Keraton: Wisatawan Pakai Kamera Pro di Taman Sari Bayar Rp250 Ribu

Reporter: Irfan Amin - 15 Mar 2022 08:41 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Keraton mengklaim petugas wisata Taman Sari sudah mengingatkan kepada fotografer mengenai aturan penggunaan kamera.
tirto.id - Penghageng Kawedanan Hageng Punokawan (KHP) Nitya Budaya Keraton Yogyakarta, GKR Bendara menegaskan wisatawan yang mengambil gambar di area wisata Taman Sari menggunakan kamera profesional dikenakan biaya tambahan.

Hal itu GKR Bendara sampaikan merespons curhatan wisatawan yang keberatan dipungut biaya lantaran mengambil gambar di Taman Sari dengan kamera DSLR.

"Sudah ada tertera di situ apabila menggunakan kamera profesional untuk foto sesi ada biaya tertentu dikarenakan lokasi ini 'spesial case' dan ada wisata lain yang menggunakan ketentuan sama," kata GKR Bendara saat konferensi pers melalui zoom pada Senin (14/3/2022).

Biaya yang dikenakan dalam setiap sesi foto adalah Rp250 ribu dan akan mendapat pendampingan dari petugas di area wisata Taman Sari.

"Bila ada foto sesi dari edukator atau pengelola akan mendampingi karena tidak sembarang tempat bisa dilakukan perfotoan," kata GKR Bendara,

Dia mengklaim bahwa petugas wisata Taman Sari sudah mengingatkan kepada fotografer mengenai aturan penggunaan kamera.

"Itu sudah menjadi SOP bagi Taman Sari dan di luar sudah tertera bahwa di halaman depan, kamera profesional harus membayar, meski bukan kepentingan komersial," terangnya.

GKR Bendara membuka ruang untuk diskusi dengan yang menyampaikan keberayan di media sosial.

"Kalau ada yang sakit hati kami siap bertemu. Kalau ada kesalahan atau ketidakjelasan nanti bisa dilihat dari sisi mana. Adapun jika ada keluhan dari masyarakat bisa langsung menyampaikan melalui DM (Direct Message) melalui instagram @Kratonjogja," kata dia.

Atas kejadian ini, Keraton Yogyakarta akan mengevaluasi kebijakan perizinan perfotoan di area Taman Sari.

"Namun untuk saat ini masih mengacu pada kebijakan yang lama, yaitu melihat dari standar alat yang dibawa," ungkapnya.

GKR Bendara menambahkan bagi pihak yang ingin mengambuk gambar dan video di Taman Sari diharapkan untuk mengajukan izin secara tertulis kepada Panitropuro.

"Tentu kami tidak membatasi masyarakat yang ingin berfoto dan langsung datang juga silahkan. Namun untuk skala besar hingga membutuhkan penutupan area wisata selama beberapa waktu harus menggunakan izin. Atau mungkin ingin menerbangkan drone harus diperhatikan bagian mana yang diperkenankan atau tidak," imbuhnya.

GKR Bendara mengatakan peraturan ini dibuat sebagai bentuk perawatan Taman Sari yang merupakan salah satu sumbu filosofi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Tentunya ini dilakukan sebagai bentuk penjagaan salah satu produk budaya dan kawasan sejarah sumbu filosofi Yogyakarta," terangnya.

Unggahan dari akun Twitter @Merapi_Uncover ramai menjadi perbincangan publik. Dalam cuitan tersebut, seorang wisatawan mengaku dimintai biaya saat mengambil gambar menggunakan kamera dan lensa. Dirinya berkilah bahwa kegiatan yang dilakukan bukanlah bagian dari sesi foto.

"Nah mereka menstop saya untuk membayar tarif foto session karena ngeliat gear saya yang sekelas fotografer bukan orang biasa. mereka nanya masnya sebagai fotografer pasti tau kan perbedaan foto sesion sama perjalanan domestik. Yaudah tak jelasin panjang lebar, tapi tetep nyuruh saya keluar nek mau lanjut silahkan bayar tarif foto session."

"Nahh saya tanya lagi, trus alasannya apa pak kalau foto dengan kamera pro?? wong fotone yo gak mau saya jual belikan dan ini juga cuma sekadar foto keluarga daripada pake hp makanya ngajak saya. Kecuali nak emang ini foto produk, foto prewed atau untuk kepentingan penjualan dan diset sedemikian rupa yang mungkin mengganggu wisatawan lain dalam berkunjung."

"Mereka ga bisa jawab bersikukuh nyuruh saya keluar. Bahkan kamera saya mau saya kasihkan ke mereka tak suruh mengamankan dan saya mau lanjut foto pake hape juga gak diizinkan tetap harus suruh bayar dulu tarif foto session dengan embel-embel saya fotografer bukan orang wisata biasa," tulis akun @Merapi_Uncover.


Baca juga artikel terkait TAMAN SARI atau tulisan menarik lainnya Irfan Amin
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Irfan Amin
Penulis: Irfan Amin
Editor: Gilang Ramadhan

DarkLight