tirto.id - Wakil Ketua Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata (MEBP) PP Muhammadiyah, Mukhaer Pakkanna, menilai bahwa kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menaikkan tarif impor bagi Indonesia bakal berdampak negatif ke kurs rupiah. Hal itu dia nyatakan usai Trump mengumumkan daftar tarif impor baru bagi 160 negara, salah satunya Indonesia.
Mukhaer menyebutkan bahwa Indonesia termasuk negeri yang terkena kebijakan tarif impor tinggi AS, yakni sebesar 32 persen. Menurut Mukhaer, kebijakan itu memantik sejumlah konsekuensi terhadap kondisi ekonomi Tanah Air nantinya.
"Bayangkan, di tengah babak belurnya daya beli masyarakat dengan indikasi serius makin menurunnya tingkat konsumsi atau pengeluaran masyarakat selama Ramadhan dan Idulfitri, tentu kebijakan tarif Trump akan membawa konsekueni serius," ucap Mukhaer dalam keterangan tertulis yang diterima Tirto, Kamis (3/5/2025).
Menurutnya, masyarakat kelas menengah Indonesia kini turun kelas menjadi golongan masyarakat miskin. Di satu sisi, ekonomi Indonesia dinilai makin pincang dan segregasi sosial makin meluas.
Selain itu, konsentrasi ekonomi Indonesia hanya berputar di antara sejumlah kecil golongan masyarakat. Dampaknya, pelemahan daya beli akan berlanjut lantaran harga barang impor makin mahal.
"Mahal, karena kurs rupiah otomatis makin melemah. Bisa jadi mendekati angka Rp20.000 per dolar Amerika Serikat. Karena, transaksi impor Indonesia mayoritas masih menggunakan kurs dolar Amerika Serikat," tutur dia.
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diyakini juga akan kena imbas negatif. Depresiasi kurs rupiah diperkirakan akan berlanjut karena investor kini mencari aset yang lebih aman. Misalnya, berinvestasi di luar Indonesia.
Dengan demikian, pasar saham berlanjut menghadapi laju kecepatan capital outflow. Karena itu, pemerintah Indonesia punya pekerjaan rumah yang harus segera dilakukan, yakni mengurangi ketergantungan Indonesia dengan kurs dolar Amerika Serikat.
"Perlu nasionalisme atau kebanggaan memegang mata uang rupiah. Diharapkan para pejabat negara segera menukarkan dolarnya menjadi kurs rupiah sebagai wujud komitmen dan teladan dalam berbangsa," ucap Mukhaer.
Mukhaer juga menyarankan Indonesia agar bergabung dengan BRICS yang berpotensi menciptakan resiliensi ekonomi nasional yang lebih baik. Utamanya, dari sisi moneter terkait keburuhan terhadap dolar Amerika Serikat, stabilitas nilai tukar rupiah, hingga efisiensi transaksi dalam mata uang asing.
Lalu, Mukhaer juga menyarankan agar Indonesia segera bergabung dengan New Developtment Bank (NDB). Melalui NDB, transaksi akan menggunakan konektivitas ekonomi digital.
"Kebutuhan transaksi akan di back-up untuk kepentingan pembiayaan pembangunan infrastruktur dan proyek pembangunan berkelanjutan di tengah krisis likuiditas dalam negeri akibat defisit yang terus membumbung tinggi," kata Mukhaer.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Fadrik Aziz Firdausi