15 Agustus 1945

Jelang Proklamasi, Sukarno-Sjahrir Cekcok & Cirebon Merdeka Duluan

Infografik Mozaik Proklamasi Kemerdekaan di Cirebon
Ilustrasi Sjahrir berpidato dan Tugu Proklamasi di Cirebon. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 15 Agustus 2019
Dibaca Normal 4 menit
Meski Jepang sudah kalah, Sukarno-Hatta tetap ragu mempercepat proklamasi. Kelompok Sjahrir yang tak sabar bergerak lebih dulu.
tirto.id - Sehari sebelum Sukarno berangkat ke Dalat, Vietnam guna bertemu Pemimpin Tertinggi Kekaisaran Jepang untuk Asia Tenggara Marsekal Terauchi, ia sempat mengajak Sjahrir bicara. Untuk kesekian kalinya Sjahrir mencoba meyakinkan Sukarno bahwa proklamasi sebaiknya disegerakan. Sukarno tak kalah ngeyel menekankan bahwa proklamasi harus dijalankan lewat prosedur yang sah.

Omongan Sjahrir bukan tanpa dasar. Ia secara rahasia rajin menyimak siaran-siaran BBC yang sejak pertengahan 1944 menunjukkan kemunduran Jepang di front Pasifik. Karena Sukarno tak pernah menggubris, Sjahrir bahkan pernah berpaling ke Tan Malaka. Tapi sayang, Tan Malaka juga menolak.

Kini setelah Amerika menjatuhkan bom di Hiroshima pada 6 Agustus 1945, Sjahrir semakin yakin Jepang tak lama lagi akan takluk. Maka itu, menurutnya, tak ada gunanya berunding lagi dengan Jepang. Ia juga tak ingin ada kesan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hadiah Jepang.


Sebaliknya, Sukarno masih kukuh dengan pendapatnya bahwa Jepang masih akan terus berperang. Kenyataannya, bahkan setelah kena bombardir atom, belum ada kabar Jepang menyerah. Muntablah si Bung Kecil.

“Ia menantang Sukarno dengan mengatakan siap mengantar Bung Besar ke kantor Kenpetai, polisi rahasia Jepang, di Jalan Merdeka Barat, Jakarta, untuk mengecek kebenaran informasi yang ia berikan,” tulis tim redaksi Tempo dalam Sjahrir: Peran Besar Bung Kecil (2017: 58).

Tentu saja Sukarno menolaknya karena bisa-bisa Sjahrir kena ciduk Kenpetai yang terkenal garang. Sjahrir juga sempat bicara dengan Hatta agar ia lebih berani menekan Jepang. Sjahrir menandaskan pula perlunya menciptakan situasi revolusioner di mana pemimpin “kolaborator” dan golongan anti-Jepang bisa bersatu.

“Saya katakan kepadanya, bahwa riwayat Jepang telah berakhir, dan bahwa telah tiba waktunya untuk suatu usaha nasional secara menyeluruh,” kata Sjahrir sebagaimana dikutip Rudolf Mrazek dalam biografi Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia (1996: 458).

Lagi-lagi bujukan Sjahrir itu mental. Sampai esoknya, 9 Agustus, ketika Sukarno bersama Hatta dan Radjiman Wediodiningrat terbang ke Vietnam, pandangan mereka tetap berseberangan.

Tapi sebenarnya Sjahrir tidak hanya bergantung pada Sukarno-Hatta. Sejak awal pendudukan Jepang, ia telah membangun jaringan aktivis muda anti-Jepang yang bergerak di bawah tanah. Mereka tak hanya aktif di Jakarta, tapi juga di kota-kota lain di Jawa.

Selama tokoh-tokoh nasionalis di kelompok Sukarno-Hatta pasif saja menunggu kepulangan patron mereka, kelompok Sjahrir mulai bergerak. Orang-orang Sjahrir kian bersemangat ketika datang kabar bahwa sekali lagi Jepang kejatuhan bom atom. Pada 10 Agustus Sjahrir menyebarkan instruksi kepada jaringannya, tak hanya di Jakarta tapi bahkan sampai Yogyakarta dan Surakarta.

“Apabila kemerdekaan telah dinyatakan, sokonglah,” demikian bunyi instruksi itu.


Sukarno Tak Bisa Dibujuk

Siapa nyana, Sukarno dan Hatta mendapat keyakinan Jepang akan segera menyerah justru ketika mereka di Vietnam. Pada sore hari usai pertemuan dengan Marsekal Terauchi, seorang opsir Jepang mendatangi Sukarno dan Hatta di penginapan. Rupanya, ia hendak mengabarkan berita tentang serangan Uni Soviet ke Manchuria.

Si opsir Jepang menjamin kekuatan militer Jepang masih cukup kuat untuk menahan serangan dadakan itu. Hatta dan Sukarno justru menduga sebaliknya. Jepang tak akan bertahan lama dari serangan yang datang dari utara dan selatan.

“Aku duga Jepang dalam satu atau dua minggu lagi sudah menyerah,” tulis Hatta dalam memoar Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi jilid 3 (2010: 69).


Sukarno dan Hatta tiba kembali di Jakarta pada 14 Agustus. Ketika Hatta sampai di rumah sekira pukul 14.00, Sjahrir sudah menunggunya untuk minta bicara. Si Bung Kecil mengabarkan berita radio BBC yang membuat Hatta lebih terkejut lagi: Jepang telah minta damai kepada Sekutu.

Dalam kondisi macam itu, menurut Sjahrir, mendeklarasikan kemerdekaan melalui Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) adalah cara yang tidak tepat. Semua orang tahu lembaga itu adalah bentukan Jepang, maka Sekutu bisa jadi akan mencap Indonesia merdeka adalah buatan Jepang. Karena itu Sjahrir mengusulkan Sukarno segera memproklamasikan Indonesia atas nama rakyat melalui radio.

“Pada saat itu Sjahrir menjadi yakin bahwa saatnya telah tiba untuk bertindak, sekarang atau tidak sama sekali,” tulis Mrazek (hlm. 461).

Hatta mengakui pendapat itu tepat belaka. Tapi ia ragu Sukarno sebagai ketua PPKI akan menyetujuinya. Posisi itu membuat Sukarno tak bisa bertindak sendiri.

“Apabila ia bertindak begitu, ia dianggap merampas, mengusurpasi, hak Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Aku khawatir Sukarno tidak akan bersedia berbuat begitu,” kenang Hatta (hlm. 74).

Jawaban itu bikin Sjahrir kecewa. Itu membenarkan anggapannya selama ini bahwa kawan seperjuangannya ketika bergiat di Pendidikan Nasional Indonesia tersebut terlalu banyak kena pengaruh Sukarno.

Malam itu juga Sjahrir dan Hatta mendatangi Sukarno. Sjahrir tambah kecewa manakala Sukarno masih tak percaya Jepang menyerah karena siaran radio dari luar negeri banyak dikuasai Sekutu. Ia sendiri akan menanyakan kebenarannya ke otoritas pendudukan Jepang esok pagi, 15 Agustus.

Mrazek (hlm. 463) menyebut Sjahrir terpaksa menerima jawaban itu. Tapi Sjahrir menafsirkannya sebagai janji bahwa jika otoritas Jepang mengonfirmasi informasi Sjahrir, maka kemerdekaan akan segera diproklamasikan hari itu juga.


Cirebon Merdeka Lebih Dulu

Meski belum mendapat kepastian soal waktu proklamasi, Sjahrir dan kelompoknya terus bergerak. Sebelum menemui Sukarno, Sjahrir bahkan sudah memberi instruksi agar persiapan-persiapan demonstrasi dipercepat. Rekan-rekan mahasiswa dan kelompok pemuda sudah bersiap di luar kota Jakarta menunggu saat proklamasi. Demikian pula jaringannya di kantor berita Jepang Domei dan kelompok lain di beberapa kota.

Salah satu kota yang bersiap menyambut proklamasi adalah Cirebon. Ada Dokter Soedarsono yang merupakan eksponen kelompok Sjahrir di Cirebon. Sejak dulu kota itu memang basis Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Pendidikan), sehingga bukan perkara sulit bagi kelompok Sjahrir untuk mengumpulkan massa.

Sementara itu Sukarno dan Hatta gagal mendapat konfirmasi resmi dari otoritas Jepang. Kantornya bahkan kosong melompong. Hatta mengingat bahwa saat itu semua pejabat Jepang sedang rapat di markas besar angkatan perang. Gelagat itu diartikan Hatta sebagai pembenaran atas informasi Sjahrir.

Hatta dan Sukarno lantas menemui Laksamana Maeda Tadashi untuk mendapat keterangan. Ketika ditanya soal penyerahan Jepang, Maeda hanya terdiam beberapa lama. Makin yakinlah Sukarno dan Hatta bahwa Jepang memang sudah menyerah.

“Kami di sini belum lagi memperoleh berita dari Tokyo. Sebab itu, berita tersebut belum kami pandang benar. Hanya instruksi dari Tokyo yang menjadi pegangan kami,” jawab Maeda sebagaimana dikutip Hatta (hlm. 76).





Sukarno dan Hatta memutuskan masalah proklamasi akan dibicarakan dalam sidang PPKI besok hari saja. Sukarno sangat terlambat mengabarkan hal ini kepada Sjahrir. Sjahrir dan kelompoknya baru mendapat kabar pada petang hari.

Terang saja semua orang jadi geram gara-gara hal itu. Para pemuda sampai mendesak Sjahrir supaya terus mengumumkan proklamasi tanpa Sukarno-Hatta. Lagi pula kelompok mereka sudah menyiapkan dan menyebarkan suatu naskah proklamasi sendiri. Sjahrir yang mencium gelagat konflik segera menolak ide tersebut.

Meski di Jakarta tak jadi ada proklamasi, Mrazek mendapati laporan bahwa teks itu telah sampai di Cirebon. Laporan itu menyebut Soedarsono pada akhirnya tetap membacakan teks itu meskipun tak ada instruksi resmi dari Jakarta.


Tim majalah Tempo (hlm. 63) juga menyebut hal serupa. Informasi ini dituturkan Mondy Sukerman yang kakeknya, Sukanda, adalah salah satu orang yang ikut menghadiri proklamasi di Cirebon.

“Kabar bahwa proklamasi batal diumumkan tak sempat dikabarkan ke Cirebon. [...] Mereka mengatakan tidak mungkin menyuruh pulang orang yang telah berkumpul tanpa penjelasan,” tulis tim majalah Tempo (hlm. 60).

Proklamasi di Cirebon itu dibacakan di sebuah persimpangan jalan dekat Alun-Alun Kejaksan pada 15 Agustus 1945, tepat hari ini 74 tahun lalu. Sekira 150 orang hadir dalam pembacaan itu yang sebagian besarnya adalah anggota PNI Pendidikan.

“Akan tetapi tidak ada konfirmasi mengenai peristiwa ini; cerita mengenai pembacaan teks proklamasi Sjahrir itu hanya datang dari kalangan [PNI] Pendidikan. Sjahrir sendiri, kemudian dalam kisahnya, hanya menyinggung secara singkat saja peristiwa itu,” tulis Mrazek (hlm. 468).

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Politik)


Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight