tirto.id - Acara Conference of the ASEAN Federation of Engineering Organisations ke-44 (CAFEO 44) secara resmi dibuka di Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026). CAFEO 44 mengusung tema Masa Depan ASEAN: Kemakmuran Bersama dan Kemanusiaan Melalui Industrialisasi yang Inklusif dan Berkelanjutan.
Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Ilham Akbar Habibie, menekankan pentingnya langkah konkret para insinyur dalam menjawab tantangan pembangunan kawasan.
"Saya mendorong agar kita tidak hanya berdiskusi, tetapi juga mengambil langkah-langkah konkret. Mari kita uraikan bersama tantangan-tantangan yang kita hadapi. Keberhasilan kita tidak boleh hanya diukur dari apa yang kita bicarakan hari ini," ujar Ilham dalam pembukaan konferensi di Pullman Bandung International Convention Center, Selasa (20/10/2026).
Dalam kesempatan itu, Ilham menyoroti relasi erat antara teknologi dan seni. Menurutnya, teknologi yang baik selalu memiliki nilai keindahan tersendiri.
"Sering kali, teknologi yang baik dia punya estetika tersendiri. Misalnya, kereta api, pesawat terbang. Ada kaitan erat di antara seni, estetika, teknologi, dan ilmu pengetahuan," jelas Ilham.
Dia mencontohkan sosok Leonardo da Vinci sebagai figur jenius yang mampu menjembatani dua dunia tersebut.
“Dia membuat karya-karya engineering zaman dulu, tapi juga melukis Monalisa. Itu memang satu contoh pentingnya kita memperhatikan aspek budaya dan estetika dalam engineering," pungkasnya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal ASEAN, Kao Kim Hourn, mengajak seluruh delegasi untuk melampaui sekadar diskusi dengan beraksi nyata dalam menjawab tantangan kawasan.
"Saya mengajak semua untuk tidak hanya berwacana, tetapi juga mengambil langkah-langkah konkret. Mari kita bedah bersama tantangan-tantangan yang kita hadapi," ujar Kao Kim Hourn yang berasal dari Kamboja itu via video conference.
Menurutnya, tolok ukur keberhasilan sebuah forum bukan sekadar terletak pada panjangnya diskusi, melainkan pada tindak lanjut yang dihasilkan.
"Keberhasilan kami hendaknya tidak diukur dari apa yang kami diskusikan hari ini," jelas Kao.
Di akhir sambutan, Sekjen ASEAN yang menjabat sejak 2023 itu menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya CAFEO 44 dan berharap pertemuan tersebut dapat berjalan optimal.
"Sekali lagi, selamat datang. Semoga forum ini berlangsung produktif dan menginspirasi. Mari kita sukseskan bersama. Terima kasih," tutupnya.

CAFEO 44 turut dihadiri Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Dalam sambutannya, Dedi mengajak para insinyur se-ASEAN untuk merenungkan kembali filosofi dasar hubungan antara manusia dan teknologi.
Menurutnya, pembangunan teknologi di Indonesia tak bisa dilepaskan dari dua sosok penting, yakni Sukarno dan B.J. Habibie. Mereka adalah contoh bagaimana teknologi terbaik dibangun bukan hanya dengan kecerdasan teknis, tetapi juga dengan visi kebangsaan.
Bagi Dedi, dunia engineering memiliki prinsip yang bertolak belakang dengan politik pragmatis.
Seorang insinyur, kata Dedi, tidak bisa memanipulasi kebenaran. Rumus, hitungan struktur, dan ilmu eksakta tak bisa dinegosiasikan. Jika keliru, bangunan akan roboh. Oleh karena itu, kejujuran menjadi fondasi bagi kerja-kerja insinyur.
"Engineering itu tidak bisa berpolitik pragmatis seperti saya. Kapan di sini ngomong A, nanti bicara B. Karena, engineering itu ngomong yang sebenarnya dan bijak," kata Dedi disambut tawa peserta.
Lebih jauh, Dedi menilai engineering sesungguhnya melahirkan kebudayaan dan estetika. Dia merujuk pada tradisi Sunda dan Jawa yang menyebut seorang pembuat karya adi luhung sebagai empu.
"Ketika Sunda lama dan Jawa lama, maka orang menyebutnya empu. Tetap original, tidak diintervensi oleh raja," jelas Dedi.
Sosok empu, kata Dedi, bekerja dengan kemandirian nalar dan rasa. Dia tidak tunduk pada titah kekuasaan, melainkan pada kebenaran karyanya sendiri.
Meski demikian, Dedi mengingatkan bahwa teknologi memiliki dua sisi mata uang. Ia bisa menjadi alat yang memperkuat kekuasaan yang korup dan ekonomi yang menghegemoni. Di sisi lain, ia bisa menjadi instrumen untuk mewujudkan kekuasaan yang adil.
Pilihan itu, menurut Dedi, menentukan apakah teknologi akan menyelesaikan problem warga sehari-hari atau justru menambah beban.
"Sebuah kontemplasi bagi kami agar engineering itu bukan hanya bersifat besar, tapi menyangkut aspek teknis dan setiap waktu," pungkasnya.
CAFEO 44 akan berlangsung selama tiga hari pada 20 hingga 22 Oktober 2026.dinilai sebagai forum strategis bagi para insinyur se-Asia Tenggara. Pada pembukaan hari ini, tercatat 1.700 peserta hadir, termasuk delegasi dari 11 negara ASEAN.
Menurut Ilham, forum tersebut akan membahas beragam isu pembangunan ASEAN yang berkaitan erat dengan masa depan Indonesia. Fokus utamanya adalah bagaimana kerja-kerja ke-insinyuran akan mendorong kemajuan yang inklusif dan berkelanjutan.
"Melalui industrialisasi yang mudah-mudahan bisa memperbaiki juga kualitas hidup dan memberikan lapangan pekerjaan yang memadai," kata Ilham.
Penulis: Ery Chandra
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id


































