Mandi Uang di Kala Jaya, Tercebur Lumpur Sewaktu Hancur

Reporter: Nuran Wibisono - Minggu, 18 September 2016 07:51 WIB
Dibaca Normal 6 menit
Atlet di Indonesia harusnya bisa hidup makmur. Namun banyak yang tak punya manajemen keuangan dan karier. Manajemen merupakan suatu hal yang vital, tetapi sayangnya kurang begitu diperhatikan oleh kebanyakan atlet. Saat ada hal buruk datang, para atlet yang tak memiliki sumber penghasilan lain tentu akan kelabakan.
tirto.id - Rasa-rasanya tak ada orang Indonesia yang tak mengalami demam tinju pada 3 Mei 1985. Itu adalah hari di mana petinju kebanggaan Indonesia, Ellyas Pical, bertanding dengan petinju Korea Chun Ju-Do untuk merebutkan juara IBF Kelas Bantam Yunior.

Pical dielu-elukan. Gaya kidalnya berhasil membuat Chun kerepotan. Senjata andalannya adalah hook dan uppercut. Julukannya seram: The Exocet, merujuk nama peluru kendali yang digunakan Inggris dalam perang Malvinas.

"Chun sepertinya kesulitan menyarangkan pukulan ke Pical. Chun hanya bisa merapatkan tubuhnya saja," kata komentator memuji Pical.

Pical tampil trengginas hari itu. Dia berhasil melancarkan beberapa hook telak ke pelipis kanan Chun. Pical juga sukses melepas uppercut ke arah perut. Pada ronde kelima, Pical berhasil melepaskan 5 pukulan beruntun ke Chun hingga membuatnya terdesak ke sudut ring.

"Chun tampaknya sudah tak berdaya lagi!" komentator berteriak.

Kemudian di ronde 12, didahului dengan jab kanan, Pical berhasil menyarangkan hook kiri telak ke dagu Chun. Buk! Chun pun jatuh. Pical menggila. Ia lari ke sudut ring. Memeluk pelatih dan koleganya. Pical sempat bersalto. Pelatih dan pendamping ring masuk ke dalam ring. Semua gembira dan histeris. Begitu pula ribuan penonton yang menyesaki Stadion Bung Karno.

Petinju yang akrab dipanggil Eli itu menjadi petinju Indonesia pertama yang meraih gelar juara dunia tinju profesional.

Hitung maju 20 tahun kemudian. Eli ditangkap oleh polisi karena transaksi narkoba. Polisi yang menangkapnya terkejut karena yang ditangkapnya adalah petinju legendaris. Dari sana, ketahuan bagaimana hidup Eli jadi mengenaskan setelah pensiun jadi petinju. Dia menjadi satpam di sebuah diskotik. Setelah dipenjara selama 7 bulan, Eli yang tidak tamat SD ini menjadi officeboy di Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Kehidupan atlet di Indonesia tidak selalu mengkilap. Ketika masih berjaya dan berprestasi, mereka dielu-elukan. Ketika tua, mereka dilupakan, hidupnya mengenaskan. Wajar kalau banyak yang mengibaratkan kehidupan atlet di Indonesia seperti tebu: habis manis sepah dibuang.

Gelimang Uang Ketika Berjaya

Seberapa banyak uang yang bisa didapat seorang atlet di Indonesia? Jawabannya: banyak.

Pemain bola voli dari Tim Jakarta BNI 46, David McKenzie, misalkan. Pada sebuah wawancara medio 2014 silam, dia mengungkapkan kalau kontraknya adalah 40 ribu dolar per musim. Dengan nilai tukar rupiah saat itu, bayarannya berarti setara Rp426 juta per musim. Dengan liga voli yang hanya berlangsung tiga bulan, itu berarti gajinya sekitar Rp142 juta per bulan.

"Sebenarnya rate pemain asing tergantung peringkat mereka di luar seperti apa," kata Berlian Marsheilla, pemain voli putri tim Jakarta Elektrik PLN yang juga jadi agen pemain asing, seperti dikutip oleh Indosport.

"Minimal untuk pemain asing sih di atas $10 ribu. Kalau untuk tahun 2016 ini, ada yang sekitar $20 ribu, itu belum uang makan, uang pertandingan, juga fee agent," ujar pemain yang menempati posisi libero ini.

David mendapatkan gaji yang fantastis karena prestasinya yang mentereng. Pemain dengan tinggi 1,93 meter ini pernah memperkuat tim nasional Amerika Serikat pada Olimpiade Musim Panas 2012. Dia juga pernah bermain di sembilan negara, mulai Kuwait, Yunani, sampai Rusia. Gajinya di negara-negara itu juga besar, mengalahkan gajinya di Indonesia. Di Kuwait, misalkan, dia dibayar $120 ribu per musim.

Proliga yang merupakan kompetisi voli tingkat teratas di Indonesia adalah salah satu contoh liga olahraga yang berjalan dengan baik. Nyaris tak ada catatan buruk di liga ini, termasuk nihilnya tunggakan gaji pemain. Sebab tim-tim yang ada sudah disponsori oleh perusahaan besar. Seperti Pertamina yang jadi sponsor tim Pertamina Energi. Atau PLN yang punya tim Jakarta Elektrik PLN, dan Petrokimia yang mendukung tim Gresik Petrokimia.

Selain Proliga, kompetisi olahraga yang berjalan dengan baik adalah National Basketball League. Kompetisi yang dulu bernama Kobatama ini memang sempat bangkrut pada 2009. Sebagai satu-satunya liga basket profesional di Indonesia, kompetisi ini juga tak memberikan gaji layak bagi para pemainnya.

"Saya kaget, ketika saya sempat membaca kontrak pemain, mereka hanya dibayar Rp750 ribu per bulan," ujar Komisioner NBL Indonesia, Azrul Ananda dalam sebuah wawancara dengan CNN Indonesia.

Azrul sebelumnya dikenal sebagai pendiri kompetisi basket untuk pelajar SMA, Development Basketball League. Dia membawa NBL ke tingkat yang lebih baik, dengan manajemen yang juga jauh lebih baik.

Beberapa indikator antara lain jumlah penonton yang meningkat tiap tahun. Pada awal NBL dipegang oleh DBL pada 2010-2011, penonton semusim hanya 30.000 orang. Kemudian di musim 2011-2012 jumlahnya melonjak jadi 151.369 penonton. Rekor penonton terbesar adalah 8.000 penonton pada pertandingan final antara Deli Aspac Jakarta melawan Satria Muda Britama.

Indikator lain adalah jumlah gaji pemain. Pada saat Azrul mulai memegang NBL, dia menetapkan gaji minimal pemain agar pemain basket bisa hidup dengan layak. Sesuai ketentuan, gaji minimal pemain baru, paling rendah adalah Rp1,5 juta per bulan.

Pada saat Azrul keluar dari NBL karena tak memperpanjang kontrak, dia sedang merancang salary cap, alias batas pengeluaran gaji maksimal dalam sebuah tim. Ini artinya, gaji pemain basket profesional sudah besar sehingga harus dibatasi agar tak berlebihan dan tak ada ketimpangan.

Salah satu pemain dengan gaji termahal adalah Mario Wuysang, playmaker dari tim CLS Knight Surabaya. Di situs NBL Indonesia, kontrak Mario disebut mencapai ratusan juta rupiah per musim. Belum gaji yang mencapai Rp25 juta per bulan. Nama lain yang sempat disebut jumlah kontrak dan gajinya adalah Kaleb Ramot Gemilang, lagi-lagi dari CLS Knight. Menurut Jawa Pos, kontrak Kaleb di atas Rp30 juta per musim, dengan gaji Rp5 juta per bulan.




