Idrus Sambo Minta La Nyalla Tak Menyalahgunakan Nama Alumni 212

Ketua Presidium Alumni 212 Ansufri Idrus Sambo (kiri) menyampaikan tujuannya kepada Komisioner Komnas HAM Siane Indriani (kanan) dan Natalius Pigai (kedua kanan), Jakarta, Jumat (19/7). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Oleh: Felix Nathaniel - 13 Januari 2018
Dibaca Normal 1 menit
Idrus menyatakan selama ini alumni 212 belum ikut dalam politik praktis dan belum menyatakan dukungan resmi pada La Nyalla.
tirto.id - Deklarator Presidium Alumni 212 Ansufri Idrus Sambo meminta agar nama alumni Aksi 212 tidak disalahgunakan untuk kepentingan politik praktis. Pernyataan ini menyusul klaim La Nyalla Matalitti soal mahar Rp40 miliar yang diminta Prabowo Subianto untuk memuluskan langkah La Nyalla jika diusung Partai Gerindra.

Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Al-Khaththath menggadang-gadang La Nyalla sebagai kader dari 212. Menanggapi hal ini Sambo menegaskan bahwa tidak ada alumni 212 yang bisa mengklaim didukung oleh peserta aksi 212. Selama ini, katanya, alumni 212 tidak ikut dalam politik praktis dan belum menyatakan dukungan resmi pada La Nyalla.

Bagi Sambo La Nyalla hanyalah salah satu dari sekian banyak alumni 212 yang ikut dalam proses pemiluhan calon peserta Pilkada. Kendati demikian Sambo mengaku tahu bahwa sejumlah ulama berembuk terkait calon yang akan didukung di Pilkada Jawa Timur 2018.

"Kami menganggap bahwa pernyataan Pak La Nyalla adalah urusan pribadi antara Pak La Nyalla dan Pak Prabowo dan tidak ada urusan dengan alumni 212," katanya hari Sabtu (13/1/2018).

Ditemui di daerah Kemang, Jakarta Selatan, Sambo menyatakan keberatan bila alumni 212 dibawa-bawa dalam urusan kegagalan La Nyalla saat mencalonkan diri dalam Pilkada 2018. Polemik ini, menurut Sambo, perlu diluruskan. Selama ini Sambo mengatakan bahwa hubungan alumni 212 dengan Partai Gerindra dan Prabowo sangat baik. Ia tak ingin hubungan tersebut rusak karena kegagalan pribadi La Nyalla.

"Kami menyayangkan ucapan atau dukungan tersebut. Sebatas pribadi kami menghargai, tapi kalau sudah ditolak apa sudah tidak diterina, kami tidak ingin alumni 212 dipakai apalagi dibenturkan dengan partai-partai yangg selama ini bersama kami mendukung aksi 212 seperti Partai Gerindra, PKS dan PAN," tegasnya.

Membentuk Garda 212, Bagian Politik Praktis?

Mantan Ketua Presidium 212 ini melanjutkan bahwa demi mencegah terjadinya klaim sepihak dari alumni 212 yang maju dalam pemilihan umum, beberapa pihak yang berperan dalam aksi 212 membentuk Garda 212 pada tahun 2016. Garda 212 baru dideklarasikan hari ini Sabtu (13/1/2018) dan belum jelas bentuknya. Kemungkinan besar jadi sebuah organisasi masyarakat, kata Sambo.

Pembentukan garda ini ditujukan untuk menyaring calon-calon yang sekiranya ingin maju ke pemilihan legislatif tahun 2019. Nantinya calon-calon ini akan diajukan kepada partai-partai yang selama ini erat dengan alumni 212 seperti PAN, PKB, Partai Gerindra, dan Partai Bulan Bintang.

Setiap daerah pemilihan hanya akan direkomendasikan satu orang calon dari Garda 212. Berbeda dengan kondisi sekarang, Garda 212 nantinya akan memberikan dukungan resmi pada calon yang sudah diseleksi.

Sebelumnya pencalonan yang mengklaim dapat dukungan dari alumni 212 hanyalah berdasarkan hubungan emosional saja, kata Sambo. Dengan pembentukan Garda 212, lanjutnya, calon yang terpilih akan didukung dengan menimbang tingkat kapasitas, elektabilitas, dan integritasnya.

Sambo berharap Garda 212 bisa difungsikan sebagai fasilitator bagi para anggota atau alumni 212 selama berpolitik praktis tahun depan. Menyepakati Sambo, Sekretaris Jenderal Garda 212 Hasri Harahap menyatakan tujuan dari Garda 212 ini adalah "memperjuangkan kader muslim agar dapat tempat (di DPR)."

Baca juga artikel terkait ALUMNI 212 atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel
(tirto.id - Politik)

Reporter: Felix Nathaniel
Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Akhmad Muawal Hasan
* Data diambil dari 20 top media online yang dimonitor secara live
a