Misbar

Kami Melahap Habis Film-Film Nicholas Sparks, Inilah Hasilnya

Poster Film Nicholas Sparks. foto/imdb
Oleh: Irma Garnesia - 23 Agustus 2020
Dibaca Normal 4 menit
Film-film Nicholas Sparks sangat formulaik. Kenapa formulaik? Karena laku. Kenapa laku? Karena formulaik.
Soal: Setelah membaca beberapa sinopsis di bawah ini, tandailah mana film Nicholas Sparks dan mana film Uwe Boll?

1. Ada cewek Kristen saleh bertemu bad boy tukang kelahi. Mereka dipersatukan oleh pementasan drama yang mulanya ditujukan untuk menghukum si cowok. Keduanya jadi dekat dan jatuh cinta sampai si cewek meninggal karena leukemia.

2. Seorang ibu dua anak bingung karena suaminya minta rujuk di tengah proses perceraian. Sembari memikirkan keputusan yang tepat, ia membantu teman mengurusi hotel di Carolina Utara. Di sana, ia bertemu pria paruh baya yang hidupnya tak kalah pelik. Kesamaan itu membuat keduanya dekat. Sayang, mereka tak bisa bersama karena si pria meninggal ketika mengunjungi putranya di pedalaman Amerika Selatan.

3. Seorang mantan marinir berusaha mencari seorang perempuan di sebuah foto yang ia percaya telah menyelamatkannya dari ledakan saat perang. Perempuan itu ternyata adalah ibu satu anak yang tengah berkonflik dengan suaminya. Mas-mas tentara dan mbak-mbak ini jadi dekat dan membuat si mantan suami kesal. Menjelang akhir cerita, si mantan suami meninggal karena menyelamatkan anaknya yang nyaris tenggelam di sungai.

4. Skenario lain: mbak-mbak dan mas-mas yang bertemu setelah 21 tahun putus kontak. Keduanya mengunjungi pemakaman kawan lama dan mengurusi surat warisan sembari bernostalgia. Setelah berpisah lagi, mereka sadar tak bisa hidup tanpa satu sama lain. Hanya saja, mas-mas ini keburu meninggal. Di akhir, ia sempat mendonorkan jantungnya untuk menyelamatkan putra kekasih lamanya itu.

Jawaban: Semuanya film-film Nicholas Sparks. Tidak ada film Uwe Boll.


Kisah cinta gadis saleh dan cowok bengal yang dipisahkan leukemia ada di A Walk to Remember (2002). Ibu beranak dua yang bertemu seorang dokter dan saling curhat bisa Anda temukan di Nights in Rodanthe (2008). Kisah cinta prajurit veteran yang merasa diselamatkan oleh foto gadis yang tak ia kenal akan Anda saksikan di The Lucky One (2012), kisah prajurit lainnya di Dear John (2010), dan kisah mbak dan mas yang bertemu setelah 21 tahun di The Best of Me (2014).

Sebutkan saja kisah-kisah antara cowok dan cewek yang harus terpisah karena sakit keras atau kematian tak terduga. Jika bukan mas-mas atau mbak-mbak yang meninggal, barangkali ayah dari si mbak. Well, itulah plot dari The Last Song (2010). Anda gusar karena tak ada yang meninggal? Tenang, ada nasihat tips dan trik menjalani hidup dari arwah mantan istri di Safe Haven (2013).

Memang tak adil jika tak menyebutkan The Notebook (2004). Inilah satu-satunya film Sparks yang mendapat skor lumayan di Rotten Tomatoes (53 persen). Barangkali yang membuat film ini beda adalah latar di Amerika Serikat tahun 1940-an dan cinta yang terlarang akibat perbedaan kelas sosial. Kemungkinan lainnya: karena Rachel McAdams punya potensi jadi America’s sweetheart setelah Meg Ryan atau Julia Roberts, dan Ryan Gosling sangat mahir jadi sobat murung sekaligus sosiopat yang jualan rumah.

Tipikal kisah yang disajikan Sparks tersebut sudah bisa terlihat dari adaptasi film pertamanya, Message in a Bottle (1999). Film ini dimulai dengan seorang reporter bernama Theresa Osborne yang menelusuri sebuah surat cinta yang ditujukan untuk seseorang bernama Catherine. Surat itu ditemukan tersimpan dalam sebuah botol yang terdampar di tepi pantai.

Saya heran, jurnalis mana yang menelusuri surat cinta anonim di dalam botol? Saya kira awalnya 1999 adalah tahun yang kurang sibuk sehingga semua jurnalis Amerika punya waktu luang. Perkiraan saya salah: 1999 adalah tahun yang cukup sibuk. Dewan Perwakilan Amerika memulai pemakzulan terhadap Presiden Bill Clinton pada 7 Januari. Masih di bulan yang sama, penjaga pantai di AS mencegat sebuah kapal dengan muatan lebih dari 4.300 kg kokain yang sedang menuju Houston, Texas. Peristiwa itu adalah salah satu penggerebekan narkoba terbesar dalam sejarah Amerika. Pada November 1999, demo anti-globalisasi besar-besaran mengguncang Seattle.

Jurnalis majalah Misteri atau tabloid Posmo jelas lebih sibuk ketimbang Theresa tahun itu. Saya tidak bercanda. Jelang pemilu 1999, majalah Misteri betul-betul sibuk menerawang siapa presiden Indonesia setelah Habibie berdasarkan rumus "No-To-No-Go-Ro" dan wangsit dari Nyi Roro Kidul.

Dua film adaptasi dari Nicholas Sparks yang dirilis dalam lima tahun terakhir, The Longest Ride (2015) dan The Choice (2016), juga tak meninggalkan kesan mendalam. Ceritanya pun masih mengusung formula cewek ketemu cowok (boy meets girl) dan segala urusan yang membuat mereka nyaris tak bisa bersama. Untungnya, dua film paling baru ini tak mengisahkan kematian yang dibuat-buat, meski masih melibatkan kecelakaan sebagai salah satu plot cerita.

Ciri khas lainnya adalah komposisi poster film yang itu-itu saja:

1. Cowok dan cewek nyaris ciuman. Ingat: nyaris. Tak jelas apa yang bikin nyaris itu. Mungkin "semesta", mungkin juga takut dosa.

2) Cowok peluk-peluk cewek dari belakang.

Poster-poster film Sparks tak berubah dari 1999 hingga 2016. Tapi bukan hanya poster yang tak berubah: selama 17 tahun itu, karakter-karakter Sparks adalah mas-mas ganteng dan mbak-mbak cantik yang pikiran, ucapan, dan tindakannya sangat vanilla.

Sosok-sosok mbak dan mas vanilla American inilah yang paling ditonjolkan dalam pemasaran film dan dipajang dengan gamblang di poster; berkulit putih, bertubuh langsing dan berotot, berwajah menarik, dan lebih baik lagi jika pandai bernyanyi. Coba sebutkan alasan untuk tidak memberi peran pada Mandy Moore dan Miley Cyrus ketika karir musik mereka sedang naik? Kedua artis juga digambarkan jago bernyanyi dalam film Sparks. Hanya Zac Efron yang tidak bernyanyi di The Lucky One.

Tak boleh dilupakan bahwa film-film Sparks biasa berlatar di kota kecil negara bagian tenggara Amerika seperti Louisiana, Carolina Utara, Georgia, dan Carolina Selatan. Selain itu, beberapa adegan akan berlokasi di pantai atau taman bunga. Sparks, penulis Nebraska, telah tinggal lama di Carolina Utara. Sparks sepertinya tak bisa memilih latar lain untuk ceritanya.

Tapi, meski Sparks miskin imajinasi seputar lokasi syuting, ia berhasil membuat Amerika terlihat seperti tempat terbaik untuk dihuni dan penuh kenangan hangat. Sebaliknya, tempat-tempat di luar Amerika dalam film-film Sparks adalah Irak, Afghanistan, dan sebuah daerah di Amerika Selatan. Tempat-tempat ini digambarkan meninggalkan memori kelam pada tokoh-tokohnya--tapi melupakan fakta bahwa Amerika-lah yang membikin negeri-negeri ini pahit. Bukankah ini adalah pandangan paling klasik dan sempit ala orang Amerika di negara-negara bagian selatan yang gemar pamer bendera itu?



Film-film Sparks juga selalu diiringi surat-surat yang ditulis tangan. Surat tersebut biasanya ditulis untuk mengabarkan sang kekasih bahwa kehadiran mereka sangat berarti dalam hidup si penulis. Tapi siapa, sih, yang masih mengirim tulisan tangan di tahun 2014? Selain editor saya yang lahir pada 1980-an tapi jiwa-raganya terperangkap di tahun 1880-an, orang yang masih menulis surat tangan adalah James Marsden di The Best of Me. Sparks bahkan tak mengizinkan Marsden mengirim email atau pesan instan. Namun, Sparks masih mentolerir penggunaan mesin ketik di tahun 1990-an (Message in a Bottle).

Penggambaran klasik Sparks lainnya--yang sedikit banyak digambarkan lewat surat-surat--adalah orang yang ditinggalkan merasa seperti mendapat hidayah setelah cintanya kandas. Alternatifnya: yang ditinggalkan merasa kekasihnya masih menemani mereka lewat donor jantung (The Best of Me) atau lewat embusan angin (A walk to Remember).

Namun, meski menulis drama-drama dengan plot dan elemen yang sudah gampang ditebak, Sparks seperti enggan meninggalkan zona nyaman tersebut. Dalam wawancara pada 2015 ia menyampaikan, “Aku tidak mau menulis novel yang tidak akan dibaca banyak orang, karena bukan itu yang mereka harapkan. Aku tidak ingin mengecewakan pembacaku, mereka membeli bukuku dan mengharapkan cerita yang mereka kenal, bukan untuk membaca hal lainnya.”

Barangkali memang prinsip itulah yang membuat buku-buku Sparks laku keras. Lima belas novel Sparks masuk dalam New York Times Bestseller--astaga, ada apa dengan pembaca Amerika?

Satu-satunya alasan yang boleh jadi membuat Sparks berhenti mengadaptasi cerita-cerita yang itu-itu saja adalah perusahaan produksinya, Nicholas Sparks Productions, yang tutup pada 2016. Salah satu alasan tutupnya rumah produksi tersebut adalah film terakhirnya, The Choice yang hanya meraup keuntungan sebesar USD 18 juta. Kalah jauh dibanding film-filmnya yang lain yang mampu meraup keuntungan lebih dari USD 100 juta.

Adaptasi terakhir Sparks yang sudah direncanakan sejak 2015 adalah seri televisi dari The Notebook. Seri ini akan diproduksi oleh jaringan televisi The CW. Seri ini masih akan berkisah soal hubungan Allie dan Noah pasca perang dunia kedua. Namun, meski sudah lima tahun dan belum diketahui tanggal penayangannya, semoga saja seri ini tak lagi berisi tragedi yang dipaksakan atau pandangan klasik Nicholas Sparks tentang perang sipil.

Atau lebih buruk lagi, mas-mas dan mbak-mbak pasangan vanilla yang mengarungi hidup medioker sebelum akhir yang sudah sama-sama kita ketahui: dipisahkan oleh demensia.

Baca juga artikel terkait MISBAR atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Film)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Windu Jusuf
DarkLight