Joko Anwar Gandeng Produser Crazy Rich Asians Ivanhoe Buat 3 Film

Reporter: Yulaika Ramadhani, tirto.id - 12 Sep 2018 08:43 WIB
Dibaca Normal 2 menit
“Sebagian project film saya sampai beberapa tahun ke depan [akan bekerja sama] dengan Ivanhoe Pictures, film company berpusat di L.A. yang produce Crazy Rich Asians, The Wailing, The Chaser, Yellow Sea, etc. Excited!” tulis Joko Anwar.
tirto.id - Sutradara film Indonesia Joko Anwar akan bekerja sama dengan produser Crazy Rich Asians untuk menghadirkan film Indonesia. Rencananya akan ada tiga film sekaligus yang diproduksi Ivanhoe Pictures bersama Joko Anwar.

Hal ini dikonfirmasi oleh Joko Anwar di akun twitter pribadinya.

“Sebagian project film saya sampai beberapa tahun ke depan [akan bekerja sama] dengan Ivanhoe Pictures, film company berpusat di L.A. yang produce Crazy Rich Asians, The Wailing, The Chaser, Yellow Sea, etc. Excited!” tulis Joko Anwar.

Ketiga judul film itu rencananya, Impetigore, The Vow, dan Ghost in the Cell. Masing-masing akan disutradarai dan ditulis skenarionya oleh Joko Anwar.

“Menggabungkan keahlian dari perusahaan produksi internasional yang sudah mapan seperti Ivanhoe dan CJ Entertainment dengan perusahaan lokal yang terampil, Base Entertainment dan Rapi Films — yang memiliki pemahaman penting tentang penonton Indonesia — adalah usaha kolektif yang menarik bagi perusahaan kami,” kata Presiden Ivanhoe Pictures John Penotti seperti dilansir Variety.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Ivanhoe Pictures juga telah menggandeng tiga perusahaan produksi lokal, BASE Entertainment, CJ Entertainment, dan Rapi Films.

Keempat perusahaan itu nantinya akan bekerja sama mengembangkan proyek co-finance dan co-producing tiga judul film tersebut.

“Para mitra dinamis ini berbagi visi kami untuk menciptakan konten yang menarik bagi pasar Indonesia yang berkembang pesat, serta untuk audiens internasional yang lebih besar,” kata Shanty Harmayn, CEO dan co-founder BASE Entertainment.


Joko Anwar terkenal karena film-filmnya yang tak biasa dibanding film Indonesia lain. Terutama dari segi cerita dan sinematografi. Mantan wartawan The Jakarta Post ini memulai karier sineasnya ketika menerima tawaran Nia Dinata menulis Arisan! (2003), yang sempat kontroversi karena mengangkat sepasang tokoh gay (diperankan Tora Sudiro dan Surya Saputra) sebagai salah satu karakter utamanya. Film itu tak cuma sukses menarik minat penonton, tapi menang sebagai “Film Terbaik” di Festival Film Indonesia 2004. Juga menang sebagai “Best Movie” di MTV Movie Awards Indonesia pada tahun yang sama.

Tahun berikutnya, Joko Anwar tampil sebagai sutradara untuk pertama kali. Ia membawa naskah yang ditulisnya semasa kuliah menjadi film pertamanya, berjudul Janji Joni (2005). SET Foundation, yang diketuai sutradara kenamaan Indonesia Garin Nugroho, menandaskan citra tersebut dengan memberi Joko Anwar penghargaan khusus “cara bercerita yang inovatif” karena film itu.

Selanjutnya, nasib baik lengket di pundak Joko Anwar. Film-filmnya selalu sukses dari segi komersial. Citra sebagai pencerita inovatif semakin lekat padanya, bahkan di titik tertentu jadi daya jualnya di mata para penggemar dan penonton.

Selain dikenal karena kreativitasnya menyampaikan cerita, Joko Anwar juga dilabeli citra lain sebagai ‘sutradara film-film thriller terbaik Indonesia’. Julukan itu tak muncul tiba-tiba. Pada 2007, film keduanya sebagai sutradara berjudul Kala (Dead Time), dipilih Sight & Sound, majalah film asal Inggris sebagai Film Terbaik. Mereka bahkan menyebut Joko Anwar sebagai salah satu sutradara tercerdas se-Asia Tenggara, dan menyamakan karyanya dengan karya Allan Pakula, sutradara thriller-thriller politik, yang juga pernah menyutradarai To Kill A Mockingbird (1962).

Dua tahun kemudian, Joko Anwar kembali menyutradarai sebuah film thriller psikologis yang juga menarik perhatian dunia. Dibintangi Fachri Albar, film itu berjudul Pintu Terlarang (2009). Ia masuk seleksi sejumlah film pilihan dalam beberapa festival film internasional seperti International Film Festival Rotterdam, New York Asian Film Festival, dan Dead by Dawn. Ia bahkan menang penghargaan tertinggi sebagai film terbaik di Puchon International Fantastic Film Festival (2009).

Richard Corliss dari TIME menyebut, “Secerdas dan menyakitkannya film ini, ia bisa jadi kartu panggilan Joko Anwar untuk pekerjaan internasional, seandainya pada penguasa Hollywood ingin sesuatu yang lebih besar dari jangkauan sempit mereka.”

Selain Kala dan Pintu Terlarang, Joko Anwar juga punya Modus Anomali (2012), dan juga film larisnya yang berhasil menyabet banyak penghargaan: Pengabdi Setan (2017).


Baca juga artikel terkait FILM INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Film)

Reporter: Yulaika Ramadhani
Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Yulaika Ramadhani

DarkLight