tirto.id - Investasi emas dinilai tetap menjadi salah satu instrumen yang relevan untuk menjaga nilai aset dan membantu masyarakat mencapai tujuan keuangan jangka panjang di tengah gejolak ekonomi global. Hal tersebut mengemuka dalam acara Ngopi Emas: Perencanaan Keuangan Investasi Emas yang digelar di Hotel Aloft South Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Dalam forum tersebut, Gold Investment Department Head Bank Syariah Indonesia (BSI), Syahrial, menekankan pentingnya perencanaan keuangan yang matang agar masyarakat mampu menghadapi berbagai risiko ekonomi di masa depan.
Ia mengingatkan, kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian, mulai dari fluktuasi nilai tukar hingga perubahan suku bunga, dapat memengaruhi kondisi keuangan rumah tangga.
Menurut Syahrial, tujuan utama perencanaan keuangan bukan hanya menambah kekayaan, tetapi menciptakan stabilitas finansial, mencapai tujuan hidup, dan mempersiapkan masa depan yang lebih aman. Tujuan itu mencakup pembiayaan pendidikan anak, kepemilikan rumah, persiapan dana pensiun, hingga biaya ibadah haji.
Dalam konteks itu, investasi penting dilakukan untuk melindungi aset dari dampak inflasi. Syahrial menjelaskan, inflasi menyebabkan nilai uang terus menurun dari waktu ke waktu sehingga menggerus daya belinya di masa depan.
Secara sederhana, inflasi merupakan kenaikan harga barang dan jasa yang terjadi secara umum dan berkelanjutan. Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa inflasi yang terkendali penting untuk menjaga stabilitas ekonomi, namun tetap berdampak pada daya beli dalam jangka panjang.
Syahrial mencontohkan, uang Rp4 juta pada awal 1990-an memiliki daya beli yang jauh lebih besar dibandingkan saat ini. Jika dana tersebut dikonversikan ke emas pada masa itu, nilainya akan berkembang signifikan saat ini.
Oleh karena itu, masyarakat penting untuk menempatkan dananya di instrumen yang bisa mempertahankan nilai uang terhadap inflasi jangka panjang.
Emas Cocok untuk Tujuan Keuangan Jangka Panjang
Emas layak menjadi salah satu instrumen investasi jangka panjang karena mampu menjaga nilai kekayaan. Berbeda dengan tabungan yang berfungsi untuk kebutuhan jangka pendek dan dana darurat, investasi emas berguna menjaga pertumbuhan nilai aset di masa depan.
Dalam teori perencanaan keuangan, emas sering dikategorikan sebagai aset lindung nilai (hedging asset) karena nilainya cenderung bertahan saat terjadi ketidakpastian ekonomi atau gejolak pasar keuangan.
Investasi emas bisa berguna untuk mendukung berbagai tujuan keuangan jangka panjang.
Selain melindungi aset dari inflasi, investasi ini bisa digunakan untuk mempersiapkan masa pensiun.
Berdasarkan berbagai studi perencanaan keuangan, banyak masyarakat yang memiliki dana pensiun, tetapi belum tentu cukup untuk mempertahankan standar hidup setelah tidak lagi bekerja.
Biaya hidup dan kesehatan cenderung meningkat seiring waktu. Karena itu, masyarakat perlu merencanakan kebutuhan tersebut sejak dini melalui investasi berkelanjutan.
Syahrial juga mencontohkan biaya perjalanan haji yang terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Dengan perencanaan yang baik dan investasi secara rutin, masyarakat dapat lebih mudah mencapai target dana yang dibutuhkan untuk beribadah.
Meskipun demikian, Syahrial mengingatkan agar masyarakat tidak menempatkan seluruh aset di satu instrumen investasi, melainkan melakukan diversifikasi untuk mengurangi risiko ketika terjadi guncangan ekonomi. Masyarakat juga perlu menyesuaikan pilihan investasi itu dengan tujuan keuangan yang ingin dicapai.
Salah satu penyedia layanan resmi untuk investasi emas adalah BSI. Branch Manager Bank Syariah Indonesia (BSI) Kantor Cabang Pondok Indah, Adhit Yasnul menjelaskan BSI adalah bank syariah milik pemerintah yang lahir dari penggabungan tiga bank syariah BUMN pada 2021.
BSI kemudian mendapat mandat menjadi salah satu lembaga yang menjalankan layanan bullion bank atau bank emas di Indonesia. "Melalui layanan bank emas di BSI, masyarakat dapat melakukan berbagai transaksi emas secara lebih mudah dan aman," ujarnya.
Kunci Utama Perencanaan Keuangan Adalah Disiplin
Syahrial mengingatkan bahwa keberhasilan perencanaan keuangan tidak ditentukan oleh besarnya pendapatan semata, melainkan juga kedisiplinan dalam mengelola uang.
"Perencanaan keuangan dan investasi bukan berbicara tentang seberapa besar uang yang dimiliki, tetapi seberapa baik dan disiplin kita mengelolanya untuk mencapai tujuan keuangan di masa depan," ujarnya.
Melalui pemahaman yang lebih baik mengenai inflasi, investasi, dan pengelolaan keuangan, masyarakat diharapkan bisa mengambil keputusan finansial lebih bijak dan mempersiapkan masa depan dengan perencanaan matang.
Editor: Addi M Idhom
Masuk tirto.id





























