Giordano Bruno: Martir Pengetahuan Modern pada Abad Kegelapan

Ilustrasi Giordano Bruno. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Ign. L. Adhi Bhaskara - 17 Februari 2019
Dibaca Normal 4 menit
Giordano Bruno dihukum mati karena pemikirannya mengenai semesta dan atom yang berseberangan dengan dogma gereja kala itu.
tirto.id - Berbicara tentang Giordano Bruno adalah bicara tentang manusia yang berusaha mendobrak kuatnya cengkeraman dogma gereja pada Eropa abad pertengahan. Ini adalah kisah bagaimana pemikiran modern dalam dunia keilmuan terbentuk dan berkembang dengan semangat pembebasan yang menjadi motornya.

Bruno adalah anak seorang serdadu profesional bernama Gioan. Dalam The Pope and the Heretic (2003), Michael White menulis Bruno kecil lahir pada 1548 di desa Nola yang terletak di kaki gunung Vesuvius, Napoli, Italia. Sejak kecil, sudah terlihat betapa cemerlangnya otak Bruno.

Sebagaimana anak pintar yang hidup pada abad pertengahan, pada usia 15 tahun, Bruno dikirim ke biara St. Domenico untuk dilatih menjadi seorang biarawan. Meski pada masa kecil dia punya keinginan kuat untuk menjalani hidup konvensional, mendevosikan diri pada mengajar dan berdoa, pemikiran dan imajinasinya terus berkembang seiring usia yang bertambah.

Ia mulai berdebat dengan rekannya mengenai filosofi Aristoteles yang saat itu masih menjadi pegangan utama pihak Gereja. Bruno melihat banyak inkonsistensi dalam filosofi tersebut. Pada titik inilah semangat pembebasan akalnya mulai tampak.

Bruno kemudian mulai mempertanyakan doktrin Trinitas secara halus. Ia pun membuat sebuah cerita satir berjudul "Noah‘s Ark" yang isinya, secara tidak langsung, mengolok-olok para penganut agama, dalam hal ini Kristen, yang tidak memakai nalarnya. Ia bahkan secara terbuka mengklaim ketertarikan pada Arianisme, yang bertentangan dengan ajaran ortodoks Gereja.

Sebagai catatan, Arianisme merupakan kepercayaan di mana Trinitas dipandang sebagai buatan manusia semata dan Yesus Kristus dianggap sebagai ciptaan pertama Tuhan ketimbang sebagai bagian integral dari yang Ilahi.

Suatu hari, seorang rekan di biara melaporkan Bruno pada atasannya karena telah membaca sejumlah naskah terlarang mengenai mistisisme dan alkimia. Ini membuat pikiran Bruno terbuka: kehidupan di biara tidaklah cocok untuknya. Bruno lantas memilih lari ketimbang berhadapan dengan inquisitor, alias mereka yang bekerja dalam institusi Inquisition, sebuah lembaga yang bertugas untuk melawan bid’ah dari ajaran Gereja.

Di titik inilah, kehidupan tanpa rumah Bruno dimulai. Ia kemudian akan terus berhadapan dan berkonflik dengan Gereja melalui pemikiran-pemikirannya hingga ajalnya.


Dalam Pelarian


Seperti dikutip dari Encyclopaedia Britannica, Bruno pertama-tama melarikan diri ke Roma pada Februari 1576 untuk kemudian berpindah lagi pada April tahun yang sama setelah pelaporan tersebut.

Untuk sekian lama ia ‘menjelajah’ Italia bagian utara dan pada 1578 ia berpindah ke Jenewa, Swiss. Di sini, ia bekerja sebagai seorang proof reader dan pada saat yang bersamaan mulai secara resmi menganut Calvinisme.

Namun, setelah ‘mendebat’ seorang profesor Calvinis, ia menemukan bahwa Gereja Reformasi juga sama intolerannya dengan Gereja Katolik kala itu. Seperti ditulis pada bagian pengantar dalam bukunya yang berjudul Cause, Principle and Unity yang diterjemahkan dan diedit oleh Robert de Luca dan diterbitkan Cambridge University Press pada 2004, pada 1579 Bruno dituduh melakukan pencemaran nama baik dan diancam ekskomunikasi. Ia mengakui kesalahannya, diampuni, dan diizinkan untuk meninggalkan kota tersebut.

Ia kemudian pindah ke Toulouse, Perancis dan kemudian ke Paris. Di kota itu, dia menemukan tempat yang nyaman dan aman untuk bekerja sesuai dengan karakternya yang kritis terhadap agama dan ilmu pengetahuan. Ini karena kondisi politik Paris yang mendukung. Kondisi politik Paris kala itu memang sedang diselimuti perselisihan antara Gereja Katolik dengan kaum Protestan Perancis yang disebut dengan kaum Huguenots.

Namun yang utama, Raja Henry III saat itu dikelilingi oleh dominasi faksi toleran bernama Politiques yang diisi oleh para kaum Katolik moderat. Politiques merupakan simpatisan raja Navarre, Henry dari Bourbon yang merupakan Kristen Protestan. Henry Navarre kelak menjadi pewaris takhta Perancis pada 1584.

Bruno pada akhirnya mendapatkan perlindungan dari raja Perancis yang mengangkatnya sebagai salah satu dari lecteurs royaux (pembaca kerajaan) sementara.

Masih dari Cause, Principle and Unity, pada 1853 Bruno pindah ke Inggris sebagai tamu dari Michel de Castelnau, duta besar Perancis untuk Ratu Elizabeth I. Ia sempat mengunjungi Oxford dan mengajukan teori-teori mengenai Kopernikus dalam sejumlah kuliah umum. Namun, ia ditolak dan diolok-olok oleh kalangan akademisi di Oxford sehingga kembali ke London.

Pada 1585, Bruno kembali ke Perancis hanya untuk menemukan situasi sudah berubah dan tidak menguntungkan dirinya. Pada 1588, ia pindah ke Praha, bagian dari Bohemia, dan kemudian ke Helmstedt di Jerman. Pada 1591, ia kembali ke Italia, tepatnya ke kota Venesia.

Menurut Frances A. Yates dalam Giordano Bruno and the Hermetic Tradition (1964), salah satu alasan utama mengapa Bruno kembali ke Italia – yang sesungguhnya menjadi tempat paling berbahaya baginya – adalah karena dia melihat adanya perubahan suasana di Eropa. Henry Navarre menang melawan Catholic League dan Spanyol menjadi pendukung mereka. Pada saat yang bersamaan Henry juga resmi memenangkan haknya menduduki tahta Perancis dan beredar rumor bahwa ia akan memeluk agama Katolik.

Situasi itu membuat Bruno berpikir bahwa ada kemungkinan reformasi universal akan terjadi dalam lingkungan Katolik. Sayangnya hal itu tidak pernah terwujud nyata pada masa hidupnya. Di Italia-lah Bruno kemudian menemui ajalnya melalui eksekusi oleh pihak Inquisition Gereja Katolik.




Pemikiran Ternama Bruno

Semasa hidupnya, Bruno menelurkan sekitar tiga puluh karya, mulai dari risalah, pamflet, dialog, puisi, hingga drama. Dalam artikel "The Forbidden World" di New Yorker, Joan Acocella menulis bahwa Bruno baru mulai mengerjakan pemikiran mengenai semesta – sebagaimana ia dikenal karenanya – setelah ia meninggalkan Italia.

Ada tiga pokok pemikiran utama Bruno mengenai semesta, semuanya sesungguhnya bukanlah ide orisinal miliknya namun lebih pada pengembangan. Pertama, ide utama Bruno mengenai semesta adalah terkait Heliosentrisme yang pertama kali dikembangkan oleh Nicolaus Kopernikus pada 1543, lima tahun sebelum Bruno lahir.

Meski ide pengubahan pusat semesta ala Kopernikus sudah termasuk radikal pada zamannya, saat itu dia masih mendasarkan diri pada konsep semesta yang terbatas, di mana struktur semesta hanya terdiri dari susunan beberapa planet. Bruno, sebaliknya, mengemukakan ide bahwa semesta, atau kosmos lebih tepatnya, tidak memiliki batas.

Ide Bruno ini juga tidak orisinal. Acocella menulis bahwa Nicolas dari Cusa, seorang kardinal Jerman, pernah mengemukakan hal serupa pada abad ke-15. Namun dalam hal ini, Bruno juga berpikir lebih jauh. Ia mengklaim bahwa semesta merupakan sebuah hal yang luas, terus berputar, penuh misteri; dan semua teori mengenai semesta, termasuk miliknya sendiri, bukanlah deskripsi melainkan hanya sebuah pendekatan. Saat ini, kita menyebutnya sebagai model.

Terakhir, Bruno mengembangkan teori mengenai atom. Ia menyatakan bahwa semua hal yang ada di dunia terdiri dari partikel-partikel identik yang ia sebut sebagai “seeds” atau benih. Sejumlah orang pernah mengemukakan ide ini sebelumnya, utamanya Lucretius. Namun, lagi-lagi, Bruno mengembangkan ide ini lebih jauh.


Dalam pemikirannya, semua bagian dari kosmos terdiri dari atau dibentuk oleh elemen-elemen yang sama. Tuhan, menurut Bruno, juga tinggal dalam elemen-elemen yang ia sebutkan ini, dan hadir dalam setiap atom di semesta.

Menurut Acocella, ketiga pokok pemikiran Bruno mengenai semesta itu mengindikasikan satu hal, bahwa dalam filosofinya, Bruno melihat segala sesuatunya di dunia ini tidak terhitung, setara, dan pada saat yang bersamaan juga menarik.

“Dalam kosmologi Bruno, aturan itu diterapkan tidak hanya pada hal-hal sederhana ... tetapi juga pada hal-hal besar dan sakral,” sebutnya.

Pemikiran inilah yang membuat ia berseberangan dengan Gereja Katolik yang saat itu memisahkan Tuhan dari kefanaan duniawi yang bersifat material. Namun pada saat bersamaan, ide mengenai semesta yang tidak terbatas itulah yang membuat Bruno dikenal oleh dunia modern sebagai orang yang telah mengantisipasi ilmu astronomi dan fisika modern.

Pada 17 Februari 1600, ia dijatuhi hukuman mati di Roma oleh Gereja Katolik setelah menjalani kehidupan penjara selama beberapa tahun. Hari itu adalah hari Rabu Abu. Ia dituduh menyebarkan bid’ah oleh Inquisition, dan dibakar hidup-hidup.

Waktu eksekusi ini dipilih dengan hati-hati. Rabu Abu merupakan perayaan utama dalam selebrasi Katolik di mana umat mendapatkan penitensi atas dosa-dosanya, dan tahun 1600 merupakan tahun yubelium bagi Gereja Katolik. Hukuman atas penyebar bid’ah dianggap akan menambah kemeriahan perayaan tersebut.

Ironisnya, hukuman mati inilah yang kemudian membuat Bruno ditahbiskan sebagai martir bagi ilmu pengetahuan modern. Seperti dituliskan oleh Acocella, “Jika Bruno tidak dibakar, apakah ia akan menerima atribusi ini? Mungkin tidak, tapi dia dibakar, dan dengan demikian dia memasuki sejarah kita.”

Baca juga artikel terkait GEREJA atau tulisan menarik lainnya Ign. L. Adhi Bhaskara
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Ign. L. Adhi Bhaskara
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight