Menuju konten utama

Kemensos Salurkan Santunan bagi Ahli Waris Korban Gempa di NTT

Gempa M7,7 di NTT menewaskan 51 orang dan membuat 5.659 warga mengungsi. Kemensos bergerak menyalurkan santunan dan bantuan kebutuhan dasar.

Kemensos Salurkan Santunan bagi Ahli Waris Korban Gempa di NTT
Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menyerahkan santunan kepada ahli waris korban meninggal dunia akibat gempa bumi di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Penyerahan dilakukan di Posko Utama Bencana Kabupaten Manggarai, Minggu (16/8/2026). (FOTO/dok.Kemensos)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Agus Jabo Priyono selaku Wakil Menteri Sosial menyerahkan santunan kepada ahli waris korban meninggal dunia akibat gempa bumi di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Penyerahan dilakukan di Posko Utama Bencana Kabupaten Manggarai, Minggu (16/8/2026).

Untuk sementara, santunan diberikan kepada dua ahli waris atas nama Antonius dan Aprilianus, masing-masing sebesar Rp15 juta atau total Rp30 juta.

“Ini merupakan bentuk kehadiran dan perhatian negara kepada keluarga yang ditinggalkan. Tentu santunan tidak dapat menggantikan kehilangan orang yang kita cintai, tetapi kami berharap bisa sedikit meringankan beban keluarga,” kata Agus Jabo.

Menurutnya, Kementerian Sosial akan terus memberikan santunan kepada ahli waris korban meninggal dunia lainnya setelah proses pendataan, verifikasi, dan validasi selesai dilakukan.

“Pendataan masih berjalan. Setiap korban meninggal dunia yang datanya telah terverifikasi akan kami tindaklanjuti pemberian santunannya. Kami ingin prosesnya cepat, tetapi tetap harus akurat dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Wamenson juga menyerahkan bantuan logistik kedaruratan berupa kids ware, family kit, pakaian, kasur, dan selimut. Kemensos juga menyerahkan 1.000 paket sembako untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak.

Menurut Agus Jabo, pemerintah terus memastikan kebutuhan dasar warga, terutama mereka yang masih berada di pengungsian, agar dapat terpenuhi.

“Yang paling penting sekarang adalah keselamatan warga dan pemenuhan kebutuhan dasar. Dapur umum, tempat pengungsian, makanan, pakaian, selimut, serta kebutuhan anak-anak harus tersedia. Kami bekerja bersama pemerintah daerah, Tagana (Taruna Siaga Bencana), TNI-Polri dan seluruh unsur yang ada di lapangan,” katanya.

Hingga Minggu (16/8/2026) pukul 19.21 WITA, berdasarkan data penanganan bencana, gempa bumi yang terjadi pada Sabtu (15/8) telah berdampak terhadap 1.528 kepala keluarga. Sebanyak 5.659 jiwa mengungsi, 51 orang meninggal dunia, dan 137 orang mengalami luka-luka.

Wilayah terdampak meliputi Kabupaten Nagekeo, Sikka, Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ngada dan Ende di NTT. Dampak juga tercatat di Kota dan Kabupaten Bima, NTB, serta Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.

Kerusakan sementara mencakup 1.543 rumah rusak berat, 328 rumah rusak sedang dan 532 rumah rusak ringan. Selain itu, sebanyak 94 fasilitas pendidikan, 211 fasilitas kesehatan, 42 fasilitas umum, 50 rumah ibadah, serta 76 gedung perkantoran dilaporkan mengalami kerusakan.

Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 tersebut berpusat di laut sekitar 30–38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer. Pascagempa utama, sejumlah gempa susulan masih terjadi dan terus dipantau.

Kementerian Sosial telah menggerakkan bantuan logistik dari Sentra Efata Kupang, Gudang Dinas Sosial Provinsi NTT, serta Gudang Pusat Bekasi dengan total nilai dukungan sekitar Rp4,518 miliar.

Bantuan yang dikirim antara lain tenda keluarga dan tenda serbaguna, velbed, kasur, selimut, family kit, kids ware, makanan siap saji, makanan anak, sandang dewasa dan anak, perlengkapan ibadah, shower kit hingga perangkat dapur umum lapangan. Kemensos juga menyalurkan 48 ton beras reguler untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat terdampak.

Dapur umum lapangan Kemensos telah diaktifkan di tiga wilayah terdampak, yakni Kabupaten Sikka, Kabupaten Manggarai, dan Kabupaten Nagekeo. Tagana bersama tim Perlindungan Sosial Korban Bencana juga terus melakukan asesmen, pendataan serta verifikasi dan validasi korban.

“Seluruh sumber daya yang kami miliki kami gerakkan. Kita ingin memastikan masyarakat tidak merasa sendiri menghadapi musibah ini. Negara harus hadir sejak masa tanggap darurat sampai masyarakat dapat kembali pulih,” ujar Agus Jabo.

Sementara itu, proses penyaluran bantuan masih menghadapi kendala, antara lain cuaca buruk yang menyebabkan penutupan sementara penyeberangan kapal feri dari Kupang, serta gangguan jaringan listrik dan komunikasi di sejumlah wilayah terdampak.

Kemensos terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, BNPB, Basarnas, BPBD, TNI, Polri, Tagana dan unsur terkait lainnya untuk mempercepat penanganan korban serta distribusi bantuan ke seluruh wilayah terdampak.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis