tirto.id - Dalam rangka Hari Anak Nasional, Wahana Visi Indonesia (WVI) secara resmi meluncurkan Laporan Program Kesejahteraan Anak 2025 (LPKA 2025). Laporan tahunan ini menyajikan potret data faktual mengenai pemenuhan hak-hak dasar anak Indonesia yang ada dalam wilayah dampingan WVI di 53 kabupaten/kota di 14 provinsi di Indonesia. Sebagai organisasi kemanusiaan Kristen yang fokus pada isu-isu anak, laporan ini juga memperlihatkan transformasi pendampingan yang inklusif tanpa membedakan suku, agama, ras, dan gender.
Saat ini, Indonesia memiliki lebih dari 88,81 juta anak berusia 0–19 tahun atau sebesar 31,23%(sekitar sepertiga dari total penduduk) menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2026 dan strategi nasional Wahana Visi Indonesia (WVI) pada 2021-2025 secara langsung telah menjangkau rata-rata 175.000 anak setiap tahun, dengan lebih dari 70% di antaranya termasuk dalam kategori Anak Paling Rentan (Most Vulnerable Children/ MVC), yang tersebar di 17 provinsi, 68 kabupaten, dan 1.068 desa.
Melalui jejaring kemitraan dan advokasi kebijakan di tingkat lokal maupun nasional, dampak kolektif gerakan kemanusiaan ini secara tidak langsung dirasakan oleh lebih dari 80 juta anak di seluruh penjuru Indonesia.
National Director Wahana Visi Indonesia, Angelina Theodora, menegaskan bahwa indikator kesuksesan sejati dari kerja kemanusiaan WVI bukan diukur dari seberapa lama organisasi hadir di lapangan, melainkan seberapa tangguh komunitas lokal mampu berjalan sendiri.
"LPKA 2025 ini bukan sekadar deretan angka keberhasilan WVI, melainkan bukti otentik bahwa ketika anak-anak di pelosok diberikan ruang dan kapabilitas, mereka mampu menjadi aktor utama yang mendorong perubahan kebijakan di wilayahnya sendiri. Tugas kami sejak awal adalah memperkuat sistem lokal yang sudah ada, melatih kader, membangun payung hukum desa, agar semua kemajuan sektor kesehatan dan perlindungan anak ini dapat terus berkelanjutan oleh masyarakat secara mandiri," ujar Angelina.
Sebagai pertanggungjawaban publik dan keterbukaan informasi, berikut adalah 5 indikator capaian sektor utama WVI pada tahun fiskal 2025:
- Kesehatan, Air Bersih, Sanitasi, dan Higiene (Health & WASH)
Dalam rangka menekan angka malnutrisi kronis (stunting), WVI mengintegrasikan program gizi dengan akses sanitasi layak. Sebanyak 52.251 anak terlibat langsung dalam program kesehatan, didukung dengan pelatihan intensif bagi 767 kader Posyandu berbasis standar Kemenkes guna mengawal status gizi 21.602 balita. WVI juga turut membangun 985 titik sambungan air bersih dan mendampingi fasilitas sanitasi layak bagi 3.668 rumah tangga. Dampaknya, 15.002 orang menikmati air minum layak, 25 komunitas bebas Buang Air Besar Sembarangan (BABS), serta kerawanan pangan rumah tangga turun drastis dari 27,5% (2022) menjadi 18,2% (2025).
- Pemenuhan Kualitas Pendidikan DasarFokus utama WVI diarahkan pada penguatan fondasi pendidikan dasar anak di wilayah terpencil. WVI mendampingi secara intensif 5.054 anak usia sekolah dasar serta mendistribusikan 6.810 bahan ajar kontekstual berbasis bahasa ibu ke berbagai Rumah Baca lokal, berkolaborasi langsung dengan Dinas Pendidikan setempat. Upaya pemetaan literasi dasar yang setara juga turut diperluas ke wilayah Papua melalui kampanye nasional "Baca Tanpa Batas".
- Perlindungan Anak dan Advokasi KebijakanGuna menciptakan lingkungan yang aman secara berkelanjutan, program perlindungan anak tahun ini melibatkan secara aktif 105.132 anak, yang membuahkan hasil penurunan angka kekerasan fisik dan psikologis oleh pengasuh. Di tingkat birokrasi daerah, WVI mendorong pengesahan 77 Peraturan Desa (Perdes) Perlindungan Anak Holistik. Sementara di tingkat pusat, WVI sukses mengadvokasi keberlanjutan Dana Alokasi Khusus (DAK) Perlindungan Perempuan dan Anak dalam UU APBN 2026 yang sebelumnya terancam dihentikan.
- Manajemen Bencana dan Resiliensi KomunitasSebagai organisasi yang responsif terhadap krisis iklim dan kebencanaan, WVI memastikan kesiapsiagaan masyarakat sejak dini. Sejak 2020, WVI telah membentuk dan mendampingi 111 Desa Tangguh Bencana (DESTANA) serta 79 Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Pada tahun fiskal 2025 saja, program ini melibatkan 5.673 anak dan 6.848 orang dewasa, di mana 2.845 anak di antaranya mendapatkan pembekalan kapasitas khusus mengenai pengurangan risiko bencana secara mandiri.
- Membangun Kemandirian Masyarakat dan Menyuarakan Suara AnakEsensi intervensi WVI terletak pada membangun daya kemandirian agar masyarakat mampu berdaya secara merdeka setelah masa tugas pendampingan wilayah selesai. Melalui Forum Anak, WVI melatih 5.272 remaja dalam kecakapan hidup dan advokasi berbasis Child-Led Research. Sebagai bukti nyata, WVI mendampingi 24 anak perwakilan Forum Anak dari Palu, Lombok Timur, Landak, dan Jayapura untuk melakukan riset ilmiah mandiri bertajuk “Mengedepankan Perspektif Anak dalam Program Makan Bergizi Gratis”. Melibatkan 1.624 anak responden, hasil rekomendasi riset ini disuarakan langsung oleh anak-anak di hadapan Badan Gizi Nasional (BGN) pada 12 November 2025.
LPKA 2025 ini menunjukkan bahwa capaian yang didapat dari tahun fiskal 2025 melibatkan partisipasi dari berbagai pihak. Mulai dari masyarakat, akademisi, pemerintah, dan swasta. Wahana Visi Indonesia berterima kasih untuk semua dukungan yang diberikan dan mengajak berbagai pemangku kepentingan untuk terus bersama-sama mewujudkan masa depan yang utuh sepenuhnya bagi anak-anak Indonesia.
Masuk tirto.id
































