Kebrutalan Mayor Sabarudin, Si Macan Sidoarjo

Foto Kolase Mayor Sabarudin. [Sumber Foto/buku Harry A.Poeze]
Oleh: Petrik Matanasi - 6 Oktober 2016
Dibaca Normal 9 menit
Mayor Sabarudin yang memuja Tan Malaka ini dianggap berjasa dalam menghabisi tentara yang memberontak dalam Peristiwa Madiun 1948. Namun, catatan hitam kebegundalannya juga menjadi noda hitam revolusi Indonesia.
tirto.id - Orang Surabaya dan Sidoarjo yang hidup di awal pecahnya revolusi nasional 1945 tentu tahu nama Sabarudin yang digelari Macan Sidoarjo. Orang-orang juga terbiasa dengan kisah-kisah kebengisan Macan Sidoarjo itu. Termasuk Suparta Brata yang waktu itu baru berumur 14 tahun.

Ada banyak cerita ngeri soal Sabarudin yang haus darah. Sabarudin adalah gambaran buram Revolusi Indonesia. Bersama pasukannya, Sabarudin dengan brutalnya menghabisi orang-orang yang dianggapnya mata-mata Belanda. Bahkan selembar foto bersama Ratu Belanda pun dianggapnya sebagai bukti bahwa orang Indonesia yang ada di dalam foto itu adalah mata-mata Belanda.

“Sabarudin itu berbahaya, dengan gerakan jarinya saja ia bisa membunuh orang,” kata Himawan Sutanto, seperti dicatat Moekardi di bukunya Dalam Revolusi 1945 Surabaya.

Orang seperti Sabarudin cocok diberi tugas kotor untuk membunuh seseorang. Dia pernah diberi perintah kotor untuk menghabisi Kolonel Moestopo. Tapi menurut Suparta Brata, Sabarudin masih menaruh hormat pada Moestopo.

“Daidanco Dokter Mustopo, maaf, sebagai petugas algojo diperintahkan oleh atasan saya untuk menghabisi nyawa Bapak. Akan tetapi, saya orang Aceh yang ber-Tuhan dan tahu berterimakasih. Dulu waktu saya akan dikirim ke Bogor untuk dibunuh oleh Jepang, Bapak menolong dan membebaskan saya. Bapak jangan takut. Bapak saya lindungi,” kata Sabarudin.

Sabarudin tak pernah mengerjakan eksekusi itu karena dia menghormati Moestopo. Tapi rasa hormat itu tak ada buat Mohamad Mangundiprodjo, yang belakangan dinobatkan sebagai pahlawan Nasional.

Permusuhan dengan Mohamad Mangundiprodjo

Suatu hari di bulan Januari 1946, Jenderal Mayor Mohamad Mangundiprodjo berbicara di telepon dengan Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo yang menjabat Kepala Staf Tentara. Mereka berbincang soal surat perintah penangkapan bagi Sabarudin yang menurut Mohamad adalah pengacau.

Kabar soal perintah penangkapan itu didengar Sabarudin Markas Besar Tentara (MBT) di Yogyakarta. Lalu, Oerip meminta Mohamad membatalkan surat perintah tersebut. Tapi Mohamad memutuskan tak langsung membatalkan, ia ingin berbicara langsung dengan Oerip di MBT, Yogyakarta. Ia pun berangkat bersama ajudannya Kapten Susilo dan supirnya, Kurdi.

Dalam perjalanan dari arah Surabaya ke Yogyakarta itu, mobil Mohamad berusaha diberhentikan oleh orang yang ternyata anak buah Sabarudin. Mohamad beri perintah pada Kurdi, “jangan turun! Jalan!” Mobil Ford 1939 yang dinaiki Mohamad itu terus berlalu. Terjadilah kejar-kejaran. Larut malam, mobil Mohamad tiba di Yogyakarta.

Mencari aman, Mohamad langsung menuju markas Polisi Tentara. Dia melapor bahwa pasukan Sabarudin sedang mengejarnya dan akan memasuki kota Yogyakarta. Sejak awal 1946, Yogyakarta adalah Ibukota Republik Indonesia.

Esoknya, pukul sembilan pagi, Mohamad dan Kurdi menuju MBT di Gondomanan. Setelah lewat gerbang MBT, Mohamad sadar dia sudah masuk perangkap Sabarudin. MBT sudah dikuasai oleh pasukan Sabarudin. Penjagaannya telah dilumpuhkan oleh sebelas truk pasukan Sabarudin. Aksi itu berjalan cepat dan rapi. Bahkan para perwira tinggi yang sedang rapat tak tahu apa yang terjadi di luar.

Ketika itu, Panglima Besar Jenderal Sudirman dan Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo sedang memimpin rapat. Jenderal Mayor Mohamad yang baru datang itu harus menunggu Oerip yang sedang rapat. Di ruang tunggu, tiga anak buah Sabarudin menghampirinya, salah satunya adalah Kapten Ali Umar, tangan kanan Sabarudin.

“Angkat tangan!” todong sang Kapten.

“Tidak mau!” Mohamad berusaha jaga wibawanya sebagai Jenderal.

Lalu bogem mentah dari Kapten Ali Umar pun mendarat di tubuh Mohamad. Setelah tiga orang bawahan Sabarudin itu, kemudian datang lagi tiga orang lain. Mereka semua kemudian meringkus Mohamad.

Mohamad ditodongi senjata laras panjang anak buah Sabarudin, sambil diinjaki dan ditendang. Penjaga MBT yang tak berdaya oleh pasukan Sabarudin hanya bisa menonton salah satu jenderalnya dianiaya anak buah Sabarudin.

Peringkusan itu melibatkan letusan peluru. Salah satu peluru bahkan nyaris menyenai Panglima Besar Sudirman. Untung ketika ada tembakan, orang-orang tiarap, termasuk Sudirman. Setelah diringkus di MBT, Mohamad yang luka parah antara sadar-dan-tak-sadar dimasukan ke bak truk. Truk-truk itu lalu minggat dari MBT.

Dalam perjalanan, Pasukan Sabarudin yang singgah makan di Sriwedari, Solo, tak sengaja bertemu Letnan Kolonel Prangko Prawirokusumo, salah seorang staf Kolonel Sungkono, juga sama-sama dari Yogyakarta. Prangko kemudian ikut ditawan. Mereka semua hendak dibawa ke Pacet.

Pukul dua dini hari, rombongan Sabarudin dicegat oleh pasukan Letnan Kolonel Surachmad, di mana Kolonel Mohamad Soediro juga ikut serta. Soediro sama seperti Mohamad, dulunya sama-sama bekas Pangrehpraja kolonial.

Pasukan pencegat lebih kuat dan Sabarudin tahu itu. Maka ia mau berdialog dengan Kolonel Soediro di pendopo kewedanan, meski bersikeras tak mau menyerahkan Mohamad.

“Mohamad sudah meninggal,” kata Sabarudin.

Soediro menegaskan dirinya ditugaskan MBT untuk membebaskan Mohamad hidup atau mati. Karena keadaan tak berpihak pada Sabarudin, terpaksa Mohamad dilepaskan. Tak lupa Sabarudin bilang, suatu saat dia akan menangkap Mohamad lagi.

Begitulah fragmen penculikan Jenderal Mayor Mohamad seperti yang ditulis oleh Drs. Moekhardi dalam bukunya R. Mohamad Dalam Revolusi 1945 Surabaya (1993). Di masa revolusi, menurut Moekhardi, Sabarudin sering datang pada Jenderal Mayor Mohamad yang jadi Ketua Dewan Pertahanan Republik Indonesia Jawa Timur untuk minta uang.

Suatu kali Mohamad menolak karena Sabarudin belum menyetor laporan keuangan dari uang yang pernah diberikan sebelumnya. Sabarudin pun marah. Menurut Moekardi, Sabarudin juga menyebar fitnah bahwa Mohamad korup.

Masa lalu Mohamad yang mantan Pegawai Pangrehpraja Belanda diungkit-ungkit. Ketika Revolusi, orang Indonesia banyak yang antipati dengan segala hal berbau Belanda, termasuk yang bekerja pada Belanda.

Menurut pendiri dan komandan pertama Brigade Mobil (Brimob) M. Jasin, dalam biografinya Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang (2010), waktu jaman jadi PETA, Sabarudin pernah meminta rekomendasi dari Mohamad saat menjabat daidancho (komandan batalyon) untuk mengikuti latihan calon chudancho (komandan kompi) di Bogor.

Sebagai daidancho, Mohamad yang kemudian jadi Gubernur Lampung itu tak mengabulkannya. Itulah awal mula kekecewaan dan dendam Sabarudin.



Karena Foto Bersama Ratu Belanda, Riwayat Soerjo Tamat

Mohamad beruntung karena Sabarudin tak menghabisinya sebelum akhirnya diselamatkan Soediro. Ada musuh Sabarudin lain yang paling terkenal, namanya Soerjo. Nasibnya tak sebaik Mohamad.

Soerjoatmodjo alias Soerjo adalah anak pegawai menengah kolonial. Seperti Sabarudin, Soerjo adalah bekas PETA, tetapi pangkatnya chudancho (komandan kompi). Pangkatnya lebih tinggi daripada Sabarudin yang hanya shodancho (komandan peleton). Menurut Suparta Brata, novelis asal Surabaya, masalah Sabarudin dengan Surjo adalah perkara sentimen pribadi.

“Rivalisme antara Sabarudin dan Soerjo masalah pribadi, dalam memperebutkan seorang putri Bupati Sidoarjo,” tulis Hario Kecik dalam bukunya Si Pemburu Volume 2 (2008).

Mereka pernah bersaing merebut hati Indriyati, putri Bupati Sidoarjo yang tersohor cantiknya. Cinta Sabarudin tak terbalas karena putri bupati itu lebih memilih Soerjo. Soerjo yang anak priyayi pegawai menengah kolonial adalah lulusan Sekolah Pamongpraja OSVIA. Ia juga pernah jadi komis (kepala) di tempat kerja yang sama dengan Sabarudin. Kalah dalam persaingan yang tak imbang secara sosial inilah yang membuat Sabarudin dendam.

Kebetulan, Soerjo dikenal sebagai perwira PETA yang angkuh di mata anak buahnya, juga ringan tangan dengan dalih meningkatkan disiplin bawahan. Menurut Moekardi, pernah ada aksi damai untuk menurunkan Soerjo. Sialnya, para pelaku aksi dihukum dengan dibawa ke Bogor tanpa kejelasan, meski kemudian dibawa pulang kembali ke Sidoarjo.

Saat Indonesia diproklamasikan dan masuk masa perang revolusi, Soerjo ikut masuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang belakangan berubah jadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945. Jabatan Soerjo adalah Kepala Keuangan dan Perlengkapan. Sabarudin juga menjadi Komandan Polisi Tentara Kemanan Rakyat (PTKR) yang punya hak memeriksa bahkan menindak tentara.

Sialnya, di masa kolonial, Soerjo pernah ikut acara kepanduan di Negeri Belanda, semacam Jambore Pramuka di masa sekarang. Ia juga berfoto dengan keluarga Ratu Belanda. Di zaman kolonial, foto itu memang membikin bangga. Tapi itu malah bencana di zaman Revolusi. Foto itu membuat Soerjo jadi bulan-bulanan Sabarudin dan pasukannya. Akhirnya Soerjo tertangkap.

“Mayor Sabarudin mengambil samurai Jepang dan menebas leher pemuda itu hingga tewas,” tulis Moehammad Jasin dalam Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang (2010). Ada juga versi yang menyebut Soerjo ditembak lalu ditebas samurai—entah oleh Sabarudin atau anak buahnya. Eksekusi dilakukan di alun-alun Sidoarjo.

Gila Kenpeitai ala Sabarudin

Sabarudin tentu merasa punya wewenang untuk menghabisi Soerjo. Jabatannya adalah Komandan Polisi Tentara Kemanan Rakyat (PTKR), cikal-bakal polisi militer. Tugasnya menjaga disiplin militer di kalangan tentara. Di masa Revolusi, lembaga ini juga bertugas mengantisipasi bahaya mata-mata.

Seperti Kenpeitai zaman Jepang, Sabarudin doyan main tangkap orang tanpa pandang bulu. Tentara, polisi bahkan orang-orang sipil berani dia tangkap. PTKR pimpinan Sabarudin tak kalah dibanding Kenpeitai zaman Jepang yang sudah dikenal kejam.

Di sekitar November 1945, Sabarudin pernah menangkap Kepala Biro Kepolisian Surabaya, Basuki, dan Asisten Wedana Prambon, Suprapto. Keduanya disel di Penjara Sidoarjo. Secara tidak sengaja, M Jasin Komandan Pasukan Polisi Perjuangan (cikal-bakal Brimob) menemukan keduanya.

Sebagai polisi, Jasin keberatan atas penahanan yang tak punya dasar kuat itu. Sebuah nota lalu dibuat, menuntut kedua pegawai republik itu dibebaskan. Tapi nota Jasin itu dimentahkan Sabarudin.

Jasin pun tak menyerah. Nota kedua dibuat, namun disertai pengerahan kendaraan lapis baja dan pasukan bersenjata dalam komando Jasin. Markas Sabarudin di Sidoarjo dikepung, padahal dua orang yang ingin dibebaskan Jasin itu sudah dipindahkan ke penjara Mojokerto diam-diam. Setelah pengepungan itu, Sabarudin memindahkan markas dari Sidorjo ke Pacet, Mojokerto.

Iswahyudi, yang belakangan jadi perintis Angkatan Udara Indonesia dan namanya jadi nama bandara di Magetan, juga sempat ditahan pasukan Sabarudin. Iswahyudi yang sebelumnya tergabung dalam Angkatan Udara Sekutu di Australia pernah disusupkan ke Blitar Selatan untuk melawan balatentara Jepang di Jawa. Tapi Iswahyudi berhasil lolos.

Itu adalah keberuntungan, sebab menurut banyak anak buahnya, Sabarudin amat sadis. Ia kerap memerintahkan eksekusi tanpa proses penyelidikan. Pernah ada tiga pemuda Ambon yang dituduh mata-mata dibawa ke Markas PTKR pimpinan Sabarudin. Lalu Si Macan Sidoarjo memerintahkan seorang Sikh pelarian Serdadu Inggris-India untuk mengeksekusi mereka.

Tapi orang Sikh bekas Prajurit Inggris ini menolak. Sambil menangis, ia meminta dibebaskan dari tugas mengeksekusi. Akhirnya Sabarudin turun tangan. Ketiga pemuda itu disiram bensin dan dibakar hidup-hidup.

Mayor Angkatan Laut Iskak, ketika revolusi juga pernah jadi korban asal tangkap pasukan PTKR Sabarudin. Ini karena istrinya orang Belanda. Padahal Sabarudin sendiri punya istri bule Belanda juga. Bahkan beberapa wanita bule bekas tawanan Jepang yang seharusnya diserahkan ke RAPWI pun dijadikan budak seks oleh Mayor Sabarudin, dikumpulkan dalam satu Harem yang terletak di sekitar Trawas. Di antara mereka bahkan ada yang sampai hamil.

Wanita-wanita itu kemudian ditemukan dan diselamatkan oleh Pasukan Polisi Perjuangan pimpinan M Jasin, dibantu Laskar Pesindo, Laskar Minyak, dan Hizbullah. “Dalam penggerebekan itu ditemukan delapan wanita Eropa yang sedang hamil dan empat besek penuh perhiasan emas dan berlian. Wanita dan emas itu diduga dirampas dari kamp-kamp tahanan bangsa Eropa," kata M. Jasin.

Pasukan Jasin menyerbu atas perintah petinggi Tentara. Sangat aneh ketika petinggi Tentara tak mampu menggunakan pasukan tentaranya sendiri untuk menyerbu markas Sabarudin. Sabarudin dan pasukannya, menurut Suparta Brata, dilucuti pada 2 Februari. Ia dibawa ke Yogyakarta untuk diadili dan ditahan di penjara Wirogunan.

Mereka diajukan ke Mahkamah Tentara Agung pada April 1947. Sidang diketuai Mr. Koesoemaatmadja, dengan dibantu Sukarnen dan Sukono. Sebagai Jaksa penuntut umum Tirtawinata, dibantu Mr. Subekti.

Mayor Sabarudin sebagai pelaku utama dalam kasus penculikan itu kemudian dipecat dari dinas ketentaraan dan dijatuhi hukuman penjara 7 tahun. Anak buahnya yang perwira, sejumlah 6 orang ditahan di penjara Wirogunan Yogya selama 100 hari. Setelah dibebaskan, sebagian anak buahnya dikembalikan menjadi TRI, tetapi hanya diberi pangkat prajurit. Meski dipenjarakan, Sabarudin tak kehilangan pengikut di luar penjara.

Membasmi Kaum Kiri di Madiun 1948

Setelah Agresi Militer Belanda 21 Juli 1947, MBT memberi ijin pada Sabarudin untuk membentuk laskar dengan syarat pasukannya di Jawa Barat. Keharusan ke Jawa Barat kemungkinan selain karena kuatnya Tentara Belanda di sana, juga agar Sabarudin tak membuat masalah lagi di Jawa Timur.

Tak lama, sekompi bekas anak buahnya berhasil dia kumpulkan lagi. Pasukannya dinamai Laskar Rencong. Di antara pasukan itu, hanya Sabarudin yang pakai pistol, pasukannya hanya bersenjata tajam tradisional.

Bersama pasukannya, Sabarudin, tak mengikuti intruksi MBT untuk bergerak ke Jawa Barat, melainkan ke Jawa Timur. Pasukannya bertahan di sekitar Ngantang, Kediri. Setelah Tentara Republik Indonesia (TRI) diubah menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) sesuai Keputusan Presiden 3 Juni 1947, pasukannya dimasukkan ke dalam Divisi P pimpinan Jenderal Mayor Moestopo.

Laskar Rencong masuk ke dalam TNI Masyarakat. Pasukannya berada di bawah komando Batalyon 38 Brigade pimpinan Kolonel Surachmad. Sabarudin pun kembali menyandang pangkat mayornya lagi.

Lalu peristiwa Madiun meletus. Pemerintah dan petinggi Tentara segera mengerahkan banyak kekuatan tentara untuk menghajar pemberontakan itu. Pemerintahan Kabinet Hatta berusaha mendekati pengikut Tan Malaka untuk menghabisi PKI yang terlibat Peristiwa Madiun. Sabarudin dan pasukannya ikut melawan pasukan-pasukan kiri yang terlibat Peristiwa Madiun.

Letkol Dahlan dan pasukannya yang menjadi tulang punggung Pemberontak Madiun 1948, terjepit oleh gempuran Divisi Siliwangi. Merasa terdesak, pasukan utama pemberontak itu memilih menyerah pada Sabarudin. Letnan Kolonel Dahlan kena gertakan Mayor Sabarudin.

Di antara anak buah Dahlan yang sebagian besar bekas laskar-laskar kiri, ada bekas anak buah Sabarudin juga. Setelah Dahlan dan pasukannya menyerah, senjata dan sebagian bekas anak buah Dahlan pindah ke tangan Sabarudin, yang membuat ia dan pasukannya makin kuat dan berbahaya.

Dahlan dan perwira seperti Mayor Koesnandar dan Mayor Mustafa, dan Laksamana Atmadji dari ALRI yang terlibat dalam pemberontakan pun jadi tawanan Sabarudin dan akhirnya tewas. Namun, Sabarudin mengelak bertanggung jawab atas kematian mereka. Menurutnya Surahmad-lah yang harus bertanggung jawab.

Meski sadis dan dianggap serakah, Sabarudin masih mau berjalan kaki bersama prajurit bawahannya. Sabarudin pun memikirkan kesejahteraan pasukannya, sering menemui mereka, sehingga mereka juga setia kepadanya. Padahal Sabarudin tak segan menghukum bahkan menembak anak buahnya yang dianggapnya salah.

Himawan Sutanto mengatakan “Sabarudin itu ‘berbahaya’, dengan gerakan jarinya saja ia bisa membunuh orang. Watak pribadinya itu yang betapapun membentuk dirinya menjadi pemimpin tentara; dia tidak meniti kepangkatan demi kekayaan.”

Pemuja Tan Malaka

Di penjara, Sabarudin bertemu tokoh komunis legendaris Indonesia, Tan Malaka. Bukan hanya pemerintah kolonial yang pernah dilawan Tan Malaka, Josef Stalin pemimpin besar Uni Sovyet yang kejam pun berani dia debat. Padahal banyak tokoh komunis tunduk pada Stalin. Tan Malaka, dicap sebagai Trotskys: pengikut Leon Trotsky yang begitu dimusuhi Stalin.

“Sabarudin fanatik kepada ajaran-ajaran Tan Malaka,” tulis Moehkardi.

Sabarudin memang murid dan pemuja Tan Malaka yang bersemangat. Ia melahap ajaran-ajaran Tan Malaka dengan bangga. Ketika Partai Murba pada 7 November 1948 didirikan Tan Malaka, Sabarudin datang dari Kediri. Di hari pendirian Murba, Tan Malaka mencanangkan program kerja sama antara rakyat biasa dan kesatuan militer, selain mendirikan organisasi pertahanan rakyat. Gagasan Tan Malaka ini tertuang dalam bukunya, Gerpolek (Gerilya Politik Ekonomi). Abdul Wahab, salah satu anak buah Sabarudin, pernah disuruh mencetak pamflet di kota yang dikuasai oleh Tentara Belanda.

Sabarudin begitu bersemangat menyambut program Murba itu. Tak lupa Sabarudin mengajak Tan Malaka keliling Jawa Timur dan menjamin keamanannya dengan membawa 50 pengawal. Dengan jaminan menggiurkan ini, Tan Malaka ikut serta dan berangkat naik kereta api khusus ke Kediri di bawah lindungan pengawal Sabarudin. Mereka lalu berbasis di desa Belimbing, Kediri, di mana Tan Malaka mendirikan Markas Murba Terpendam.

“Ikatannya dengan Sabarudin mustahil dan tidak bisa dipercaya. Tapi dalam revolusi berlaku kaidah-kaidah lain, dan persekutuan semacam itu bisa saja terjadi, seperti juga Revolusi bisa menawarkan kesempatan kepada orang-orang semacam Sabarudin naik ke jenjang kekuasaan,” kata Harry Albert Poeze dalam Tan Malaka Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia Jilid IV (2013). Poeze adalah sejarawan ahli Tan Malaka.

Tan Malaka termasuk orang yang tak suka diplomasi pemerintahan Soekarno, yang dianggapnya terlalu mengalah pada Belanda. Bagi Tan Malaka, Indonesia harus Merdeka 100%. Selama gerilyanya di sekitar Kediri, Tan terus membuat propaganda anti-Belanda dan anti-kabinet Hatta. Soekarno dan Hatta yang tak ikut bergerilya juga dicelanya.

Sabarudin, betapapun ia seorang begundal, adalah pelindungnya. Baik Tan Malaka dan Sabarudin jadi sasaran tentara republik. Termasuk pasukan dibawah komando Letnan Kolonel Surachmad.

Perlindungan Sabarudin itu tak tahan lama. Ketika Tentara Belanda menyerbu ke Kediri, markas Tan Malaka juga diserang tentara Republik dari Batalyon Sikatan. Pasukan Sabarudin tak bisa berbuat apa-apa dan lari. Tan Malaka ditinggalkan, ditangkap, dan terbunuh 19 Februari 1949 di sekitar Kediri. Setelah kematian Tan Malaka, Sabarudin dan pasukannya masih bergerilya melawan Tentara Belanda.

Dulunya Pemalu dan Penakut

Sabarudin sering mengaku sebagai orang Aceh, padahal ia berdarah Batak. Ayah kandungnya adalah orang Batak Mandailing yang memang menjadi jaksa di Aceh ketika Sabarudin lahir. Nama aslinya sendiri adalah Zainal Sabarudin Nasution. Nama marga itu jarang dipakai, dan orang lebih mengenalnya sebagai Sabarudin saja. Menurut Moehkardi, Sabarudin lahir di Kotaradja, Aceh, tahun 1922.

Setelah ayahnya meninggal, ibunya menikah lagi dengan seorang Belanda bernama Knoop. Keluarga ini pun hidup di sekitar Sidoarjo. Sabarudin dengan kakak yang umurnya setahun lebih tua, Djalaluddin, tumbuh remaja bersama bapak tiri mereka. Mereka cukup lama menggunakan nama belakang Knoop.

Orangtuanya sangat peduli pada pendidikan Sabarudin. Kemungkinan ia pernah sekolah di SD kolonial untuk pribumi Hollandsch Inlandsch School (HIS). Dia juga bisa sekolah SMP kolonial yang masih tergolong elit untuk pribumi, Middelbare Uitgebrid Lager Onderwijs (MULO).

Meski hanya lulusan sekolah setara SMP, Sabarudin di zamannya tergolong orang berpendidikan. Tak semua pemuda Indonesia bisa sekolah sepertinya. Lulusan SMP cukup bisa hidup layak. Setelah lulus MULO, Sabarudin pernah bekerja sebagai juru tulis di Kantor Kabupaten Sidoarjo dan sebagai pemegang buku di suatu perkebunan tebu.

Ketika balatentara Jepang menduduki Indonesia, pemuda Sabarudin mendaftarkan diri masuk Tentera Sukarela Pembela Tanah Air (PETA). Setelahnya ia dilatih sebagai Shodancho di Boe Gyugun Rensentai (Pusat Latihan Tentara Sukarela) di Bogor, lalu ditempatkan di Batalyon PETA (Daidan) Sidoarjo. Daidancho Batalyon itu adalah Mohamad Mangundiprodjo, orang yang kemudian dibencinya.

Sabarudin awalnya adalah pemuda pemalu, bahkan dianggap pengecut. Kemungkinan latihan-latihan PETA membuatnya jadi pemberani. Setelah Revolusi Kemerdekaan Indonesia, ketika jadi Komandan PTKR Sabarudin bukan hanya pemberani tapi juga kondang akan kekejamannya.

Sabarudin bisa saja punya pangkat Chudancho seperti Soerjo yang jadi pesaingnya berebut putri bupati Sidoarjo. Agar bisa seperti Soerjo, Sabarudin perlu ikut latihan calon komandan kompi Chudancho di Bogor. Soeharto pernah ikut latihan semacam ini. Sabarudin hanya perlu rekomendasi dari Daidancho Mohamad. Sialnya, Sabarudin tak dapat rekomendasi.

Pada masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia, dengan posisinya Komandan PTKR, dia berlaku sewenang-wenang seperti Komandan Kenpeitai Jepang. Tentu saja banyak tak suka pada Sabarudin. Dia terlalu merepotkan atasannya, sehingga banyak petinggi militer menginginkannya masuk penjara, dipecat bahkan dibunuh.

Setelah semua aksi dan laga di bawah pimpinan Sabarudin, Letnan Kolonel Surachmad sangat ingin memburunya. Sabarudin dan pasukannya pernah menghancurkan Batalyon Banuredjo yang diperintahkan Surachmad untuk mengejar Sabarudin. Tak hanya hancur, komandan batalyon Mayor Banuredjo juga tewas.

Menurut Poeze, Sabarudin akhirnya ditangkap oleh CPM suruhan Surachmad. Sekitar 24 November 1949, Sabarudin dieksekusi dalam perjalanan ke Madiun, di Wilangan setelah vonis mati dari pengadilan lapangan oleh tentara. Riwayat pemuda pemalu yang kemudian menjadi brutal dan terkenal sebagai Macan Sudoarjo itu pun tamat.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight