Get, Cara Go-Jek Menaklukkan Thailand

Oleh: Ahmad Zaenudin - 30 Agustus 2018
Dibaca Normal 3 menit
Go-Jek menginvasi pasar Thailand dengan membentuk anak usaha bernama Get. Bagaimana kans Go-Jek?
tirto.id - “Kami lahir dan dibesarkan di Thailand”

Pinya Nittayakasetwat, Chief Executive Officer (CEO) Get, di Bangkok Post mengomentari peluncuran perusahaannya di Thailand.

“Jadi kami sangat paham apa yang diinginkan konsumen Thailand,” katanya.

Get merupakan anak usaha Go-Jek di Thailand. Di laman resminya, Get secara tegas menyatakan diri sebagai bagian dari “Go-Jek Group.”

Pinya Nittayakasetwat, yang jadi pemimpin Go-Jek cabang Thailand, merupakan mantan Manajer Line Man di Thailand. Line Man adalah layanan seperti Go-Food, pengantaran makanan yang disediakan oleh Line, platform pesan instan dari Naver di Thailand.

Ekspansi internasional Go-Jek berbeda dibandingkan saingan terdekatnya Grab. Grab masuk ke berbagai negara ekspansi dengan memakai nama yang sama, tapi Go-Jek berbeda. Pada wawancara dengan jurnalis CNBC Christine Tan, Nadiem Makarim, pendiri Go-Jek, mengatakan ekspansi internasional Go-Jek dengan skema membentuk tim lokal dan memberi mereka otonomi. Blog resmi Go-Jek membenarkan skema ini. “Perusahaan tersebut akan dikelola oleh tim manajemen sekaligus pendiri lokal, dengan didukung pengetahuan, keahlian, teknologi serta investasi dari Go-Jek.”

Hingga saat ini, Get belum resmi mengaspal di Thailand. Mereka masih berada dalam tahap ujicoba. Sebagaimana diwartakan Kr-Asia, operasional secara resmi "tidak akan terlalu lama terjadi". Salah satu alasannya, akun resmi Facebook Get telah menginformasikan mereka telah masuk tahap pendaftaran para pengemudi atau Gettzer.

Pada laman resmi, Get menawarkan asuransi motor, asuransi kesehatan, bonus tahunan, serta bantuan dana darurat sebagai beberapa manfaat jika masyarakat bergabung menjadi Gettzer.

Bila Go-Jek didominasi warna hijau dan Go-Viet, Go-Jek versi Vietnam, menggunakan warna merah, Get memilih memakai warna kuning. Pada tahap awal, Get akan menawarkan layanan seperti Go-Ride dan Go-Send. Menyusul kemudian Go-Food dan Go-Pay.

Get, dan sebelumnya Go-Viet, adalah implementasi ekspansi internasional bisnis Go-Jek yang diumumkan Mei 2018. Go-Jek menyiapkan dana senilai $500 juta, yang diperoleh dalam pendanaan Seri E yang dilakukan pada Februari 2018. Pada pendanaan itu, Go-Jek memperoleh suntikan dana $1,5 miliar dari nama-nama beser seperti Astra, Google, Tencent, JD, dan Meituan.

Thailand adalah negara kedua dari implementasi ekspansi internasional Go-Jek, setelah sebelumnya Vietnam. Selepas Vietnam dan Thailand, menyusul kemudian ialah Filipina dan Singapura.



Infografik Gojek di thailand

GoBike


Dunia ride-sharing Thailand lumayan manis, meskipun masih kalah dibandingkan Indonesia. Dipacak dari Statista, ride-sharing di Negeri Gajah putih itu diperkirakan menghasilkan pendapatan sebesar $87 juta pada 2018 ini. Pada 2020 kelak, angkanya diprediksi meningkat jadi $142 juta. Indonesia mengutip data Statista diperkirakan memperoleh pendapatan sebesar $159 juta dari dunia ride-sharing tahun ini dan meningkat jadi $288 juta di 2022.

Dunia ride-sharing Thailand yang lumayan manis itu, setidaknya dikuasai tiga nama: Grab, All Thai Taxi, dan GoBike. Grab merupakan penguasa Asia Tenggara. Dari laman resmi mereka, Grab mengklaim tersedia di 168 kota di 8 negara Asia Tenggara, termasuk Thailand, dan memproses 4 juta perjalanan tiap harinya. All Thai Taxi, merupakan versi lokal Grab, dengan kerja sama taksi konvensional sebagai keunggulan mereka.

Bagaimana dengan GoBike?

GoBike, sebagaimana dikutip dari The Edge Markets, merupakan joint venture antara perusahaan Malaysia dan Thailand. GoBike ialah penjelmaan sempurna dari Go-Jek cabang Thailand, meskipun ia tak memiliki hubungan apapun dengan Go-Jek. Ini terjadi lantaran segala kekuatan Go-Jek, seakan-akan ditiru di Thailand oleh GoBike. Dilihat dari laman resmi GoBike, aplikasi tersebut punya layanan: Go-Ride, Go-Messenger (seperti Go-Send), hingga Go-Mart, yang kesemuanya berbasis motor.

GoBike merupakan startup yang berdiri sejak 2015 oleh pemuda Malaysia bernama Lian Wah Seng yang konon pulang-pergi Kuala Lumpur-Bangkok tiap pekannya dan Attapon Sitichaiareekit, pemuda asal Thailand. Pada Mei 2017, sebagaimana dilansir Tech in Asia, GoBike memperoleh pendanaan pra-Seri A sebesar $4,8 juta dari “investor besar asal Cina.” Sebelumnya, pada Maret 2016, GoBike memperoleh investasi $1 juta dari investor gabungan asal Thailand, Singapura, Malaysia, dan Hong Kong.

Keunggulan GoBike sejatinya cuma satu: “resmi dan merupakan aplikasi ojek online satu-satunya yang legal.”


GoBike dan Legalitas Ojek di Thailand


Pada Mei 2016, GrabBike dan UberMoto, layanan ride-sharing berbasis motor, dibekukan operasionalnya oleh otoritas Thailand. Dilansir Techcrunch, ini terjadi karena ada konflik antara dua layanan itu dengan ojek konvensional Thailand.

Salah satu situasi panas antara GrabBike-UberMoto dan ojek konvensional adalah terjadinya aksi pembakaran seragam kedua layanan ride-sharing itu oleh ratusan pengemudi ojek konvensional di Thailand. Dilaporkan Coconuts, salah satu pemicu aksi pembakaran seragam ojek online itu terjadi karena baik Grab maupun Uber menerima pemilik motor pribadi untuk menjadi pengemudi ojek online. Padahal, di Thailand sendiri, ojek harus menggunakan motor yang terdaftar secara khusus.

Di Thailand, ada 100 ribu tukang ojek terdaftar, selainnya ada 70 hingga 80 ribu tukang ojek ilegal. Dalam surat berjudul “Sesama Tukang Ojek” yang dikirim pada Grab dan Uber, mereka meminta kedua ride-sharing itu untuk berhenti melanggar aturan dan menerima masyarakat umum menjadi pengemudi ojek online.

GoBike unggul atas masalah yang menimpa Grab dan Uber pada 2016 itu. GoBike bekerjasama dengan Asosiasi Pengemudi Ojek Thailand dan hanya menerima tukang ojek terdaftar untuk bergabung dengan mereka. Atas kerjasama ini, pada Juli 2016, ketika GoBike remis dirilis, sudah ada 1.000 ojek terdaftar di sistem mereka.

Selain soal bekerjasama dengan Asosiasi Pengemudi Ojek Thailand, GoBike punya skema berbeda dibandingkan Grab dan Uber menarik hati tukang ojek. Jika Grab dan Uber mematok fee pada pengemudi di tiap perjalanan yang dilakukan, sedangkan GoBike tidak. Mereka tak meminta fee pada pengemudinya dan sepenuhnya menggantungkan keuntungan pada layanan selain ride-sharing, misalnya pengiriman barang atau berbelanja. GoBike mengenakan tarif yang lebih tinggi pada layanan itu dan mengambil keuntungan darinya.

Ini membuat ojek konvensional, yang umumnya mematok tarif 2 hingga 3 kali lipat dibandingkan tarif resmi Grab atau Uber, lebih menerima kehadiran GoBike. Go-Jek cabang Thailand, alias Get, harus bisa merangkul ojek konvensional untuk menembus pasar Thailand yang punya "kue" enam juta perjalanan via ojek tiap hari.

Baca juga artikel terkait GO-JEK atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)


Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra