tirto.id - Imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun melonjak ke kisaran 7,66 persen. Ini menjadi level paling tinggi sejak Oktober 2022, ketika imbal hasilnya masih berada di kisaran 7,50-7,54 persen.
Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap pelemahan rupiah, risiko fiskal, serta tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS).
Tekanan terhadap pasar keuangan domestik turut meningkat setelah penyedia indeks global MSCI memperingatkan potensi penurunan status pasar saham Indonesia dari kategori emerging market atau pasar berkembang menjadi standalone market atau pasar mandiri.
Peringatan tersebut memicu aksi jual investor asing di pasar saham dan menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Mata uang Indonesia pun melemah hingga mendekati Rp18.200 per dolar AS.
"Karena melemahnya mata uang, meningkatnya risiko fiskal, dan kenaikan imbal hasil AS mendorong investor untuk menuntut premi risiko yang lebih tinggi. Peringatan MSCI bahwa hal itu dapat menurunkan peringkat ekuitas Indonesia menjadi status pasar standalone memicu penjualan asing dan memberikan tekanan lebih lanjut pada rupiah, yang melemah menuju Rp18.200 per dolar," tulis Trading Economic dalam laporannya, dikutip Kamis (29/10/2026).
Di sisi lain, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS membuat investor meminta kompensasi lebih besar untuk menanamkan modal pada surat utang Indonesia. Kondisi ini mendorong kenaikan premi risiko dan menekan harga obligasi pemerintah.
"Sentimen investor juga teredam oleh lelang obligasi pemerintah (Surat Berharga Pemerintah/SBN) pada hari Selasa, saat pemerintah hanya mengumpulkan Rp20,65 triliun terhadap target Rp30 triliun, sementara penawaran turun 52 persen dari penjualan sebelumnya," lanjut Trading Economics.
Selain realisasi penerbitan yang berada di bawah target, nilai penawaran yang masuk dalam lelang tersebut juga turun 52 persen dibandingkan lelang sebelumnya. Penurunan ini mengindikasikan melemahnya minat investor terhadap surat utang pemerintah.
Kekhawatiran pasar terhadap prospek fiskal Indonesia turut meningkat, menyusul laporan mengenai rencana pemerintah memperluas program pendidikan gratis hingga perguruan tinggi. Kebijakan tersebut berpotensi menambah beban belanja negara di tengah berbagai komitmen pengeluaran pemerintah lainnya.
Sementara itu, tekanan inflasi juga masih menjadi perhatian investor. Inflasi tahunan Indonesia pada September mencapai 3,28 persen, tertinggi dalam tiga bulan terakhir.
Kenaikan tersebut antara lain dipengaruhi oleh meningkatnya harga pangan yang berkaitan dengan fenomena El Niño.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id





































