Jokowi Minta Waspadai Corona di Pesantren & Asrama

Oleh: Andrian Pratama Taher - 13 Juli 2020
Dibaca Normal 1 menit
Hari ini sekolah mulai masuk, tetapi Jokowi mengingatkan sekolah agama berbasis asrama atau pesantren rentan ada penularan Corona.
tirto.id - Presiden Jokowi kini menaruh atensi terhadap sekolah agama berbasis asrama atau pesantren. Presiden tidak ingin ada kaus COVID-19 di boarding school termasuk asrama lantaran boarding school merupakan daerah rentan penyebaran Covid-19.

"Pesan presiden, terkait dengan kegiatan pendidikan yang berbasis agama. Sehingga ini harus menjadi atensi semuanya," Kata Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Letjen Doni Monardo usai rapat bersama Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (13/7/2020).

Doni mengatakan, Jokowi menaruh atensi setelah ada klaster penyebaran di Sekolah Calon Perwira (Secapa) TNI AD. Sebagai catatan, 1.280 orang anggota termasuk calon perwira terpapar Corona.

Jumlah anggota TNI AD yang positif Covid-19 di klaster Sekolah Calon Perwira (Secapa) TNI AD berkurang. Berdasarkan hasil lab PCR swab ke-2 hingga Senin (13/7/2020), 98 orang anggota kini dinyatakan negatif.

"Diingatkan kepada semua boarding school termasuk pesantren, untuk hati-hati dalam menyelenggarakan kegiatan pendidikan berbasis agama. Karena kalau ada satu orang saja yang terpapar, maka potensi terpapar yang lain pun sangat tinggi," ujar Doni.

Selama ini, sekolah masih menerapkan pembelajaran jarak jauh. Hanya saja ada sejumlah pesantren di Indonesia yang mulai mengadakan pembelajaran tatap muka. Namun, pada 13 Juli sudah ada sekolah yang memilih tatap muka di sejumlah daerah. Mendikbud mengizinkan 104 daerah untuk pembelajaran tatap muka sebagai awal mula tahun ajaran baru 2020/2021.

Sebelumnya, Wakil Presiden RI, Maruf Amin menyebut, sekolah berbasis asrama justru aman karena ada isolasi dan karantina. Belum diketahui bagaimana responsnya setelah ada klaster Secapa AD.

Masalah lain yang mendesak adalah virus SARS-CoV-2 bisa menyebar lewat udara di ruangan tertutup, ber-AC, dan berventilasi buruk. Menurut peneliti, virus bisa bertahan hingga tiga jam.

Selain itu, pemerintah juga mengedepankan tracing, testing dan treatment. Perlakuan tidak hanya kepada ODP dan PDP, tetapi juga kepada orang tanpa gejala.

"Untuk testing dan tracing bukan hanya ODP dan PDP tetapi mereka yang berpotensi OTG, atau orang tanpa gejala yang tentunya kalau positif harus betul-betul disiplin untuk melakukan karantina atau isolasi mandiri. Termasuk juga karantina atau isolasi yang disediakan oleh pemerintah di daerah," ujar Doni.


Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher
(tirto.id - Pendidikan)

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Zakki Amali
DarkLight