Menuju konten utama

Gencatan Senjata Akhiri Perang Sipil Kolombia

Kesepakatan itu, ia mengatakan, "bukan penyerahan pemberontakan, tapi produk dari dialog serius antara dua kekuatan dalam konflik selama lebih dari setengah abad, dengan tidak mengalahkan yang lain."

Gencatan Senjata Akhiri Perang Sipil Kolombia
Presiden Kolombia, Juan Manuel Santos. Foto/Shutterstock.

tirto.id - Pemerintah Kolombia dan kelompok gerilyawan FARC pada Kamis (23/6) menandatangani kesepakatan gencatan bersenjata bersejarah, membawa perang sipil setengah abad di negeri itu mendekati akhir definitif.

Presiden Kolombia Juan Manuel Santos dan komandan tertinggi FARC Timoleon "Timochenko" Jimenez memimpin upacara penandatanganan kesepakatan itu di Havana, Kuba, yang dihadiri para pejabat dunia, termasuk kepala-kepala negara Amerika Latin dan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

"Hari ini adalah hari bersejarah bagi Kolombia setelah lebih dari 50 tahun kematian dan konfrontasi," kata Santos. "Ini mewakili akhir dari FARC sebagai kelompok bersenjata."

Kesepakatan itu mengatur mekanisme pelucutan FARC dan transisinya menjadi partai politik atau gerakan, meski demikian proses pelucutan senjata tidak akan dimulai sampai kesepakatan perdamaian final ditandatangani.

"Saya tidak setuju, dan tidak akan pernah, dengan visi politik dan ekonomi mereka untuk negara ini, tapi apa yang kami akui hari ini adalah kemungkinan ketidaksepakatan dan melihat pada pandangan berlawanan tanpa perlu konfrontasi kekerasan," kata Santos.

"Sebagai kepala negara, saya akan membela hak mereka untuk...melanjutkan perjuangan politik mereka lewat sarana legal," katanya seperti dikutip kantor berita Xinhua.

Ia menambahkan, "itu adalah esensi demokrasi yang kami sambut" hari ini.

Jimenez, pemimpin FARC, menekankan kesepakatan itu bukan penyerahan tuntutan kelompok, tapi satu pengaturan yang dirundingkan.

Kesepakatan itu, ia mengatakan, "bukan penyerahan pemberontakan, tapi produk dari dialog serius antara dua kekuatan dalam konflik selama lebih dari setengah abad, dengan tidak mengalahkan yang lain."

Presiden Kuba Raul Castro memuji kesepakatan itu sebagai kemenangan Kolombia, dan menyatakan itu menegakkan konsep Amerika Latin sebagai tempat damai.

Kesepakatan itu terjadi setelah hampir empat tahun perundingan perdamaian di Havana, dan komitmen pemerintah Kolombia dan pemberontak untuk mengesampingkan pertempuran dan memilih cara damai, sarana demokratis untuk menyelesaikan sengketa mereka.

Pemimpin delegasi pemerintah Kolombia dalam pembicaraan itu, Humberto de la Calle, menandatangani kesepakatan mewakili pemerintah, sementara timpalannya dari FARC, Ivan Marquez, menandatanganinya atas nama kelompok pemberontak.

Kesepakatan itu juga ditandatangani oleh perwakilan Kuba dan Norwegia, Rodolfo Benitez dan Dag Nylander, yang negaranya menjadi penjamin perundingan damai, serta Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan Presiden Chile Michelle Bachelet, yang negaranya membantu pelaksanaan perundingan.

Benitez dan Nylander menyampaikan rincian kesepakatan menjelang penandatanganan, antara lain berkenaan dengan penciptaan mekanisme tripartit untuk memonitor penerapannya, pembentukan pemerintahan, serta peran FARC dan kelompok internasional dimana PBB dan Masyarakat Negara Amerika Latin dan Karibia (CELAC) akan berperan penting.

Sebagai bagian dari proses pelucutan senjata, yang akan membutuhkan waktu paling lama 180 hari, para pemberontak akan menyerahkan senjata mereka ke PBB, yang oleh kedua pihak disepakati akan digunakan untuk membangun tiga monumen.

"Pelucutan senjata adalah proses teknis, terlacak, dan dapat diverifikasi," kata Benitez.

Dalam pidatonya, Santos mencatat pemerintah Kolombia dalam 30 tahun terakhir terus berusaha namun gagal mencapai kesepakatan dengan FARC.

Selama upacara, Santos memberi Timochenko sebuah pena yang terbuat dari peluru kaliber besar, jenis yang digunakan pasukan pemerintah untuk melawan pemberontak, dengan ukiran kalimat: "Bullets wrote our past. Education, our future" (Peluru menulis masa lalu kita. Pendidikan, masa depan kita).

Sementara itu, di Bogota, warga menandai gencatan senjata dan akhir permusuhan dengan penuh warna, termasuk menempatkan karangan bunga untuk pemakaman di tengah Bolivar Square sebagai simbol akhir konflik dengan spanduk bertulisan "Goodbye to the war" (Selamat Tinggal Perang).

Koran-koran juga mengumumkan "Hari Terakhir Perang."

Menurut jaringan berita Amerika Latin, Telesur, perang sipil terpanjang Amerika Latin telah merenggut 220.000 nyawa sampai tahun 2012, menyebabkan 25.000 orang hilang dan 5,7 juta orang mengungsi.

Baca juga artikel terkait POLITIK

tirto.id - Politik
Sumber: Antara
Penulis: Yuliana Ratnasari
Editor: Yuliana Ratnasari