tirto.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun ini lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Dante Saksono Harbuwono, mengatakan, terdapat sekitar 13.500 kasus ISPA yang tercatat secara kumulatif sejak Juli hingga Agustus 2026. Sebagian pasien telah sembuh setelah mendapatkan penanganan dari pemerintah.
Selain itu, menurut Dante, hingga 27 Agustus 2026, terdapat 4.082 orang yang masih mengalami ISPA akibat dampak dari karhutla di Kalimantan dan Sumatra.
“Total kumulatif dari bulan Juli sampai bulan Agustus [2026] sudah 13.500 orang yang kena ISPA, sebagian sudah sembuh dengan penanganan yang kita lakukan, tapi di hari kemarin itu ada 4.082 yang masih [menderita] ISPA,” ujar Dante dalam konferensi pers di kantor Kemenkes, Jakarta, Jumat (28/8/2026).
Dante mengatakan, berdasarkan data yang dimiliki Kemenkes, jumlah kasus ISPA pada tahun ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Jadi kalau teman-teman bisa lihat di grafik, yang ISPA tahun ini lebih banyak daripada yang ISPA tahun kemarin,” katanya.
Menurut Dante, karhutla merupakan bencana yang berulang di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi tersebut turut berdampak terhadap jumlah kasus gangguan pernapasan yang dialami masyarakat.
Ia menegaskan, naiknya angka penderita ISPA pada tahun ini bukan terjadi karena keterlambatan penanganan, melainkan karena dampak kesehatan dari karhutla yang memang mengalami peningkatan.
Udara Pontianak Masih Berbahaya
Dante mengatakan, Kemenkes juga terus memantau kualitas udara di wilayah yang terdampak karhutla. Berdasarkan data yang diperbarui pada 27 Agustus 2026 pukul 16.25, sejumlah daerah masih mengalami kualitas udara yang tidak sehat.
Menurut Dante, wilayah yang masih berada dalam kategori berbahaya berada di Pontianak, Kalimantan Barat. Kondisi tersebut ditandai dengan kadar PM2,5 yang lebih dari 300.
“Yang masih berbahaya statusnya itu ada di Pontianak, Kalimantan Barat. Kalau berbahaya itu kadarnya lebih dari 300 untuk PM 2,5 partikel yang molekuler yang ukuran kecil dan berbahaya itu di Pontianak,” jelasnya.
Selain Pontianak, Dante menyebut sejumlah daerah di Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat juga masih berada dalam kondisi sangat tidak sehat.
Secara keseluruhan, Kemenkes mencatat saat ini terdapat 25 kabupaten/kota yang memiliki kualitas udara tidak baik akibat karhutla.
“Total ada 25 kabupaten/kota yang status udaranya tidak baik di seluruh Indonesia akibat bencana tersebut,” kata Dante.
Karhutla Bisa Picu Asma hingga Gangguan Kardiovaskular
Dante menerangkan, pencemaran udara akibat karhutla dapat menyebabkan sejumlah gangguan kesehatan, beberapa di antaranya adalah ISPA maupun asma.
Menurut Dante, paparan partikel PM2,5 dapat memicu peradangan pada saluran pernapasan. Kondisi tersebut dapat berbahaya bagi orang yang memiliki kecenderungan mengalami asma.
“Partikel PM 2,5 itu bisa menimbulkan stimulasi inflamasi atau peradangan di dalam saluran pernapasan. Untuk mereka yang sudah berbakat asma, ini dapat mencetuskan asma,” katanya.
Dante mengatakan, serangan asma yang berat dapat menyebabkan kegagalan pernapasan. Dalam kondisi yang berlangsung berulang, gangguan tersebut juga dapat berkembang menjadi penyakit paru obstruktif kronik atau PPOK.
Paparan polusi udara juga menjadi perhatian terhadap kesehatan anak. Dante menyebut paparan tersebut dapat mengganggu proses pematangan paru pada anak, terutama bayi dan balita.
“Yang lainnya adalah gangguan pematangan paru pada anak. Ini terutama pada anak-anak balita yang baru lahir, pematangan parunya belum lengkap, kalau dia terdampak pada ini pematangan parunya terhambat sehingga menyebabkan kelainan dan bisa menyebabkan kegagalan napas,” tuturnya.
Selain gangguan pada sistem pernapasan, Kemenkes juga menemukan adanya gangguan pada mata dan kulit di sejumlah wilayah terdampak.
Dante memaparkan, dampak paparan PM2,5 juga tidak hanya terjadi pada sistem pernapasan. Partikel tersebut dapat memengaruhi sistem inflamasi pada pembuluh darah sehingga meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, terutama pada kelompok rentan seperti lansia.
“Kelompok rentannya yang harus dievaluasi adalah anak, lansia, ibu hamil, penderita asma, dan pekerja luar ruangan,” ucapnya.
Kemenkes Kirim 18 Ribu Lebih Dokter
Dante memastikan Kemenkes telah menyiapkan sejumlah strategi untuk mengendalikan dampak kesehatan akibat karhutla. Salah satunya melalui edukasi kepada masyarakat dan pengurangan risiko kesehatan.
Masyarakat di wilayah yang kualitas udaranya buruk diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker.
Selain edukasi, Kemenkes turut melakukan pemantauan terhadap perkembangan penyakit melalui koordinasi dengan dinas kesehatan di daerah terdampak.
“Penyakit [akibat karhutla] terus kita pantau, kita terus melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat,” ujarnya.
Kemenkes juga melakukan surveilans untuk menemukan dampak kesehatan yang terjadi secara berkala.
Menurut Dante, sistem surveilans tersebut memungkinkan pemerintah memantau jumlah masyarakat yang mengalami ISPA sekaligus melihat perkembangan kondisi mereka.
“Jadi kita ketemu tadi ada 13.000 yang kena dari dua bulan ini, sudah mulai sembuh, 4.000 masih ada, itu karena sistem surveilans kita tuh sudah berjalan,” katanya.
Kemenkes juga menyiapkan pos pelayanan kesehatan, rumah sakit rujukan, serta laboratorium kesehatan masyarakat di wilayah terdampak.
Adapun dokter yang dikirim ke wilayah terdampak karhutla mencapai 18 ribu lebih, dengan rincian dokter umum, dokter paru, dokter THT, dokter mata, sampai dokter kulit.
“Menyiapkan pos pelayanan kesehatan, menyiapkan rumah sakit rujukan, menyiapkan laboratorium kesehatan masyarakat, SDM kesehatan juga kita kerahkan, ada 18.000 dokter umum, dokter paru ada 189, dokter THT ada 238, dokter mata ada 280, dokter kulit ada 212,” urainya.
Penulis: Naufal Majid
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id

































