Geger Riyanto
Peneliti sosiologi. Bergiat di Koperasi Riset Purusha

Habis Pemilu Terbitlah Malu

29 April 2019
Dibaca Normal 4 menit
Amin bungkam. Malam itu beranda rumahnya diliputi keheningan yang mencekam. “Bos,” yang duduk bersama Amin, sama sekali tak berkata apa-apa setelah mendengar perolehan suara untuk iparnya yang berlaga di pemilihan legislatif kabupaten Maluku Tengah. Bos menargetkan akan menuai 500 suara dari dusun. Kenyataannya sang ipar hanya mengantongi 34 suara.

Setelah beberapa menit diam, si bos berjalan kembali ke mobilnya. Ia meninggalkan dusun. Tak satu kata pun diucapkannya kepada Amin, kepala nelayannya itu.

Pak Kim, nama asli bos, adalah pembeli tuna paling lama dan besar di dusun. Ia bukan warga asli dusun. Ia dilahirkan di Makassar dari orang tua keturunan Tionghoa dan pindah ke Maluku Tengah selepas lulus SMK. Sejak awal menekuni bisnis pengepulan tuna di dusun, ia dibantu oleh Amin, nelayan setempat. Bisnisnya dimulai sejak awal 2000-an. Sebelumnya, ia menangani kontrak-kontrak pembangunan jembatan di Seram Utara.

Sehari sebelum minggu tenang, Pak Kim mengumpulkan tokoh-tokoh dusun di rumah Amin. Sepanjang beberapa minggu menjelang pemilihan legislatif, caleg-caleg silih berganti berdatangan ke dusun. Mereka diperkenalkan oleh perwakilannya—acapkali warga dusun yang kenal—lantas diberikan panggung untuk menceritakan kiprah serta mendengar keresahan warga.

Pak Kim berbeda dengan mereka semua. Ia tidak tedeng aling-aling. “Saya langsung saja, ya,” ujarnya membuka pertemuan tersebut. “Bapak-bapak semua kan sudah kenal saya.”

Pak Kim bilang, ia membutuhkan dukungan mereka untuk membantu iparnya. Ia sudah membantu dusun, tuturnya, sejak lama dan bukan karena momen politik semata. Selama menjalankan usaha sebagai pembeli tuna, Pak Kim memberikan pinjaman tanpa bunga dan tenggat yang jelas kepada nelayan-nelayan yang ingin memiliki perahu fiber dan motor tempel. Ia membantu kelompok nelayan yang membangun rompong (perangkap ikan) dan memerantarai bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Ia juga rutin menyisihkan uang untuk masjid dusun, bahkan membelikan kubah empat tahun silam.

Tentu saja, apa yang dilakukannya tersebut bukan tanpa manfaat balik langsung. Nelayan terbebani secara moral untuk menjual ikannya ke Pak Kim.

Katong tra [kami tidak] bisa janji apa-apa, Pak Kim,” bapak dusun langsung menimpali Pak Kim. “Calon ini banyak berdatangan terus. Katong pung [punya] warga juga bingung semua.”

Pak Kim menjanjikan, Daya, iparnya, dapat ia pegang. Pak Kim hampir setiap hari pulang-pergi ke dusun. Ia paham dengan persoalan dusun. Kepala dusun menyampaikan bahwa persoalan saat ini adalah jalan yang tak kunjung diaspal serta permohonan agar dusunnya menjadi desa administratif diabaikan oleh desa induk. Pak Kim yakin, ia bisa mendorong Daya untuk mendesakkan agenda-agenda tersebut di DPRD Kabupaten Maluku Tengah.

Pak Kim tak lupa menambahkan akan menghaturkan “ungkapan terima kasih” ke dusun bila Daya bisa mendapatkan 500 suara.

Sejak beberapa hari sebelum pemilihan, Amin sudah tak bisa menutup-nutupi kegusarannya. Ia lebih banyak menatap laut atau berdiam di sekeliling rumah dengan pandangan nanar dan rokok di tangannya. Berkali-kali ia bilang ingin melaut agar pikirannya lebih jernih. Namun, ia tidak pernah benar-benar pergi lantaran tanggung jawabnya kepada Pak Kim.

Amin tidak memikirkan sama sekali apa yang akan didapatkannya setelah pemilu. Apa yang menyandera pikirannya semata rasa malu seandainya perolehan suara Daya jeblok di dusun. Baginya, apa yang dikatakan Pak Kim benar belaka. Selama ini, Pak Kim sudah membantu dusun. Kini saatnya dusun membantunya balik.

Demikian juga yang diyakini sejumlah nelayan lain. “Beta pasti pilih Daya, Mas,” ujar Umar, nelayan kenalan lama saya. Saya menemui Umar di rumahnya dan bicara empat mata. Saudara-saudara dekatnya maju sebagai caleg. Saya menanyakan tanggapannya.

“Pak Kim itu sudah bantu beta dari lama. Seng [tidak] ada nelayan yang punya motor tempel kalau bukan lantaran Pak Kim.”

Pukul delapan malam di hari pemilihan, penghitungan suara masih berlangsung di beberapa TPS. Namun, Amin sudah berada di rumah. Dari raut wajahnya, ia nampak terpukul. Pagi harinya, ia sudah paham target 500 suara tidak realistis. Ia menaksir Daya akan mendapatkan 100-200 suara berdasarkan jumlah nelayan dan keluarga mereka yang menjanjikan dukungan.

Tapi perhitungan “realistis” Amin pun masih meleset jauh. Taksiran kepala dusun benar.

Suara dusun benar-benar terpecah. Suara paling banyak jatuh ke calon legislatif dari dusun yang pada hari-H berseliweran dari TPS ke TPS, menagih langsung dukungan pemilih. Suara juga terkepul oleh kandidat dari desa-desa tetangga yang memiliki kerabat di dusun. Pun, tak sedikit kandidat tidak dikenal mendapat coblosan—banyaknya kertas suara, kandidat serta penampakan kolom yang rumit menyebabkan para pemilih kewalahan. Daya, akhirnya, mendapatkan 34 suara belaka.


Amin berjalan-jalan tanpa arah malam itu. sang istrinya mengikutinya ke mana-mana—khawatir Amin akan menenggak minuman keras dan berbuat bodoh. Hari yang panjang itu berakhir ketika ia tertidur di atas lantai ruang tamu dan hadapan istri yang melipat baju.

Keadaan lebih membaik ketika Pak Kim datang keesokan harinya. Setidaknya di permukaan, ia nampak lebih legawa. Sambil menikmati sukun goreng dan teh yang dipersiapkan Mama Ima, istri Amin, ia membuka obrolan dengan topik-topik ringan yang tak berhubungan dengan politik.

Saat Pak Kim mulai merambah topik politik, ia mulai dengan menyatakan rasa maklum terhadap anjloknya suara Daya. Bisa jadi, pada detik-detik sebelum pemilihan, para warga didatangi oleh kerabat-kerabat calegnya dan mereka tak bisa menampik permintaan sesama anggota keluarga besar. Ia bercerita, laporan datang dari desa-desa lain dan perolehan suara Daya juga buruk. Hal yang sama juga terjadi di satu kampung yang sudah mengumpulkan salinan kartu keluarga warganya dan menyatakan mereka akan secara bulat mendukung Daya. Istri Pak Kim, katanya, juga sampai melempar-lempar parang mendengar seluruh kabar yang tak menyenangkan ini.

Kendati demikian, Pak Kim dan keluarga mendapatkan secercah hiburan ketika mendengar Daya masih memiliki kemungkinan terpilih. Dengan terpecahnya suara di nyaris semua daerah lain Maluku Tengah, perhitungan akhir masih bisa menempatkan Daya sebagai salah satu dari lima anggota DPRD kabupaten ini.

Nelayan serta keluarga terdekat Amin yang kebetulan berada di sekitar Pak Kim lega mendengar cerita tersebut. Namun, selepas Pak Kim pulang, mereka saling berbagi kegeraman terhadap sesama warga dusun. Mereka malu dengan ketidakacuhan warga atas apa yang sudah diberikan Pak Kim.

“Dusun ini memang tidak layak jadi desa kalau begini!” tandas Mama Ima.

Mereka juga yakin bahwa pemberian-pemberian Pak Kim mulai saat ini tak semestinya disalurkan kepada dusun melainkan kepada orang-orang terdekat saja. Dan ketika mereka menjumpai salah satu teman atau keluarga, mereka akan bertanya, “Se [kamu] mencoblos siapa kemarin?”


Tentu saja, pertanyaan tersebut diajukan dengan intonasi bergurau. Namun, bila mereka tahu orang ini tidak memilih Daya, mereka akan menandainya.

Menyaksikan semua peristiwa ini, saya hanya bisa mengira-ngira keberangan serupa mungkin tengah menyesaki pikiran kelompok-kelompok warga lainnya di dusun. Mungkin pula, kelompok-kelompok warga di desa-desa lain. Relasi sosial di banyak pedesaan disangga oleh obligasi-obligasi moral dan kekeluargaan. Bantuan tak pernah bermakna harafiah. Bantuan adalah utang yang perlu dibalas dan menjadi pematri hubungan sosial jangka panjang. Keluarga harus membantu keluarga—meski pada kebanyakan kasus, siapa keluarga yang terkategori terdekat tak bisa langsung dipastikan.

Ketika ajang pertaruhan politik berskala kolosal berlangsung, hubungan ini pula yang paling pertama dieksploitasi. Walhasil, karena akhirnya orang harus memilih salah satu teman atau kerabatnya dan mengabaikan teman atau kerabatnya yang lain, malu, kekecewaan, rasa terkhianati menjadi pengalaman yang wajar.

Amin bilang tak mau lagi mau berurusan dengan warga dusun lainnya. Ia hanya akan menyapa mereka seperlunya. Ia mungkin berlebihan. Barangkali waktu akan berangsur-angsur memulihkan perasaannya. Namun, nampaknya ada garis pemilah yang akan terus diingatnya. Ada garis pemilah yang akan diingat oleh warga-warga desa lain yang hari ini juga marah dengan kerabat dan handai tolan.

Sementara itu, siapa yang tahu apa yang benar-benar akan dilakukan oleh para politisi selepas mereka terpilih?

Demokrasi memang ruwet. Jelas lebih ruwet ketimbang sekadar memilih yang terbaik

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.