Jangan Abaikan Kebiasan Sarapan, Kata Ilmuwan

Oleh: Yuliana Ratnasari - 3 Februari 2017
Dibaca Normal 1 menit
Orang-orang seringnya hanya memperhatikan kandungan gizi dan nutrisi makanan. Rupanya, persoalan frekuensi dan jam makan juga memberi dampak krusial terhadap kesehatan tubuh.
tirto.id - Mengurangi konsumsi garam, makanan berlemak tinggi, roti dan pasta, serta makan lebih banyak buah dan sayuran adalah cara terbaik agar jantung tetap sehat. Namun, menurut para ahli jantung, makan dengan baik bukan hanya tentang apa yang dimakan, melainkan juga soal kapan kita makan.

Dalam pernyataan ilmiah terbaru, para ahli dari berbagai komite American Heart Association mengemukakan bahwa memberi perhatian pada frekuensi makan, dan saat jam berapa hari itu makan, dapat membantu menurunkan risiko serangan jantung dan stroke.

Para panelis meninjau semua studi yang tersedia tentang seberapa sering dan waktu orang-orang makan. Berdasarkan apa yang diketahui sejauh ini, panel yang diketuai Marie-Pierre St-Onge, seorang profesor kedokteran gizi di Columbia University, mendukung saran yang ada tentang manfaat sarapan. Saran tersebut didasarkan pada studi yang membandingkan orang dengan kebiasaan sarapan dan tidak, serta riwayat penyakit jantung mereka.

Sebagaimna dilansir dari TIME, orang yang terbiasa sarapan cenderung memiliki tingkat penyakit jantung yang lebih rendah dan minim kemungkinannya untuk memiliki kolesterol dan tekanan darah tinggi.

Mereka juga cenderung memiliki kadar dan metabolisme gula darah lebih normal. Itu berarti mereka berisiko lebih rendah terkena diabetes dibanding mereka yang tidak makan sarapan.

Meski begitu, penelitian yang ada belum cukup kuat untuk membuktikan agar orang-orang yang biasanya tidak sarapan harus mulai kebiasaan itu. Dan, tidak cukup menegaskan bahwa orang-orang yang sudah melakukan sarapan dapat bebas dari penyakit jantung dan diabetes selama sisa hidup mereka.

Data yang ada belum begitu jelas menerangkan soal manfaat dari makan dengan sering sesiangan. Sementara beberapa studi observasional terhadap orang-orang dengan kebiasaan makan menunjukkan kecenderungan minimnya kolesterol dan risiko diabetes, data ini masih rancu dengan penelitian yang menyebutkan makan lebih sering dengan ukuran lebih kecil dapat menurunkan berat badan.

Selain itu, studi terkendali yang lebih ketat melacak dengan tepat makanan orang-orang menemukan bahwa lebih sering makan, bahkan jika jumlah total kalori dijaga konstan, bisa saja tidak bermanfaat menurunkan risiko penyakit jantung dan obesitas.

Akhirnya, terkait pertanyaan tentang efek makan lebih awal pada siang hari atau setelahnya dapat memiliki manfaat terhadap kesehatan jantung, panel menemukan bahwa hasilnya menunjukkan bahwa makan lebih awal justru lebih bermanfaat.

"Studi lebih lanjut diperlukan tapi temuan awal ini masuk akal. Semakin banyak kalori yang Anda makan pada siang hari, semakin banyak Anda memiliki kesempatan membakar kalori," kata St-Onge.

Ditambah, ada bukti yang berkembang bahwa metabolisme tubuh berbeda pada siang hari ketika tubuh aktif, dari malam hari ketika itu bersiap-siap tidur. "Tubuh dan semua organ memiliki jam. Ada waktu yang menyediakan semua nutrisi yang diperlukan organ. Aktivitas waktu enzim dan zat lain memproses makanan pun lebih baik pada siang hari daripada di malam hari."

Jadi, sementara penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk memahami waktu dan frekuensi makanan mempengaruhi kesehatan, tidak ada salahnya untuk meneruskan kebiasaan sarapan jika Anda sudah melakukan) dan mencoba meluangkan waktu makan lebih awal hari itu.

Baca juga artikel terkait KEBIASAAN SARAPAN atau tulisan menarik lainnya Yuliana Ratnasari
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Yuliana Ratnasari
Penulis: Yuliana Ratnasari
Editor: Yuliana Ratnasari
DarkLight