tirto.id - Sejumlah pusat perbelanjaan di pusat Kota Bandung terlihat ramai dikunjungi para pembeli. Baik itu untuk membeli baju baru atau sekadar menunggu azan maghrib, sepanjang satu pekan menuju Lebaran 2026, toko-toko mulai diserbu pengunjung.
Saat Tirto berkunjung ke Pasar Baru Trade Center dan The Kings Shopping Centre, pada Jumat (13/3/2026), ribuan pengunjung sudah memadati pusat perbelanjaan sejak siang hari.
Salah satunya, Dian (51). Warga Kabupaten Bandung ini mengaku setiap tahun, menjelang Lebaran, ia dan keluarga selalu berkunjung ke sejumlah pusat perbelanjaan di Kota Bandung.
“Tadi bareng anak saja, memang sering belanja ke Bandung. Biasa ke Kings, [Toserba] Yogja, suka juga ke Pasar Baru,” ujar Dian usai belanja di The Kings Shopping Centre, Kota Bandung, Jumat.
Perempuan paruh baya itu menilai, tempat-tempat yang disebutkan barusan cocok untuk mencari baju lebaran. Ia tak pernah bosan mengunjungi pusat perbelanjaan di Bandung itu.
"Karena pilihan banyak dan murah. Lalu sesuai budget. Saya belanja pakaian anak saja. Tadi dapat banyak promo, apalagi nanti sih, mepet Lebaran pasti lebih banyak promo," ceritanya tentang alasan berbelanja.
Baca juga:
Seorang pedagang di Pasar Baru Trade Center, Novi (31) juga tak menampik soal keramaian di pusat perbelanjaan itu. Dia mengatakan lonjakan pengunjung mulai terasa sejak awal minggu kemarin. Prediksinya, jumlah kunjungan bakal bertambah semakin dekat Hari Raya Idul Fitri.
"Sekarang lebih tinggi, tahun kemarin masih agak landai karena ada pengaruh Covid juga," ujar pedagang pakaian gamis dan kerudung itu, saat Tirto mampir ke tokonya.
Kondisi ini menjadi kabar baik baginya sebab kenaikan omzet pun tak terelakkan.
Hal serupa diungkapkan pedagang baju koko, Feri. Meski omzet belum setinggi tahun lalu, dia optimistis menjelang Idul Fitri tokonya akan semakin ramai.
Berdasarkan pantauannya, kenaikan angka pembeli bahkan semakin terasa sejak dua minggu kemarin. "Minggu kedua [puasa] ini udah ada peningkatan lagi dari minggu pertama, semoga minggu terakhir lebih ramai," ujarnya.
Ia pun mengharapkan kondisi terus membaik.
Sebab pascapandemi Covid-19 nasib Pasar Baru amat terpuruk. Tak asal bicara, Feri yang sudah berdagang selama belasan tahun berkaca dari pengalamannya sendiri.

Sementara itu HRD Manajemen The Kings Shopping Centre Gerry Azlisdiansyah menuturkan, lonjakan pengunjung bahkan sudah terlihat sejak awal bulan Maret ini.
Berdasarkan catatan pihaknya, pada Jumat (13/3/2026), total hampir 100 ribu kunjungan di pusat perbelanjaan itu.
Sementara rata-rata kunjungan harian mencapai 70 ribu pengunjung, yang mampir ke pusat perbelanjaan yang tidak jauh dari Alun-alun Bandung itu.
"Hari biasa mungkin traffic sekitar 20 ribuan. Ini dari minggu pertama sampai sekarang itu naik terus. Naik 50 ribu. Minggu terakhir kemarin 90 ribu, sekarang kalau coba hitung, ada 100 ribuan," ujar Gerry saat ditemui Tirto di The Kings Shopping Centre, Kota Bandung, Jumat.
Ia memperkirakan angka tersebut bakal terus meningkat seiring mendekati momen lebaran. Puncaknya diprediksi pada lima hari sebelum perayaan Idul Fitri. Termasuk pada Sabtu (14/3/2026) dan Minggu (15/3/2026), yang merupakan pekan terakhir sebelum hari raya.
"Kalau dari tahun lalu mungkin kenaikan angka kunjungan sekira 20 persen. Bisa kita lihat, kenaikan traffic itu sudah pasti akan meningkatkan transaksi, keuntungan sudah pasti naik," ungkapnya.
Ia bilang, pihaknya sudah menyiapkan antisipasi apabila terjadi lonjakan pengunjung lebih besar. "Pasti, terutama di keamanan, kebersihan, kita ada penambahan jumlah personel juga, jadi kita memastikan supaya tetap terkendali," sebutnya.
Ramai Belum Tentu Membaik
Ketua Program Studi Magister Ekonomi Terapan Universitas Padjajaran (Unpad), Bayu Kharisma, menilai lonjakan pengunjung yang signifikan di pusat perbelanjaan Bandung saat ini, lebih dipengaruhi oleh faktor musiman Ramadan dan Lebaran. Dia juga berpendapat tidak serta-merta hal ini mencerminkan membaiknya daya beli masyarakat secara fundamental.
Keramaian yang terjadi, kata Bayu, terutama pada akhir pekan, dipicu oleh beberapa faktor musiman. Di antaranya, para pekerja mulai menerima Tunjangan Hari Raya (THR), yang memberikan dana segar untuk belanja. Ditambah lagi momen libur sekolah yang turut memancing keluarga untuk menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan.
“Lonjakan transaksi menjelang Lebaran memberikan dampak yang signifikan terhadap perputaran ekonomi lokal di Kota Bandung, termasuk bagi pedagang kecil dan menengah, meskipun dampaknya terasa tidak merata,” ungkap Guru Besar Ekonomi Unpad itu saat dihubungi Kontributor Tirto, Senin (16/3/2026).
Ia menambahkan, melihat tren kunjungan yang terus meningkat hingga H-3 Lebaran, proyeksi terhadap tingkat konsumsi masyarakat sangat positif dan diprediksi akan memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2026.
Meski pengunjung membludak, ada sinyal yang menunjukkan daya beli masyarakat sedang tidak setinggi kelihatannya. Menurut Bayu, berdasarkan sejumlah studi, beberapa pengunjung hanya melihat-lihat tanpa membeli jauh lebih banyak dibandingkan biasanya.
“Fenomena ini dikenal sebagai window shopping, yang meningkat ketika masyarakat lebih selektif dalam membelanjakan uang,” tambah Bayu.

Lalu, ia menilai kendati ada kenaikan pengunjung, kondisi tak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Keramaian di Pasar Baru misalnya, kata Bayu, tahun ini terpantau hanya terjadi di kios-kios dengan posisi strategis. “Ini menunjukkan bahwa peningkatan transaksi tidak dirasakan secara merata oleh semua pedagang,” ujarnya.
Bayu mengutip pernyataan dan target transaksi nasional pemerintah. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, sempat mengatakan optimistis konsumsi masyarakat akan meningkat dan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama.
“Program unggulan BINA (Belanja di Indonesia Aja) Lebaran 2026 menargetkan total transaksi mencapai Rp53,38 triliun, atau naik sekitar 20 persen dibandingkan tahun lalu,” kutip Bayu.
Ia memaparkan, optimisme tersebut didorong oleh besarnya dana yang beredar di masyarakat. Terutama dari pencairan THR yang mencapai Rp55 triliun untuk ASN, TNI, Polri, dan sekitar Rp124 triliun dari sektor swasta.
“Selain itu, pemerintah juga menggelontorkan bantuan sosial senilai Rp11,92 triliun,” paparnya.
Sementara itu, lanjut Bayu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung, mencatat bahwa kunjungan wisatawan saat Nataru lalu melampaui prediksi awal. Pola yang sama diharapkan terjadi pada Lebaran 2026.
Terlebih, katanya, Pemkot Bandung diketahui menargetkan pertumbuhan ekonomi kota, bisa mencapai 5,7 hingga 6 persen, salah satunya didorong oleh geliat sektor ritel dan pariwisata selama momen libur besar.
Libur Lebaran Berpotensi Tarik 700 Ribu Wisatawan
Berdasarkan perkiraan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung, sekitar 700 ribu wisatawan diprediksi masuk ke Kota Bandung saat libur Idul Fitri 1447 Hijriah mendatang. Namun jumlah ini dinilai tidak akan setinggi momentum libur Natal dan Tahun Baru.
“Kalau Tahun Baru biasanya tidak ada arus mudik keluar kota, sehingga hampir semua berlibur ke Bandung. Saat Lebaran, arusnya terpecah ke jalur mudik Pantura, Garut, Tasikmalaya, hingga Jawa Tengah,” kata Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan dalam keterangan tertulis yang Tirto kutip, Selasa (17/3).
Berdasarkan evaluasi tahun sebelumnya, pergerakan masyarakat yang masuk ke Bandung selama libur Idul Fitri diperkirakan mencapai 600-700 ribu orang. Sejumlah titik yang diprediksi mengalami kepadatan antara lain pusat Kota Bandung, kawasan wisata Ciwidey, serta Lembang.
Kondisi ini membuat koordinasi lintas sektor menjadi krusial, terutama dalam pengaturan arus lalu lintas dan pengamanan kawasan strategis. Farhan akan berkoordinasi dengan Polrestabes Bandung untuk mengidentifikasi titik-titik rawan kemacetan maupun potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat.
“Bandung ini kota tujuan wisata sekaligus kota transit. Mau ke Ciwidey atau ke Lembang pasti lewat pusat Kota Bandung. Artinya, beban lalu lintas dan mobilitas masyarakat akan sangat tinggi,” ujarnya.

Ia menegaskan, Kota Bandung telah berkembang menjadi salah satu destinasi wisata utama di Indonesia. Sepanjang tahun 2025, tercatat lebih dari 12 juta wisatawan berkunjung ke Kota Bandung. Tingginya angka kunjungan memberikan dampak positif terhadap perekonomian daerah.
Ia menjelaskan, meningkatnya jumlah wisatawan turut mendorong geliat ekonomi masyarakat. Namun di sisi lain, kondisi itu juga menuntut pemerintah untuk terus memperbaiki berbagai aspek pembangunan kota.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Kota Bandung memang menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Meski demikian, secara relatif kondisi ekonomi masih belum sepenuhnya pulih dibandingkan situasi sebelum pandemi.
Farhan menyebut, Pandemi Covid-19 yang mulai melanda pada Maret 2020 telah memberikan dampak besar terhadap berbagai sektor ekonomi di Kota Bandung. Hingga saat ini masih ada beberapa sektor yang belum sepenuhnya pulih.
Sementara itu, Berdasarkan perhitungan Gini Ratio dari Badan Pusat Statistik, Kota Bandung saat ini berada pada angka 0,42. Angka itu memang menurun dari 0,44 pada tahun sebelumnya, tetapi masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang berada di angka 0,36.
“Artinya sebagian besar sumber daya ekonomi masih dikuasai oleh kelompok masyarakat yang relatif kecil. Inilah tantangan besar yang harus kita hadapi bersama,” sebut Farhan.
Penulis: Amad NZ
Editor: Alfons Yoshio Hartanto
Masuk tirto.id

































