Mozaik

Tiga Tahun Kiprah Sutan Sjahrir di Bandung

Kontributor: Hevi Riyanto, tirto.id - 27 Okt 2023 00:00 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Sebelum melanjutkan pendidikan di Belanda, Sutan Sjahrir sempat belajar dan berorganisasi di Bandung selama tiga tahun.
tirto.id - Sebelum orde berganti, Indonesia pernah memiliki sejumlah perdana menteri. Orang yang mula-mula menduduki posisi ini adalah Sutan Sjahrir. Ia mengemban tugas pada usia 36 tahun.

Dalam usia muda, Sjahrir telah berkiprah pada bidang sosial dan politik yang cukup panjang. Salah satu kota yang pernah disinggahinya dalam pembentukan karakter dan menumbuhkan minat politik adalah Bandung.

Pada usia 17, setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di Medan, ia hijrah ke Jawa untuk melanjutkan studi di Bandung, tepatnya di Algemene Middelbare School (AMS) jurusan Westers Klassike atau Budaya Barat Klasik.

Di kota pergunungan ini Sjahrir mulai menapaki masa muda dan merajut masa depan politiknya. Ia mendirikan study klub yang bernama Patriae Scientiaeque (PSQ) yang berarti "untuk tanah air dan ilmu pengetahuan".

Sebagai pelajar, Sjahrir terkenal sebagai orang yang simpatik, murah senyum, gembira, terbuka, serta bebas terhadap siapapun. Ia kerap mengikuti kehidupan dan pergaulan murid-murid sekolah menengah dengan turut pesta dansa bersama orang-orang Belanda.

Menurut Galuh Syahbana Indraprahasta dkk. dalam "The Dynamics of Multiscalar Networks Underlying the Creative City Process, The Case of Bandung", sejak 1900-an Kota Bandung merupakan kuali peleburan bagi orang-orang yang datang dari berbagai latar belakang dan tujuan.

Setelah menyandang status sebagai kota praja, Bandung berkembang pesat dan sempat dicalonkan sebagai ibu kota Hindia Belanda pada tahun 1920-an.

Pencalonan ini mendorong Belanda untuk mempercepat pembangunan sarana dan prasarana pendukung, termasuk sekolah. Pada Juli 1920, Belanda membuka AMS Bandung .

AMS merupakan sekolah setara Sekolah Menengah Atas (SMA) yang menggunakan pengantar bahasa Belanda. AMS hanya didirikan kota-kota besar Hindia Belanda. Murid-murid yang bersekolah di AMS dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, misalnya Technische Hooge School di Bandung atau Rechts Hooge School di Batavia.

Dalam artikel berjudul "Sjahrir Tidak Tiba-tiba", Tundjung W. Sutirto, dosen di Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret mengatakan, di kalangan teman-temannya di AMS Bandung, Sjahrir menjadi bintang terang.

Ia menambahkan, kala itu Sjahrir memegang tampuk kepemimpinan redaksi majalah Himpunan Pemuda Indonesia. Dia sering digertak polisi agar tidak membandel dan membaca koran-koran yang ditempel di papan yang memberitakan pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1926.


Setiap sore, lembaran surat kabar Algemeene Indisch Dagblad dipasang di depan Percetakan Vorkink, di Jalan Asia Afrika sekarang. Masyarakat dan pelajar yang tertarik akan berita-berita aktual berkerumun membacanya.

Topik berita yang tidak disenangi Belanda untuk dibaca oleh para pelajar saat itu adalah berita tentang pemberontakan PKI dan pembuangan anggota-anggotanya ke Boven Digoel. Seorang petugas ditempatkan dekat papan surat kabar untuk mengusir mereka yang membaca berita tentang PKI.

Menurut Tundjung W. Sutirto, Sjahrir termasuk 10 pemuda yang menggagas pendirian himpunan pemuda nasionalis Jong Indonesië pada 1927. Perhimpunan kemudian berubah nama menjadi Pemuda Indonesia yang menjadi pelopor penyelenggaraan Kongres Pemuda Indonesia--kongres monumental yang melahirkan Sumpah Pemuda 1928.

Watak tegas Sjahrir di politik sudah terlihat saat dia tinggal di Bandung. Dalam satu pertemuan, Sjahrir beberapa kali menegur Sukarno. Menurut Rosihan Anwar dalam Sutan Sjahrir: Negarawan Humanis, Demokrat Sejati yang Mendahului Zamannya (2011), Sjahrir mengkritik Sukarno yang berdebat dengan salah satu anggota perempuan dalam sebuah pertemuan pelajar sekolah menengah yang dipimpin Sjahrir.

Dalam tulisannya berjudul "Sjahrir: Suatu Perspektif Manusia dan Sejarah", Subadio Sastrosatomo menulis Sjahrir mengetuk palu di mejanya supaya Sukarno menyampaikan gagasan yang bisa dipahami oleh para pemuda dan agar tidak berbicara dalam bahasa Belanda.

Ketegasan Sjahrir membuat Sukarno yang usianya lebih tua delapan tahun meminta maaf dan pertemuan dapat berlangsung dengan lancar.


Infografik Mozaik Sutan Sjahrir
Infografik Mozaik Sutan Sjahrir. tirto.id/Tino


Sikap tegas Sutan Sjahrir dibarengi oleh semacam pengertian dalam dirinya. Menurut Sastrosatomo, Sjahrir tidak mengembangkan kebencian dan permusuhan terhadap dunia Barat. Sikap ini membuat kepala sekolah AMS, Dr. Bessem, takluk.

Rosihan Anwar memuji Sjahrir sebagai manusia yang mempunyai sifat pendidik dan memiliki rasa kesetiakawanan terhadap kaum tertinggal. Sifat ini diaktualisasikan Sjahrir dengan mendirikan perguruan nasional Tjahaja Volksuniversiteit (Universitas Rakyat Tjahaja) yang bertujuan untuk memberantas buta huruf di kalangan anak-anak pribumi.

Selain itu, dia juga aktif dalam perkumpulan Bandungse Toneel Vereniging van indonesise Studenten (Batovis). Perkumpulan ini menyelenggarakan lakon-lakon patriotik di Priangan untuk mengumpulkan dana bagi keperluan Tjahaja Volksuniversiteit.

Selama di Bandung, Sutan Sjahrir sibuk mengisi waktu dengan bersekolah, berorganisasi, dan beraktivitas di luar keduanya. Dia menyukai musik dan pandai bermain biola, serta giat berolahraga terutama bermain sepak bola.

Dia bergabung dengan klub lokal di Jalan Pungkur bernama Voetbalvereeniging Poengkoer. Posisinya sebagai pemain tengah.

Sjahrir hanya tiga tahun di Bandung. Menurut J. D. Legge dalam "Intellectuals and Nationalism in Indonesia a Study of the Following Recruited by Sutan Sjahrir in Occupation Jakarta", si Bung Kecil meninggalkan Bandung karena mendapat kesempatan untuk melanjutkan sekolah di Belanda.

Baca juga artikel terkait SUTAN SJAHRIR atau tulisan menarik lainnya Hevi Riyanto
(tirto.id - Humaniora)

Kontributor: Hevi Riyanto
Penulis: Hevi Riyanto
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight