Indah dan Amannya JPO Tanpa Papan Reklame

Oleh: Reja Hidayat - 6 Oktober 2016
Dibaca Normal 2 menit
Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) dibangun untuk menjamin keselamatan para penggunanya saat melintas. Di beberapa kota di dunia, JPO dibangun seindah mungkin. Tak perlu papan reklame yang justru berpotensi menimbulkan bencana.
tirto.id - Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Jayakarta yang menghubungkan Jalan Menteng Tenggulun dan Jalan Sultan Agung, Manggarai, kokoh berdiri dengan dominasi warna putih dan banyak tiang. Bagian atap jembatan berwarna hijau dan memiliki struktur gelombang. JPO Jayakarta terlihat indah dan unik sehingga orang ingin menyeberanginya.

Jika Jakarta memiliki JPO anggun seperti Jayakarta, bagaimana dengan kota-kota besar lainnya di dunia?

London, misalnya, memiliki Millennium Bridge yang merupakan JPO dengan konstruksi baja sepanjang 330 meter yang menghubungkan Katedral St Paulus dengan Galeri Modern Tate. Millennium Bridge memiliki desain yang unik. Apalagi jika malam menjelang, muncul permainan tata cahaya yang menarik masyarakat menggunakannya.

Sementara Singapura memiliki Helix Bridge, JPO yang membentang sepanjang 280 meter di atas Marina Bay yang menghubungkan Marina Centre dan Marina South. Kontruksi Helix sangat unik dengan bentuk jembatan yang melengkung dan berbeda dengan jembatan pada umumnya. Jembatan ini dipagari dan dinaungi rangkaian besi melengkung yang saling silang sehingga mirip terowongan.

Millennium Bridge dan Helix Bridge memang jauh lebih panjang dibanding JPO Jayakarta yang hanya 40 meter. Namun, ketiganya dibangun dengan satu tujuan sebagai sarana penyeberangan manusia yang aman dan sekaligus menyenangkan.

Dari ketiga jembatan itu, tidak ada papan reklame seperti terpasang pada 95 JPO yang ada di Jakarta. Papan reklame di JPO ternyata bisa menjadi penyebab bencana bagi masyarakat yang berada di sekitarnya. Contoh paling nyata, robohnya JPO Pasar Minggu pada Sabtu (24/9/2016) yang menyebabkan empat orang tewas.

Menurut peneliti infrastruktur dari Universitas Indonesia, Suyono Dikun, robohnya papan reklame bukan disebabkan rangka jembatan, tetapi tak kuatnya pagar JPO yang dipasang papan reklame. Beban semakin bertambah ketika muncul angin kencang.

"Beban angin itu yang diperkirakan merobohkan pagar jembatan, bukan (rangka) jembatannya. Jadi dinding itu tidak mampu menahan beban angin yang ditangkap oleh papan reklame. Kalau JPO kan hanya menahan beban orang," kata Suyono saat dihubungi tirto.id, di Jakarta, Selasa (4/10/2016).

Berdasarkan data Dinas Perhubungan Jakarta, konstruksi JPO Pasar Minggu terbuat dari baja. Dari total 318 JPO di Jakarta, sebanyak 82 berkontruksi baja, 55 JPO berkonstruksi beton dan 181 lainnya belum diketahui. Memang, kualitas baja sangat mempengaruhi keamanan JPO. Jika baja berkualitas rendah, lalu terkena hujan dan panas setiap hari, bakal muncul problem korosi.

Sementara baja yang bagus, bisa bertahan 15 tahun dan bahkan mencapai 30 tahun. Tentu dengan syarat desain konstruksi yang benar serta dilakukan pemeliharaan secara rutin. Sayangnya, ada indikasi pengawasan dan pemeliharaan JPO kita sangat lemah. “Dengan pemeliharaan secara periodik seperti pengecatan kembali, kemudian memeriksa kekuatannya, maka jembatan itu bertahan lama," ungkap Suyono.

Tak hanya itu, Suyono bahkan mengatakan jika konstruksi JPO dengan bahan beton bakal lebih tahan lama dibandingkan baja. Beton memiliki ketahanan terhadap panas dan hujan, sementara baja tidak. Baja bisa hancur karena terbakar. Oleh sebab itu, mengingat kondisi cuaca yang berubah-ubah di Indonesia, maka bahan yang paling cocok digunakan untuk JPO adalah beton.

"Bagusnya beton saja," ungkap Suyono. Material beton merupakan material yang aman jika dikaitkan dengan bahaya benturan, api dan angin. Hal ini berkaitan dengan karakternya yang berat dan kaku, juga tidak memerlukan perlakukan khusus. Beton bahkan mempunyai ketahanan terhadap temperatur yang sangat tinggi tanpa kehilangan kemampuan integritas strukturnya.




JPO Bebas Reklame

Terkait keberadaan papan reklame, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama telah menegaskan, pihaknya akan membongkar semua iklan yang ada di JPO. Termasuk juga reklame yang kewenangannya berada di bawah PT Jasa Marga. Reklame di JPO yang berada di atas jalan tol dianggap tetap membahayakan bagi pengguna jalan.

"Kami sudah tulis surat pada Jasa Marga juga. JPO milik Jasa Marga itu juga pasang iklan. Kami juga khawatir roboh nanti," kata Gubernur Ahok, di Lapangan IRTI Monas, Jakarta Pusat, pada Senin (3/10/2016).

Jika merujuk Peraturan Daerah Pemprov DKI Jakarta Nomor 8 tahun 2007 tentang Ketertiban Umum, secara tegas menyebut larangan adanya papan reklame di JPO.

Menurut Alfred Sitorus, pihaknya telah meminta Pemprov DKI Jakarta memoratorium JPO baru, serta menyediakan sarana penyeberangan zebra cross atau pelican crossing, penyeberangan jalan kaki yang dikontrol lampu lalu lintas dan sirine yang bisa dioperasikan oleh para pejalan kaki yang hendak menyebrang.

"Kalau kota ini (Jakarta) mau menuju kota yang smart, seharusnya sudah memfasilitasi manusia dengan lebih ramah," ungkap Alfred.

Baca juga artikel terkait JEMBATAN PENYEBERANGAN ORANG atau tulisan menarik lainnya Reja Hidayat
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Reja Hidayat
Penulis: Reja Hidayat
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
Artikel Lanjutan