9 Januari 1988

Kalau Gombloh Sudah Melekat, Tai Kucing Rasa Cokelat

Oleh: Nuran Wibisono - 9 Januari 2018
Dibaca Normal 3 menit
Serenada di
kaki lima. Menggebyar
pelangi jiwa.
tirto.id - Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa 1960-an sekaligus pendiri Mahasiswa Pecinta Alam UI, pernah menulis bait yang kemudian banyak dikutip para pendaki gunung. "Patriotisme," katanya, "tidak mungkin tumbuh dari hipokrasi dan slogan-slogan. Seseorang hanya akan mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat dilakukan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat."

Sama seperti Gie, Gombloh banyak menciptakan lagunya dengan cara mengembara. Ia adalah satu dari sedikit sekali musisi sekaligus trubadur, sang pengelana. Lagu-lagu dengan kandungan rasa cinta terhadap bangsa lahir dari pengembaraannya. Tidak hanya lagu yang patriotik, tapi juga lagu dengan cerita sosial masyarakat kelas bawah.

Gombloh lahir di Jombang pada 14 Juli 1948 sebagai anak keempat dari enam bersaudara. Nama aslinya Soedjarwoto Soemarsono. Tapi sang ayah memanggilnya "Gombloh". Arti kata itu, ujar Gombloh suatu ketika, adalah "tolol" atau "bodoh sekali".

Tapi Gombloh jelas tidak bodoh. Ia berhasil menyelesaikan sekolah di SMA 5 Surabaya yang dikenal sebagai sekolah favorit. Selepas SMA, Gombloh juga berhasil masuk ke jurusan Arsitektur, Institut Teknik Sepuluh Nopember. Namun kuliah yang sudah dijalaninya selama dua tahun itu tak selesai.

Baca juga: Kejarlah (Ilmu) Rock Setinggi Mungkin

Seniman yang Menyelami Denyut Nadi Rakyat

Cabut dari bangku kuliah, ia lantas memilih jalan sebagai seniman. Gombloh sempat kabur ke Bali dan hidup menjadi seorang bohemian. Meski kemudian ia dikenal sebagai penyanyi solo, album pertamanya justru lahir saat ia berada di kelompok Gombloh & Lemon Tree's Anno '69.

Mereka merilis album perdana Nadia & Atmospheer (1978) yang diproduksi Indra Record dan Golden Hand. Di album itu, Gombloh memainkan gitar akustik, gitar senar 12, tabla, konga, drum, dan gitar bass. Ia juga bernyanyi dan membuat lagu. Personel lainnya adalah Wisnu Padma (piano, synth, organ, dan instrumen gesek), Gatot (gitar), Tuche (gitar bass), Totok (drum).

Di album itu, ada lagu berjudul "Lepen", singkatan dari Lelucon Pendek. Dalam lagu tersebut, tampak sekali bagaimana humorisnya Gombloh. Juga betapa ia adalah seorang pencerita kisah tragis yang ulung. Ia berkisah tentang pria yang jatuh cinta, berusaha ngapel dengan sisa tiga batang rokok dan sepatu Kickers loak. Apa daya, yang keluar adalah "bapaknya, dengan muka ditekuk persis kayak onta." Lagu ini juga melahirkan idiom yang masih populer hingga saat ini: "kalau cinta melekat, tai kucing rasa cokelat".

Total ada 10 album yang dibuat oleh Gombloh & Lemon Tree's. Yang paling populer adalah Kebyar Kebyar (1979) dan Berita Cuaca (1982). Di album Kebyar Kebyar, ada lagu berjudul sama yang berumur panjang. Ia menjadi salah lagu identitas Gombloh yang terus dinyanyikan dan direproduksi, termasuk hasil daur ulang yang amat buruk oleh Arkarna pada 2015 silam. Pada 2009, Rolling Stone Indonesia memasukkan "Kebyar Kebyar" dalam senarai 150 Lagu Indonesia Terbaik.

Sedangkan Berita Cuaca juga melahirkan hits berjudul sama. Pada 1998, lagu itu dibuat ulang oleh band rock Surabaya, Boomerang, dan masuk ke dalam album Segitiga. Pada 2009, Rolling Stone Indonesia menempatkan "Berita Cuaca" di peringkat 98 dalam 150 Lagu Indonesia Terbaik.

"Berita Cuaca" kembali menegaskan Gombloh sebagai musisi yang mencipta lirik dari pengamatan terhadap kehidupan Indonesia dari dekat. Sebagai penulis lirik, ia bisa meramu nostalgia dengan kondisi terkini, lengkap dengan kritik—atau kenelangsaan—yang tersembunyi. Diksi yang dipakai juga kerap tak umum, misalkan penggunaan istilah "kartaraharja".

Baca juga: Tarian Kata dalam Lirik Ebiet G. Ade dan Gombloh

Negara Melupakannya, Para Seniman Tidak

Sebagai seorang seniman, Gombloh dikenal punya ide yang unik. Pada 1973, ia memikirkan konsep tonil rock, gabungan antara musik rock dengan sandiwara. Dalam wawancara dengan majalah Aktuil pada 1978, sang reporter sempat menduga bahwa Gombloh mengekor Harry Roesli yang membuat Rock Opera Ken Arok (1977). Gombloh tidak terima dibilang seperti itu.

"Bukan! Ide saya ini lahir tahun 1973 dan sekali lagi saya tegaskan, saya ini tidak meniru siapa-siapa. Yah, memang begitulah nasib kami-kami yang di daerah."

Gombloh kemudian bersolo karier selepas album Kami Anak Negeri Ini (1983). Ia hanya mengusung nama Gombloh. Dalam buku Musisiku (2007), disebut bahwa solo karier Gombloh menandai perubahan warna musik. Ia membuat musik yang lebih pop, berbeda dengan musik kala di Lemon Tree's yang lekat dengan unsur art rock. Di buku itu pula, ada kisah yang sering dituturkan walau belum terkonfirmasi benar atau tidaknya. Suatu hari, Gombloh berkelakar pada bos di studio tempat rekamannya.

"Kapan bisa punya mobil nih."

"Makanya, bikin dong lagu-lagu yang laris."

Gombloh akhirnya bisa punya mobil Jimny berwarna putih. Bisa jadi karena ia makin populer dan albumnya lebih laris terjual. Tapi mobil putih itu juga bernasib mengenaskan. Seorang wartawan yang datang untuk mewawancara Gombloh melihat mobil itu diparkir di depan gang. Atapnya dijadikan tempat menjemur nasi kering, sedangkan bagian depan dipakai untuk tempat jemuran baju tetangga.

Meski Gombloh populer, ia tak banyak yang berubah. Dandanannya tetap nyentrik: kumis baplang, kacamata hitam, dan topi kesayangannya.

Baca juga: Dave Grohl & Mereka yang Moncer Selepas Band Lama

Infografik mozaik gombloh


Pendekatan pop Gombloh juga tampak di "Kugadaikan Cintaku" yang termaktub di album Apel (1986). Lagu itu populer, dan merajai radio. Menariknya, karena lirik lagu awalnya adalah "Di radio, aku dengar lagu kesayanganmu", lagu itu kerap disebut berjudul "Di Radio".

Apel dianggap sebagai album Gombloh yang paling laris. Ia disebut-sebut terjual hingga satu juta keping. Sayang, tak ada data yang benar-benar valid. Kesuksesan Gombloh diikuti oleh perilisan Apa Itu Tidak Edan (1987). Itu adalah album terakhir Gombloh. Sebab pada 9 Januari 1988, tepat hari ini 30 tahun lalu, Gombloh meninggal dunia di usia 39.

Kematiannya ditangisi banyak orang. Itu memang patut. Sebab Indonesia jelas kehilangan seorang musisi yang mengabdikan dirinya untuk musik. Radio-radio memutar lagu Gombloh. Jalanan macet, karena pelayat yang turut mengantar Gombloh ke rumah terakhir mengular hingga empat kilometer.

Sebagai seniman yang banyak menulis lagu bermuatan nasionalisme dan lagunya masih terus diputar di hari kemerdekaan, Gombloh ternyata dilupakan negara. Yang memberinya penghormatan selama ini adalah kelompok musisi dan pelaku industri musik. Semisal saat Kelompok Pemusik Jalanan Surabaya menobatkannya sebagai Pahlawan Pemusik Jalanan pada 2003. Lalu pada 2005, Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia menganugerahinya Nugraha Bhakti Musik.

Tapi Gombloh mungkin tak akan peduli soal penghargaan macam apapun dari negara. Begitu pula para penggemarnya. Yang paling penting: lagu-lagu Gombloh tak akan dilupakan, dan selamanya akan membuat tai kucing rasa cokelat.

Baca juga artikel terkait MUSIK INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Musik)

Reporter: Nuran Wibisono
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Ivan Aulia Ahsan