tirto.id - Serangan Israel ke Gaza pada Sabtu (21/2/2026) telah menewaskan dua warga Palestina di Gaza.
Serangan yang terjadi di hari ketiga Ramadhan itu menjadi pelanggaran terbaru oleh Israel setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas lebih dari empat bulan lalu.
Mengutip Al Jazeera, Israel menyerang kamp Jabalia di Gaza Utara dan daerah Qizan An-Najjar di Gaza Selatan. Militer Israel melalui unggahan di X mengakui salah satu serangan ini.
Militer Israel mengklaim pasukannya membunuh seorang pejuang yang hendak masuk wilayahnya melalui garis demarkasi di Gaza Utara. Menurut mereka, orang ini mendekati "dengan cara yang menimbulkan ancaman langsung".
Pihak militer juga menyebut langkah yang akan dilakukannya tidak akan berhenti sampai di situ. Mereka akan “terus bertindak untuk menghilangkan ancaman langsung apa pun”.
Kantor berita Palestina WAFA melaporkan, terjadi peningkatan korban tewas akibat serangan Israel usai pemberlakuan gencatan senjata. Jumlah korban tewas meningkat menjadi 614 orang dengan jumlah korban terluka mencapai 1.640 orang.
Visi Pasukan Perdamaian Dinilai Tidak Jelas
Penempatan pasukan perdamaian dalam wadah Pasukan Keamanan Palestina (ISF) dinilai tidak memiliki visi jelas oleh warga Palestina. ISF nantinya akan ditempatkan berbagai wilayah seiring dengan rencana penarikan militer Israel.
Sikap skeptis warga Palestina atas kehadiran ISF dikaitkan dengan berbagai serangan mematikan yang masih dilakukan Israel di berbagai wilayah. Mereka ragu soal keberhasilannya menjaga wilayah, termasuk menangani kekurangan bantuan.
“Israel membunuh, membom, melanggar perjanjian gencatan senjata setiap hari dan memperluas zona penyangga tanpa ada yang menghentikannya,” kata Awad al-Ghoul (70 tahun), warga Palestina yang mengungsi dari Tal as-Sultan di Rafah selatan dan sekarang tinggal pada tenda di kota az-Zawayda.
“Jadi proyek ini gagal sejak awal dan visinya tidak jelas,” tambahnya, dikutip Al Jazeera.
Menurut Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang juga sebagai ketua Board of Peace, jumlah personel ISF diperkirakan mencapai 20 ribu orang. Mereka akan mengambil alih keamanan dari Hamas.
ISF hadir bersamaan dengan pelucutan senjata Hamas. ISF juga mengawal berdirinya komite teknokrat transisi Palestina yang mengawasi pemerintahan sehari-hari.
Sementara dari pihak Hamas menyatakan, tidak akan menyerahkan senjatanya sepanjang Israel terus menduduki Jalur Gaza. Perundingan yang terkait proses proses politik di Gaza wajib "harus dimulai dengan penghentian total agresi".
Hamas tidak menolak kehadiran pasukan perdamaian. Hanya saja, Hamas ingin pasukan perdamaian nantinya mengikuti beberapa syarat yang ditetapkannya.
“Kami menginginkan pasukan penjaga perdamaian yang memantau gencatan senjata, memastikan pelaksanaannya, dan bertindak sebagai penyangga antara tentara pendudukan dan rakyat kami di Jalur Gaza, tanpa mencampuri urusan internal Gaza,” kata juru bicara Hamas, Hazem Qassem, pada Jumat (20/2/2026)
Penulis: Ilham Choirul Anwar
Editor: Rina Nurjanah
Masuk tirto.id

