Pendapatan Atlet Cabang Populer

Suka tidak suka, basket dan voli adalah cabang olahraga yang masih kalah populer dengan dua kakak seniornya: bulutangkis dan sepakbola. Indonesia punya nama teramat harum di badminton, bahkan sempat menjadi penguasa dunia olahraga ini. Di kawasan Asia Tenggara pun, tim sepakbola Indonesia cukup disegani.

Karena itu, tak heran kalau gaji dan bonus dari atlet dua cabang itu lebih besar dibandingkan atlet voli atau basket.
Untuk bulutangkis, liganya memang terbatas. Sekarang, yang terbesar adalah Superliga Badminton Indonesia, baru dimulai pada 2007. Namun, kontrak dan pendapatan menggiurkan menanti di Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia.

Sejak dipimpin oleh Gita Wirjawan, sekarang tiap pemain yang menghuni pelatnas bisa mendapatkan kontrak individu. Semakin berprestasi, semakin besar pula kontraknya. Contohnya Liliyana Natsir, juara ganda campuran All England 2012, yang mendapatkan gaji di atas Rp1 miliar per tahun. Sedangkan untuk kontrak batas bawah adalah Rp25 juta per tahun.
Menurut Kabid Pemasaran dan Sponsorship PP PBSI Yoppy Rosimin, ada empat sampai lima sumber pendapatan bagi atlet bulutangkis Indonesia.

"Pertama dari kontrak individu. Kemudian dari hadiah kejuaraan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri," ujar Yoppy pada Jawa Pos. Kejuaraan BCA Indonesia Open 2015, contohnya, memberikan total hadiah Rp10 miliar.

Cara ketiga adalah bonus dari sponsor. Keempat bonus dari klub. Terakhir adalah bonus dari pemerintah. Lagi-lagi, semakin berprestasi seorang atlet bulutangkis, semakin besar pula pendapatan dari sponsor atau bonus. Bonus pemerintah untuk juara All England adalah Rp500 juta. Bonus untuk sekeping medali emas di Olimpiade pun lebih besar. Pada Olimpiade 2016 yang akan dihelat di Rio de Janeiro, atlet akan dijanjikan bonus Rp5 miliar untuk medali emas.

Atlet sepakbola di Indonesia juga mendapatkan gaji yang tak kalah besar. Dalam ajang Indonesia Super League 2015, nilai kontrak termahal dipegang oleh empat orang, yakni Fabiano Beltrame, Victor Igbonefo, Greg Nwokolo, dan Makan Konate. Mereka mendapat gaji sekitar Rp1,5 miliar per musim.

Dari nama pemain lokal, ada Ismed Sofyan yang disebut-sebut menerima gaji sebesar Rp1,1 miliar per musim. Koleganya di Persija, Bambang Pamungkas, mendapat gaji yang lebih besar, mencapai Rp1,3 miliar untuk satu musim. Andik Vermansyah, yang kini memperkuat Selangor FC asal Malaysia, mendapat bayaran Rp3 miliar per musim. Selain itu ia membintangi iklan dengan honor antara Rp500 juta sampai Rp1 miliar.

Sedangkan bonus, bisa dari bonus individu atau bonus komunal sebagai tim. Di piala AFF, pemain terbaik mendapatkan hadiah $10 ribu, seperti yang pernah diraih oleh pemain Indonesia Firman Utina. Bonus tim biasanya didapat ketika berhasil menjuarai kompetisi. Persib Bandung mendapat hadiah uang Rp2 miliar setelah menjuarai Piala Presiden, dan mendapat bonus tambahan Rp400 juta dari sponsor tim.

Lalai Manajemen, Suram Masa Depan

Seorang bintang olahraga akan mati dua kali, kematian pertama datang setelah mereka pensiun.
Kredo terkenal di dunia olahraga ini menjelaskan bahwa masa depan atlet selepas pensiun adalah sesuatu yang menyeramkan. Tak ada kepastian. Kebiasaan dielu-elukan ketika di lapangan, tak lagi didapat. Wajar kalau banyak pensiunan atlet merasa depresi.

"Kamu harus bisa melupakan olahraga yang kamu suka, jangan sampai kamu yang merasa dilupakan oleh olahraga itu. Karena kalau kamu merasa ditinggalkan, itu akan merusak mentalmu," kata mantan bintang NFL (liga sepak bola khas Amerika), Deion Sanders.

Tak hanya perihal psikologis, masalah keuangan juga kerap membelit atlet yang tak lihai dalam manajemen. Majalah Sports Illustrated pada 2009 pernah merilis data bahwa 78 persen pemain NFL (liga untuk sepak bola khas Amerika) bangkrut setelah dua tahun pensiun. Di basket, sekitar 60 persen pemain NBA bangkrut setelah enam tahun pensiun. Lebih tragis, banyak pensiunan atlet yang bunuh diri. Setidaknya ada 31 pensiunan atlet NFL yang bunuh diri.

Karena bukan merupakan profesi dinas, tak ada uang pensiun bagi atlet. Seharusnya, atlet sudah sadar akan hal ini. Manajemen keuangan merupakan hal vital, yang sayangnya kurang begitu diperhatikan oleh kebanyakan atlet. Saat ada hal buruk datang, para atlet yang tak memiliki sumber penghasilan lain tentu akan kelabakan.

Pada saat FIFA membekukan PSSI, banyak pemain sepak bola yang kebingungan. Ribuan pemain menganggur. Sebagian mulai menguras tabungan. Ada pula yang mulai menjual harta bendanya. Ada juga yang menjajal profesi lain, seperti Galih Sudaryono. Mantan penjaga gawang Persija ini terpaksa menjadi operator odong-odong untuk menyambung hidup. Padahal ketika masih jadi pemain, gajinya bisa mencapai jutaan rupiah per bulan.

Para atlet seharusnya mulai memikirkan investasi atau menabung ketika masih berjaya. Tak hanya pemain, klub juga seharusnya mendorong pemain agar bisa lebih bijak dalam manajemen keuangan, ataupun investasi.

Salah satu langkah bagus adalah apa yang dilakukan oleh PB Djarum, salah satu klub bulu tangkis terbesar di Indonesia. Selain memberikan beasiswa, mereka juga terus mendorong atletnya untuk melanjutkan sekolah. Walhasil, tidak semua atlet di sana meneruskan karier sebagai atlet profesional. Ada yang jadi dokter, pengacara, sampai polisi.

Hal yang sama juga dilakukan oleh beberapa klub basket Indonesia. Kaleb mendapat beasiswa dari CLS Knight untuk jenjang S2 di Universitas Narotama. Menurut manajer M88 Aspac Jakarta, Irawan Haryono, beasiswa kuliah ini rutin diberikan sejak 1980-an. Para pemain basket NSH Jakarta juga mendapat beasiswa untuk berkuliah di beberapa kampus.
"Di tempat kami, siapa pun yang mau kuliah atau meneruskan kuliah hingga ke jenjang S-3 sekalipun akan kami penuhi. Bagaimanapun, pendidikan tetap nomor satu," ujar Irawan pada Kompas.

Selain itu, Aspac juga membantu pensiunan atlet dari timnya untuk mencari kerja. Mulai jadi asisten pelatih hingga pegawai negeri sipil. Pemain seperti Muhammad Thoyib (32) kini menjadi PNS di Dinas Pemuda dan Olahraga Jawa Tengah. Andrie Ekayana dari Hangtuah Sumsel, Fidyan Dini dari Aspac, dan Cokorda Raka Satrya Wibawa yang merupakan mantan pemain nasional, juga jadi PNS. Tentu salah satu syaratnya adalah dengan punya gelar S1.

Dengan manajemen karier dan keuangan yang baik, seorang atlet memang tak seharusnya hidup laiknya lagu “Haru Biru” milik band Netral: bermandi hujan di kala jaya, tercebur lumpur sewaktu hancur.

Baca juga artikel terkait ATLET atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Nuran Wibisono


Artikel Lanjutan
DarkLight