Go-Jek dan Ojek Online Lain Tak Ada Ruang Hidup di Malaysia

Helm seorang supir ojek online (GoJek) nampak dari belakang saat melintasi Jalan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan, Minggu, (3/6/18). tirto.id/Hafitz Maulana
Oleh: Ahmad Zaenudin - 28 Agustus 2018
Dibaca Normal 2 menit
Pemerintah Malaysia melarang operasional Dego Ride, ride-sharing berbasis motor.
tirto.id - “Pendapat pribadi saya, Malaysia belum siap kedatangan ride-sharing berbasis motor.”

Anthony Loke Siew Fook, Menteri Transportasi Malaysia, pada akhir Juli lalu mengomentari negatif kemungkinan masuknya Go-Jek sebagai ojek online ke negerinya.

Di negeri jiran itu, ride-sharing berbasis motor seperti Go-Jek dan Grab tak ada ruang untuk hidup. Dego Ride, ride-sharing berbasis motor pertama Malaysia, sejak Maret 2017, diblokir oleh Pemerintah Malaysia, dengan alasan tidak aman.

Sebagaimana dilansir The Star, Pemerintah Malaysia menegaskan di 2016 terdapat 521.466 kecelakaan dengan korban jiwa sejumlah 7.152 orang. Dari jumlah kecelakaan itu, motor menjadi penggerak utama dengan sumbangsih sebesar 62,7 persen. Di sisi lain, Malaysia termasuk negara yang membolehkan kendaraan roda dua masuk jalan bebas hambatan.

Selain alasan keselamatan, pelarangan ride-sharing berbasis motor juga dilakukan lantaran Malaysia ingin membuat negeri mereka “ramah lingkungan.” Indikator ramah lingkungan yang dijadikan pijakan ialah mencontoh Singapura, Tokyo, dan New York yang masing-masing kota itu melarang motor jadi transportasi publik.

“Kami ingin meniru negara-negara maju yang ramah lingkungan, mereka tidak mengizinkan ojek. Selain itu, pemerintah telah membangun banyak transportasi publik bagi masyarakat. Kami punya monorail, commuter, mass rapid transit, dan light railway transit,” kata Abdul Aziz Kaprawi, Deputi Transportasi Kementerian Perhubungan Malaysia.

Pelarangan operasional Dego Ride disesalkan, khususnya oleh sang pendirinya Nabil Feisal Bamadhaj. Melalui akun Facebook pribadinya, Nabil mengatakan “keselamatan ialah fokus utama startup-nya bahkan sebelum diluncurkan”

Nabil menegaskan “mayoritas kecelakaan yang menimpa motor terjadi di pinggiran jalan, atas pelanggaran aturan, bukan selama perjalanan. Dego Ride menegaskan berjanji akan memberikan asuransi hingga $337,4 di tiap perjalanan.

Sayangnya, pemerintah Malaysia sudah mengetok palu. Layanan ride-sharing berbasis motor dengan biaya perjalanan $0,5 di 3 kilometer pertama dan $0,13 per kilometer selanjutnya itu harus berakhir. Selain itu, Go-Jek, ride-sharing yang menjadikan layanan berbasis motor sebagai jualan utama, juga bakal sukar hadir di Malaysia.



Dominasi Grab dan Pemain Lokal


Malaysia masih memberikan ruang untuk ride-sharing berbasis kendaraan roda empat, tapi tidak untuk sepeda motor. Dipacak dari Statista, pendapatan sektor ride-sharing di Malaysia pada 2018 diprediksi mencapai $90 juta. Pada 2022 kelak, nilainya diperkirakan akan terkerek naik hingga $160 juta. Salah satu indikatornya ialah pertumbuhan smartphone, tempat di mana aplikasi ride-sharing bersarang, kian tinggi. Di 2017, ada 19,9 juta pengguna smartphone di Malaysia. Selama dua tahun berikutnya, angkanya diprediksi meningkat jadi 21,7 juta pengguna.

Semenjak Uber angkat kaki dari Asia Tenggara, termasuk di Malaysia, Grab berkuasa atas besarnya pasar ride-sharing di Malaysia tersebut. Dewan Rakyat Malaysia memperkirakan, terdapat lebih dari 60 ribu pengemudi Grab dan Uber (yang operasional Asia Tenggaranya dibeli Grab) di Malaysia, dengan 20 persen di antaranya merupakan pengemudi penuh.

Sementara itu, merujuk laporan Nikkei, ada sekitar 200 ribu pengemudi ride-sharing teregistrasi di Malaysia, yang terbagi pada Grab dan pemain-pemain lokal lainnya. Pengemudi ride-sharing di Malaysia berjumlah lebih dari 3 kali lipat jumlah pengemudi taksi konvensional, yakni ada di angka 67 ribu.

Jika melihat lebih cermat, ride-sharing di Malaysia dikuasai pemain-pemain lokal, khususnya selepas Uber hengkang. Grab, yang bermarkas pusat di Singapura merupakan “pemain lokal” di Malaysia dengan citarasa global.



Pada 2012, Anthony Tan, pendiri Grab, memulai perjalanan ride-sharing dengan mendirikan MyTeksi di Kuala Lumpur. Sang bundanya, Khor Swee Wah, jadi investor awal MyTeksi. MyTeksi bersalin rupa menjadi Grab dan kini total telah menerima pendanaan $6,1 miliar, menjadikan Grab sebagai startup bervaluasi paling tinggi di dunia. Anthony, dilansir Forbes, masuk daftar 50 besar orang Malaysia terkaya dengan pundi-pundi kekayaan hingga $300 juta.

MyCar merupakan ride-sharing “satu tingkat di bawah Grab” di Malaysia, yang dirilis oleh perusahaan bernama Platform Apps Sdn Bhd pada April 2018. Meskipun masih berumur muda, ride-sharing ini mendaku memiliki 2 ribu pengemudi di awal kemunculannya. Kini, hampir empat bulan berselang, ride-sharing yang dirintis oleh Mohd Noah itu memiliki sekitar 10 ribu pengemudi.

Secara teknis, MyCar hanya merilis layanan berbasis mobil, mulai dari MyCar Economy hingga MyCar Premium dan dari jenis MPV Compact hingga taksi konvensional. Alasan keamanaan, MyCar selektif memilih pengemudi yang hendak bergabung dengan mereka. Pengemudi harus memiliki PDRM, JPJ, dan SPAD alias surat-surat izin untuk mengemudi dan menarik penumpang dari otoritas setempat. Ini menjadikan ride-sharing tersebut mengklaim “trusted e-hailing” di laman resminya.



Selepas Grab dan MyCar, ada cukup banyak ride-sharing lokal di Malaysia, yang tentu saja, semuanya serba “berbasis mobil” dan memiliki segmennya sendiri-sendiri. Itu ialah Riding Pink, ride-sharing khusus perempuan mengklaim memiliki lebih dari 100 pengemudi. PickanGo, ride-sharing yang bekerjasama dengan taksi konvensional dan mengklaim memiliki 180 ribu pengemudi.

Secara umum, di luar pelarangan ride-sharing berbasis motor, dunia ride-sharing Malaysia cerah. Laporan berjudul “Ride-share/e-Hailing in Malaysia” yang digagas Kalim Ullah Khan mengungkapkan 80 persen pengguna moda transportasi publik lebih memilih menggunakan ride-sharing dibandingkan taksi konvensional. Dunia ride-sharing Malaysia pun telah disokong oleh regulasi pemerintah.

Laporan Nikkei menyebut, Pemerintah Malaysia memperlakukan ride-sharing berbasis roda empat sebagaimana mereka memperlakukan taksi konvensional. Ada beberapa hal yang mesti ditaati atas kebijakan ini, semisal pengemudi wajib memiliki SIM bagi kendaraan publik, bukan pribadi. Mobil yang telah berumur lebih dari tiga tahun wajib diinspeksi untuk uji kelaikan. Aturan tersebut menjadikan ride-sharing berbasis mobil di Malaysia aman untuk beroperasi, tapi tidak untuk sepeda motor.

Baca juga artikel terkait GOJEK atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra
DarkLight