Menuju konten utama

Yield SBN Naik di Atas 7 Persen Dinilai Tetap Kompetitif

Imbal hasil SBN Indonesia kini menjadi 7,45 persen. Angka yield ini dinilai masih kompetitif untuk menarik investor global. Simak penjelasannya.

Yield SBN Naik di Atas 7 Persen Dinilai Tetap Kompetitif
Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan (SPSK) Kemenkeu sekaligus Sekretaris Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Herman Saheruddin. (Foto. Instagram djspsk Kemenkeu)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia diumumkan naik 0,28 poin menjadi 7,45 persen. Hal ini sejalan dengan kinerja Anggaran Pengeluaran Belanja Negara (APBN) yang bekerja keras menghadapi tekanan global.

Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan (SPSK) Kemenkeu sekaligus Sekretaris Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Herman Saheruddin, menyatakan yield SBN di atas tujuh persen masih kompetitif dan aman dibandingkan negara lain.

"Relatively masih aman. Kalau dibandingkan dengan negara terutama Eropa sekarang ya," seru Herman setelah Rapat Koordinasi Nasional Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (Rakornas TPAKD) di JIEXPO Kemayoran, Kamis (22/10/2026).

Herman percaya diri level imbal hasil di atas tujuh persen masih menarik untuk investor global. Ia membandingkannya dengan rating yield di negara-negara maju terutama Eropa dan Jepang.

Herman turut menegaskan, APBN sekarang berfungsi menjadi peredam kejut di tengah gejolak kelangkaan energi global. Misalnya, bagaimana APBN tetap mampu mensubsidi BBM untuk masyarakat.

"APBN itu shock absorber ya. Kenapa kok harga tetap terkendali terutama untuk BBM subsidi itu karena diserap APBN. Jadi APBN kita menumbuhkan," terang Herman.

Selain itu, Herman memastikan pemerintah terus bekerja memastikan defisit APBN tidak lebih dari 3 persen. Salah satu hasilnya di bulan September, defisit APBN berada di angka 1,24 persen padahal kondisi global belum stabil.

Terakhir, Herman meminta semua pihak terus percaya pada kerja pemerintah menjaga stabilitas fiskal. Kata dia, Indonesia menyimpan potensi bersinar di Asia Pasifik dengan capaian Purchasing Power Parity (PPP) sebesar 6 persen atau nomor tujuh di dunia.

"Dan di ASEAN, Indonesia itu bright spot. Kemarin waktu IMF World Bank kan dibilang ASEAN is a bright spot of Asia Pacific dan Indonesia the biggest one di ASEAN. Tadi juga disampaikan Pak Presiden kan tadi bahwa IMF juga PPP. Kita number seven," imbuh Herman.

Baca juga artikel terkait SBN atau tulisan lainnya dari Mukhtar Abdullah

tirto.id - Flash News
Reporter: Mukhtar Abdullah
Penulis: Mukhtar Abdullah
Editor: Ilham Choirul Anwar