Huawei Dianggap Mata-Mata Cina: Apa Masalah Memakai Produknya?

Oleh: Ahmad Zaenudin - 13 Desember 2018
Dibaca Normal 3 menit
Meng Wanzhou, Chief Financial Officer Huawei, ditangkap otoritas Kanada di bandar udara Vancouver, Kanada.
tirto.id - Meng Wanzhou, Chief Financial Officer (CFO) Huawei ditangkap otoritas keamanan di Bandar Udara Vancouver, Kanada, pada Sabtu (1/12) saat transit dalam penerbangan Hong Kong-Meksiko. Penangkapan Wanzhou berkaitan dengan penyelidikan oleh otoritas Amerika Serikat (AS) soal tuduhan penipuan terkait Huawei melanggar penerapan sanksi ekonomi AS terhadap Iran. Meski akhirnya Wanzhou dibebaskan dengan jaminan setelah beberapa hari ditahan.

Penangkapan yang sempat menimpa Wanzhou memanaskan situasi hubungan antara AS dan Cina. Terlebih, Wanzhou bukanlah sosok eksekutif biasa. Wanzhou ialah anak Ren Zhengfei, pendiri Huawei. Secara sederhana, Wanzhou merupakan pewaris salah satu perusahaan teknologi paling bernilai di dunia ini.

George Magnus, ekonom pada Pusat Studi Cina di Oxford University, sebagaimana diungkapkan pada Bloomberg, menyebut penangkapan Wanzhou “memberikan nilai tawar lebih bagi Trump” karena status Wanzhou.

Dalam laporan berjudul “Huawei Clash Shows Deeper U.S.-China Battle for Global Influence” yang dirilis Bloomberg, menyebut tindakan Pemerintah AS pada Huawei bisa dibaca sebagai pertarungan kekuatan antara AS dan Cina, khususnya di bidang teknologi.

AS dan Cina kini tengah bertarung memperebutkan pengaruh global, apakah AS akan tetap jadi pemimpin dunia atau Cina berhasil menyejajarkan diri dengan Negeri Paman Sam dalam hal teknologi. Laporan itu, yang mengutip pernyataan Nick Bisley, profesor hubungan internasional Pada La Trobe University Melbourne yang banyak menulis soal AS-Cina, menyebut sentimen Cina di Washington tak hanya soal merkantilisme ala Trump. Namun, juga soal keinginan AS untuk mengembalikan pekerjaan pabrik ke Wisconsin atau di wilayah AS lainnya.

Soal pertarungan AS dan Cina ada tiga kunci kemenangan: teknologi, uang, dan kekuatan militer yang sanggup keluar dari batas-batas masing-masing negara. Melalui Huawei, Cina memiliki kans untuk unggul soal teknologi.

Huawei merupakan perusahaan teknologi yang didirikan pada 1987 oleh Ren Zhengfei dengan modal awal 21.000 yuan.
Dalam wawancara dengan Lin Yang, kontributor Forbes di Asia, Zhengfei mengatakan “reformasi dan kebijakan pintu terbuka yang dibuat oleh Den Xiaoping membuka potensi sesungguhnya dari Cina.” Zhengfei lantas membandingkan bahwa kekuatan AS yang dimiliki hari ini adalah sejarah lebih dari 200 tahun negeri itu membuka diri.

Selepas sukses ikut serta membangun negeri sendiri, sejak dekade 1990-an Huawei masuk pasar internasional. Menjual berbagai produk dengan harga yang lebih kompetitif. “Huawei (beserta Cina) telah membuka diri kepada dunia. Karena keterbukaan ini, kami telah bertukar energi dengan dunia luar, dan Huawei (beserta Cina) telah menjadi seperti sekarang,” kata Zhengfei.

Di bidang telekomunikasi, Huawei adalah kekuatan besar dari hulu ke hilir. Di hulu, mereka jadi perusahaan infrastruktur telekomunikasi terbesar di dunia. Di hilir, Huawei jadi vendor penjual smartphone terbesar kedua. Huawei memperoleh 15,9 persen pangsa pasar smartphone dunia.



Infografik Huawei
Infografik Huawei

Dianggap Mata-Mata Cina

Dalih penangkapan Wanzhou memang soal kongsi Huawei dengan Iran. Namun, AS juga mengaitkan Huawei dengan sentimen negatif. Laporan Vox, pada 2014 Huawei diblokir mengikuti tender AS terkait jaringan telekomunikasi. Pada Agustus di tahun yang sama, AS memperkuat larangan dengan menerbitkan aturan khusus pemblokiran penggunaan infrastruktur Huawei oleh pemerintah dan kontraktornya.

AS juga melarang anggota militer AS menggunakan smartphone bermerek Huawei. Pada 2018 AT&T, salah satu provider besar di AS, memutus kerja sama penjualan smartphone Huawei di AS. Tiga bulan berselang, Federal Communication Commissions (FCC), komisi yang mengatur dunia telekomunikasi AS, mengusulkan aturan yang melarang perusahaan-perusahaan AS menggunakan dana dari Universal Service Fund untuk digunakan membeli perlengkapan telekomunikasi dari Cina, terutama Huawei.

AS juga menggunakan kekuatan korporasi. Saat Broadcom hendak membeli Qualcomm, perusahaan pembuat chip mobile terbesar, Presiden Trump memutus untuk menghentikan aksi korporasi itu. Salah satu alasan yang berkembang, ada kekhawatiran bahwa Qualcomm, yang memiliki hubungan baik dengan Huawei, akan memangkas pendanaan soal penelitian dan pengembangan Qualcomm, yang akan membuat Huawei berpacu sendirian.

AS punya kecurigaan pada Huawei bahwa perusahaan itu menjalin hubungan istimewa dengan Pemerintah Cina. AS khawatir Cina bisa menggunakan Huawei sebagai sarana mata-mata. Menurut AS, Zhengfei pernah ikut serta dalam Kongres Partai Komunis pada 1982. Huawei dianggap memiliki Komite Partai Komunis di tubuh perusahaan.


Laporan berjudul “Investigative Report on the U.S. National Security Issues Posed by Chinese Telecommunications Companies Huawei and ZTE” yang dirilis parlemen AS mengungkap “Huawei memasarkan diri sebagai ‘penyedia solusi ICT global terkemuka’, yang berkomitmen untuk menyediakan jaringan yang dapat diandalkan dan aman. Sepanjang penyelidikan, Huawei secara konsisten membantah memiliki hubungan dengan pemerintah Cina dan mempertahankan sikap sebagai perusahaan swasta, tak ada urusan dengan negara.

Namun, banyak analis industri, bagaimanapun, telah menyarankan sebaliknya, banyak yang percaya, pendiri Huawei, Ren Zhengfei, adalah seorang direktur Akademi Teknik Informasi Pembebasan Rakyat (PLA), sebuah organisasi yang mereka yakini terkait dengan 3PLA, divisi intelijen sinyal Cina, dan bahwa koneksinya ke militer.

Beberapa negara dunia terpengaruh dengan AS, misalnya Australia dan Selandia Baru yang memblokir Huawei untuk membangun jaringan 5G. Namun, negara sekutu seperti Kanada, Inggris, dan Jerman, belum melakukan sesuatu pada Huawei.



Di Indonesia, Huawei menjejakkan kakinya pada hulu dan hilir telekomunikasi sejak 2000. Panji Pratama, Public Relation Manager Huawei Indonesia, mengatakan Huawei beroperasi dengan tiga inti bisnis di Indonesia, antar lain infrastruktur telekomunikasi, enterprises, dan konsumer. Di bidang infrastruktur telekomunikasi seperti perangkat BTS. "Huawei melayani major customer operator-operator besar di Indonesia," kata Panji.

Pada 2012, XL Axiata, salah satu provider di Indonesia, menunjuk Huawei sebagai penyedia solusi teknologi informasi dan komunikasi. XL menunjuk Huawei untuk mengelola jaringan telekomunikasi mereka. Menurut rencana, kerja sama yang dimulai sejak April 2012 akan berakhir pada April 2019.

Selain XL, Telkomsel, provider Indonesia, juga bekerjasama dengan Huawei. Pada 2014, Huawei akan menyediakan infrastruktur BTS 3G bagi Telkomsel. Kerja sama Telkomsel-Huawei merupakan kerja sama penyediaan 100 BTS 3G.

Singue Kilatmaka, Manager Media Relation Telkomsel, mengakui penggunaan infrastruktur Huawei untuk Telkomsel. “Pasti ada (penggunaan infrastruktur Huawei). Semua operator juga pasti ada. Namun, selain Huawei ada juga misalnya Ericsson.”

Soal dugaan penggunaan kekuatan Huawei untuk mata-mata Cina, Denny Abidin, GM External Corporate Communications Telkomsel, menegaskan provider Telkomsel “selalu memastikan bahwa perangkatnya bekerja sesuai dengan seluruh standardisasi.”

Huawei pernah mengirimkan surat terbuka dalam menanggapi tuduhan miring “Huawei merupakan institusi komersial normal, tidak lebih.” Mereka “mematuhi semua hukum dan peraturan yang berlaku di negara dan wilayah tempat kami beroperasi, termasuk undang-undang kontrol ekspor.”

Tuduhan AS kepada Huawei memang belum terbukti, dan bisa jadi hanya ketakutan belaka. Suka tidak suka, perangkat produk Huawei kini masih menjadi bagian keseharian kita, secara langsung atau tak langsung.

Baca juga artikel terkait HUAWEI atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)


Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra