tirto.id - Setidaknya 12 pesawat tempur F-22 milik Amerika Serikat (AS) telah mendarat di Israel. Meskipun tak disebutkan tujuan pengerahan pesawat tempur itu, namun hal ini terjadi di tengah potensi pecah peperangan antara Iran dan AS.
Dinukil dari ABC News, selusin pesawat tempur taktis siluman itu bertolak ke Israel dari pangkalan Lakenheath Inggris pada Selasa (24/2/2026) pagi.
Pesawat F-22 ini disebut terbang dengan transponder yang dinonaktifkan. Namun, rombongan pesawat itu itu dilaporkan mengudara bersama pesawat tanker pengisi bahan bakar dengan transponder yang aktif.
Kantor berita Israel, KAN, melaporkan bahwa rombongan pesawat AS itu mendarat di salah satu pangkalan Angkatan Udara di Israel bagian selatan pada Selasa siang.
Meski keberadaan pesawat F-22 siluman milik AS belum diketahui, namun media Israel, Ynet News, melaporkan bahwa pesawat pengisi bahan bakar militer AS tampak mendarat di Bandara Ben Gurion pada Senin (23/2), sehari sebelum pengerahan F-22.
Puluhan Jet Tempur AS Menuju Timur Tengah
Selusin pesawat F-22 yang dikerahkan AS ke Israel itu disebut jadi bagian dari pengerahan armada perang AS di kawasan Teluk. Kini, puluhan jet tempur AS telah dikerahkan ke Teluk.
Seturut Times of Israel, puluhan jet tempur AS itu termasuk F-35, F-22, F-15, dan F-16. Pesawat F-22 dilaporkan telah mendarat di Israel sementara sebagian yang lain dilaporkan akan menyusul.
Pesawat F-22 selama ini dikenal sebagai salah satu jet tempur paling mematikan dan hanya dimiliki oleh Angkatan Udara AS. Hal itu membuat pengerahan F-22 dalam operasi militer AS jarang terjadi.
Sementara itu, F-22 dilaporkan tak terbang ke Israel untuk melakukan latihan bersama, melainkan kegiatan operasional tersendiri. Hal ini merupakan langkah yang jarang diambil oleh militer AS sejak jet tempur siluman itu mulai beroperasi pada 2005 silam.
Selain jet tempur, AS juga telah mengerahkan dua kapal induk ke kawasan Teluk dekat perairan Iran. Ketegangan antara Iran dan AS masih terus memuncak jelang perundingan putaran ketiga yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa, Swiss pada Kamis (26/2/2026).
Ketegangan antara Washington dan Teheran kali ini dipicu oleh kepentingan AS untuk menghentikan program nuklir Iran. Dalam banyak pernyataan publiknya, Presiden AS Donald Trump terus mengancam akan menyerang Iran jika Teheran tak mau menghentikan pengayaan uranium.
Di sisi lain, Teheran terus bersikeras bahwa program nuklir yang tengah dijalankan Iran adalah hak negara tersebut. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga berulang kali mengeklaim bahwa program nuklir milik Iran hanya akan ditujukan untuk kepentingan sipil komersial.
Hasil perundingan pada Kamis nanti disebut banyak pihak akan jadi salah satu penentu apakah serangan AS ke Iran akan betulan terjadi atau tidak.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id




























