Kebangkrutan yang Menimpa Para Atlet Kaya

Oleh: Nuran Wibisono - 11 Juli 2017
Dibaca Normal 3 menit
Nama seperti Maradona, Evander Holyfield, Allen Iverson, hingga Boris Becker amat harum. Sebagai atlet profesional, mereka mendapat banyak penghasilan. Namun di hari tua, mereka mengalami nasib yang sama: bangkrut.
tirto.id - Pada 7 Juli 1985, Boris Becker adalah remaja 17 tahun asal Jerman dengan rambut blonde dan semangat berapi-api. Tapi Ia bukan remaja kebanyakan. Siang itu, Becker memakai kaus polo dan celana pendek sejengkal di bawah paha yang sama-sama berwarna putih. Celananya tampak kotor oleh debu. Ribuan pasang mata memandang dengan cemas, sekaligus gemas.

Becker sedang menghadapi Kevin Curren di final Wimbledon siang itu. Ia hanya butuh satu pukulan masuk untuk jadi juara. Seiring lidah yang membasahi bibir atas, Becker memukul servis keras yang menghunjam sisi kiri Curren. Sang petenis berpengalaman yang mengalahkan petenis nomor 1 John McEnroe di perempat final itu, hanya bisa menangkis bola, membuat bola terlempar ke samping. Out. Becker dapat poin yang ia tunggu.

Becker, remaja ajaib itu menjadi juara Wimbledon termuda sepanjang sejarah turnamen tertua dan paling bergengsi itu. Hingga sekarang, rekor itu belum terpecahkan. Hari-hari Becker selanjutnya berisi banyak decak kagum. Dalam rentang karirnya, Becker berhasil jadi juara 6 kali di Grand Slam (3 kali juara Wimbledon, 1 US Open, 2 Australian Open), 5 kali juara Year-End Championship, 13 kali juara Master Series, dan menggondol medali emas Olimpiade 1992 bersama pasangan ganda Michael Stich.

Hidupnya juga bergelimang uang. Selama kariernya, ia diperkirakan mendapat sekitar 25 juta dolar dari hadiah turnamen. Jumlah itu menempatkannya dalam peringkat 7 sebagai petenis berpendapatan hadiah terbesar.

Namun semua mulai berubah semenjak Becker pensiun. Ia terlibat dalam beberapa skandal seks, perceraian, juga utang dalam jumlah besar. Setelah beberapa kali menjual properti untuk membayar utang, Becker akhirnya dideklarasikan bangkrut oleh Pengadilan di London pada Juni 2017. Salah satu penyebabnya adalah utang pada pebisnis asal Swiss, Hans-Dieter Cleven. Becker disebut-sebut punya utang sebesar 36,5 juta euro terhadap Cleven dan tak mampu dibayar.

Becker dan Cleven dulu pernah jadi partner bisnis. Mereka membentuk perusahaan bernama Becker-Cleven Foundation. Namun, kerja sama itu berakhir dengan tak baik. Pengacara Becker, Christian Oliver-Moser, menuduh Cleven memberikan, "pernyataan yang tak benar."

Meski pengacaranya membantah, publik sudah tahu bahwa Becker memang mengalami kesulitan finansial. Namun, Ia bukan satu-satunya atlet kaya yang terjun bebas. Kebangkrutan adalah hal yang sering terjadi pada atlet kaya yang sudah memasuki masa pensiun.

Membakar Uang dan Jatuh Miskin

Di Indonesia, profesi atlet mungkin memang dianggap kurang menjanjikan. Apalagi setelah ada banyak kisah tragis para atlet selepas pensiun. Namun di negara-negara Eropa, juga Amerika Serikat, profesi atlet bisa menghasilkan guyuran uang berjumlah besar. Karena itu tak heran kalau para atlet itu termasuk dalam orang-orang berpenghasilan terbesar di dunia.

Sayang, selepas pensiun para atlet banyak yang jatuh miskin. Time pernah menulis tentang 10 atlet ultra kaya yang kemudian dihantam kesusahan finansial, dan beberapa jadi bangkrut. Kisah itu dibuka oleh kisah Vin Baker.

Pada 1993, Vin dianggap sebagai bakat muda cemerlang di dunia basket. Vin berkarier selama 13 tahun di NBA. Ia bergabung dengan tim seperti Milwaukee Bucks, Boston Celtics, hingga Los Angeles Clippers. Selama itu, Vin diperkirakan mendapat penghasilan sekitar 100 juta dolar. Namun setelah pensiun pada 2006, perlahan Vin kehilangan uangnya. Pada Desember 2015, Ia dilaporkan bekerja sebagai manajer Starbuck di Connecticut. Media lokal Connecticut menulis berita tentang Vin dengan judul yang menyedihkan, "Former NBA Player Vin Baker: From Big Bucks to Starbucks".

