Giordano Bruno, Pemikir yang Dibakar atas Nama Iman

Oleh: Dea Anugrah - 16 Januari 2017
Dibaca Normal 3 menit
Giordano Bruno merupakan seorang kosmolog, filosof, dan bekas biarawan Dominikan, yang dibakar hidup-hidup oleh Gereja Katolik pada 17 Februari 1600. Bruno sering dianggap menistakan agama.
tirto.id - Campo de Fiori sedap dipandang karena keramaiannya mengesankan hidup. Di plaza kecil yang namanya berarti “Taman Bunga” itu, orang-orang bercakap, makan dan minum, berdagang, mengaso, berkelakar, dan sesekali saling menyentuh dalam teduh bayangan bangunan-bangunan tua.

Tetapi di antara mereka ada patung pria bertudung dengan wajah sedih. Tangan kanannya memegang sebuah kitab dan tangan kirinya menggenggam pergelangan tangan kanan. Itulah patung Giordano Bruno, seorang kosmolog, filosof, dan bekas biarawan Dominikan, yang dibakar hidup-hidup oleh Gereja Katolik pada 17 Februari 1600.

Patung Bruno dan keterangan di bawah kakinya (Qui dove il rogo arse - Di sinilah api berkobar) yang tugur di sana mengingatkan kita, manusia zaman ini, bahwa ada masa ketika para wakil Tuhan menghukum gagasan yang mereka anggap menyeleweng dengan cara menganiaya dan membunuh orang-orang yang menyampaikannya.

Dokumen-dokumen yang merekam enam belas interogasi Bruno selama ia dikurung oleh lembaga inkuisisi hilang tanpa sempat dibukakan kepada khalayak. Maka, seperti yang ditulis Anthony Gottlieb di The New York Times pada Desember 2008: hingga kini, lebih dari empat abad sejak ia dibakar, kita tidak tahu untuk apa sebetulnya Bruno berkorban, dan apa yang ia pertahankan dengan menolak “mengaku salah” sampai akhir.

Kadang Bruno dibicarakan sebagai penista agama. Bangsawan Venesia yang bernama Giovanni Mocenigo, dalam suratnya kepada kantor inkuisisi pada Mei 1592, mengaku telah mendengar Bruno berkata: 1) Kristus adalah tukang sulap. 2) Dunia kekal tetapi hukuman ilahiah fana. 3) Hosti tidak berubah jadi Tubuh Kristus. 4) Masak Perawan Suci bisa melahirkan? 5) Para biarawan adalah kutu-kutu kupret.

Mocenigo memang pernah bergaul rapat dengan Bruno. Ia menyewa jasa Bruno buat mengajarkan metode mnemonic atau “seni mengingat”nya yang termahsyur. Namun, di kemudian hari, hubungan keduanya berubah jadi masam karena Mocenigo yang tak kunjung terampil merasa ditipu. Selain itu, ada pula desas-desus bahwa Bruno telah main gila dengan istrinya.

Tetapi laporan Mocenigo bukan persinggungan pertama Bruno dan inkuisisi. Bertahun-tahun sebelumnya, saat ia baru berumur 27 tahun, Bruno mendengar bahwa lembaga angker itu sedang menyelidiki dia karena pilihan bacaannya (termasuk satu eksemplar Commentaries karya Erasmus, pemikir yang getol menuntut reformasi Gereja Katolik, penuh marjinalia yang ditemukan di kamar mandinya), karena gagasan-gagasan yang ia sampaikan dalam perdebatan dengan koleganya (ia pernah mempertahankan penalaran seorang paderi abad keempat yang menyatakan bahwa Kristus tidak sepenuhnya “ilahiah”), dan lain-lain.

Bruno yang ketakutan mencampakkan jubah biarawannya. Ia kabur, lalu bertualang ke Jenewa, Toulouse, Lyon, Paris, London, Oxford, Wittenberg, Praha, Helmstedt, Frankfurt, dan Zurich, dan tak pernah menetap di satu kota selama lebih dari tiga tahun. Hingga akhirnya ia kembali buat memenuhi undangan Mocenigo.

Bagi otoritas Gereja, pelarian Bruno ialah pengakuan; mereka memecat dan mengucilkannya in absentia. “Tetapi bagi Bruno itu adalah pembebasan,” tulis Joan Acocella di The New Yorker. “Dan ia pun menjadi orang yang kita kenal, atau yang kita kira kita kenal: pemikir bebas, tukang menyebarkan kesesatan, orang yang bakal dihukum bakar hidup-hidup.”

Konon, sesaat sebelum unggunan disulut, seseorang menyorongkan salib kepada Bruno, tetapi ia malah memalingkan wajahnya dengan lagak dongkol. Menurut cerita lain, waktu itu ia hanya menggeram dan gemetar dan kesakitan karena Gereja, yang takut ia bakal menghasut massa dengan kemampuan wicaranya yang luar biasa, telah memaku lidahnya.

Kadang Bruno dibicarakan sebagai martir ilmu pengetahuan. Bruno menyusun sebuah sistem kosmologi selama lima belas tahun pelariannya. Prinsip pertama dalam pemikiran itu adalah heliosentrisme atau pandangan bahwa pusat semesta ialah matahari, bukan Bumi.

Gagasan itu, kita tahu, mula-mula disampaikan oleh astronom Polandia Nicolaus Copernicus pada 1543, lima tahun sebelum Bruno dilahirkan. Tetapi di luar pertukaran peran Bumi dan matahari, semesta yang dibayangkan Copernicus tidak jauh beranjak dari geosentrisme Ptolemy yang diyakini Gereja: struktur yang terdiri dari benda-benda langit yang itu-itu saja, yang mengitari sebuah pusat dalam lingkaran-lingkaran konsentris. Sedangkan semesta yang dibayangkan Bruno adalah semesta tanpa batas.

Matahari kita, katanya, cuma satu dari yang banyak—yang tak terhitung—dan di luar sana boleh jadi ada kehidupan-kehidupan lain. Ketidakterbatasan itu pun bukan gagasan baru. Seabad sebelum Bruno, kardinal dan matematikus Jerman Nicholas dari Cusa telah mengajukan gagasan serupa. Perbedaannya: Bruno menambahkan bahwa semesta ialah sesuatu yang tak terpahami, dan seluruh teori tentangnya, termasuk teori yang ia susun, hanyalah “pendekatan” alih-alih “penggambaran.”

Dan yang terakhir, Bruno menyatakan bahwa segala sesuatu di alam semesta terdiri dari partikel-partikel yang identik (ia menyebutnya “bibit-bibit”) sebagaimana pernah disampaikan oleh sejumlah pemikir sebelum dia. Namun, sekali lagi, Bruno mengembangkan gagasan itu. Menurutnya, bibit-bibit itu bukan hanya menyusun makhluk dan benda-benda, tetapi juga Tuhan.

Pada masa itu, tulis Acocella, Gereja mengajarkan bahwa Bumi ialah pusat semesta, dan di sinilah orang bekerja untuk keselamatan. Kemudian seandainya ada kehidupan di planet-planet yang jauh, universalitas ajaran agama-agama Bumi jelas akan tergerus. Orang bisa bertanya: apa peduli para penghuni planet lain terhadap ajaran rasul-rasul yang seluruhnya lahir di Bumi, yang tidak pernah bicara tentang mereka? Dan terakhir, iman agama-agama Abrahamik, termasuk Kristiani, menempatkan Tuhan sebagai entitas esa yang tak dapat disamakan dengan apa pun.

Namun, faktor yang mengunci nasib buruk Bruno adalah situasi zamannya. Pada masa Nicholas dari Cusa, kata Gottlieb, Gereja Katolik belum terdesak oleh “kesesatan Protestan” dan dapat bersikap toleran terhadap pandangan-pandangan yang kurang jamak. Dan seabad setelah Bruno, penulis Prancis Bernard le Bovier de Fontenelle bahkan mempopulerkan gagasan “kejamakan dunia”, tetapi hukuman yang ia dapatkan “hanya” pelarangan atas bukunya.

INFOGRAFIK Bruno



Kepala tim petugas inkuisisi yang menangani kasus Bruno adalah Jesuit Roberto Bellarmino. Menurut pakar Renaisans Ingrid Rowland dalam bukunya Giordano Bruno: Philosopher/Heretic (2008), Kardinal Bellarmino yang kelak, pada 1930, diangkat menjadi santo itu pernah berkata: “Saya hampir tak pernah membaca buku tanpa keinginan menyensornya habis-habisan.”

Pada 1615, Bellarmino menulis: “Pengakuan bahwa matahari … hanya berotasi tanpa berpindah dari timur ke barat, dan bahwa planet kita terletak di lingkaran ketiga dan mengelilingi matahari dengan kecepatan luar biasa, adalah hal yang sangat berbahaya. Itu ... mencederai iman suci kita dan mengesankan bahwa teks-teks suci berdusta.”

Teks-teks suci itu, ujar Bellarmino, bersepakat secara harfiah bahwa Bumi cuma bercokol di tengah semesta dan mataharilah yang berkeliling. Menolak pandangan itu “sama sesatnya dengan menolak bahwa Ibrahim mempunyai dua anak dan Yakub mempunyai dua belas, sama keblingernya dengan menolak kelahiran Yesus dari perawan suci, sebab hal-hal itu dinyatakan secara langsung oleh Roh Kudus melalui mulut para rasul dan murid-murid mereka.”

Celaka bagi Bruno, celaka pula bagi Galileo Galilei. Romo Niccolo Lorini, dalam laporannya kepada kantor inkuisisi menggambarkan tulisan-tulisan Galileo sebagai upaya sang ilmuwan dan para pengikutnya untuk menafsirkan ulang Alkitab. Itu berarti pelanggaran terhadap Konsili Trente, katanya, dan “agaknya berbahaya seperti Protestanisme.”

Kita tahu kelanjutan cerita itu: Gereja Katolik terus-menerus mengusik dan menekan Galileo, dengan alasan “ada kecurigaan keras bahwa ia sesat”, kemudian memenjarakannya sampai ia mati pada 1642. Dan kita membayangkan temuan-temuan yang mungkin dihasilkan Galileo seandainya ruang geraknya tak dibatasi.

Pada 1992, Vatikan mengumumkan permintaan maaf kepada masyarakat dunia dan mengakui bahwa Galileo benar. Dan pada 2000, Kardinal Angelo Sodano, Menteri Luar Negeri Vatikan, berkata bahwa Gereja menyesal karena dulu telah menggunakan kekerasan dalam menangani kasus Bruno—sekalipun hingga kini mereka tetap menganggapnya sesat.

Apakah permintaan maaf dan pengakuan dosa itu berguna buat Galileo Galilei dan Giordano Bruno? Tentu tidak. Tetapi ia berguna bagi kita. Ia mengingatkan kita bahwa keyakinan, yang rambu-rambunya ditetapkan oleh para wakil Tuhan di dunia, bisa salah. Dan setiap yang bisa salah semestinya tidak menghukum orang dengan cara merampas darinya hal-hal yang tak terkembalikan.

Baca juga artikel terkait FLAT EARTH atau tulisan menarik lainnya Dea Anugrah
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Dea Anugrah
Penulis: Dea Anugrah
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti