20 Desember 1996

Inilah Carl Sagan, Selebritas Dunia Sains Abad ke-20

Oleh: Husein Abdulsalam - 20 Desember 2018
Dibaca Normal 3 menit
Carl Sagan menggunakan media populer untuk memengaruhi sikap publik dan para elite terhadap sains.
tirto.id - Suatu hari seorang anak bertanya kepada sang ayah perihal kakek dan neneknya. Si anak heran. Dia akrab betul dengan orang tua ibunya. Namun, dia belum pernah bertemu orang tua ayahnya.

"Karena mereka meninggal," kata sang ayah.

"Apakah ayah akan melihatnya lagi?" si anak balik bertanya.

Sang ayah diam. Lalu, dia berkata sangat ingin bertemu dan melihat orang tuanya. Tetapi, dia tidak punya bukti pendukung bahwa ada kehidupan setelah kematian.

"Kenapa?" tanya si anak.

Sang ayah menjelaskan percaya atas suatu hal karena ingin hal yang dipercaya benar itu berbahaya. Kata sang ayah, orang bisa tertipu jika ia tidak mempertanyakan diri sendiri dan orang lain.

Kelak si anak mengenang percakapan ini sebagai awal mula dirinya memahami bahwa kematian abadi. Anak itu ialah Alexandra Rachel "Sasha" Druyan Sagan. Ayahnya bernama Carl Sagan, saintis yang meninggal pada 20 Desember 1996, tepat hari ini 22 tahun lalu.


Kesohor Berkat Cosmos

Shasa lahir pada 1982 ketika Carl telah dua tahun tampil di Public Broadcasting Service, stasiun televisi di Amerika Serikat, sebagai pembawa acara Cosmos: A Personal Voyage.

Oracle of Science: Celebrity Scientists Versus God and Religion (2007) yang disusun Karl Gibberson dan Mariano Artigas mencatat episode pertama Cosmos ditayangkan pada Minggu malam, 28 September 1980.

"Cosmos menghibur dan dibuat dengan baik, dengan sentuhan eksotisme lokal dan special effects yang lazimnya tidak ditemui dalam produksi dokumenter pendidikan lainnya," sebut Gibberson dan Artigas.

Special effects itu tampak ketika Carl bicara soal piramida di Mesir, bangunan piramida muncul di belakangnya. Kru Cosmos membuat miniatur perpustakaan Alexandria sehingga Carl ditampilkan tengah berbicara di dalamnya. Dia juga membahas ikan Jepang sembari berdiri di tepi pantai negara itu.

Selain itu, sajian Cosmos yang begitu memikat penontonnya, menurut Gibberson dan Artigas, ialah perihal kehidupan di luar Bumi.

Dalam episode keduanya yang bertajuk "One Voice in the Cosmic Fugue", Cosmos membahas makhluk-makhluk yang mungkin hidup di planet Jupiter. Makhluk itu digambarkan seperti ubur-ubur. Mereka berterbangan di Jupiter.

Kehidupan makhluk hidup cerdas di luar Bumi juga diceritakan Cosmos episode ke-11. Dalam episode itu, Carl membahas pula Rekaman Emas Voyager. Rekaman itu berisi serba-serbi manusia. Ia diangkut pesawat Voyager ke luar angkasa dan dimaksudkan agar alien mengetahui keberadaan manusia di Bumi ketika membacanya. Carl merupakan ketua panitia yang didapuk NASA untuk menyeleksi konten yang masuk rekaman tersebut.

Lalu, dalam Cosmos episode ke-13, Carl mengatakan biaya untuk hidup di luar angkasa, misalnya guna bikin pangkalan permanen di Bulan atau menjelajahi Mars, amatlah besar. Menurut Carl, tidak akan lama lagi manusia akan melakukannya asalkan mau mendorong kebijakan pelucutan senjata nuklir.

"Bahkan, mungkin ada kebutuhan yang lebih mendesak di Bumi ini kemudian. Tetapi, saya tidak ragu, jika kita menghindari penghancuran diri, kita cepat atau lambat akan melakukan misi seperti itu," ujar Carl.


Carl Sagan si Saintis Selebritas

Syahdan, program dokumenter itu membuat Carl, astronom dengan bidang keahlian ilmu-ilmu planet, tenar. The New Celebrity Scientists (2015) yang ditulis Declan Fahy menyebut Carl adalah salah satu ilmuwan di AS pada 1960-an hingga 1970-an yang melihat media sebagai alat untuk memengaruhi sikap publik dan elite politik terhadap sains.

Mereka tak lagi membisiki pembuat kebijakan, tetapi bicara sains kepada publik langsung melalui media massa. Majalah Time edisi 20 Oktober 1980 memuat Carl sebagai gambar sampulnya. Time menjuluki Carl sebagai "Showman of Science".

"Mereka [Carl dan ilmuwan lainnya] menunjukkan bahwa ilmuwan yang bekerja di bidang sains mutakhir cukup artikulatif, kontroversial, dan khas," sebut Fahy.

Namun, ketenaran Carl tidak dibangun dalam satu malam; tak hanya lewat Cosmos dan tidak cuma melalui program televisi.

Carl mengawali kariernya sebagai peneliti planet. Disertasi doktoralnya di Harvard, "Physical studies of planets", secara khusus membahas planet. Kemudian, berdasarkan catatan Caleb A. Scharf, Direktur bidang Astrobiologi di Columbia University, Carl bersama Paul Swan membahas strategi pendaratan kendaraan luar angkasa di Mars dalam makalah bertajuk "Martian Landing Sites for the Voyager Mission" (1965).

Bagian paling mencolok dalam makalah itu, menurut Scharf, muncul langsung di halaman pertama.

"Bukti ilmiah saat ini memberi kesan, tetapi tidak secara jelas menunjukkan, keberadaan kehidupan di Mars. Secara khusus, melalui pengamatan fotometri, waves of darkening [gelombang gelap] yang yang muncul dari topi kutub yang menguap melalui area gelap dari permukaan Mars telah ditafsirkan sebagai bentuk aktivitas biologis musiman," tulis Sagan dan Swan.

Kemudian, pada 1967, Sagan bersama James B. Pollack dan Edward H. Greenburg menulis lagi soal gelombang gelap Mars dalam makalah berjudul "A Statistical Analysis of the Martian Wave of Darkening and Related Phenomena". Dalam makalah ini, Pollack, Greenburg, dan Sagan menjelaskan perjalanan musiman debu ke dan dari gelombang gelap itu serta respon vegetasi terhadap perubahan uap air di atmosfer.

Scharf menjelaskan, pada 1960-an, para astrobiolog masih menerima ide bahwa gelombang gelap muncul karena vegetasi permukaan yang tumbuh di Mars. Namun, sekarang peneliti tahu bahwa gelombang gelap muncul karena perubahan yang sifatnya non-biologis: debu bergerak di Mars yang disebabkan adanya perubahan musiman yang kuat dalam tekanan atmosfer karena es karbon dioksida menyublim dan membeku.


Selain makalah ilmiah, Carl juga malang melintang sebagai penulis buku dan artikel sains populer. Pada 1966, ia dan astronom Soviet, I.S. Shklovskii, menulis buku Intelligent Life in the Universe. Tujuh tahun kemudian, Carl meluncurkan The Cosmic Connection (1973). Dalam buku ini, ia lagi-lagi membahas kehidupan makhluk luar angkasa, planet, astronomi, dan fenomena UFO.

Di samping itu, pada 1970-an, wajah Carl mulai nongol di televisi. Pada November 1973, dia diundang bicara di Tonight Show yang dibawakan Johnny Carson. Selama 13 tahun, Sagan tampil di acara itu sebanyak 26 kali. Kemudian, selama misi pesawat Viking (pertama kali diluncurkan pada 1975) ke Mars, Carl juga kerap didapuk sebagai pengisi acara oleh stasiun televisi di AS.


Infografik Mozaik Carl Sagan
Infografik Mozaik Carl Sagan


Pada 1978, Carl meluncurkan buku The Dragons of Eden. Dalam buku itu, Carl membahas otak manusia. Lewat itu, Carl juga mengemukakan pandangan rumitnya mengenai ketegangan antara rasionalisme dan irasionalisme. The Dragon of Eden menang Pulitzer Prize 1978.

"Setelah itu, kaum cendekiawan menyadari Sagan tidak lagi sekadar ilmuwan atau tamu acara TV dini hari. Dia adalah seorang yang tersohor," sebut Gibberson dan Artigas.

Selain bisa mengungkapkan gagasan-gagasannya kepada publik, ketenaran Carl sebagai saintis selebritas juga mendatangkan uang.

Carl mendapat panjar dua juta dolar AS untuk memproduksi novelnya, Contact, yang terbit pada 1984. Buku Cosmos yang turut diproduksi bersamaan dengan dokumenter pun bertahan lebih dari 70 pekan dalam daftar terlaris buku versi New York Times. Dari royalti buku itu, Carl mengantongi 1 juta dolar AS.

Jurnalis melansir kehidupan pribadinya; menulis soal turtleneck khasnya; dan memberitakan mobil Porsche 914 berplat PHOBOS, salah satu satelit Mars, miliknya. Dia mesti menangani para penggemar yang datang ke studionya. Terkadang, Carl juga duduk menghadap dinding restoran agar tidak ketahuan para pemburu tanda tangan.

Baca juga artikel terkait KOMUNIKASI SAINS atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Ivan Aulia Ahsan