Gelap-Terang Sejarah Prabowo Subianto di Timor Timur

Infografik Prabowo Subianto
Prabowo Subianto. FOTO/AP
Oleh: Petrik Matanasi - 18 Juni 2019
Dibaca Normal 3 menit
Karier Prabowo sejak muda terbilang gemilang di Timor Timur. Namanya terangkat ketika Presiden Fretilin Nicolau Lobato terbunuh.
tirto.id - Lepas dari Akabri, Prabowo Subianto masuk ke satuan elite korps baret merah. Dia pun menjalani hidup sebagai serdadu, seperti yang pernah dijalani pamannya yang mati muda sebagai letnan pada 1946. Nama sang paman, Subianto, kemudian menjadi nama tengah Prabowo.

Di satuan baret merah, siapapun harus siap dikirim ke daerah konflik. Prabowo akhirnya kebagian tugas ke Timor Timur. Dalam Buku Putih Prabowo: Kesaksian Tragedi Mei 1998 (2000: 38) disebutkan Prabowo tiba di sana pertama kali pada Maret 1976 sebagai komandan peleton. Nyawanya pun bisa terancam kapan saja.

“Hei, kalau saya tertembak, mudah-mudahan di pagi hari. Sebab kalau tertembak setelah pukul dua siang, tidak ada helikopter yang bisa datang menolong,” kenang Prabowo seperti dicatat dalam buku putih itu.

Seingat Prabowo kala itu jumlah helikopter ABRI di sana tidak banyak dan belum tentu bisa menjemputnya di lokasi jika dia tertembak dalam cuaca buruk. Prabowo selamat dalam tugas pertamanya itu. Dia tidak mati muda dengan pangkat letnan seperti pamannya.

Membunuh Lobato, Berkawan dengan Hercules

Pada penugasan kedua tahun 1978, Letnan Prabowo sudah menjadi Komandan Kompi Nanggala 28. Menjelang akhir tahun, Letnan Prabowo memberi laporan kepada Mayor Yunus Yosfiah: sekutu lokal mereka melihat pasukan Fretilin berjumlah besar bergerak ke arah selatan. Laporan itu sampai juga ke Kolonel Sahala Rajagukguk. Sahala lantas memerintahkan Yunus Yosfiah untuk segera mengambil tindakan. Perintah itu akhirnya sampai ke Prabowo.

Bersama kompi Nanggala 28, Prabowo bergerak dan terlibat pertempuran dengan Fretilin. Pasukan lain, dari Batalion 744, disiagakan untuk mencegat rombongan Fretilin itu. Dalam pertempuran jarak dekat, Sersan Satu Jacobus Maradebo berhasil menembak orang penting di pihak lawan. Orang tersebut adalah Nicolau dos Reis Lobato (saat itu 37 tahun), Presiden Fretilin.

Laporan pun sampai ke Jakarta, ke Panglima ABRI Jenderal M. Jusuf. Dia lalu melapor ke presiden dan minta izin untuk mengecek langsung ke Timor Timur.

“Jangan kau apa-apakan dulu jenasahnya sampai aku melihat sendiri,” perintah Jusuf kepada Brigadir Jenderal Dading Kalbuadi lewat telepon, seperti dikisahkan Atmadji Sumarkidjo dalam Jenderal M Jusuf: Panglima Para Prajurit (2006: 370-371).

Hari itu juga Jusuf terbang ke Dili dan melihat langsung korban buruan ABRI.

Menurut Ken Conboy dalam Kopassus: Inside Indonesia's Special Forces (2003: 290), keterlibatan Prabowo dalam pasukan yang membunuh Nicolau Lobato membuat atasannya terkesan pada pemuda ambisius itu. Prabowo tentu jadi lebih bersemangat dan merasa tidak salah memilih karier untuk dirinya sendiri.

Timor Timur tidak hanya jadi masa penting dalam karier Prabowo, tapi juga menjadi awal persahabatannya dengan pemuda asal Ainaro—yang kala itu menjadi Tenaga Bantuan Operasi (TBO)—bernama Rosario de Marshall alias Hercules. Mereka bersahabat sampai di Jakarta. Hercules jadi kepala preman dan Prabowo jadi komandan jenderal pasukan elite baret merah.


Menuduh Benny Moerdani

Setelah dianggap berhasil di Timor Timur, Prabowo, bersama Luhut Binsar Panjaitan, dikirim ke Jerman Barat untuk belajar di GSG9 (polisi elite anti-teror). Ketika mereka berdua belajar di Jerman, terjadi pembajakan pesawat Woyla pada 1981. Sesudah mereka pulang, Satuan Penanggulan Teror 81 (Gultor) kemudian dibentuk dengan komandan Mayor Luhut Panjaitan dan wakil komandan Kapten Prabowo Subianto.

Ketika berpangkat kapten, seperti diakui Sintong Panjaitan dalam biografinya, Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando (2009: 450-453), Prabowo pernah berusaha menggerakkan pasukan pada Maret 1983 untuk menculik Jenderal Benny Moerdani yang hendak dijadikan Panglima ABRI. Saat itu dia menuduh Benny hendak mengkudeta Presiden Soeharto. Prabowo tidak dipecat setelah peristiwa itu.

Setelah menikah dengan Siti Hediati Haryadi alias Titiek Soeharto, Prabowo dikirim lagi ke Timor Timur pada 8 Mei 1983. Seperti dicatat Jusuf Wanandi dalam Menyibak Tabir Orde Baru (2014: 328), Soeharto menitipkan menantunya itu kepada Benny Moerdani untuk “dijaga.”

Benny mengamati dari jauh tindak-tanduk Prabowo di Timor Timur. Dia tahu Prabowo mudah marah dan kerap memukul anak buahnya. Sehingga Panglima ABRI itu menilai Prabowo bisa terancam bahaya karena sikapnya. Maka Prabowo pun ditarik dari Timor Timur.

Greg Burton dalam Biografi Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurahman Wahid (2002: 278) mencatat, "[...] di sana ia [Prabowo] dianggap sebagian orang sebagai ‘orang yang hampir menjadi psikopat’ dan karena sulit dikendalikan dia ditarik dari Timor Timur."

Benny berusaha berbaik hati kepada Prabowo. Dia “menghukum” Prabowo dengan tidak menempatkannya di korps baret merah dan menjadikannya komandan batalion Kostrad di Jawa Barat, Batalion Infanteri Lintas Udara 328. Kata Jusuf Wanandi (hlm. 328), Prabowo tidak menyukai hal itu dan tentu saja makin membenci Benny Moerdani.

Pada 1985, seperti dicatat Kivlan Zen dalam Konflik dan Integrasi TNI AD (2004: 71 & 74), Prabowo mengumpulkan beberapa kawan, yang di antaranya senior-seniornya. Tiga tahun kemudian Prabowo dan kawan-kawan bersiap jika Benny hendak kudeta. Prabowo mempersiapkan 1 batalion Kopassus (Batalion Infanteri Linud 328, Batalion Infanteri 303, Batalion Infanteri 321, dan Batalion Infanteri 315). Semua batalion yang dipimpin kawan-kawannya itu dalam hitungan jam bisa menuju Jakarta.

Setelah Benny tidak lagi di ABRI, barulah Prabowo bisa makin leluasa. Bintangnya sebagai jenderal bersinar ketika bapak mertuanya masih berkuasa. Dia tercatat sebagai jenderal yang cepat naik bintang dalam hitungan tidak lebih dari empat tahun.


Kesaksian Sang Gubernur

Sebelum jadi Panglima Kostrad, Prabowo kerap ke Timor Timur. Tapi tidak semua orang yang bertugas di Timor Timur suka pada Prabowo. Gubernur Mário Viegas Carrascalão salah satunya.

Carrascalão pernah menuduh Prabowo, yang saat itu berpangkat mayor, telah membayar sejumlah orang Timor untuk menyergap dan membunuh anggota ABRI dari batalion lain yang berpatroli. Kisah ini dituturkan Carrascalão dalam Timor Antes do Futuro: Autobiografia (hlm. 321-322) dan diceritakan kembali oleh Made Supriatma lewat artikel "Prabowo Subianto di Mata Seorang Gubernur Daerah Pendudukan" di situs Indoprogress.

Setelah merampas senjata dan pasukan itu dinyatakan hilang, mereka melapor ke Batalion 328 pimpinan Prabowo. Setelahnya, bersama orang-orang Timor itu, batalion Prabowo masuk hutan, melihat senjata rampasan, dan kemudian menembaki orang-orang Timor bayaran tersebut.

Begitulah cerita miring soal Prabowo di Timor Timur dari Carrascalão, Gubernur Timor Timur (1983-1992) yang menjabat dalam suasana genting pendudukan Indonesia.

Baca juga artikel terkait PRABOWO SUBIANTO atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight