Menuju konten utama

Halodoc Ungkap Tren Kesehatan Jelang Idulfitri

Halodoc mencatat peningkatan kecemasan saat Ramadan hingga lonjakan tes kolesterol dan gula darah setelah Idulfitri.

Halodoc Ungkap Tren Kesehatan Jelang Idulfitri
Foto bersama para narasumber pada kegiatan Talkshow "Halodoc Talks Episode 2", Jakarta, Selasa (10/3/2026). Foto/Dok: Merlina Aryanti
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Halodoc mengungkap sejumlah tren kesehatan masyarakat selama Ramadan hingga pasca-Idulfitri dalam laporan Indonesia Health Insights Q1 2026. Temuan ini dipaparkan dalam kegiatan Halodoc Talks Episode 2, yang juga menjadi ruang diskusi mengenai cara menjaga kesehatan fisik dan mental menjelang perayaan hari raya.

Chief Marketing Officer Halodoc, Fibriyani Elastria, mengatakan laporan tersebut menunjukkan dinamika kesehatan masyarakat yang tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga kesehatan mental selama Ramadan hingga menjelang Idulfitri.

Menurut data Halodoc, gangguan kecemasan meningkat secara bertahap selama Ramadan dan mencapai puncaknya pada minggu ketiga dengan kenaikan sekitar 27 persen dibandingkan rata-rata mingguan sebelum Ramadan. Keluhan yang paling sering muncul antara lain gangguan tidur, jantung berdebar, serta sesak dada yang kerap berkaitan dengan persiapan mudik dan dinamika sosial menjelang hari raya.

Kondisi psikis tersebut turut memengaruhi ketahanan fisik. Peningkatan hormon stres tercatat dapat berdampak pada daya tahan tubuh, yang kemudian berkontribusi pada munculnya keluhan seperti radang tenggorokan. Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan stres serta istirahat yang cukup agar masyarakat dapat memasuki Idulfitri dengan kondisi imun yang stabil.

“Idulfitri merupakan momen yang sangat dinantikan untuk bersilaturahmi dan menikmati hidangan khas dari keluarga. Laporan kami menunjukkan masyarakat mulai menerapkan cara yang lebih seimbang dalam merayakannya,” ujar Fibriyani.

Ia menambahkan, meskipun terdapat tantangan fisik dan mental seperti keluhan sembelit atau diare, peningkatan pemeriksaan kesehatan mandiri menunjukkan masyarakat semakin proaktif dalam memantau kondisi kesehatannya.

“Peningkatan pemeriksaan kesehatan mandiri menunjukkan masyarakat sudah lebih siap dan berdaya dalam memitigasi risiko. Layanan kesehatan dari Halodoc hadir untuk memastikan tradisi tetap terjaga, sementara kesehatan tetap menjadi prioritas melalui solusi digital yang tersedia 24 jam,” sambungnya.

Laporan tersebut juga mencatat adanya lonjakan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan metabolik setelah Idulfitri. Satu minggu pasca-Idulfitri 2025, jumlah pemeriksaan laboratorium seperti tes kolesterol dan gula darah meningkat hingga 95 persen dibandingkan rata-rata mingguan biasanya.

Selain itu, pembelian produk kesehatan terkait manajemen berat badan dan nutrisi meningkat sekitar 62 persen. Produk yang banyak dicari meliputi minuman serat, teh detoks, suplemen pengendali kolesterol, hingga kapsul herbal pelangsing.

Keluhan terkait pencernaan juga mengalami peningkatan selama Ramadan hingga Idulfitri. Konsultasi mengenai sembelit meningkat sejak minggu pertama Ramadan sebesar 20 persen dan mencapai puncaknya pada minggu Idulfitri dengan kenaikan 37 persen. Menariknya, konsultasi terkait sembelit pada waktu subuh tercatat melonjak hingga 593 persen dibandingkan periode waktu lainnya.

Sementara itu, keluhan diare juga meningkat sekitar 13 persen dua minggu setelah perayaan Idulfitri, dengan gejala yang paling sering dilaporkan berupa sakit perut, muntah, demam, hingga rasa lemas dan pusing.

Dalam kegiatan tersebut, Halodoc juga berkolaborasi dengan perusahaan pengolah minyak nabati Apical untuk memberikan edukasi mengenai pemilihan bahan pangan yang lebih sehat saat menyajikan hidangan khas hari raya.

Head of Apical Innovation Centre (AIC) Global, Farhana June Jamil, mengatakan masyarakat perlu lebih bijak dalam memilih bahan pangan, khususnya terkait kandungan lemak seperti trans fat dan lemak jenuh yang berisiko bagi kesehatan.

“Salah satu momen lebaran yang ditunggu-tunggu adalah menikmati makanan khas hari raya. Tantangannya adalah memilih bahan pangan secara bijak, terutama dalam mengendalikan konsumsi trans fat yang berisiko bagi kesehatan,” ujar Farhana.

Ia menjelaskan kemajuan teknologi pengolahan minyak saat ini memungkinkan industri menghadirkan bahan pangan berkualitas tinggi yang bebas lemak trans industri, sehingga hidangan tradisional tetap dapat dinikmati dengan standar kesehatan yang lebih baik.

Dalam kesempatan yang sama, Mitra Dokter Spesialis Halodoc dr. Waluyo Dwi Cahyono, SpPD-KEMD, FINASIM, membagikan sejumlah tips agar masyarakat dapat merayakan Idulfitri dengan tetap menjaga kesehatan.

Menurutnya, masyarakat tetap dapat menikmati hidangan khas seperti opor atau rendang, namun perlu menyeimbangkannya dengan konsumsi sayur dan buah untuk membantu serat mengontrol penyerapan lemak.

Selain itu, tubuh juga membutuhkan adaptasi pola makan setelah menjalani puasa selama sebulan. Oleh karena itu, ia menyarankan untuk memulai hari Idulfitri dengan makanan yang tidak terlalu pedas atau asam agar tidak mengiritasi sistem pencernaan.

“Menjaga kesehatan di hari raya bukan berarti membatasi kesenangan dan perayaan. Dengan sedikit penyesuaian dalam cara mengolah dan mengonsumsi makanan, kesehatan pencernaan dan metabolisme tetap bisa terjaga,” ujar Waluyo.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga hidrasi serta memastikan tubuh mendapatkan istirahat yang cukup di tengah padatnya agenda silaturahmi selama Idulfitri.

Baca juga artikel terkait AKTUAL DAN TREN atau tulisan lainnya dari Merlina Aryanti

tirto.id - Aktual dan Tren
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Intern tirto