Menuju konten utama

Hadits Setan Dibelenggu di Bulan Ramadhan & Hikmah Keutamaan Puasa

Hadits setan dibelenggu di bulan Ramadhan dan hikmah keutamaan bulan puasa.

Hadits Setan Dibelenggu di Bulan Ramadhan & Hikmah Keutamaan Puasa
Ilustrasi Ramadhan. foto/istockphoto

tirto.id - Hadits setan dibelenggu di bulan Ramadhan berasal dari riwayat Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Bila bulan Ramadhan tiba, maka dibukalah pintu-pintu surga, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan pun dibelenggu" (H.R Muslim). Apa hikmah di balik hadits tersebut dan apa saja hikmah keutamaan bulan puasa?

Teks Arab hadis riwayat Muslim tersebut adalah sebagai berikut.

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ

Dalam versi yang lain, Muslim juga meriwayatkan hadis dengan redaksi serupa sebagai berikut.

إِذَا كَانَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ

Artinya, "Apabila Ramadhan telah tiba, maka pintu-pintu surga akan dibuka, lalu pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan pun akan dirantai."

Apa yang dimaksud dengan setan-setan dibelenggu pada bulan Ramadhan dalam hadits tersebut? Pada kenyataannya, ketika Ramadan tiba, seseorang tidak hanya melakukan perbuatan baik. Ia tetap berpotesi melakukan tindakan buruk atau yang dilarang agama.

Terkait hal ini, Imam Yahya bin Syaraf an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim mengutip pernyataan Al Qadhi Abu Al Fadhl Iyadh bin Musa bin Iyadh (Al-Qadhi Iyadh) bahwa hadits di atas dapat dipahami dalam dua sisi, yaitu secara zahir dan batin.

Kalimat "dibukalah pintu-pintu surga, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan pun dibelenggu" adalah tanda tibanya Ramadhan. Demikian mulianya Ramadhan sehingga para setan dibelenggu agar tidak mengganggu kaum mukmin.

Di sisi lain, "pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu" dapat dimaknai sebagai isyarat betapa banyak pahala dan pengampunan dosa di dalam bulan Ramadhan. Sepanjang bulan ini pula, godaan atau bisikan jadi lebih sedikit, sehingga setan dilambangkan dalam posisi dibelenggu.

Sepanjang Ramadhan, memang banyak amal ibadah yang dapat dikerjakan oleh seorang muslim, dengan balasan yang berlipat ganda. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Semua amal kebaikan anak manusia akan dilipatgandakan dengan 10 kebaikan serupa hingga 700 kali lipat. Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Kecuali puasa. Puasa adalah milik-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya karena ia meninggalkan syahwat dan makanan demi Aku.' Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan saat berbuka puasa dan kebahagiaan lain saat menemui Tuhannya. Sungguh bau mulut (orang yang berpuasa) lebih harum di sisi Allah daripada bau kesturi,’” (H.R. Muslim).

Tidak hanya ibadah secara umum yang dilipatgandakan. Terdapat ibadah khusus yang hanya dapat dilakukan oleh seorang muslim pada bulan Ramadhan tersebut. Selain puasa wajib selama 29 atau 30 hari sepanjang Ramadhan, ada pula shalat tarawih yang pengerjaannya sunnah muakkad.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. menganjurkan qiyam (shalat) Ramadhan kepada mereka (para sahabat), tanpa perintah wajib. Nabi bersabda, "Barangsiapa mengerjakan qiyam (shalat) Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu".

Ibadah lain yang dianjurkan adalah memperbanyak sedekah dan membaca Al-Qur'an. Dari Ibnu Abbas, diriwayatkan bahwa Rasulullah saw adalah orang yang paling dermawan, apalagi ketika tiba bulan Ramadhan, saat beliau ditemui oleh Malaikat Jibril pada setiap malam pada bulan Ramadhan, diajak membaca dan mempelajari al-Qur’an. Ketika ditemui Jibril, Rasulullah "lebih dermawan daripada angin yang ditiupkan".

Demikian pula sebaliknya, sepanjang berpuasa, seorang muslim dicegah dari ucapan atau perbuatan yang menyimpang dari syariat. Misalnya, ia mesti menjauhkan lisannya dari berbohong, memfitnah, berkata kotor, atau mencaci maki. Ia juga mesti menjaga diri dari perbuatan berkelahi atau memancing emosi.

Dikutip dari Tuntunan Ibadah pada Bulan Ramadhan di Masa Darurat Covid-19 (2020:25), diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda, "Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan suka mengerjakannya, maka Allah tidak memandang perlu orang itu meninggalkan makan dan minumnya.”

Dalam riwayat lain, Nabi saw. juga menekankan, "Jika seseorang di antara kamu berpuasa, maka janganlah berkata kotor pada hari itu, dan janganlah berbuat gaduh. Jika dimarahi oleh seseorang atau dimusuhinya, hendaklah ia berkata, ‘saya sedang berpuasa’.”

Dengan demikian, hadis "pintu surga dibuka" dapat dimaknai sebagai banyaknya amal perbuatan yang sepanjang Ramadan dapat mengantarkan seorang masuk ke dalam surga. Sementara itu, "setan dibelenggu" adalah ungkapan dari ditahannya perbuatan-perbuatan yang menyimpang.

Bulan Ramadhan adalah kesempatan seorang muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tinggal bagaimana seorang muslim dalam menyikapi peluang tersebut.

Baca juga artikel terkait RAMADHAN 2022 atau tulisan lainnya dari Fitra Firdaus

tirto.id - Sosial budaya
Penulis: Fitra Firdaus
Editor: Iswara N Raditya