Kanker yang Semakin Ganas Menyebar

Infografik Kanker
Anak penderita Kanker. FOTO/iscc-charity.org
Oleh: Yantina Debora - 4 Februari 2017
Dibaca Normal 2 menit
Kanker merupakan penyakit tua yang sudah ada di masa Yunani kuno. Para peneliti di bidang medis terus bekerja keras untuk mencari obat atau penawar dari penyakit ini.
tirto.id - Setiap tanggal 4 Februari, dunia memperingatinya sebagai hari kanker dunia. Penetapan hari kanker ini bertujuan mengingatkan penduduk dunia tentang bahaya kanker, dan ajakan untuk bersama-sama melawan penyakit ini.

Kanker tergolong penyakit tua yang hingga kini belum ditemukan obat untuk menyembuhkannya secara tuntas. Perlawanan terhadap kanker bahkan sudah dilakukan sejak masa Yunani Kuno. Dalam Cancer.org dijelaskan adanya bukti kemunculan kanker pada mumi dari masa itu. Ditemukan adanya pertumbuhan sugestif dari kanker tulang yang disebut osteosarcoma di mumi tersebut dan juga ditemukan adanya perusakan tulang tengkorak.

Hal ini diperkuat dengan ditemukannya cacatan medis tentang kanker (saat itu penyakit ini belum dinamai kanker). Catatan kuno dari papirus Edwin Smith berisi tentang deskripsi kanker yang ditulis sekitar 3000 SM. Catatan tersebut menunjukkan adanya upaya untuk mengangkat tumor payudara dengan alat yang disebut fire drill. Secara sederhana penemuan tersebut menjelaskan tentang operasi pengangkatan tumor di masa itu.

Beribu-ribu tahun penyakit ini tidak memiliki nama. Hingga Hippocrates yang merupakan seorang dokter Yunani kuno (460-370 SM) menggunakan istilah karsinoid dan karsinoma untuk menggambarkan penyakit tersebut. Dalam bahasa Yunani, kata-kata itu merujuk pada kepiting. Yang pada akhirnya diterjemahkan dalam bahasa latin menjadi cancer yang hingga kini digunakan untuk menamai penyakit tua tersebut.

Pada perkembangan selanjutnya di abad ke-18, adanya otopsi membantu meningkatkan pemahaman para ilmuan mengenai tubuh manusia. Perkembangan anestesi pada abad ke-19 memungkinkan operasi seperti mastektomi untuk dikembangkan. Sementara itu terapi radiasi muncul pada pergantian abad ke-20. Ini adalah masa di mana muncul beberapa terobosan baru. Mulai dari pemahaman tentang DNA dan link genetik untuk kanker, program pemeriksaan, teknik bedah invansif hingga program kesadaran masyarakat untuk meningkatkan kesadaran risiko kanker.


Kanker Penyakit Global

Perkembangan tentang temuan kanker semakin maju, tetapi tantangan untuk melawan kanker masih besar. Kanker kini telah menjadi salah satu pembunuh terbesar di dunia. Kanker pun tak kenal usia. Dia bisa menyerang siapa saja mulai dari balita hingga orang dewasa.

Pada 2012 ,WHO mencatat sekitar 8,2 juta manusia meninggal disebabkan oleh kanker. Ada berbagai jenis kanker di dunia mulai dari kanker paru, hati, perut, payudara, kanker pankreas, prostat hingga kanker serviks.

Dari jenis-jenis kanker tersebut, kanker paru adalah yang paling mematikan. Pada 2015, WHO menempatkan kanker paru di urutan kelima sebagai penyebab utama kematian global. Sekitar 1,69 juta penduduk dunia meninggal setiap tahunnya karena kanker jenis ini.

Menurut WHO, kanker paru menjadi salah satu yang banyak diidap oleh laki-laki di dunia. Kanker lainnya yang sering diidap laki-laki adalah kanker prostat, colorectum, perut dan kanker hati. Sedangkan untuk perempuan paling banyak diserang kanker payudara, colorectum, kanker leher rahim, kanker perut dan juga kanker paru.

Penyebab kanker beragam. Ada yang disebabkan faktor genetik, faktor karsinogen yakni zat kimia, virus, hormon dan iritasi kronis. Ada juga karena faktor perilaku atau gaya hidup seperti merokok pola makan tidak sehat, mengkonsumsi alkohol dan kurangnya aktivitas fisik.

Faktor karena gaya hidup menyumbang sekitar 30 persen dari kematian akibat kanker. Dan rokok adalah pemicu utama kanker karena gaya hidup yang salah tersebut. Sesungguhnya kanker karena gaya hidup ini dapat dicegah. Melawan dengan memulai gaya hidup sehat. Jika tidak, WHO memproyeksi kasus kanker akan terus meningkat sekitar 70 persen dalam dua dekade mendatang.

Bagaimana dengan Indonesia?

Prevelensi penyakit kanker di Indonesia cukup tinggi. Menurut Riset Kesehatan Dasar 2013, prevalensi kanker di Indonesia mencapai 1,4 dari 1000 atau sekitar 347 ribu orang. Kanker payudara adalah jenis kanker yang banyak menyerang penduduk Indonesia, menurut Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), Linda Gumelar.

“Di Indonesia, kasus baru kanker payudara menajdi kasus kematian tertinggi dengan angka 21,5 pada setiap 100.000. Yang memprihatinkan, 70 persen pasien kanker payudara baru datang ke fasilitas kesehatan pada stadium lanjut,” ujar Linda, seperti dikutip Antara.

Kanker payudara menjadi ancaman bagi perempuan Indonesia karena banyak menyerang kaum hawa. Selain itu ada juga kanker serviks dan kanker ovarium di antaranya merupakan jenis kanker yang sering diderita oleh perempuan di Indonesia. Ada mitos yang beredar mengenai penggunaan kontrasepsi hormonal jangka panjang yang berpengaruh pada peningkatan risiko kanker.

“Mitos mengenai pengaruh antara kontrasepsi hormonal dengan peningkatan risiko kanker tidak seluruhnya benar. Sampai saat ini belum ada studi yang adequate untuk menjelaskan hal tersebut. Pada dasarnya, risiko kanker akan meningkat pada wanita yang memiliki kanker dalam keluarganyanya, serta tidak menjaga pola hidup sehat,” ujar Deputy GM Family Planning & Reproductive Health DKT Indonesia, Basuki Dwi Harjanto, dalam siaran pers yang diterima Tirto.

Menurut Basuki, studi malah menunjukkan bahwa penggunaan kontrasepsi justru akan meningkatkan kesehatan seorang perempuan. Ada beberapa manfaat di antaranya mengurangi risiko kanker ovarium, mengurangi jerawat, mengurangi risiko endometriosis, serta membantu mengurangi anemia.

Selain kanker payudara, ada juga kanker paru yang banyak menyerang laki-laki Indonesia. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan jika 30 persen kematian laki-laki di Indonesia pada 2012 karena kanker paru, salah satunya disebabkan oleh rokok. Sedangkan kasus baru karena kanker paru pada laki-laki Indonesia mencapai 34,2 persen.

Meski hingga saat ini masih sulit untuk melawan sel-sel kanker tetapi pada awal 2017, seorang dokter di Korea Selatan berhasil menemukan sebuah metode yang dapat mendeteksi sel-sel kanker melalui sampel darah.

Penelitian yang dipimpin oleh Cho Young-koo dari Pusat Kanker Nasional Korea Selatan mendeteksi dan mengisolasi sel-sel tumor yang beredar (CTC) dalam sampel darah pasien kanker payudara.

“Deteksi CTC akan sangat membantu tidak hanya diagnosa dini kanker tetapi juga dalam perawatan kanker. Teknologi ini hanya memerlukan darah dari pasien yang tidak biopsi,” kata Young-koo, seperti dikutip Yonhap.

Upaya-upaya untuk menemukan obat mujarab mengatasi kanker terus dilakukan. Temuan-temuan baru terus bermunculan untuk mencegah keganasan kanker. Hal lain yang bisa dilakukan untuk menghadapi kanker adalah melakukan pencegahan dini dengan pola makan dan hidup sehat.

Baca juga artikel terkait KANKER atau tulisan menarik lainnya Yantina Debora
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Yantina Debora
Penulis: Yantina Debora
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight