15 Maret 1937

H.P. Lovecraft: Pemandu Tepat Menuju Karya Horor Intimidatif

H.P. Lovecraft. tirto.id/Nauval
Oleh: Sabda Armandio - 15 Maret 2020
Dibaca Normal 4 menit
Ia rasis, penakut, dan hidup menderita. Ia pemandu paling cocok bagi mereka yang ingin menyelami dunia horor dan cerita-cerita ganjil.
Kenyataan lebih aneh ketimbang fiksi, tulis Pudd’nhead Wilson—tokoh rekaan Mark Twain—sebab fiksi harus berpegang pada berbagai kemungkinan; kenyataan tidak. Tiga dekade setelah adagium ini ditulis, The Call of Cthulhu terbit di Weird Tales, sebuah majalah pulp, bersama karya Ray Cummings, dan sepuluh penulis lain.

Kehidupan nyata, saking banyak tak masuk akalnya, melelahkan dan bikin bosan. Tak banyak gunanya merangkum kehidupan nyata ke dalam fiksi, ia tetap tak menarik. Jika sebuah rumah perlu memiliki penangkal petir, fiksi memerlukan Lovecraft sebagai penangkal realisme.

"Saya sangat lelah dengan kemanusiaan dan dunia, tak ada lagi yang menarik minat saya kecuali jika keduanya melibatkan dua pembunuhan per halaman, atau membicarakan kengerian tak bernama yang berasal dari luar angkasa,” kata Howard Philips Lovecraft.

Orang Tua yang Rasis dan Ketakutan

Dia lahir dan besar di Providence, New England. Lovecraft menghabiskan masa muda bersama borjuis tua, protestan, dan puritan. Dia memuliakan tradisi di atas kebebasan dan kemajuan. Dalam kondisi seperti itu, alangkah sangat wajar jika, di alam pikirnya, seorang Protestan Anglosaxon secara alamiah memang berada lebih tinggi ketimbang ras lain. Dia tak tahu, dan tak mau tahu, keberadaan ras lain. Pikiran rasisnya berjarak, menghina dalam diam. Dalam surat-surat pribadinya, dia banyak mengungkapkan pandangannya tentang orang-orang kulit hitam, perempuan, Yahudi, dan homoseksual.

Pada 24 Mei 1921, ibu Lovecraft meninggal dunia. Dia kehilangan alasan untuk hidup, begitu yang dia tulis dalam surat. Dia melanjutkan pekerjaannya sebagai jurnalis amatir. Dia bertemu Sonia Greene pada Juli dalam suatu konvensi. Dia jatuh cinta.

Bibi Lovecraft tak menyetujui hubungan Lovecraft dengan Greene. Keduanya lantas pindah ke New York pada 3 Maret 1924. Tak lama setelah menikah, Greene bangkrut dan sakit. Lovecraft bekerja dan merawat istrinya. Hidup dalam kemiskinan dan harus tinggal bersama para imigran, rasisme anglo-saxon-protestan-kulit-putih yang tadinya berjarak berubah menjadi kebencian yang brutal. Dia tidak rela harus berbagi tempat dengan spesies lain yang menurutnya berbahaya.

Pada Agustus 1925, dalam cerpen “The Horror at Red Hook”, sang Narator menulis begini: "Kedatanganku ke New York adalah kesalahan; alih-alih menemukan keajaiban dan inspirasi ... aku malah merasakan kengerian dan kezaliman yang mengancam hendak menguasai, melumpuhkan, dan memusnahkanku."

Pada masa ini pula dia mulai membangun kerangka cerita The Call of Cthulhu. Kemalangan hidup, dan kebencian rasial, menjadi pemasok tenaga Lovecraft sebagai penulis. Dia mengalami ketakutan yang nyata: ia merasa sendirian, dikelilingi musuh, dan segalanya tampak berbahaya. Itulah oleh-oleh yang dia bawa pulang ke kampung halamannya Providence pada 1933.

Alan Moore, penulis komik, juga mengangkat isu rasialisme dalam pengantarnya untuk The New Annotated H. P. Lovecraft (Leslie S. Klinger, 2014). Moore mengingatkan pembaca tentang perubahan sosial yang terjadi sepanjang hidup Lovecraft, seperti: Revolusi Rusia, pemahaman manusia terhadap luar angkasa, hak pilih perempuan, dan gelombang imigran.

Moore menyarankan pembaca untuk melihat Lovecraft sebagai barometer paling sensitif untuk mengukur tingkat ketakutan orang-orang Amerika. Tanpa eksentrisitas yang dibuat-buat, ketakutan yang melebur dalam cerita dan opini Lovecraft benar-benar lahir dari cara pikir laki-laki kulit putih, kelas menengah, heteroseksual, dan Protestan yang merasa terancam oleh pergeseran kuasa hubungan dan nilai-nilai dunia modern. Dan Moore menambahkan, "Disandikan dalam beragam monster, kepenulisan Lovecraft menawarkan kunci penting untuk memahami dilema kita hari ini."

The Call of Cthulhu dan Bangkitnya Kegelapan

Seorang pemahat bangun dari mimpi buruknya dan bergegas memahat patung. Patung yang mengerikan. Patung itu mengingatkan Profesor Angel pada makhluk setengah gurita setengah manusia yang meninggalkan kesan tak enak kepada siapa pun yang datang ke konferensi arkeologi di Saint-Louis tujuh belas tahun silam. Inspektur polisi, yang membawa makhluk itu, menemukannya saat menyelidiki suatu ritual voodoo yang melibatkan benda tajam dan tubuh manusia. Peserta lain membuat alusi lain tentang makhluk yang disembah suku Eskimo.


Profesor Angel mati diserang pelaut keling di pelabuhan Providence. Keponakannya melanjutkan penyelidikan. Dia mulai mengumpulkan kliping koran-koran yang kemudian mengarahkannya pada kematian awak-awak kapal pesiar New York yang tak terjelaskan, menyisakan satu orang saja: Captain Johansen, yang selamat dan jadi sinting. Kemenakan Profesor Angel pergi ke Norwegia untuk mewawancarai Captain Johansen, tapi sang Kapten sudah mati. Janda Captain Johansen meninggalkan sebuah manuskrip yang berisi pertemuan Captain Johansen dengan entitas raksasa di tengah laut; entitas yang amat mirip dengan patung.

Lovecraft menggunakan beragam perangkat narasi untuk memberi kesan objektivitas di dalam cerita The Call of Cthulhu: artikel koran, laporan kepolisian, hasil riset ilmuwan, hingga notulensi rapat perkumpulan ilmuwan. Semua itu mengarahkan pembaca menuju akhir yang kurang menggembirakan; di suatu tempat di tengah laut hidup makhluk yang tak ingin kau temui saat sedang snorkling.

Ia tidak sedang menceritakan dirinya sendiri. Ia tidak sedang memperlihatkan bagaimana semestinya manusia menghadapi monster dan mengalahkan ketakutan. Ia tidak sedang berlagak berani dan mengajarkan sikap kepahlawanan. Ia bahkan seorang rasis, dan kalau kau mau melihat sisi ini saja silakan berhentilah membaca artikel ini.

The Call of Cthulhu menyimpan kekayaan struktur. Sekalipun masuk dalam kategori Fiksi Ganjil cerita ini menghadirkan efek realisme. Karakternya jarang merujuk dirinya sendiri, pembaca ditunjukkan laporan-laporan anonimus yang diceritakan ulang penulisnya. Sebagaimana tradisi pemandu cerita yang benar, Lovecraft membuat cerita Cthulhu bisa dipercaya, seganjil apapun peristiwa yang anda jumpai di dalamnya.


Lovecraft menggunakan teknik interteksual. Sumber buku mitologi dan antropologi yang dijadikan rujukan, The Golden Bough (Sir James George Frazer, 1890) dan Witch-Cult in Western Europe (Margaret Murray, 1921), membuat pembaca jadi mengaitkan referensi sejarah melalui buku yang benar-benar ada dengan narasi tentang Cthulhu.

Ia juga memilih simile-simile jitu untuk menyederhanakan hal rumit dengan membandingkannya dengan sesuatu yang mudah dan dekat untuk dibayangkan, atau memicu citra eidetik—memori atau citra yang terlihat nyata—sehingga suasana teror hadir tanpa perlu susah payah. Misalnya, Lovecraft menyamakan suara lolongan dengan pestilential tempests from the gulfs of hell.

The Call of Cthulhu adalah sebuah cerita yang terlalu direncanakan untuk sekadar memenuhi tujuannya, yaitu menarik batas-batas kewarasan dan menggambarkan ketidakberdayaan manusia.

Kecermatan model begini tak hanya dijumpai di The Call of Cthulhu. Lovecraft, dengan keterampilan menyusun kalimat, secara telaten membangun mitos-mitos yang kokoh dalam cerita-cerita lainnya. Horor dan intimidasi bersembunyi di balik gaya berpakaian orang di jalan raya, rupa bangunan, wewangian, dan atmosfer kota yang muncul dalam cerita. Kau akan mengalami ketakutan yang nyata: kau merasa sendirian, dikelilingi musuh, dan segalanya tampak berbahaya.


Cara Tercepat Mengenyahkan Kegelapan

H.P. Lovecraft, yang meninggal pada 15 Maret 1937, tepat hari ini 83 tahun lalu, mewariskan teknik dan perangkat narasi yang bisa dipelajari dan diterapkan dalam kepenulisan zaman ini. Ia memilih fiksi ganjil bukan sekadar bergaya atau mengikuti tren. Seperti seorang pelukis yang memilih dengan cermat medium yang akan digunakan atau pengukir kayu memilih kayu dan perkakas yang tepat, dia memilih kisah-kisah ganjil karena kisah-kisah seperti itulah yang betul-betul mewadahi keinginanya.

Eka Kurniawan, dalam situsnya, memperingatkan: "Lovecraft menyajikan tragedi manusia menghadapi dunia lain yang asing dan gelap. Kita mencoba bersahabat dengan kegelapan untuk terjebak di dalamnya, dan mencoba melawan hanya untuk dikalahkan."


Anda mungkin bertanya-tanya, kenapa anda selalu ingin percaya ada makhluk mengerikan yang mengintai anda? Yang sembunyi dan akan tampil tepat di depan wajah saat anda berbalik? Yang merayap di dasar laut dan siap menghantam kapal anda saat anda dan keluarga sedang berpelesir? Yang datang dari planet lain untuk menculik anda, meniduri pasangan anda, atau memutilasi ternak-ternak anda? Yang dari dunia gelap dan bersiap mengalahkan anda? Barangkali karena otak anda tak pernah kena sinar matahari. Kalau begitu, jalan tercepat untuk mengusir makhluk-makhluk itu adalah dengan cara melubangi ubun-ubun anda.

Jika anda ingin menulis cerita-cerita ganjil, membangun kota asing yang dapat dipercaya, atau menyajikan fakta sejarah dengan sedikit sentuhan teror, Lovecraft adalah pemandu yang tepat. Jika anda ingin mengalami horor intimidatif melalui bacaan, Lovecraft adalah pemandu yang bisa diandalkan. Dia pemandu dunia gelap yang jahil, dia tak pernah bermaksud memandu anda keluar dan sama sekali tak berniat menyalakan lampu. Jadi, siapkan nyali untuk melubangi ubun-ubun anda.

==========

Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 11 Februari 2018. Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait NOVEL atau tulisan menarik lainnya Sabda Armandio
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Sabda Armandio
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight