Kapolri: Saya Tak Pernah Tuduh Demonstran Berbuat Makar

Oleh: Yuliana Ratnasari - 28 November 2016
Dibaca Normal 1 menit
Kapolri berkilah telah menuduh para demonstran yang menuntut Ahok melakukan penistaan agama, melakukan makar. Padahal sinyalemen makar itu dialamatkan buat para pendompleng demo.
tirto.id - Dugaan adanya makar bersamaan dengan aksi umat Islam beberapa waktu lalu diungkapkan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian ditujukan untuk pendompleng. Karenanya, Tito menyanggah telah menuduh peserta unjuk rasa yang menuntut proses hukum terhadap Ahok itu melakukan makar.

"Saya tidak pernah sekalipun menuduh pengunjuk rasa dalam aksi tersebut makar," katanya saat menghadiri silaturahmi dan sarapan pagi bersama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Pengurus NU dari tingkat provinsi hingga kelurahan se-Jakarta di Gedung PBNU, Minggu (27/11/2016) malam.

Tito mengungkapkan, Polri menengarai ada kelompok-kelompok pendompleng yang membawa agenda sendiri pada saat demo 4 November. “Mereka membawa agenda di luar tuntutan dugaan penistaan agama oleh Ahok, seperti pendirian khilafah, menggulingkan presiden sah,” jelas Tito.

Bahkan, lanjutnya, ditengarai ada kelompok yang ingin membuat teror dan kekacauan sehingga pihaknya saat itu juga menyiagakan Densus 88 untuk mengantisipasi kejadian-kejadian tak diinginkan. “Hal itu juga sudah dikomunikasikan dengan pemimpin Gerakan Pengawal Fatwa MUI selaku penanggung jawab aksi, di antaranya Rizieq Shihab,” imbuh Tito.

Karenanya, ia pun menolak anggapan bahwa dia tidak mengizinkan orang berunjuk rasa, termasuk terkait rencana aksi 2 Desember. “Hanya saja, aksi jangan dilakukan di jalan protokol yang bisa merugikan orang lain,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam pidatonya mengatakan hari-hari ini Bangsa Indonesia sedang menghadapi banyak hal yang di permukaan tampak sebagai kebenaran, namun hakikatnya belum tentu demikian. “Begitu banyak kebenaran diucapkan, tapi yang dikehendaki sesungguhnya adalah kebatilan," kata Said Aqil seperti dilansir dari Antara.

Said Aqil menjelaskan, banyak orang mengaku dan mengatasnamakan Islam, namun yang dilihat justru adanya gejala ismun bi laa musammaa, yakni gejala adanya perbedaaan antara nama dan yang dinamai. “Simbol memang penting, tapi perjuangan yang hanya bersifat simbolik jelas menyesatkan," katanya.

Sementara itu, ketika ditanya mengenai agenda pertemuan PBNU, Sekjen PSNU Pagar Nusa M Nabil Harun selaku panitia membantah acara itu digelar sebagai persiapan menghadapi rencana aksi umat Islam 2 Desember.

Menurut dia, acara itu digelar sebagai ajang silaturahmi dan komunikasi PBNU dengan pengurus di tingkat akar rumput yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. "Acara sejenis juga akan dilaksanakan di daerah lain. Ini memang baru pertama kali digelar," katanya.

Baca juga artikel terkait DUGAAN PENGHASUTAN DAN MAKAR atau tulisan menarik lainnya Yuliana Ratnasari
(tirto.id - Politik)

Reporter: Yuliana Ratnasari
Penulis: Yuliana Ratnasari
Editor: Yuliana Ratnasari