Ilmuwan Peringatkan Potensi Mega Tsunami Akibat Cairnya Es Alaska

Oleh: Dinda Silviana Dewi - 22 Oktober 2020
Dibaca Normal 1 menit
Gletser di Alaska terus mencair. Para ilmuwan pun memperingatkan adanya potensi mega tsunami.
tirto.id - Para ilmuwan telah memperingatkan dampak dari pencairan gletser atau gunung es di Alaska dapat menyebabkan tsunami besar atau disebut dengan mega-tsunami.

Dikutip dari New York Post, para ilmuwan yang prihatin terhadap kondisi gletser di Alaska itu mengklaim bahwa peristiwa tersebut mungkin dapat terjadi dalam 12 bulan ke depan apabila es yang mencair memicu longsornya batuan yang tidak stabil.

Bila terjadi secepat itu, para ilmuwan memprediksi mega tsunami dapat terjadi dalam dua dekade mendatang. Untuk mengantisipasi bencana ini, para ahli pun telah mengirimkan surat terbuka pada bulan Mei lalu kepada Departemen Sumber Daya Alam Alaska (ADNR).

Pada surat tersebut, mereka menjelaskan kekhawatiran terhadap area bernama Prince Willian Sound di sepanjang pantai selatan Alaska, Amerika Serikat. Wilayah tersebut mengalami penyusutan gletser yang menyebabkan ketidakstabilan di lereng gunung Barry Arm di atas Gletser Barry.

“Kami, sekelompok ilmuwan dengan keahlian dalam perubahan iklim, tanah longsor, dan bahaya tsunami, telah mengidentifikasi lereng gunung yang tidak stabil di atas kaki Gletser Barry di Barry Arm, 97 kilometer sebelah timur Anchorage, yang berpotensi untuk gagal dan menimbulkan tsunami,” tulis para ahli pada surat terbuka itu.

Mengutip Science Direct, mega tsunami didefinisikan untuk peristiwa gelombang besar yang memiliki amplitude lebih dari 100 meter. Beberapa contoh penyebab lain dari mega-tsunami antara lain akibat kejadian-kejadian langka pada skala waktu geologi yang ditimbulkan oleh dampak komet yang besar, aktivitas gunung berapi yang hebat atau keruntuhan sisi pulau samudra, dan kemungkinan gempa bawah laut yang ekstrem.

Di sisi lain, analisis citra satelit menunjukkan bahwa saat Gletser Barry bergerak memisah dari Barry Arm karena terus mencair, batu besar muncul di permukaan gunung di atasnya. Hal ini menunjukkan bahwa tanah longsor yang bertahap dan bergerak lambat sudah terjadi di atas fyord atau teluk yang muncul dari lelehan gletser.

Apabila permukaan batu tersebut tiba-tiba lepas, konsekuensinya bisa mengerikan sebagaimana ditulis Science Alert. Meski Kawasan yang dikhawatirkan tersebut terpencil, area tersebut menjadi tempat yang sering dikunjungi oleh kapal komersial dan rekreasi termasuk kapal pesiar.

“Awalnya sulit untuk mempercayai angka-angka tersebut,” ungkap salah satu peneliti, ahli geofisika Chunli Dai dari Universitas Negeri Ohio kepada NASA Earth Observatory.

“Berdasarkan ketinggian endapan di atas air, volume tanah yang tergelincir, dan sudut kemiringan, kami menghitung bahwa keruntuhan akan melepaskan 16 kali lebih banyak puing dan 11 kali lebih banyak energi daripada longsor Teluk Lituya di Alaska yang terjadi pada tahun 1958 dan mega-tsunami,” lanjutnya.

Sejak rilis laporan tersebut pada awal tahun ini, analisis longsor berikutnya menunjukkan sedikit, bahkan tidak ada pergerakan massa tanah di lereng. Meski demikian, hal tersebut tidak mengindikasikan banyak hal karena penelitian lain menunjukkan permukaan batuan telah bergeser sejak kurang lebih 50 tahun yang lalu. Pada beberapa titik, batuan bergerak cepat sedangkan di beberapa titik lain bergerak melambat.

Sementara hal tersebut masih terus diselidiki, pandangan lain adalah bahwa kecepatan mencairnya gletser dapat meningkatkan kemungkinan kegagalan lereng yang lebih mengerikan.


Baca juga artikel terkait GLETSER atau tulisan menarik lainnya Dinda Silviana Dewi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Dinda Silviana Dewi
Penulis: Dinda Silviana Dewi
Editor: Yantina Debora
DarkLight