tirto.id - Kendati armada perang Amerika Serikat (AS) di Teluk Persia telah dikerahkan pada taraf yang masif, keputusan Presiden AS Donald Trump terkait Iran masih diliputi kabut. Perundingan nuklir tahap ketiga pada Kamis (26/2/2026) disebut bakal jadi penentunya.
Dua kapal induk AS dilaporkan telah berlabuh di kawasan Teluk dekat perairan Iran. Pesawat tempur andalan AS, F-22, juga dilaporkan telah mendarat di Israel untuk jadi bagian dari armada perang AS di Teluk. Namun, Trump sejauh ini masih bungkam tentang keputusannya untuk menyerang Iran.
Menukil BBC, Trump kini lebih banyak bicara tentang situasi dalam negeri AS. Di tengah persiapan pemilihan paruh waktu DPR AS, Trump lebih kerap membuat pernyataan publik terkait kebijakan imigrasi dan situasi ekonomi.
Trump tetap pada pernyataannya bahwa ia belum memutuskan apakah AS akan menyerang Iran atau tidak. Trump terus menyampaikan pernyataan itu sepanjang Februari, menyebut bahwa ia mengedepankan perundingan dengan batas waktu namun tak menutup kemungkinan serangan militer yang mematikan.
Banyak pihak menilai bahwa keputusan Trump atas serangan ke Iran mungkin akan diputuskan berdasarkan hasil perundingan Washington dan Teheran di Jenewa, Swiss pada Kamis. Hal ini juga disampaikan sumber anonim BBC yang disebut sebagai seorang diplomat yang diberi pengarahan oleh AS.
"Jika Presiden Trump tidak menerima—melalui utusannya—jawaban yang dapat diterima dari Teheran, kemungkinan besar ia akan segera memerintahkan beberapa bentuk tindakan militer setelahnya," kata diplomat itu.
Sementara itu, perundingan putaran ketiga pada Kamis itu akan jadi waktu bagi Teheran untuk memberikan proposal perjanjian terkait nuklir. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sempat menyebut bahwa ia optimis proposal yang disiapkan pihaknya dapat menengahi kekhawatiran kedua pihak.
Apa Proposal Iran dalam Perundingan Nuklir Ketiga?
Menukil Iran International, proposal yang dibuat Teheran dalam perundingan nuklir pada Kamis disebut berisi pengurangan jumlah pengayaan uranium secara drastis. Iran disebut siap untuk menurunkan kemurnian uranium dari 60 persen jadi sekitar 3,6 persen.
Dalam keterangannya untuk kantor berita Israel, KAN, seorang diplomat Arab juga menyebut bahwa Iran bersedia untuk menangguhkan pengayaan kemurnian uranium selama tujuh tahun.
Penurunan tingkat kemurnian uranium merupakan salah satu isu utama dalam perundingan AS-Iran terkait program nuklir.
Tingkat kemurnian 60 persen memang tak memenuhi ambang batas weapon-grade uranium yang berlaku. Namun, tingkat kemurnian itu membuat uranium Iran menjadikannya berpotensi untuk dijadikan senjata nuklir.
Akan tetapi, meskipun penurunan tingkat pengayaan uranium dari 60 persen jadi 3,6 persen tergolong drastis dan menguntungkan bagi AS, sejumlah isu turunannya disebut masih akan jadi kendala dalam perundingan.
Kendala itu termasuk pada mekanisme penurunan kadar kemurnian uranium Iran. AS menuntut agar uranium dengan tingkat kemurnian 60 persen yang kini ada untuk dikeluarkan dari Iran.
Tuntutan AS itu masih berseberangan dengan Iran yang ingin agar proses penurunan kemurnian uranium harus dilakukan di dalam Iran.
Selain mekanisme pemrosesan uranium yang telah diperkaya, perundingan juga disebut akan jadi tawar menawar tentang durasi larangan aktivitas pengayaan uranium. Iran menyanggupi penangguhan tujuh tahun, sementara AS mendesak agar penangguhan dilakukan setidaknya sepuluh tahun.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































