Seri Imlek 2019

Hati Suci Nyonya Lie Tjian Tjoen Selamatkan Perempuan & Anak Yatim

Oleh: Ravando Lie - 8 Januari 2019
Dibaca Normal 6 menit
Nyonya Lie Tjian Tjoen adalah teladan bagi sikap kedermawanan. Ia mendirikan panti asuhan dan konsisten di jalur filantropi.
tirto.id - Tangis bayi terdengar meraung-raung dari serambi rumah Auw Tjoei Lan di Jalan Kramat, Batavia. Ia segera tahu ada bayi yang lagi-lagi dibuang orang tuanya. Sebab ini bukan kali pertama ia menemukan bayi di pekarangan rumahnya.

Naluri keibuannya pun seketika muncul. Ia berlari menghampiri suara tangisan tersebut, menimang sang jabang bayi yang masih kemerah-merahan, menyelimutinya, dan kemudian memberikan susu. Bayi tersebut ia rawat terlebih dulu selama beberapa pekan di rumahnya, sebelum dibaurkan dengan anak-anak lain di rumah piatu Ati Soetji yang ia rintis.

Auw Tjoei Lan lahir di Desa Karangsambung, Majalengka pada 24 Februari 1889. Ayahnya, Auw Seng Hoe, merupakan Kapiten Tionghoa terkemuka di Majalengka. Sejak kecil, Auw Tjoei Lan menyaksikan bagaimana ayahnya kerap menolong orang miskin yang kelaparan, dan memberikan bantuan kepada mereka yang sakit. Ia bahkan membangun beberapa gubuk guna menampung gelandangan yang luntang-lantung.

Sang ayah kerap melibatkan Auw Tjoei Lan dan saudaranya dalam berbagai pekerjaan sosial tersebut. Mulai dari membersihkan ikan, merawat orang sakit, sampai menimba air. Dari sinilah jiwa sosial Tjoei Lan mulai tumbuh. Ketika beranjak dewasa, Tjoei Lan tanpa ragu mengabdikan hidup bagi orang di sekitarnya.


Sadar akan pentingnya pendidikan yang berkualitas bagi anak-anaknya, Seng Hoe secara khusus mendatangkan guru pribadi dari Batavia untuk mengajari anak-anaknya tentang pelajaran sekolah dan juga etiket Belanda. Selanjutnya, Tjoei Lan dikirim ke Bogor untuk tinggal dan belajar dari seorang pendeta Belanda bernama van Walsum.

Sejak 1912, Auw Tjoei Lan sudah aktif dalam berbagai kegiatan sosial di Batavia. Ketika perempuan masih dipandang sebelah mata dalam pergerakan di Hindia Belanda, dirinya sudah dikenal sebagai pengurus dari organisasi Huisvrouwen in Indie (Perkumpulan Ibu Rumahtangga di Hindia) dan Meisjesinternaat di Batavia.

Melalui perantara pendeta van Walsum, Auw Tjoei Lan bertemu dengan Dr. Zigman. Sang dokter Kagum akan spirit pelayanan yang ditunjukkan Tjoei Lan dan kemudian mengajaknya bergabung dalam sebuah badan sosial yang mengurus "prampoean yang djalan sesat." Badan sosial ini didirikan Dr. Zigman bersama beberapa koleganya, antara lain D. van Hindeloopen Labberton dan Soetan Temanggoeng.

Auw Tjoei Lan kemudian menikah dengan Lie Tjian Tjoen, anak dari Lie Tjoe Hong, yang kala itu menjabat sebagai Mayor Batavia. Mereka menikah pada 2 Maret 1907 dan dikaruniai lima orang anak. Auw Tjoei Lan kemudian dikenal dengan panggilan Nyonya Lie Tjian Tjoen atau Nyonya Lie.

Menyelamatkan Anak-Anak Telantar

Bertepatan dengan meletusnya Perang Dunia I pada Juli 1914, banyak anak-anak telantar di Hindia Belanda. Kepedulian dan rasa sayang terhadap anak-anak tersebut mendorong Nyonya Lie untuk mendirikan rumah piatu guna menampung mereka. Impian tersebut baru terwujud ketika Nyonya Lie bertemu dengan Nyonya van Limburg Stirum, istri Gubernur Jenderal Hindia Belanda Johan Paul van Limburg Stirum yang berkuasa sejak 1916.

Bersama-sama dengan Nyonya Stirum, Nyonya Lie berhasil mengumpulkan modal awal sebesar 700 gulden. Uang tersebut kemudian digunakan menyewa rumah di Jalan Gunung Sahari No. 59. Dr. Zigman, Dr. Boeke, Zuster Gunning, dan Nyonya Lie bertindak sebagai pengurus organisasi. Sementara van Limburg Stirum dan istri bertindak sebagai pelindung.

Rumah piatu ini dinamakan Tehuis voor Chineesche Meisjes (Rumah Piatu untuk Perempuan Tionghoa) dan diresmikan pada 17 Oktober 1917. Masyarakat Tionghoa lebih mengenal rumah piatu ini dengan sebutan Po Liang Kiok, yang bermakna "tempat perlindungan untuk menjaga kebajikan". Tujuan utama perkumpulan ini adalah menolong anak-anak yatim piatu dan telantar, serta kaum perempuan yang menjadi korban perdagangan. Pendirian Po Liang Kiok menjadi terobosan awal yang dilakukan Hati Suci.


Pada prinsipnya, Hati Suci terbuka untuk seluruh anak-anak dari berbagai latar belakang. Namun pengurus Hati Suci menegaskan, seperti dikutip majalah Maandblad Istri edisi Oktober 1935, bahwa anak yang dapat ditampung adalah “tjoema anak-anak jang piatoe, tida ada papa atawa mama, jang papanja kedjem, tida lakoeken kawadjibannja dengen betoel. Jang orang-toeanja ternjata ada lakoeken pekerdjahan djahat. Jang poenja papa miskin, iboenja meninggal, dan ternjata betoel tida ada familie jang akan didik itoe anak dengen baek."

Anak-anak yang tidak memiliki asal-usul yang jelas diberikan marga Lie sebagai wujud pengakuan dan penerimaan terhadap sang anak. Ini merupakan salah satu dari sepuluh hak anak, yaitu hak mendapatkan nama. Selain itu, ada juga hak bermain, persamaan, memiliki kewarganegaraan, mendapatkan makanan, pendidikan, kesehatan, rekreasi, serta peran dan keterlibatan pembangunan negara. Mereka yang ditampung di Hati Suci datang dari berbagai kota, mulai dari Medan, Bandung, Makassar, Semarang, Surabaya, dan lain sebagainya.

Pekerjaan sosial yang dilakukan Hati Suci turut menggugah banyak pihak untuk berkontribusi. Rumah Sakit Jang Seng Ie (sekarang RS Husada, Jakarta Pusat) dan Centrale Burgerlijke Ziekenhuis (sekarang RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat) kerap memberikan pertolongan pengobatan cuma-cuma kepada anak-anak Hati Suci. Begitu juga dengan apotik Chung Hua dan Ban An yang menggratiskan obat-obatan untuk anak-anak Hati Suci asalkan disertai resep dokter.

Berkat sumbangan masyarakat Tionghoa dan sokongan pemerintah Hindia Belanda, sejak 1929 Hati Suci berhasil memiliki bangunan sendiri yang terletak di Taman Kebon Sirih, Batavia. Memasuki tahun ketiga, Hati Suci berhasil membuka taman kanak-kanak dengan memanfaatkan garasi rumah. Untuk kursi dan meja disumbang Mayor Khouw Kim An. Sementara gurunya adalah seorang Belanda bernama Eris. Pada 1933, Hati Suci berhasil membuka mode atelier di Spoorweglaan, Menteng, yang merupakan studio mode khusus membuat pakaian perempuan.

Masih di tahun yang sama, anak-anak Hati Suci mulai dikirimkan untuk belajar di HCS yang terletak di Jalan Toapekong, Pasar Baru. Beberapa pelajar juga dikirim ke Christelijke School (Sekolah Kristen) dan Gemeente Vakschool (Sekolah Kejuruan). Murid-murid yang berprestasi kemudian dimasukkan ke sekolah lanjutan, di mana mereka juga berkesempatan menempuh pendidikan kejuruan yang lebih tinggi.

Pada akhir 1930-an, Hati Suci memiliki enam unit rumah guna menampung anak dan perempuan telantar, yang terdiri dari dua rumah piatu, sebuah rumah untuk korban prostitusi, satu rumah mode, satu rumah khusus untuk kaum perempuan yang miskin, dan satu sekolah. Kelak, pada 1952, Hati Suci sudah membuka sekolah secara lengkap, mulai dari kelas satu hingga kelas enam.

Berkat kontribusi dan dedikasi Nyonya Lie, pada 1934 Mayor Khouw Kim An mengusulkan kepada gubernur jenderal untuk menganugerahinya dengan bintang jasa. Menurut Khouw Kim An, "tidak ada perhatian atau pekerjaan yang terlalu besar bagi Nyonya Lie, bila menyangkut masalah kemanusiaan."

Akhirnya, pada September 1935, Nyonya Lie dianugerahi Ridder in de Orde van Oranje Nassau—penghargaan kenegaraan tertinggi di Hindia Belanda. Ia adalah perempuan Tionghoa pertama yang menerima penghargaan tersebut. Penghargaan diserahkan Perdana Menteri Belanda Hendrikus Colijn selaku perwakilan Ratu Wilhelmina.


Melawan Perdagangan Perempuan

Pekerjaan sosial yang dirintis Nyonya Lie kemudian merambah ke sektor lain. Hatinya gelisah ketika menyaksikan banyak perempuan didatangkan dari Tiongkok ke Batavia untuk dijual ke rumah-rumah pelacuran. Bagi yang berwajah kurang menarik, mereka akan dipekerjakan sebagai budak. Nyonya Lie berusaha melawan perbudakan dan perdagangan manusia ini dengan terjun langsung ke lapangan.

Pecahnya perang antara Tiongkok dan Jepang pada 1937 membuat aliran pengungsi ke Hindia Belanda semakin deras. Saking menjamurnya perdagangan manusia di Hindia Belanda, surat kabar Keng Po edisi 8 Mei 1939 sampai menuliskan bahwa menjual madat di Hindia Belanda jauh lebih sulit ketimbang memperdagangkan manusia.

Posisinya sebagai istri seorang mayor Tionghoa membuat Nyonya Lie leluasa keluar-masuk kapal yang berlabuh di Tanjung Priok. Biasanya ia akan naik ke atas kapal guna memeriksa apakah ada perempuan yang harus diselamatkan. Tidak jarang ia menerima informasi dari Bodewitz (Pegawai Imigrasi Tanjung Priok) dan Mr. Rijckmans (Jaksa Agung Batavia) mengenai kapal-kapal mencurigakan yang berlabuh di Batavia.

Dengan menantang maut, Nyonya Lie tidak segan keluar-masuk klub malam, pelabuhan, hingga kawasan prostitusi guna menyelamatkan para perempuan yang disekap oleh batauw (mucikari). Pernah satu kali ia menemukan seorang gadis berusia sekitar 14 tahun di dalam gentong besar. Gadis ini baru datang dari Tiongkok dan kemungkinan akan dipekerjakan sebagai pelacur. Setelah bernegosiasi panjang, gadis tersebut dapat dibebaskan.

Keberanian Nyonya Lie kadang-kadang mendatangkan marabahaya. Beberapa kali ia diancam dengan golok berlumuran darah, diperas, bahkan pernah mendapat ancaman pembunuhan. Namun itu tidak menyurutkan pengabdiannya.

Kontribusi Nyonya Lie menjadi sorotan dunia ketika pada Februari 1937 Liga Bangsa-Bangsa (Volkenbond) mengadakan konferensi internasional di Bandung yang secara khusus membahas mengenai masalah perdagangan perempuan. Turut berpartisipasi dalam konferensi tersebut adalah India, Straits Settlement, Hong Kong, Tiongkok, Filipina, Amerika Serikat, Portugal, dan Inggris.

Delegasi Hindia Belanda diwakili Nyonya Lie, Dr. H.J. Spit, dan Nyonya Loe Ping Kian. Lalu ada juga Perkoempoelan Pembasmian Perdagangan Perempoean dan Anak-Anak yang diwakili Soekemi, M. Tabrani, M. Soebartjo, dan Dr. Darmosoegito, serta beberapa perwakilan dari organisasi Indo-Europeesch Verbond Vrouwen.

Di dalam pidatonya, Nyonya Lie mengusulkan agar perempuan dibekali dengan beragam pendidikan khusus, supaya lebih mudah bersaing mendapatkan pekerjaan. Ia juga menyerukan agar para perempuan yang sudah telanjur "tersesat" dapat direhabilitasi dan dibantu mengubah nasibnya.

Mengingat semakin bertambahnya jumlah orang yang ditampung di Hati Suci, Nyonya Lie memutuskan untuk mendirikan Tjie Liang Soh pada 1939 yang bertempat di Kemayoran 40. Fokus Tjie Liang Soh adalah menolong dan menampung perempuan yang terjebak dalam jaringan prostitusi. A. Bobby Pr. dalam Ny. Lie Tjian Tjoen: Mendahului Sang Waktu (2014) menuliskan bahwa karena aktivitas sosialnya, rumah ini kerap diganggu para mucikari, mulai dari dilempari bahan peledak hingga dikirimi surat kaleng.



Infografik Seri Imlek
Infografik Seri Imlek Hati Suci Nyonya Lie

Sengsara Gara-Gara Jepang

Ketika Jepang masuk ke Batavia pada 1942, Tuan Lie Tjian Tjoen dan beberapa tokoh Tionghoa lainnya ditangkap Kenpeitai dan dipenjara di Bukit Duri sebelum berakhir di Cimahi. Sementara gerak-gerik Hati Suci begitu dibatasi oleh Jepang. Donasi keuangan otomatis tersendat dan membuat situasi finansial Hati Suci berada pada titik terendah dengan sisa anggaran hanya f. 16.24. Jumlah tersebut tentu tidak cukup untuk menghidupi ratusan anak di Hati Suci.

Karena itu Nyonya Lie memutuskan mendatangi markas Jepang guna meminta bantuan bahan makanan. Pihak Jepang pun setuju untuk menyuplai kebutuhan pangan Hati Suci setiap bulannya. Namun itu tak berlangsung lama. Nyonya Lie terpaksa menutup Tjie Liang Soh guna menyelamatkan perempuan yang ditampung di sana agar tidak dijadikan jugun ianfu.

Jepang kemudian mengambil paksa rumah di Jalan Kramat 168 yang saat itu digunakan Hati Suci sebagai tempat penampungan anak laki-laki. Seluruh anak Hati Suci dipulangkan ke rumah masing-masing. Mereka yang tidak memiliki sanak famili dititipkan ke orang-orang yang berkenan menampung mereka. Sejumlah kegiatan Hati Suci pun otomatis terhenti selama beberapa tahun.

Berakhirnya pendudukan Jepang membuat Nyonya Lie harus merintis Hati Suci dari awal. Anak-anak yang sebelumnya tercerai-berai kemudian dikumpulkan kembali. Nyonya Lie bahkan sampai harus menjemput mereka satu per satu agar mereka kembali ke Hati Suci. Hingga akhir hayatnya, ia terus mendedikasikan hidupnya untuk melayani mereka.

Auw Tjoei Lan alias Nyonya Lie meninggal pada 19 September 1965 dalam usia 76. Jenazahnya sempat disemayamkan selama tiga hari di Hati Suci sebelum dimakamkan di Jati Petamburan. Kepergiannya dilepas ribuan orang yang mengingat dan mengenangnya sebagai penolong kaum perempuan dan kaum terlantar. Spirit pelayanan yang telah dirintisnya selama puluhan tahun kini diteruskan anak-cucunya.


==========

Menyambut Tahun Baru Imlek 2019, Tirto menayangkan serial tentang orang-orang Indonesia keturunan Tionghoa yang berkontribusi besar dalam bidang masing-masing. Serial ini ditayangkan setiap Selasa hingga puncak perayaan Imlek pada 5 Februari 2019. Artikel di atas merupakan tulisan pertama.

Ravando Lie adalah kandidat doktor sejarah di University of Melbourne, Australia. Ia menekuni studi peranakan Tionghoa dan menulis buku Dr. Oen: Pejuang dan Pengayom Rakyat Kecil (2017). Saat ini sedang menyusun disertasi tentang surat kabar Sin Po dan nasionalisme Indonesia.

Baca juga artikel terkait PERANAKAN CINA atau tulisan menarik lainnya Ravando Lie
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Ravando Lie
Editor: Ivan Aulia Ahsan