tirto.id - Kabut tipis berarak pelan, membawa hawa dingin yang menusuk tulang di kawasan Wana Wisata Baturraden, Banyumas, Sabtu (27/6/2026). Sore itu, langit tidak sedang ramah, tetapi alam justru sedang menyiapkan panggung terbaiknya. Rintik hujan dan pelukan dingin khas pegunungan resmi membuka BRI Jazz Gunung Slamet 2026.
Mengusung tema besar "Jazztination", festival tahunan ini kembali membuktikan bahwa bukan sekadar panggung musik biasa. Di sini, di ketinggian lereng Slamet, musik jazz berpadu mesra dengan lanskap hijau. Menjelma menjadi sebuah ruang sakral yang mempertemukan melodi, budaya, dan alam raya dalam satu helaan napas.
Langkah kaki saya di area festival disambut oleh vokal jernih Amelia Ong yang tengah melantunkan Sunset Purple Sky. Suasana sore terasa magis saat ia melanjutkan penampilannya dengan lagu legendaris Tragedi Buah Apel milik Anita Sarawak. Namun, alam punya skenarionya sendiri. Di tengah-tengah repertoar Amelia, langit Baturraden tumpah. Hujan deras mengguyur, memaksa riuh nada terhenti sejenak. Para penonton bergegas mencari kehangatan, berteduh di area stan makanan sambil menggenggam segelas wedang hangat, menunggu restu dari langit.

Putaran cuaca itu justru melahirkan jeda yang puitis. Saat hujan mulai mereda, Amelia Ong kembali naik ke atas panggung dengan anggun. Sebagai pemungkas yang magis, ia melantunkan Kulihat Ibu Pertiwi. Di bawah sisa rintik air, lagu itu bergaung, mengingatkan semua yang hadir tentang ruh sejati dari Jazz Gunung: sebuah penghormatan mendalam untuk alam pertiwi.
Hangat Retro dan Entakan Rock Lokal
Dinginnya lereng Gunung Slamet perlahan terkikis saat duo NonaRia mengambil alih kendali panggung. Membuka penampilan lewat lagu ikonis Juwita Malam, mereka berhasil menyulap udara dingin menjadi lantai dansa yang hangat. Aransemen khas retro yang genit berpadu apik dengan improvisasi jazz yang matang. NonaRia tidak hanya bernyanyi; mereka bercengkerama, mengajak penonton bersenda gurau, bernyanyi, dan bergoyang santai menembus dingin.

Atmosfer kembali bermutasi ketika Emptyyy menghentak panggung. Band jazz-rock lokal ini membawa energi baru yang eksploratif. Perpaduan ritme jazz yang rumit namun manis, ditabrakkan dengan energi rock yang menggebu, memberi suntikan adrenalin bagi para penonton yang mulai merapatkan jaket mereka.Panggung Jazz Gunung Slamet malam itu bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah dialog dinamis antara musisi, penonton, dan alam yang terus berganti rupa.
Cerita dari Puncak Bromo hingga Syahdunya Kenangan
Di sela-sela keriuhan, kehangatan personal hadir lewat sapaan sang pencetus. Founder Jazz Gunung Indonesia, Sigit Pramono, bersama sang penasihat, Andy F. Noya, naik ke atas panggung untuk menyapa "Jemaah Al-Jazzyah”, sebutan akrab para pencinta festival ini.
Dalam sapaan hangatnya, Sigit sempat bernostalgia. Ia membagikan kisah masa lalu, bagaimana mimpi Jazz Gunung ini bermula dari langkah kecil di dataran tinggi Gunung Bromo, sebelum akhirnya mengepakkan sayap menjadi rangkaian festival seri pegunungan yang merawat harmoni di berbagai penjuru Indonesia.

Paruh pertama malam itu kemudian dikunci dengan sangat elegan oleh Kevin Yosua Big 6 bersama Gracey Tamangendar. Mereka meniupkan roh jazz klasik yang kental ke udara Baturraden. Puncaknya terjadi saat bait-bait lagu Sepanjang Jalan Kenangan mengalun. Tanpa dikomando, ratusan penonton larut dalam koor massal, bersenandung bersama di bawah langit malam yang syahdu, menciptakan penutup paruh pertama yang begitu emosional.
Nostalgia Manis Bersama Mocca
Sebagai hidangan penutup yang paling dinanti, band indie-pop legendaris asal Bandung, Mocca, naik pentas dengan formasi lengkap. Kehadiran Arina Ephipania dan kawan-kawan seketika mengubah dinginnya malam menjadi ruang nostalgia yang penuh senyuman.
Sederet tembang hit abadi seperti Secret Admirer, Me & My Boyfriend, hingga I Remember dibawakan dengan renyah. Suara khas Arina yang manis berpadu dengan tiupan tiup kayu dan petikan gitar yang akrab di telinga, membelai telinga para penonton yang enggan beranjak.\

Malam akhirnya larut, namun kehangatan yang tertinggal di lereng Gunung Slamet malam itu tampaknya akan bertahan lama di ingatan mereka yang hadir. Di Baturraden, jazz bukan lagi sekadar genre musik, melainkan sebuah cara terbaik untuk mensyukuri megahnya alam Indonesia.
Editor: Intan Umbari Prihatin
Masuk tirto.id


































