Menuju konten utama
Seri Pesantren Progresif

Hikayat Kalkun & Upaya Aminul Ummah 'Memerdekakan' Para Santri

Dengan kreativitas dan terbuka dengan keberagaman, Aminul Ummah berharap dapat memunculkan wajah Islam yang adaptif dan relavan bagi masyarakat.

Hikayat Kalkun & Upaya Aminul Ummah 'Memerdekakan' Para Santri
Header Pesantren Aminul Ummah. tirto.id/Ecun

tirto.id - “Maaf tadi agak lama. Saya baru selesai rekaman.”

Saniya Kautsar Salsabila baru bisa berbicara dengan saya usai menandaskan rekaman video ulasan buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, pada 12 Maret sore lalu. Mengulas karya sastra yang baru selesai dibaca adalah kegiatan literasi yang wajib dilakukan di Aminul Ummah—sebuah pondok pesantren di Kabupaten Garut, Jawa Barat

Bumi Manusia adalah salah satu dari tetralogi milik Pram yang ditulis saat dibuang oleh Orde Baru di Pulau Buru, Maluku. Negara sempat melarang peredaran buku tersebut karena dianggap menyebarkan gagasan yang tak sejalan dengan ideologi rezim Soeharto. Namun, Saniya—santriwati yang lahir sembilan tahun setelah Orde Baru runtuh—justru merasa memiliki ketertarikan pada buku ini, khususnya lewat aktor utamanya: Minke.

“Bercerita soal melawan ketidakadilan dan pantang menyerah,” kata Saniya kepada saya, dengan sedikit terbata-bata.

Saat ini, Saniya duduk di kelas satu SMA. Kendati rutin ikut kegiatan literasi seperti mengulas buku, namun sebenarnya Saniya lebih aktif di Klub Artistik—salah satu ruang peminatan di Aminul Ummah. Di klub itu, Saniya belajar soal kerajinan, melukis, desain grafis hingga penataan pertunjukan.

Kepada saya, ia bercerita sudah beberapa kali ganti peminatan selama kurang lebih empat tahun belajar di Aminul Ummah. “Saya dulu di Klub Sastra, tapi pindah ke Klub Artistik,” katanya.

Pergantian peminatan itu Saniya tapaki setelah dirinya merasa punya ketertarikan lebih pada desain grafis. Apalagi, ia datang dari lingkaran keluarga besar yang berkecimpung di dunia desain dan arsitektur. Ketika beberapa pengurus Aminul Ummah bertanya ke Saniya akan ke mana usai lulus dari pondok pesantren, dengan mantap ia menjawab, “mau kuliah desain dan seni.”

Cerita soal santri atau santriwati yang menemukan minat dan bakatnya di Aminul Ummah tak sedikit. Selain Saniya, ada juga Abdul Tsani Muharram—kakak kelasnya Saniya yang duduk di kelas dua SMA.

Tsani—sapaan akrabnya—adalah putra daerah asli Garut. Ia pertama kali mulai belajar di Aminul Ummah pada 2017 saat mulai duduk di kursi SMP. Namun, santri berumur 18 tahun ini justru merasa menemukan bakatnya saat pandemi Covid-19 melanda.

Pada 2020, saat pandemi mulai merebak di Indonesia, Aminul Ummah terpaksa memulangkan semua santri dan santriwatinya ke rumah masing-masing. Bertepatan dengan studi SMP-nya yang telah rampung, Tsani juga pulang ke tempat orang tuanya yang bekerja di Padang, Sumatera Barat. Di sana, ia melanjutkan SMA-nya di sebuah sekolah negeri, namun hanya bertahan tiga bulan karena tak betah sekolah daring dan banyaknya tekanan tugas.

Di tahun jeda—atau yang kerap disebut gap year—itu, Tsani akhirnya hanya fokus membantu orang tuanya berjualan. Saat waktu luangnya diisi bermain media sosial, algoritma Instagram justru membawa Tsani melihat indahnya dunia fotografi.

“Saat itu, di beranda Instagram saya banyak muncul tentang fotografi, jadi lumayan tertarik dari sana. Saya coba-coba foto, walau masih pakai hape,” katanya kepada saya, 12 Maret sore lalu. “Lagian, saya juga suka jelajah alam.”

Satu tahun berikutnya, Tsani kembali ke Aminul Ummah. Saat tiba di Garut, Tsani sedikit kaget dengan adanya perubahan kurikulum pendidikan di sana. Ada ragam klub dan kegiatan literasi yang sebelumnya tak pernah ada sejak dirinya masih SMP. Akhirnya, ia memutuskan masuk ke Klub Artistik dan di sanalah ia mendalami fotografi.

“Walau belajar otodidak, lihat YouTube, enggak sistematis, acak aja,” kata dia.

Infografik Pesantren Aminul Ummah

Infografik Pesantren Aminul Ummah. tirto.id/Ecun

Kreativitas & Para Kalkun dari Kampung Cikendal

Saat datang ke Aminul Ummah pada 5 Maret lalu, langkah kaki saya langsung diikuti oleh dua ekor kalkun. Di satu sisi saya kebingungan, di sisi lain saya ingin tertawa. Ada banyak pertanyaan di benak saya saat itu.

Salah satunya: “kok, bisa ada kalkun di tempat seperti ini?

Di Indonesia, posisi kalkun sebagai preferensi bahan pangan berbasis unggas bisa dikatakan berada jauh di bawah ayam biasa. Di mata masyarakat Indonesia, kalkun masih dipandang sebelah mata. Masyarakat pedesaan lebih memilih memelihara ayam kampung, sedangkan yang mengonsumsinya lebih banyak datang dari para ekspatriat.

Dua ekor kalkun yang mengikuti saya tadi adalah ternak milik Sabiq Gidafian Hafidz, salah seorang pimpinan Aminul Ummah. Awalnya, pada 2021, Sabiq membeli sepasang anak kalkun berusia tiga bulan. Tujuh bulan berikutnya, mereka bertelur hingga total menghasilkan 14 ekor.

“Selama proses seleksi alam berlangsung itu menyisakan empat ekor kalkun dewasa,” kata lelaki 34 tahun itu kepada saya. Satu tahun berikutnya, Sabiq berhasil membesarkan hingga 10 ekor kalkun dewasa. “Semuanya dibagikan kepada yang ingin mencoba melihara. Tersisa indukan yang pertama saya beli. Begitu seterusnya pada tahun ketiga ini.”

“Saya hanya membayangkan, seandainya satu kampung semua memelihara kalkun, saya pikir itu lebih realistis. Selain lebih mengenyangkan, juga untuk pemenuhan gizi kalkun lebih unggul.”

Pondok Pesantren Aminul Ummah

Kalkun yang berkeliaran menjadi pemandangan yang umum terjadi di Pondok Pesantren Aminul Ummah yang berada di Kampung Cikendal, Desa Wanamekar, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada 5 Maret 2023 lalu. Mereka adalah hasil ternak milik Sabiq Gidafian Hafidz, salah seorang pimpinan pondok pesantren. Kalkun dianggap lebih banyak porsi dan gizinya ketimbang ayam biasa. (Tirto.id/Haris Prabowo)

Apa yang dikatakan Sabiq memang bukan omong-kosong. Daging kalkun punya protein yang tinggi dan juga kandungan lemak serta kolesterol yang sangat rendah. Tak hanya itu, daging kalkun juga terkandung asam oleat dan omega 6 yang bagus untuk kesehatan jantung. Daging kalkun cocok juga dimakan oleh ibu hamil.

Sabiq sendiri merasa tak masalah dengan pandangan umum perihal kalkun merupakan makanan orang Barat. Menurutnya, kalkun adalah salah satu contoh ‘hal baik’ dari efek kolonialisme bangsa-bangsa Barat yang dibawa ke sini.

“Tentu dari kultur Eropa, karena kalkun ini imigran gelap yang diselundupkan para imperialis kala menjajah Indonesia. Ada hal baik dari bangsa utara sana mengenai makanan. Dan mereka, orang Eropa, memilih kalkun lebih kepada porsi daging dan nutrisinya yang melimpah. Kalau dari segi rasa, ya, ayam kampung lebih enak,” katanya.

“Ada perbedaan mendasar mengenai orientasi makanan antara kita dengan orang Eropa. Kalau kita lebih mengedepankan rasa daripada kebutuhan nutrisi. Makanan Eropa itu tidak enak, tapi tepat gizi. Berkebalikan dengan di Indonesia.”

Percakapan semacam sangat mungkin hanya akan ditemui di Aminul Ummah—sebuah pondok pesantren modern yang berada di Kampung Cikendal, Desa Wanamekar, Kecamatan Wanaraja. Lokasinya tepat membelakangi Gunung Sadahurip dan Gunung Sagara di Garut.

Topografi wilayahnya yang berada di dataran tinggi serta dikelilingi lahan perkebunan, bikin pesantren yang pertama kali didirikan pada 2013 ini percaya diri dengan membawa slogan “Green Nature Islamic Boarding School”. Sama seperti pondok pesantren pada umumnya, Aminul Ummah berusaha memadukan pengetahuan keagamaan dengan pengetahuan umum dan ekstrakurikuler.

Memasuki tahun 2021, para pemimpin dan pengurus Aminul Ummah melakukan sedikit perombakan kurikulum untuk para santri. Mereka memasukan dua program besar yang baru: kegiatan literasi dan klub kreatif.

Dalam kegiatan literasi, para santri akan lebih banyak membaca novel, mengulas buku dan mendiskusikannya. Karya sastra yang telah dibaca akan diulas lewat tulisan maupun video.

Sedangkan untuk klub kreatif, Aminul Ummah menyiapkan sejumlah klub untuk mengembangkan minat dan bakat para santri: Musik, Bahasa, Sastra, Seni Peran, dan Artistik—Saniya dan Tsani masuk ke dalam klub yang terakhir. Para santri akan diminta menampilkan apa yang telah mereka pelajari dari klub-klub masing tiap dua bulan sekali.

Slogan pun berubah menjadi “Creative Boarding School”.

Pondok Pesantren Aminul Ummah

Pondok Pesantren Aminul Ummah yang berada di Kampung Cikendal, Desa Wanamekar, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut, Jawa Barat, yang memiliki sejumlah program kreativitas untuk minat dan bakat untuk para santrinya, seperti seni peran, teater, bermusik folk, hadrah, kajian sastra, kerajinan, melukis, dan penataan pertunjukkan. Sejumlah program kreativitas tersebut diharapkan bisa mengembangkan minat dan bakat para santri sebelum lulus dari SMP dan SMA. (FOTO/Tim Humas Aminul Ummah)

Giyarian Harik, seorang pengurus Aminul Ummah, mengakui bahwa sisi kreativitas mendapat penekanan khusus dalam kurikulum yang baru. Menurut pria berumur 32 tahun itu, kata “kreatif” paling cocok disematkan ke dunia belajar-mengajar. Dengan kreativitas, guru dan murid akan selalu berusaha berinovasi, menghindari kejumudan, dan selalu haus akan perubahan.

“Ilmu pengetahuan berkembang dengan jalan kreatif,” kata Harik—sapaan akrabnya—kepada saya.

Bagi Harik, pesantren sebagai lembaga pendidikan seharusnya menjadikan para santri sebagai tokoh utama. Para santri adalah manusia yang lahir dengan potensi dan ciri khas masing-masing. Ia dan sejumlah pengurus Aminul Ummah berusaha menghindari cara belajar sekolah pada umumnya di dunia pendidikan hari ini: menuntut dan mendidik murid/santri untuk menjadi yang diinginkan orang lain, bukan dirinya sendiri.

Sabiq sepakat dengan yang dikatakan Harik. Kata dia, usia anak-anak saat SMP dan SMA berada di masa peniruan: di mana kerap mengikuti hal-hal populis yang terjadi, apalagi ketika dituntut lewat tekanan. Hal tersebut rentan bikin anak-anak tercerabut dari potensi dan ciri khasnya masing-masing.

“Murid diposisikan sebagai produk, bukan manusia,” katanya. “Astaghfirullah.”

Pengurus Aminul Ummah yang lain, Ridwan Malik, menambahkan bahwa konsep pesantren yang kreatif akan mudah membuat ruang belajar jadi lebih menyenangkan.

“Sebab, kreativitas tak mungkin tumbuh, apalagi berbuah, jika ditanam di lahan kering nan tandus,” kata pria 27 tahun itu.

Agar anak-anak bisa belajar di Aminul Ummah, para orang tua hanya cukup merogoh kocek sebesar 500 ribu rupiah per bulan. Para santri akan diberi makan tiga kali sehari, penginapan, fasilitas listrik, hingga jaringan internet.

“Paling sering santri menu makan di pesantren adalah sayuran. Seminggu sekali daging ayam, dan di sela-sela itu mereka makan telur juga,” kata Malik.

Tak hanya itu, para santri tentu akan mencicipi daging kalkun ternakan Sabiq pada beberapa waktu tertentu. Contohnya saat munggahan—tradisi masyarakat Sunda Muslim menyambut bulan suci Ramadan—yang diadakan di Aminul Ummah berapa hari sebelum puasa di pekan ketiga Maret lalu.

“Si kalkun dipotong tiga ekor,” kata Sabiq.

“Masih banyak kalkun punya Pak Sabiq. Tapi semua masuk kandang, karena tempat makan santri itu dikotorin kalkun hahaha,” tambah Tsani sembari tertawa.

Memahami Realitas, Menerima Keberagaman

Saya duduk di atas sebuah gazebo yang berada di tengah pekarangan Aminul Ummah. Di atas gazebo, semua orang bisa duduk santai beralaskan karpet. Di sana juga terdapat perpustakaan kecil berisi deretan buku-buku sastra yang menjadi bacaan wajib para santri: Arus Balik (Pramoedya Ananta Toer), Khotbah di Atas Bukit (Kuntowijoyo), hingga Seratus Tahun Kesunyian (Gabriel García Márquez). Mereka menyebutnya dengan “Saung Literasi”.

Aminul Ummah secara terbuka menyebut genre realisme sosialis dalam karya sastra menjadi bacaan wajib para santri. Maka tak heran dengan mudah akan menemukan nama-nama seperti AA Navis, Seno Gumira Ajidarma, George Orwell, Ahmad Tohari, hingga John Steinbeck.

Saya bertanya kepada para pengurus, mengapa para santri perlu membaca buku-buku semacam itu?

Jawaban Malik cukup ringkas: agar ketika para santri lulus dan keluar dari pesantren, mereka tidak terjebak dalam gejala gagap sosial.

“Agar mereka membaca dan mengerti bahwa nilai-nilai moral yang diajarkan sehari-hari terlalu sederhana untuk menilai kehidupan manusia yang teramat kompleks. Novel atau karya sastra, salah satunya, merupakan perangkat efektif untuk menunjukkan contoh betapa kompleksnya kehidupan manusia,” tambahnya.

Kendati, untuk memahami realitas sosial di sekitar bisa datang dari buku-buku yang tak terduga.

“Saya selalu berusaha menahan ego untuk mengatakan bahwa, “buku ini bagus, loh”. Atau, “kamu harus baca buku ini dan itu”,” tambah Sabiq.

Jika membuka laman maya resmi milik Aminul Ummah, terdapat kanal khusus bertuliskan “Non-Discrimination”. Ada penjelasan singkat soal bagaimana Aminul Ummah tidak memandang ras, warna kulit, etnis hingga gender untuk belajar di sana. Semua dianggap sama. Hal tersebut menarik karena tak banyak pondok pesantren di Indonesia yang secara tegas menyatakan prinsip seperti ini ke publik.

Pondok Pesantren Aminul Ummah

Pondok Pesantren Aminul Ummah yang berada di Kampung Cikendal, Desa Wanamekar, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut, Jawa Barat, yang memiliki sejumlah program kreativitas untuk minat dan bakat untuk para santrinya, seperti seni peran, teater, bermusik folk, hadrah, kajian sastra, kerajinan, melukis, dan penataan pertunjukkan. Sejumlah program kreativitas tersebut diharapkan bisa mengembangkan minat dan bakat para santri sebelum lulus dari SMP dan SMA. (FOTO/Tim Humas Aminul Ummah)

Menurut Harik, menerima keberagaman bagi sesama umat manusia menjadi sangat penting dilakukan pondok pesantren. Ia mencontohkan kehidupan umat Muslim di Madinah saat masa kejayaan Nabi Muhammad.

“Kami sering membandingkan dengan kehidupan umat muslim Indonesia saat ini yang sering kaget dengan perbedaan dan lupa dengan sejarah Nabi, yang mampu menjalankan Madinah dengan berbagai macam suku dan agama namun bisa saling mendukung,” katanya.

Malik menambahkan, bahwa sikap non-diskriminatif yang diambil oleh lembaganya pada akhirnya juga segendang-sepenarian dengan kreativitas yang diusung sejak awal. Dengan kreatif dan terbuka dengan keberagaman, wajah Islam yang diharapkan muncul dari Aminul Ummah adalah Islam yang adaptif dan relavan bagi masyarakat.

“Kini, banyak ditemukan “Islam” yang tak lagi relevan. Bukan karena ajarannya yang tidak relevan—rahmatan lil’alamin, melainkan penafsirannya yang rigid dan serampangan,” katanya. Di banyak kasus, efek dari penafsiran semacam itu akan rentan memunculkan wajah Islam yang intoleran, diskriminatif, dan arogan karena sulit menerima perbedaan.

Saya percaya kehidupan adalah milik semua makhluk. Dengan menunjukkan sikap itu ke publik, sama artinya dengan tidak mengingkari apa yang telah diajarkan Kanjeng Nabi ketika memimpin Madinah,” tambahnya.

Penerapan non-diskriminasi dan penerimaan terhadap keberagaman di Aminul Ummah sendiri semakin menemukan titik relevansinya mengingat di saat yang bersamaan para elite di Kabupaten Garut kerap melakukan praktik diskriminasi terhadap mereka yang dianggap berbeda, seperti yang terjadi pada kaum Ahmadiyah dan LGBT beberapa tahun terakhir.

Sulit menerima perbedaan di Garut memang bukan barang baru. Kita bisa belajar dari kasus penyerangan terhadap Masjid As-Syuro milik Pesantren Darussalam yang dilakukan oleh Darul Islam—di bawah pimpinan Kartosuwiryo—pada 1952 lalu. Masjid pimpinan Kiai Yusuf Tauziri yang berada di Kampung Cipari, Desa Sukarasa, Kecamatan Pengatikan tersebut diserang puluhan kali hanya karena menolak proklamasi Negara Islam-nya Kartosuwiryo.

Menurut Solahudin, penulis buku The Roots of Terrorism in Indonesia: From Darul Islam to Jema’ah Islamiyah (2013), serangan Darul Islam tersebut adalah contoh ideologi takfiri dari Kartosuwirjo. Takfiri adalah mengkafirkan orang lain yang di luar golongannya.

Selain mengawasi kegiatan belajar-mengajar di Aminul Ummah, kesibukan Sabiq di hari-hari ini fokus merawat kalkun-kalkunnya di dalam kandang: memberi pakan hingga melepas dan memastikan mereka kembali ke kandang tepat waktu. Semua dirawat dengan potensi memperbanyak populasi kalkun miliknya.

“Overpopulasi? Permisalan itu terlalu indah untuk jadi kenyataan. Tiga tahun ini masih selalu habis disebarkan tiap kali beranak-pinak,” katanya.

“Tapi seandainya sudah tidak dalam kendali dan si ayam purba atau kalkun ini menguasai dunia ini, saya sangat yakin, kita adalah makhluk yang paling tega di antara makhluk hidup lainnya. Percayalah, untuk urusan penghilangan-pemusnahan, manusia sangat ahli dengan itu. Kepada sesama saja tega, apalagi kepada yang liyan."

Baca juga artikel terkait PESANTREN atau tulisan lainnya dari Haris Prabowo

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Haris Prabowo
Penulis: Haris Prabowo
Editor: Restu Diantina Putri