Kekecewaan Ibnu Hadjar, Sang Pemberontak

Oleh: Petrik Matanasi - 1 Juni 2017
Dibaca Normal 3 menit
Kisah tentang Ibnu Hadjar yang dikenal sebagai pemberontak di Kalimantan Selatan.
tirto.id - Nama Ibnu Hadjar tak bisa dilepaskan dari organisasi bernama Kesatuan Rakjat jang Tertindas (KrjT) yang eksis sejak awal 1950. Organisasi ini menghimpun bekas gerilyawan alias pejuang kemerdekaan Republik yang melawan tentara Belanda di sekitar kabupaten Hulu Sungai. Setelah pengembalian kedaulatan karena Konferensi Meja Bundar di Den Haag (1949) membuat mereka kecewa terhadap pemerintah.

Setelah 1950, Ibnu Hadjar yang buta huruf itu pun ikut menjadi bahan bacaan koran, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Namanya hadir di media karena aksi yang dilakukannya: pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Kalimantan Selatan yang ingin mendirikan Negara Islam. Tak banyak yang menyadari bahwa dia dan kawan-kawannya memberontak karena tak diterima masuk TNI, padahal mereka bekas pejuang.

Susah Masuk TNI

Banyak bekas tentara Belanda (KNIL), yang bisa dibilang musuh republik saat Perang Revolusi 1945-1949, diterima masuk Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS). Setelah Republik Indonesia Serikat (RIS) bubar pada 17 Agustus 1950, mereka kemudian jadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Di sisi lain, para pejuang dari desa di belantara Kalimatan Selatan yang pernah tergabung dalam Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) Divisi IV itu, hanya sedikit yang bisa masuk APRIS/TNI. Kedatangan TNI dari Jawa juga membuat para pejuang itu merasa tak dipercaya mengisi posisi-posisi di pemerintahan sipil dan militer.

Bekas gerilyawan pejuang itu merasa terlalu banyak jabatan penting diduduki orang-orang dari luar Kalimantan, khususnya dari Jawa. Orang-orang eks KNIL juga mereka anggap sebagai orang-orang “cacat” karena pernah bekerja untuk Belanda.

"Karena Pemerintah dan Tentara sedikit pun tidak bermaksud memenuhi tuntutan pihak gerilyawan atau memindahkan beberapa pamong daerah dan perwira yang tinggi kedudukannya, kedua pihak mencapai jalan buntu sama sekali,” tulis Muhammad Iqbal, dalam tesisnya Kesatuan Rakjat Indonesia jang Tertindas (KRjT): Pemberontakan Ibnu Hadjar di Kalimantan Selatan, 1950-1963 (2014).

Mereka sudah pasti kecewa, tak terima atas nasib malang itu. Kekecewaan dari banyak orang yang masih bisa memegang senjata adalah sesuatu yang berpotensi menjadi celaka. Di antara mereka ada orang yang dianggap berpengaruh, yakni Ibnu Hadjar yang pada awal tahun 1950 sudah berpangkat Letnan Dua.

Seperti banyak bekas pejuang yang kecewa tadi, Ibnu Hadjar juga buta huruf—tak bisa baca-tulis huruf latin. Mereka orang desa yang tak mencicip bangku sekolah. Meski buta huruf, menurut catatan Kees van Dijk dalam Darul Islam: Sebuah Pemberontakan (1995), dia berhasil jadi komandan satuan-satuan gerilya di Kandangan, Hulu Sungai, Kalimantan Selatan.

Mereka bergerak sambil tetap berharap diterima ke masuk TNI. Tentu, tanpa harus lulus tes baca-tulis. Namun, tak ada sinyal positif untuk mereka. Tak lama berpangku tangan, kawan-kawan Ibnu Hadjar itu beraksi menyerang pos-pos TNI.

Koran Indonesia Berdjuang (20/03/1954) dan Kes van Dijk mencatat semula Ibnu Hadjar hanya memimpin 60 orang saja ketika masih berdiam diri di awal tahun. Setelah serangan ke pos TNI pada bulan Maret 1950, pengikutnya bertambah sekitar 250 orang, dengan senjata hanya 50 pucuk bedil. Letnan Dua TNI yang memimpin sebuah peleton biasanya hanya punya anak buah tak lebih dari 50 orang. Namun, itu tak berlaku untuk seseorang yang menjadi pemimpin gerombolan.

Bulan Oktober 1950, pemerintah masih menyambut damai para gerombolan yang ingin menyerah. Ibnu Hadjar masuk kota. Dia menyatroni penguasa yang berwenang di sana. Setelah dia dibebaskandan diminta membujuk kawan-kawan gerombolannya untuk menyerah, Ibnu Hadjar masuk hutan dan tak pernah nampak lagi batang hidungnya di hadapan penguasa lokal tadi.

Selama belasan tahun, Ibnu Hadjar dikenal sebagai gerombolan yang diajak kerjasama DI/TII Kartosoewirjo, sebagai Panglima Angkatan Perang Tentara Islam (APTI)cabang Kalimantan Selatan.
Baca: Kartosoewirjo, Proklamator Negara Islam Indonesia

Infografik Ibnu Hadjar


Akhir Hidup Bekas Pencari Madu

Peneliti sejarah Muhammad Iqbal berhasil menemui keponakan Ibnu Hadjar, Suliman Juhri, yang berusia 75 tahun. Suliman saat masih kecil, sekitar 10 tahun, pernah melihat dan mengenal sang paman yang bernama asli Haderi bin Umar.

“Ayahnya bernama Umar. Ibunya bernama Siti Hadijah, putri dari seorang kepala suku Dayak di Tamiang Layang (Kalimantan Tengah),” ujar Suliman. Pemuda Banjar-Dayak ini punya adik kandung bernama Dardiansjah yang juga ikut gerombolan sang paman.

Berdasarkan laporan Indonesia Berdjuang (20/03/1954), Kees van Dijk mencatat Ibnu Hadjar yang lahir sekitar April 1920 itu, “memiliki watak yang keras dan suka berkelahi sejak kanak-kanak, dan benar-benar menjadi kepala jagoan dalam setiap percekcokan.” Artinya, sejak muda dia berbakat menjadi kepala gerombolan. Dia tumbuh dalam suasana pedesaan.

“Sebelum zaman Pendudukan Jepang, dia sehari-hari bekerja sebagai petani dan pencari madu yang handal,” kata Suliman Juhri kepada Iqbal. Seorang pencari madu, tentu terbiasa keluar masuk hutan. Jadi, ketika hidup bergerilya di hutan bukan masalah besar baginya.

Mengenai bagaimana sosok pamannya, Suliman juga bercerita, “Ibnu Hadjar ini perawakannya kecil saja. Kulitnya agak gelap, agak ceking dan tak berkumis. Pakaiannya berseragam militer corak loreng. Pakaian ini digunakannya saat memimpin pasukan KRjT, bertopi baret yang bertali merah, dan selalu memakai dua pucuk pistol di pinggangnya.”

Ibnu Hadjar alias Haderi, meski sebagian bekas masa mudanya dijalani di hutan—baik ketika jadi pencari madu, pejuang Republik dan pemberontak KrjT—ternyata pernah menikah. "Dia menikah dua kali. Dari isteri pertamanya, Ibnu Hadjar memiliki putera bernama Rafi’i. Isteri keduanya berasal dari Buntok–asal etnis Dayak yang diislamkan.”

Mei 1963, Kalimantan Selatan (Kalsel) berangsur aman. Perlahan, pengikut Ibnu Hadjar tak bersamanya lagi. Banyak yang menyerah. Kepala Polisi Komisariat (Kapekom) Kalsel, Komisaris Besar Tengku Abdul Aziz pun berusaha keras membujuk Ibnu Hadjar agar dia dan pasukannya agar menyerahkan diri. Bujukan itu diselingi isu akan adanya amnesti dari pemerintah.

Setelah belasan tahun hidup di hutan dan menyadari jalan gerilyanya ke depan makin buntu, Ibnu Hadjar setuju. Aksi pasukan Ibnu Hadjar itu terhenti sejak Juli 1963. Menurut Muhammad Iqbal, di akhir bulan, Ibnu Hadjar dan anak buahnya resmi menyerah diri kepada pemerintah, diiringi upacara singkat di Desa Ambutun, Hulu Sungai Selatan.

Berdasar penelusuran Iqbal dari versi Suliman, sebelum tertangkap “dia naik ke rumah ini (rumah keluarganya) untuk bertemu ibunya (nenek saya) dan meminta izin (berpamitan). Ibnu Hadjar bersilahturahmi dan ngobrol-ngobrol dengan kami sebentar,” aku Suliman yang berada di situ.

Saat itu, ia bertanya kepada pamandanya, “Pakacil, apa rencana Anda sekarang?”

Ibnu Hadjar, yang sedang duduk santai bersama keluarganya sekitar pukul enam sore, dengan tenang menjawab, “Suliman, sepertinya sudah sampai waktunya bagiku kini, itu saja.”

Esok paginya, sang paman berangkat. “Siang harinya itulah, ia dijebak oleh Brimob. Ibnu Hadjar kemudian langsung dibawa ke Banjarmasin dan langsung diterbangkan ke Jakarta.”

Namun, menurut Iqbal, Ibnu Hadjar sempat menghadiri rapat umum Konfrontasi Malaysia di Banjarmasin. Kepada pers, dia memberitahu: “Apabila negara menghendakinya, ia bersedia mengabdi kepada Republik di mana pun juga dibutuhkan [….] juga bersedia turut serta dalam Konfrontasi Malaysia,” tulis Iqbal.

Tengku Abdul Aziz berusaha agar Ibnu Hadjar diberi amnesti oleh Presiden Sukarno. Namun, hal itu tak pernah terjadi. Pada 11 Maret 1965, sang pemberontak dibawa ke Mahkamah Militer dan dijatuhi hukuman mati. Di persidangannya, Ibnu Hadjar mengenakan seragam Letnan Dua TNI. Tengku Aziz yang merasa terpukul karena kegagalannya kemudian mengundurkan diri dari jabatannya.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Maulida Sri Handayani