangat setelah dipakai agar dapat digunakan kembali).
  9. Bersihkan permukaan yang sering disentuh pasien termasuk toilet dan kamar mandi secara teratur menggunakan sabun atau deterjen rumah tangga kemudian larutkan NaOCl 0,5% (setara dengan 1 bagian larutan pemutih dan 9 bagian air).
  10. Gunakan handuk, dan sprei khusus untuk pasien dan cuci menggunakan sabun cuci rumah tangga dan air atau menggunakan mesin cuci dengan suhu air 60-90 derajat celcius dengan detergen dan dikeringkan, tempatkan pada tempat khusus. Gunakan sarung tangan saat mencuci dan selalu cuci tangan sebelum dan setelah menggunakan sarung tangan.
  11. Sarung tangan, masker dan bahan-bahan sisa lain selama perawatan harus dibuang di tempat sampah di dalam ruangan pasien yang kemudian ditutup rapat sebelum dibuang sebagai kotoran infeksius. Hindari kontak dengan barang-barang terkontaminasi lainnya seperti sikat gigi, alat makan-minum, handuk, pakaian dan sprei.
  12. Ketika petugas kesehatan datang kerumah, maka selalu perhatikan Alat Pelindung Diri (APD).

Baca juga artikel terkait ISOLASI MANDIRI atau tulisan lainnya dari Septiany Amanda

tirto.id - Kesehatan
Kontributor: Septiany Amanda
Penulis: Septiany Amanda
Editor: Nur Hidayah Perwitasari