Jejak Para Transmigran Jawa di Lampung

Oleh: Petrik Matanasi - 2 Februari 2017
Dibaca Normal 5 menit
Menelusuri 111 tahun jejak orang-orang Jawa di tanah seberang.
tirto.id - Sebagian orang-orang Jawa itu akhirnya mengarungi laut lepas. Sebelumnya mereka hanya bisa memandangi Laut Kidul di selatan Jawa yang ombaknya ganas itu. Pada November 1905, setelah melihat sekilas megahnya Kota Betawi, mereka pun naik kapal yang bersandar di Tanjung Priok. Setelah mengarungi Laut Jawa bagian barat, kapal uap mereka pun melayari Selat Sunda dan akhirnya tiba di palabuhan kecil di Teluk Betung. Mereka pun menginjakkan kaki di Sumatra, di daerah yang kala itu termasuk ke dalam wilayah Karesidenan Lampung.

Belakangan, menurut Eko Sunu Sutrisno, kepala Seksi Pelayanan Museum Transmigrasi Lampung, pelabuhan tempat mendaratnya orang-orang Jawa itu berada di Gudang Lelang, Teluk Betung. Daerah itu kini menjadi pasar ikan.

Sepenuturan Eko, dari Teluk Betung orang-orang Jawa itu berjalan kaki ke Gedong Tataan selama dua hari. Tak ada kendaraan bermotor untuk mengangkut 815 orang yang terdiri atas 155 kepala keluarga (KK) beserta anggota keluarganya. Daerah-daerah yang mereka lalui masih sepi. Hari-hari berat pun langsung menghadang. Mereka bermalam di jalan. Lokasi mereka menginap di daerah Negeri Sakti, yang kini terdapat Rumah Sakit Jiwa di dekatnya.

Esoknya mereka melanjutkan perjalanan hingga tiba di daerah yang dituju. Setelah itu barulah mereka mulai membuka lahan.

“Setengah hari bekerja (mengurus lahan) untuk (kepentingan pemerintah) Belanda, setengah harinya lagi untuk mengurus ladang mereka sendiri,” papar Eko. Pemerintah kolonial tak lupa memodali bola besi berdiameter 50 cm untuk merobohkan pepohonan.

“Angkatan pertama kolonisten buka kebun karet di sekitar Gedong Tataan. Mereka pekerja kebun,” ujar Budi Kurniawan salah satu keturunan Transmigran dan sarjana sejarah, mengisahkan tradisi lisan di kalangan keluarga keturunan transmigran itu.

Sebelum punya rumah dan membuat kampung, orang-orang Jawa itu tinggal sementara di sebuah bangunan yang disebut bedeng. Bedeng itu sekarang sudah menjadi bagian tangsi TNI. Letaknya tak jauh dari museum.

Orang-orang Jawa yang disebut kolonisten itu membangun kampung pertama persis di sekitar museum sekarang. Kampung yang di mata administratur kolonial mirip koloni itu pun dinamai Bagelen. Nama itu diambil dari daerah asal orang-orang Jawa itu yang berada di wilayah Purworejo. Desa Bagelen di Lampung itu kini termasuk wilayah kecamatan Gedong Tataan, yang masuk Kabupaten Pesawaran.

Dalam buku Transmigrasi di Indonesia 1905-1985 (1986), Slamet Poerboadiwidjojo menulis, “Desa inti pertama dibangun pada tahun 1905 di Gedong Tataan, kira-kira 25 km di sebelah baratnya Tanjungkarang di pinggir jalan ke Kota Agung. Pembangunan desa ini ditangani sendiri oleh Hayting yang membangun desa itu dengan pola dari Jawa.”

Bagelen, yang menjadi daerah asal kolonisten itu, tergolong daerah bahaya bagi pemerintah kolonial. Daerah yang pada masa itu masuk ke wilayah Keresidenan Kedu dipenuhi keturunan pengikut Diponegoro. Meski lama tak memberontak, orang-orang di daerah yang sebagian tanahnya tandus itu tetap saja membuat cemas. Sebagian pemuda kampung punya mental berkelahi sebagian sudah dijadikan serdadu dengan diberangkatkan ke Gombong.

Tentu saja tak semuanya bisa ditampung dinas-dinas militer Belanda. Akhirnya pelan-pelan sebagian lagi dikirim ke tempat yang jauh dengan menjadi transmigran. Selain menjadi transmigran, sebelumnya orang-orang Bagelen juga ada yang bekerja sebagai kuli di perkebunan-perkebunan kolonial di Deli.

Semula, menurut Eko, orang-orang Bagelen ini hendak dikirim ke Banyuwangi. Daerah di pesisir timur Pulau Jawa ini kemudian dianggap tidak cocok. Bisa saja orang-orang Bagelen itu pulang lagi ke kampungnya ketika kegiatan bertaninya tak berhasil. Keresidenan Lampung dirasa cocok, selain karena harus menyeberang lautan, daerah itu dianggap masih banyak lahan kosong.

Untuk membuat para kolonisten itu betah, mereka diberi bantuan secukupnya. Sebagai perangsang, setiap KK diberi premi 20 gulden, disediakan alat-alat masak dan alat-alat pertanian. Mereka juga diberi material untuk membangun perumahan dan bahan-bahan makan untuk dua tahun.

“Menurut Anggaran Pemerintah, biayanya per KK adalah 300 gulden, tidak termasuk biaya pembangunan jalan dan irigasi,” tulis Slamet. Hal itu dilakukan hingga 1927.

Setelah 155 KK tiba di Gedong Tataan pada 1905, bergelombang-gelombang orang-orang Jawa yang jadi kolonisten pun berdatangan ke Keresidenan Lampung. Menurut data Museum Transmigrasi, tahun berikutnya ada 550 KK Jawa asal Banyumas juga didatangkan. Bersama anggota keluarga yang dibawa, jumlahnya total mencapai sekitar 2,795.

Orang-orang yang jadi kolonisten pun tak hanya dari Bagelen saja, tapi dari daerah-daerah lain. Dari 1919 hingga 1928, selain masih mendatangkan kolonisten asal Kedu, didatangkan juga dari Kediri dan Tulungagung.

Jumlah orang Jawa di Lampung tentu saja membengkak menjadi puluhan bahkan akhirnya ratusan ribuan. Hampir tiap tahun ada gelombang kolonisten baru. Menurut data Museum Transmigrasi, sekitar 51.006 KK (206.361 jiwa) telah dipindahkan oleh Pemerintah kolonial Belanda dari 1905 hingga sekitar 1943.

“Sampai pada 1911 dibangun 5 desa inti. Segala sesuatunya di sini diatur seperti di Jawa, termasuk struktur pemerintahannya, dengan kamituo, lurah dan asisten wedana, yang berlainan dengan struktur pemerintahan masyarakat (lokal) sekitarnya yang merupakan masyarakat adat. Sistem pertaniannya pun berbeda,” tulis Slamet.

Dari tahun ke tahun situasi dan fasilitas yang dihadapi para kolonisten menjadi jauh lebih baik dibandingkan angkatan pertama yang datang pada 1905. Sudah banyak jalan yang dibangun. Kendaraan bermesin pun sudah disediakan untuk mengangkut para kolonisten.

Fasilitas untuk menunjang kegiatan pertanian pun semakin disediakan. Sarana irigasi dibangun, di antaranya viaduct (jembatan air atau jalur air). Salah satu yang masih tersisa di desa Pajaresuk, di Pringsewu. Viaduct itu dibangun sekitar 1928.

Poliklinik untuk kesehatan kolonisten dan sekolah dasar untuk anak-anak juga disediakan dibangunkan. Sekolah dasar, yang hanya mengajarkan berhitung, membaca dan menulis itu dinamai Bagelen School.

Selain Gedong Tataan, daerah Kota Agung, yang kini menjadi jantung Kabupaten Tanggamus, pun menjadi tujuan sejak 1922. Bahkan, mantan kuli kontrak Jawa di perkebunan-perkebunan di Sumatra Timur macam Deli pun diarahkan ke Keresidenan Lampung sejak 1932. Mereka ditempatkan di sekitar Gedong Tataan dan Sukadana. Antara 1939 hingga 1940, puluhan ribu orang dari pulau garam Madura, juga hijrah ke Lampung.

Menurut Slamet, “Setelah Gedong Tataan penuh, maka untuk melanjutkan usaha pemindahan penduduk itu dicarikan tempat lain, sedapat-dapatnya tidak jauh dari Gedong Tataan. Pilihan jatuh pada hutan cadangan milik warga di daerah Sukadana yang sekarang terkenal sebagai daerah transmigrasi Metro. Sebelum 1935, daerah ini telah ditempatkan sekolompok kolonisten, tapi pengiriman secara besar-besaran baru dimulai pada 1935 setelah diadakan persiapan-persiapan yang lebih memadai.”

Berita keberangkatan para kolonisten itu bisa ditemukan dalam koran-koran sezaman. Koran Pewarta Deli edisi 20 Februari 1932 menyebutkan bahwa pada 19 Februari 1932 di kota Betawi terdapat 500 orang asal Bagelen yang akan dikirim ke Gedong Tataan. Sementara koran Bintang Timoer edisi 4 Maret 1932 memberitakan pada 24 Februari 1932 pemerintah kolonial mengumpulkan 1.500 orang yang akan jadi Kolonisten di Pasar Kutoarjo, tak jauh dari Bagelen. Sebelum berangkat mereka disuguhi hiburan ketoprak sebagai tanda perpisahan.

Jika area koloni di Sukadana melahirkan kota baru bernama Metro, area koloni Gedong Tataan ikut melahirkan kota yang kini bernama Pringsewu.

Setelah Indonesia merdeka, istilah kolonisten berubah menjadi transmigran. Intinya sama, memindahkan penduduk untuk membuka daerah baru.

Pada 1952, pemerintah Republik Indonesia mengirim orang-orang dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan Bali. Jumlahnya 6.111 orang 1.220 KK. Orang-orang ini ditempatkan di daerah-daerah bernama Sekampung, Purbolinggo, Banjit dan Pekalongan. Dari tahun 1952 hingga 1968, terdapat 53.168 KK (221.035 jiwa) yang dipindahkan.

Hari diberangkatkannya transmigran pada 12 Desember 1950 kemudian dijadikan Hari Bakti Transmigrasi. Meski pun, sejatinya, transmigrasi sudah dilakukan pemerintah kolonial Hindia Belanda sejak 1905.

Seperti di zaman kolonial, tak hanya petani yang dibawa pemerintah Indonesia ke daerah tujuan transmigrasi. Guru dan tenaga penting lain juga dibawa. Tugiyo, ayahanda dari Budi Kurniawan, didatangkan ke Lampung sebagai guru pada 1959. Sang ayah berasal dari Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Bapakku, kan, mendidik anak-anak transmigran,” aku Budi yang kini justru menetap di kampung asal ayahnya, Bantul. Untuk mencari orang-orang yang bertransmigrasi ke Lampung bersama ayahnya sangatlah sulit. Budi sendiri hanya ingat beberapa nama seperti Waryodimejo yang asal Cilacap dan Sanrameja juga dari Sidareja Cilacap. Kebetulan keduanya tetangga Budi.

Di era ayah Budi bertransmigrasi, para transmigran tak hanya berasal dari Jawa dan Madura saja. Tapi juga Bali dan Lombok. Karenanya, ada replika rumah-rumah adat dari daerah asal di komplek Museum Transmigrasi. Belakangan, di beberapa daerah pelosok Lampung, rumah-rumah Bali di sekitar pantai barat banyak ditemukan.

Mengenai keluarga transmigran, Eko Sunu mengatakan: “Sekarang sudah generasi ketiga.”

Generasi kedua memang sudah sulit ditemukan. Banyak yang sudah meninggal. Kini Lampung terlalu penuh untuk dijadikan daerah transmigrasi. “Lampung sekarang jadi daerah asal transmigran,” kata Eko kepada Tirto.

Ya, Lampung bukan lagi menjadi daerah tujuan transmigrasi, justru transmigran asal Lampung yang kini banyak dikirim ke Kalimantan.

Infografik Transmigran Sebelum Orba


Hingga hari ini, dampak transmigrasi yang sebetulnya dimulai sejak 1905 oleh Belanda dan dilanjutkan Republik Indonesia pada 1950, masih terlihat di Lampung. Setelah transmigrasi berjalan tentu saja banyak pendatang lain datang dan para transmigran itu juga beranak pinak.

Berdasar etnisnya, menurut data dari pemerintah Lampung, ternyata persentase orang Jawa yang tertinggi, yakni 65,8 persen. Disusul Lampung 12,8 persen, Sunda 11,36 persen, Minangkabau 3,57 persen, Batak 2,13 persen, Bali 1,73 persen dan etnis lainnya 2,15 persen.

Di daerah bekas tujuan transmigrasi itu, tak sulit mencari nama daerah dengan nama Jawa di Lampung. Di Pringsewu, setidaknya ada kecamatan-kecamatan dengan nama Pringsewu, Pagelaran, Pardasuka, Gadingrejo, Sukoharjo, Ambarawa, Adiluwih, Banyumas dan Pagelaran Utara. Di kecamatan Banyumas saja, terdapat desa-desa bernama Sriwaylangsep, Srirahayu, Banyurejo, Mulyorejo dan Sukamulya.

Di Metro, ada kecamatan bernama Bantul, mirip dengan nama kabupaten di DIY. Di Metro, terdapat kampung bernama Ganjar Agung, Yosodadi, Hadimulyo, Banjarsari, Purwosari, Karangrejo, Mulyojati, Tejosari, Margorejo, Rejomulyo dan Sumbersari. Orang-orang ini berbahasa Jawa, meski tak sehalus orang-orang Jawa berbahasa Jawa di Pulau Jawa. Di antara mereka masih memelihara hubungan dengan sanak famili mereka di Pulau Jawa. Begitulah jejak jawa di tanah Sumatra yang seabad lebih usianya.

Baca juga artikel terkait TRANSMIGRASI atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Zen RS
DarkLight