Menuju konten utama

Jakarta-Milan Kolaborasi Angkat Seni Publik di Pentas Dunia

Keterpilihan dalam LEP menegaskan Jakarta punya kapasitas kepemimpinan budaya yang diakui internasional.

Jakarta-Milan Kolaborasi Angkat Seni Publik di Pentas Dunia
Sejumlah seniman ondel-ondel tampil dalam parade HUT ke-25 Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan (di Srengseng Sawah Jakarta, Sabtu (13/9/2025). Parade ondel-ondel tersebut digelar sebagai peringatan berdirinya lokasi tersebut sebagai pusat edukasi budaya Betawi di Jakarta sekaligus sebagai upya sosialisasi pelestarian kesenian ondel-ondel sebagai salah satu khazanah budaya di Indonesia. ANTARA FOTO/Reno Esnir/app/nz
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Jakarta terpilih sebagai satu dari 19 kota dunia yang berpartisipasi dalam Leadership Exchange Programme (LEP) putaran ketiga. Program ini digagas oleh World Cities Culture Forum (WCCF). Bekerja sama dengan Kota Milan, Jakarta mengusung tema “Public Art and Co-Creation” atau “Menciptakan Seni Publik Berbasis Ko-kreasi”.

Kolaborasi ini menyoroti peran penting kerja sama antara lembaga budaya dan masyarakat dalam menghadirkan karya seni publik yang mencerminkan identitas lokal sekaligus menumbuhkan rasa bangga warga.

Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh Tamary, menyampaikan keikutsertaan Jakarta di program ini menjadi momentum untuk memperkuat peran budaya dalam membentuk karakter dan wajah kota.

"Kami berharap kolaborasi ini dapat menghadirkan karya seni publik yang tidak sekadar hadir sebagai karya, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga dan kedekatan emosional terhadap budaya Jakarta,” ujar Miftah dikutip dari siaran pers Pemprov Jakarta, Selasa (7/10/2025).

Kolaborasi Jakarta-Milan dalam LEP 2025 mengangkat program The Meeting Point atau “Titik Temu”. Program ini dibuat untuk mengintegrasikan kegiatan ekonomi, sosial, dan budaya di tingkat komunitas atau kampung sekaligus memperkuat jejaring antarwarga.

Program “Titik Temu” diharapkan mengerek posisi Jakarta sebagai Kota Global. Saat ini Jakarta bertengger di peringkat ke-74 dari 156 kota dunia dan ditargetkan masuk 20 besar pada 2045 alias 19 tahun lagi.

Melalui inisiatif ini, Jakarta berupaya mengaktifkan titik budaya di 44 kecamatan dan 267 kelurahan agar menjadi pusat budaya yang hidup, berkelanjutan, dan inklusif. Menjelang perayaan 500 tahun Jakarta pada 2027, program ini juga menjadi upaya memperkaya pengalaman budaya dengan mendorong partisipasi aktif masyarakat.

LEP merupakan program pertukaran kepemimpinan antarkota. Ia dirancang untuk memperdalam diskusi tentang tantangan budaya, ekonomi, dan sosial yang dihadapi kota-kota besar, lalu belajar praktik terbaik dari kota lain agar bisa mengadaptasi atau mereplikasi kebijakan atau solusi yang terbukti berhasil.

Dalam LEP putaran ketiga ini, kota yang tergabung (city partners) akan memilih topik tertentu sesuai tantangan mereka, seperti ruang kreatif terjangkau, pengembangan ekonomi kreatif, seni publik. Kemudian, akan ada sesi kunjungan studi ke kota lain yang sudah punya praktik baik di topik tersebut.

Selain Jakarta dan Milan, sejumlah kota besar lain terpilih dalam program LEP 2025, di antaranya London, New York, Barcelona, São Paulo, Toronto, hingga Dubai.

Pengakuan dan Peluang Strategis

Gubernur dan Wagub DKI Jakarta saksikan Jaga Jakarta Penuh Warna

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung (kiri) bersama Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno (kanan) menyaksikan acara Jaga Jakarta Penuh Warna 2025 saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (28/9/2025). Kegiatan tersebut untuk mengajak masyarakat dalam menjaga kondusifitas Jakarta melalui seni tari nusantara, band dari Dinas Sosial dan murid SMA. ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/nym.

Ketua Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Danny Yuwanda, memaknai terpilihnya Jakarta dalam LEP sebagai pengakuan sekaligus peluang strategis dalam ekosistem seni rupa.

"Kami memaknai terpilihnya Jakarta dalam LEP ini sebagai sebuah kehormatan sekaligus pengakuan atas dinamika dan potensi ekosistem seni,” tutur Danny saat dihubungi jurnalis Tirto, Senin (13/10/2025).

Keterpilihan ini menegaskan Jakarta tidak hanya menjadi pusat aktivitas yang hidup dan beragam, tetapi juga memiliki kapasitas kepemimpinan budaya yang diakui di tingkat regional maupun internasional.

“Program ini menjadi kesempatan penting untuk memperluas jejaring atau memperdalam pertukaran pengetahuan dengan para pemimpin seni dari berbagai negara, seperti Milan ini. Karena, Milan itu kota desain dan seni rupa urban,” sambung Danny.

Program pertukaran semacam ini dinilai bisa memperkuat posisi seniman dan lembaga seni di kancah global. Lebih daripada itu, LEP bisa mendorong terwujudnya model kepemimpinan seni yang kolaboratif karena melibatkan warga serta berkelanjutan.

Fokus kolaborasi warga di bidang seni juga menegaskan bahwa ruang publik bukan hanya tempat perlintasan, tapi juga ruang bersama tempat ide, identitas, dan pengalaman sosial saling bertemu dan berinteraksi.

“Pengaruh seni sebenarnya sangat baik di masyarakat. Di beberapa titik-titik, misalkan saya tinggal di Jakarta Selatan, di situ ada tulisan [mural] ‘Cipete’, terus ‘Cilandak’. Budaya-budaya mural itu udah mulai ada. Nah, di sini nih program ini juga menjadi wadah pertukaran gagasan para seniman dan kurator. Istilahnya pengelola ruang publik dari kedua kota [Milan dan Jakarta] dengan fokus pada praktik seni yang kontekstual, inklusif, dan berkelanjutan,” tutur Danny.

Sebagai tindak lanjut dari partisipasi Jakarta di LEP, Danny menjelaskan, pihaknya bakal menggelar agenda seni rupa di ruang publik bekerja sama dengan berbagai institusi pada tahun depan. Kegiatannya mencakup residensi, pertukaran seniman, workshop, diskusi publik, dan pameran.

“Melalui rangkaian program ini, kami berharap bisa terkoneksi dengan programnya LEP di dalam ‘Titik Temu’. Tidak hanya menjadi proyek pertukaran simbolis, tapi juga menjadi model kerja kolaboratif yang memperkuat hubungan antarkota, memperluas akses seniman terhadap publik, dan menegaskan posisi Jakarta sebagai kota kreatif yang aktif dalam jaringan seni rupa global,” papar pria yang juga berprofesi sebagai dosen di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Kesenian Jakarta tersebut.

Pelibatan Warga Harus Sejak Awal

Segendang sepenarian, Founder Komunitas Historia Indonesia, Asep Kambali, menyebut LEP sebagai momen pengakuan dunia terhadap Jakarta. Menurut dia, Kota Jakarta sudah menjadi kota global sejak abad ke-5 alias pada masa Kerajaan Tarumanegara.

“Bicara kota global itu jangan bicara hari ini. Kalau bicara hari ini, indikator kota global Itu memang Jakarta belum mampu untuk masuk ke situ karena indikator ini baru dibikin tahun 2022-2023 kemarin oleh UNESCO. Kalau melihat di masa lalu, Jakarta itu masuk jalur perdagangan rempah dunia, bahkan pusatnya VOC di abad ke-17, ibu kotanya VOC se-Asia itu di Jakarta,” ujar Asep kepada Tirto, Senin (13/10/2025).

Pertunjukkan seni Jaga Jakarta Penuh Warna

Penari menampilkan tarian massal pada acara Jaga Jakarta Penuh Warna 2025 saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (28/9/2025). Kegiatan tersebut untuk mengajak masyarakat dalam menjaga kondusifitas Jakarta melalui seni tari nusantara, band dari Dinas Sosial dan murid SMA. ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/nym.

Kolaborasi Jakarta dan Milan semakin menegaskan keunggulan dan ambisi Jakarta di ranah desain, ruang kota, dan kreativitas, sebagai kekuatan baru. Pada akhirnya, hal ini menjadi momentum untuk memperkuat diplomasi budaya, dan membangun ekosistem kreatif yang akan meningkatkan potensi ekonomi kreatif.

“Dan narasi-narasi Jakarta sebagai kota global ini akan semakin mengakar pada memori kolektif warganya dalam konteks budaya,” sambung Asep.

Jika kerja sama yang dibangun adalah untuk ko-kreasi, Asep menekankan adanya pelibatan warga sejak awal alias sejak pemetaan narasi. Misalnya, narasi sejarah tentang kampung. Warga juga mesti terlibat dalam proses perancangan hingga kurasi.

“Menciptakan ruang dialog ini yang penting, antara sejarah, identitas atau jati diri, dan kehidupan sehari-hari masyarakat. Jadi, kolaborasi dengan Milan ini tentunya memberikan akses pada berbagai hal, misalnya salah satunya adalah cara kerja. Karena kita mesti belajar juga nih dari negara-negara yang secara heritage preservation-nya sudah berhasil,” jelas Asep.

Pada praktiknya, hal ini bisa dicapai dengan penyelenggaraan lokakarya. Lantaran Jakarta juga mencerminkan keberagaman, residensi seniman bisa menginap di rumah warga, alih-alih di hotel. Menurut Asep, menciptakan sebuah seni itu pada akhirnya bukan hanya melihat objeknya, tapi bagaimana seni itu berproses dan bagaimana seni itu dihasilkan dari diskusi.

Asep menyarankan agar ego sektoral dikesampingkan supaya seni publik yang partisipatif bisa tercapai. Begitu juga perizinan. Misalnya, berhubungan dengan kebudayaan dan pertamanan, harus dibuat satu pintu. Jangan sampai setiap lembaga punya konsep, tapi kemudian tak dilakukan sinkronisasi.

“Jakarta ini milik bersama dan keberagamannya merata. Nah, harus inklusif, harus terjadi pemerataan, tidak boleh hanya berpusat pada kawasan-kawasan bisnis, misalnya hanya Sudirman, Thamrin. Coba main ke Pulau Seribu, ke kampung, ke rumah susun,” kata Asep.

Baca juga artikel terkait SENI DAN BUDAYA atau tulisan lainnya dari Fina Nailur Rohmah

tirto.id - News Plus
Reporter: Fina Nailur Rohmah
Penulis: Fina Nailur Rohmah
Editor: Fadrik Aziz Firdausi