Pemain NBA lain juga banyak yang mengalami kesulitan keuangan. Pada 2008, NBA Player Association yang kemudian dikutip oleh Sports Illustrated, melempar data mengejutkan: kurang lebih 60 persen atlet NBA bangkrut setelah 5 tahun pensiun.

Begitu pula yang menimpa para atlet National Football League, alias atlet sepak bola Amerika. Diperkirakan 78 persen atlet NFL bangkrut setelah 2 tahun pensiun. Begitu pula atlet bisbol yang pernah jadi amat kaya, seperti Johnny Damon dari The Yankees dan Jacoby Ellsbury dari The Red Sox.


Petinju legendaris Evander Holyfield pernah mendapat 350 juta Poundsterling dari urusan baku hantam profesional. Namun, uang dari karier 28 tahunnya itu habis, dan dinyatakan bangkrut pada 2012. Di ujung keputusasaannya, Ia menjual jubah yang dipakai sewaktu Mike Tyson menggigit kupingnya. Juga menjual mobil Corvette 1962 kesayangannya.

"Sekarang adalah hari-hari yang berat," kata Holyfield. "Berurusan dengan tanggungan untuk istri dan anak. Sama sekali tak ada kejayaan di sini. Aku tak punya yang untuk membayar pengacara, dan harus sendirian bertarung di pengadilan."

Seteru terbesarnya, Mike Tyson juga mengalami nasib yang sama. Sepanjang kariernya, Ia mendapat lebih dari 400 juta dolar. Namun, Tyson menyatakan diri bangkrut pada 2003. Time merilis nama 10 atlet terkenal yang bangkrut. Mulai dari Maradona --Ia boleh jadi Tuhan ketika menghadapi Inggris, tapi harus jadi jelata ketika berutang pajak sekitar 53 juta dolar-- hingga atlet hoki es Darren McCarty.

infografik atlet bangkrut


Apa yang membuat para atlet itu bangkrut setelah mandi di kolam berisi uang?

Pertama, mereka jelas tak bijak --cenderung imbisil dan tak masuk akal-- dalam mengatur pengeluaran. Tyson menghamburkan uang untuk perhiasan, limusin, dan membeli harimau Siberia. Pemain NBA Antoine Walker menghabiskan uang untuk desainer baju --Ia dikenal ogah mengenakan baju dan setelan yang sama dua kali. Holyfield pernah kalah judi dalam jumlah jutaan dolar.

Alasan lain adalah perceraian dan urusan keluarga. Banyak atlet harus membayar tunjangan istri dan anak setelah cerai, dalam jumlah besar. Saat Becker bercerai dengan istri pertamanya, Ia diharuskan membayar harta gono-gini sekitar 15 juta euro. Pebasket Allen Iverson bangkrut setelah membayar harta gono gini.

"Aku bahkan tak punya uang untuk beli cheeseburger!"


Selain itu, kasus yang sering terjadi adalah salah investasi. Banyak atlet ketika punya banyak uang, menghamburkan dolar untuk investasi tak jelas juntrungannya. Mulai untuk membuat kafe rock n roll, hingga membuat perusahaan yang berakhir bodong. Ini juga ada hubungannya dengan buruknya pengetahuan para atlet kaya itu terhadap manajemen keuangan.

Buruknya manajemen keuangan dan boros luar biasa itu ditambah parah dengan nihilnya rencana selepas pensiun. Atlet yang dulu kaya, selepas pensiun biasanya masih berusaha menjaga gaya hidup bermewahan. Akibatnya, uang terkuras dengan cepat. Pula, banyak dari mereka yang tak tahu harus melakukan apa untuk mencari uang. Ada beberapa yang berhasil menekuni karir baru seperti pembawa acara atau komentator atau pelatih. Namun ketika itu diikuti dengan gaya hidup mewah, pendapatan mereka jelas tak bisa mengimbangi.

Kontributor Forbes sekaligus agen atlet, Leigh Steinberg, mengatakan para atlet kaya itu sudah seharusnya memikirkan keuangan sejak dini. Apalagi rentang karir atlet termasuk pendek. Belum lagi ditambah dengan resiko cedera yang nyaris tak tertebak. Mereka memerlukan bantuan para penasehat keuangan yang kompeten. Dan sebisa mungkin, ujar Leigh, ikuti saran para orang bijak itu meski terkesan pelit.

"Bantuan dan ilmu para penasehat itu bisa menumbuhkan kehati-hatian dalam mengelola keuangan. Terserah para atlet, apakah mereka mau mematuhinya atau mengabaikannya," ujar Leigh.

Baca juga artikel terkait ATLET atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Olahraga)

Reporter: Nuran Wibisono
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight