26 Juni 2000

Ilen Surianegara: Diplomat Marxis, Haji Sosiologis

Ilen Surianegara. tirto.id.Nauval
Oleh: Zulkifli Songyanan - 26 Juni 2020
Dibaca Normal 6 menit
Ilen Surianegara menjadi diplomat sejak masa Revolusi. Dia seorang marxis, meski tak pernah mengaku.
Soegeng Djarot alias Eros Djarot antusias betul saat saya minta bercerita tentang Ilen Surianegara. Kata Eros, sosok Ilen bukan hanya mertua, tapi juga teman sekaligus musuh sekaligus guru dalam banyak soal. Keduanya sering debat dan tukar pikiran hingga Ilen mangkat pada 26 Juni 2000, tepat hari ini 20 tahun lalu.

“Pak Ilen adalah seorang sosialis tulen; pemahamannya terhadap teori sejalan dengan ucapan dan tindakannya sehari-hari,” ujar Eros, pekan lalu.

Pencipta lagu “Badai Pasti Berlalu” itu ingat, suatu hari sepulangnya dari luar negeri, Ilen Surianegara—yang puluhan tahun bekerja sebagai diplomat—berang melihat kamar tidurnya di bilangan Teuku Umar, Jakarta Pusat, dipasangi AC. Selama Ilen pergi, adik kandung Slamet Rahardjo tersebut memang diamanati untuk jaga rumah.

“Apa-apaan ini, katanya kamu pejuang rakyat; rakyat lagi begini kita tidur mau enak-enak saja,” kata Eros menirukan makian mertuanya.

Pengalaman itu, ditambah pengalaman lain saat beli mobil Crown pada awal 1980-an, membuat Eros punya komentar menarik terhadap Ilen Surianegara. “Sebagai guru, saya nyaman dengan sikapnya. Tapi sebagai mertua, menyebalkan sekali: kami mesti hidup dengan cara-cara yang dia ingini.”

Eros menuturkan, jika kebanyakan mertua senang menyaksikan menantunya punya mobil bagus, Ilen, mantan Wakil Gubernur Lemhanas (1980-1983), sebaliknya. “Ah, kamu. Ini kan mobil para koruptor. Katanya pejuang kerakyatan, masak mobilnya kayak punya koruptor, memalukan.”

Dua hari kemudian, Eros menukar mobil baru itu dengan model yang lebih tua. “Oke, akan saya ikuti cara ini, tapi jangan salahin saya, ya, saya juga akan konsisten,” kata Eros mengenang percakapannya dengan Ilen.

Sutradara Tjoet Nja’ Dhien itu menegaskan, jika sampai hari ini dirinya tidak korupsi atau menerima suap—sekalipun pascareformasi ia berada di lahan basah jantung kekuasaan—itu adalah buah pendidikan sang mertua. Hal serupa juga tampak pada perilaku anak-anaknya. “Saya pernah membelikan Dewi, istri saya, baju seharga dua juta rupiah. Aneh, dia lebih menginginkan baju murah di Pasar Senen.”

Jauh sebelum menjadi menantu, Eros, mahasiswa Teknik Kimia di Jerman, mengenal Om Ilen—begitu mula-mula ia memanggilnya—sebagai Wakil Kepala KBRI di Bonn yang jago main catur. Eros ingat ia pernah sekali menang atas Ilen karena mengajaknya bicara terus-terusan. Kekalahan itu membuat sang diplomat penasaran.

“Saya tidak mau main catur sama dia lagi. Tapi setelah menikahi anaknya, tak lama setelah resepsi beres, saya malah ditunggu main catur. Katanya, catur saja dulu. Malam pertama mah gampang.”

Ilen lahir di Bandung pada 29 Desember 1924. Berasal dari keluarga muslim, pendidikan Ilen sejak TK hingga sekolah menengah pertama dihabiskan di lingkungan Protestan. “Selama sepuluh tahun di sekolah, tiap pagi saya mendengar uraian testamen lama dan baru, sedangkan di rumah saya belajar mengaji Qur’an,” tulis Ilen dalam Rantau dan Renungan (1992: 42).

Kelak, pengalaman itu—yang disebut Ilen sebagai perbenturan ide—amat membantunya dalam memahami sekaligus menikmati perbedaan, terutama saat dirinya melanjutkan studi ke Paris kemudian kembali ke Jakarta dan menjabat sebagai pengurus Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN).

“Di BMKN ini saya bisa bernapas lega. Berbahagia saya berkenalan dengan tokoh-tokoh budaya. Sambil makan siang saya nikmati pertentangan pikiran antara Wiratmo Sukito dan Sitor Situmorang. Kedua-duanya adalah teman akrab saya,” tulis Ilen dalam catatan berjudul ”Kenangan Seorang Murid AIP” yang terhimpun dalam Guru Pandita: Sumbangsih untuk Prof. Djokosoetono, S.H. (1984).

Dalam Ucang-ucang Anggé (2001) Ajip Rosidi menerangkan, pada 1950-an, pertentangan antara seniman kiri dan seniman kanan mulai memanas di Jakarta. Meski demikian, mereka masih kerap bertemu, baik untuk sekadar ngobrol sempal guyon maupun menggelar diskusi. Rumah pasangan Ilen Surianegara dan Tating Sastramidjaja, kala itu di Jalan Cut Mutia, menjadi salah satu lokasi pertemuan rutin para seniman yang berbeda keyakinan dan latar belakang ideologi itu (hlm. 207).

Diplomasi Budaya, Bertemu Sartre dan Che Guevara

Sebelum menjadi Atase Kebudayaan dan Pers KBRI Paris (1954-1959), Ilen adalah mahasiswa Institut d’Etudes Politiques (1950-1953), kampus bergengsi di Paris, sekaligus Direktur Antara untuk wilayah Eropa barat. Sebagai wartawan, hal yang mengesankan baginya adalah bertemu Jean-Paul Sartre di bilangan Rue Bonaparte, kediaman sang filsuf.

“Saya menanyakan bagaimana komentarnya mengenai maksud pemerintah Indonesia untuk membuka hubungan diplomatik dengan Spanyol. Dengan agak keheran-heranan ia menjawab, ‘Indonesia baru saja membebaskan diri dari belenggu kolonialisme dan sekarang akan mengadakan hubungan dengan suatu rezim fasis. Apa tidak bisa ditunda?’”

Sartre kemudian mengenalkan Ilen dengan Alvarez del Vajo, Menteri Luar Negeri Spanyol di pengasingan. Sementara kepada Satre, Ilen mengenalkan dua tokoh Indonesia yang kelak menjadi Menlu RI, Roeslan Abdoelgani dan Adam Malik.

“Sartre sangat terkesan dengan intelegensi keduanya,” kenang Ilen.

Sebagai diplomat, capaian Ilen yang tak tertandingi adalah kepiawaiannya melakukan soft power diplomacy lewat pendekatan budaya. Ia menerjemahkan sajak-sajak dan cerpen-cerpen Angkatan ’45 ke Bahasa Perancis—hal yang disebutnya sebagai upaya memperkenalkan jiwa bangsa Indonesia—dan sebagai balasannya, Ilen menerima puluhan lukisan dari para pelukis Negeri Ayam Jantan.

“Sungguh mengharukan sambutan pelukis-pelukis Prancis yang sukarela mengantar sendiri karya karya seni lukisnya ke KBRI. Tidak pernah terjadi dalam sejarah diplomatik, sekelompok pelukis Prancis secara pribadi menyumbangkan karyanya sebagai tanda penghargaan,” tulis Ilen dalam Rantau dan Renungan (hlm. 49).

Di Paris, selain menjalin hubungan baik dengan Sartre dan salah seorang pengarang favoritnya, Andre Malraux, Ilen juga menjalin hubungan baik dengan sekelompok akademisi ahli Indonesia seperti Denys Lombard, Pierre Labrousse, Christian Pelras, dan Henry Chambert-Loir. Dalam pertemuan di Musee de l’Homme, sekira awal 1970-an, orang-orang itu membahas perlunya menerbitkan sebuah majalah yang dapat menghimpun tulisan pakar-pakar bangsa Perancis dan lainnya mengenai Indonesia dan sekitarnya.

“Saya mengusulkan untuk diterbitkan di Bandung agar harganya bisa lebih murah. Pertemuan ini dapat dikatakan bersejarah, karena ternyata melahirkan majalah terkenal Archipel,” kata Ilen.

Pada 1965 Ilen dikirim ke Aljazair untuk mewakili Indonesia dalam mempersiapkan Konferensi Asia-Afrika (KAA) II. Meski kegiatan itu urung digelar lantaran pertentangan Uni Soviet dan Tiongkok kian memanas, reputasi Indonesia tetap terjaga.

“Wakil-wakil negara asing sowan ke kita, antara lain Che Guevara, pemimpin revolusioner Kuba yang terkenal itu. Saya menemui Che mewakili duta besar kita yang saat itu sedang berada di Jakarta. Pribadinya karismatis dan wajahnya amat tampan,” kata Ilen dalam wawancara dengan Tempo, 26 September 1999.

Berdiplomasi Sejak Zaman Revolusi

Meski secara formal pengetahuannya sebagai diplomat mula-mula didapat dari Akademi Ilmu Politik (AIP) Yogyakarta (1946), Ilen sebetulnya sudah melakukan kerja-kerja diplomatik sejak masih tercatat sebagai mahasiswa Kimia Kogyoo Daigaku (kemudian berganti nama menjadi Institut Teknologi Bandung).

Jika pada masa Orde Baru para Duta Besar diperintahkan melakukan screening terhadap orang-orang yang diduga terlibat Gestapu, pada awal September 1945 Ilen diminta Mashudi, pimpinan Badan Perjuangan, untuk menyelidiki orang-orang yang tidak menyetujui Proklamasi. Mereka adalah kalangan intelektual di Bandung dan Jakarta yang punya gagasan agar Indonesia menjadi negara commonwealth di bawah naungan Belanda.

“Seorang di antaranya adalah profesor Indonesia yang sangat dihormati dan puteranya teman baik saya di SMT Jakarta,” kata Ilen.

Ketika Sekutu datang, Ilen ditugaskan untuk menyambut kedatangan pasukan Inggris di Stasiun Bandung. Sebagai penghubung, Ilen justru malah berusaha dibikin ciut nyali oleh komandan tentara Inggris. “Look young man. Those Gurkhas, they don’t believe in their guns. When they fight, they use their knives.”

Dengan polosnya, Ilen menimpali: “When we fight, we use our bare hands.”

Sebagai anggota Pemuda Menteng 31, pada awal November 1945 Ilen dan 17 pemuda lain pergi ke Bali sebagai utusan resmi pemerintah untuk mengabarkan kemerdekaan. Misi mereka ketahuan dinas rahasia Jepang sehingga ia dan beberapa kawannya dijadikan tawanan.

“Andaikata tidak ada peristiwa Hari Pahlawan di Surabaya, riwayat pribadi masing-masing pasti lain. Yang jelas setiap kali mengheningkan cipta tanggal 10 November, selalu terkenang pertukaran tawanan pertama di Selat Bali,” tulis Ilen (1984: 19).

Ambil bagian dalam mempertahankan kemerdekaan membuat Ilen kian jauh dari ilmu eksakta. Dari Bandung ia pindah ke Yogya; membantu Radio Republik Indonesia (RRI) untuk siaran luar negeri jurusan bahasa Perancis. Di samping itu Ilen juga menjadi penyiar dan redaktur The Voice of Free Indonesia.

“Kemudian saya diizinkan untuk merangkap menjadi pembantu Kantor Berita Perancis AFP untuk daerah yang dikuasai RI. Maklum berita-berita Yogya akan lebih dipercayai luar negeri apabila bersumber AFP daripada Antara.”

Pada wal 1948, sambil melanjutkan sekolah di Akedemi Ilmu Politik (AIP), Ilen punya pekerjaan mentereng: menjadi jubir Ketua Delegasi Indonesia dalam perundingan di Kaliurang. Yang menakjubkan, semua pekerjaan itu—termasuk kerja sampingan menjadi penerjemah—dilakukan Ilen saat usianya 23 tahun. “Saya kira itu mungkin hanya terjadi dalam revolusi. Justru tugas-tugas yang sangat ‘exposed’ itu menanamkan kesadaran akan segala kekurangan dan kelemahan diri.”

Sebagai interpreter, Ilen pernah menemani Mr. Amir Sjarifudin dan Andrew Roth, wartawan Amerika. Dalam mobil, Ilen duduk antara Amir dan Andrew, sedangkan di depan ada Setiajit dan Maruto Darusman. Semua orang bicara dalam bahasa Inggris yang fasih. Mereka membicarakan coup yang baru dilakukan Partai Komunis di Praha. Sesampainya di Solo, Roth berkenalan dengan Wikana, Alimin, dan Tang Ing Djie.

“Sayang sekali, untuk dapat menarik manfaat dari pertukaran pikiran mereka, saya terlalu buta huruf dalam soal-soal Kominform dan masalah-masalah dialektika materialism,” kata Ilen.

Meski demikian, sepulang dari Perancis, Ilen malah dikenal sebagai marxis.“Marxisme bagi Ilen bukan sekadar kajian ilmiah yang mempesona, namun sekaligus menjadi keyakinan. Sekalipun ia tak pernah mengaku dirinya Marxist—paling tidak kepadaku,” kata Ajip.


Bisi Hapa Hui

Ajip melanjutkan, berdasarkan obrolannya yang intens dengan Ilen, ia berkesimpulan bahwa menantu Jaksa Neneng Sastramidjaja itu berpandangan sangat materialistis. “Makanya kata Atun (Ramadhan KH), Kang Ilen itu naik hajinya juga naik ‘haji sosiologis’.”

Ajip, yang pernah menempati rumah Ilen jika sang empunya tidak sedang di dalam negeri—rumah yang sama dijadikan kantor majalah Budaya Jaya di mana Ilen duduk sebagai pemimpin redaksi—juga menyebut dirinya tak pernah melihat Ilen sembahyang, sekalipun hari Jumat. “Kecuali waktu di Jerman, sebab Duta Besar-nya saat itu Achmad Tirtosudiro yang nyantri.”

Eros Djarot tak menampik pandangan Ajip. Menurutnya, secara intelektual, hingga saat meninggal, Ilen adalah seorang marxis. Dibandingkan rekan-rekannya sesama pemuja sosialisme, Ilen lain. Ia tak pernah jatuh kepada perilaku klenik.

“Kalau yang lain-lain seperti Pak Soebadio [Sastrosatomo] PSI, akhirnya ke Laut Kidul juga. Terus Pak Suwarto, di akhir hidupnya mengurung diri, bertapa di loteng. Itu tak berlaku bagi Pak Ilen.”

Eros menggarisbawahi bahwa Ilen percaya Tuhan dan menemukan-Nya lewat pemikiran, lewat ilmu, lewat empirik, tapi tidak dogmatik. “Itu juga salah satu yang membuat saya tertarik menjadi mantunya.”

Sebab itu, Ajip heran saat Ilen yang dikenal sangat rasional justru menyebut-nyebut pamali. Suatu ketika, Ramadhan K.H. menugaskan rekannya, Sayudi, untuk menulis biografi Ilen Surianegara. Mertua Shanaz Haque tersebut kemudian mendapat laporan bahwa Ilen tidak bersedia menyebut nama ayahnya. “Pamali, bisi hapa hui" (Pamali, nanti mandul). Yang disayangkan, Ilen bukan hanya tidak mau menyebut nama ayahnya, namun juga tidak ingin meneruskan penulisan biografinya.

“Kakek bernama Sukaatmadja, orang Soreang, kampung (kini ibu kota kabupaten Bandung),” kata Dewi Triyadi Surianegara, putri pertama Ilen, kepada saya.

Kini, Ilen Surianegara mungkin lebih dikenal sebagai salah seorang aktor intelektual di balik pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM)—alih-alih sebagai ahli diplomasi atau intelektual marxis. Sebelum TIM dibangun, Ilen punya jasa besar membawa dan mempertemukan para seniman dengan Ali Sadikin.

Bahkan Ajip Rosidi, dalam Hidup Tanpa Ijazah (2008), menggambarkan betapa saat para seniman dihadapkan pada masalah pelik, misalnya saat Srihadi Sudarsono muntab sebab lukisannya dicoret-coret Ali Sadikin, Ilen diutus menjadi juru runding. Kata Ramadhan K.H., “Kita harus minta tolong kepada Kang Ilen. Hanya Kang Ilen yang berani mengemukakan hal itu kepada Ali Sadikin” (hlm. 620).

Sehari sebelum meninggal, Banyu Biru, cucu Ilen, membacakan ayat-ayat suci di telinga kakeknya. Ilen menanggapinya dengan nada datar. “Aki capek. Sebaiknya nyanyikan 'Bengawan Solo' saja.”

Baca juga artikel terkait DIPLOMAT INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Zulkifli Songyanan
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Zulkifli Songyanan
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight