Wabah-Wabah di Hindia Belanda

Gara-Gara Sanitasi Buruk, Wabah Kolera Melanda Hindia Belanda

Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 21 Maret 2020
Dibaca Normal 6 menit
Pada pertengahan abad ke-19 kolera menjangkiti kota-kota dengan sanitasi dan kebersihan yang buruk. Berhasil diberantas dengan deteksi dini, pola hidup sehat, dan vaksinasi.
tirto.id - Kemajuan teknologi tranportasi di abad ke-19 membawa dampak semakin cepatnya pergerakan manusia dan distribusi ekonomi. Tapi selalu ada dua sisi mata uang. Bukan hanya manusia dan barang yang kian cepat bergerak, tapi juga kuman penyakit. Sejarawan Susan Blackburn menyebut salah satu contohnya: pecahnya epidemi kolera di Hindia Belanda pada 1820.

Kolera sebenarnya sudah dikenal sejak zaman kuno. Encyclopedia Britannica menyebut bahwa penyakit yang diduga sebagai kolera pernah diidentifikasi dokter Yunani Kuno, Hippocrates dan Galen. Asal-usulnya diperkirakan dari dataran di sekitar delta sungai Gangga dan Brahmaputra di India.

Meski begitu, sebelum abad ke-19, sangat sedikit catatan tentang penyakit ini. Sebagian besar pengetahuan tentang penyakit ini nisbi baru terkuak pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Di saat yang sama kolera telah mengglobal dan jadi epidemi di mana-mana.

Tidak heran jika kemudian masyarakat Hindia Belanda, terutama Batavia, tergagap menghadapi wabah asing itu. Selama beberapa abad orang Hindia lebih mengenal malaria atau cacar sebagai momok mematikan. Namun begitu, sejarawan Anthony Reid meragukan pandangan bahwa kolera baru merambah Hindia Belanda pada abad ke-19.

“Kolera berat dalam bentuk asiatica atau morbus biasanya dipandang belum sampai ke Asia Tenggara sebelum pandemik parah tahun 1820-1822. Alasan-alasan bagi pandangan ini, sebagaimana halnya dengan pandangan-pandangan yang sama tentang wabah pes sebelum tahun 1911, tidak meyakinkan,” tulis Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga jilid I (2014: 70).

Sanggahan Anthony Reid cukup beralasan jika mengingat kematian pendiri Batavia, Jan Pieterszoon Coen. Pada September 1629 Coen dilaporkan meninggal usai menderita penyakit tropis yang diduga adalah kolera. Kemungkinan kolera memang telah ada di Hindia sebelum abad ke-19. Namun pola pemukiman terpencar dan jumlah penduduk yang belum sepadat abad ke-19 membuatnya lebih sulit mewabah.

Sepanjang abad ke-19 hingga awal abad ke-20, pandemi kolera setidaknya meledak dalam enam gelombang. Gelombang pertama bermula di India sekira 1817. Wabah lalu menyebar ke negeri-negeri yang punya hubungan dagang dengan India melalui Bengal. Burma dan Sri Lanka adalah yang pertama kali terpukul. Tiga tahun kemudian epidemi dilaporkan telah menggigit Siam (Thailand) dan Hindia Belanda. Wabah juga dilaporkan berjangkit hingga ke Turki dan Afrika utara.

Gelombang kedua diperkirakan meledak lagi pada 1829. Kali ini episentrumnya telah berpindah ke Eropa. Pada awal dekade 1830-an kuman kolera telah merambah benua Amerika melalui jalur dagang.

“Pandemi ketiga adalah yang dianggap paling mematikan. Diperkirakan meletus pada 1852 di India dan menyebar cepat melalui Persia (Iran) ke Eropa, Amerika Serikat, dan kemudian seluruh dunia,” tulis Britannica.

Gelombang pandemi keempat (1863), kelima (1881), dan keenam (1899-1923) tidak separah tiga gelombang sebelumnya. Meski begitu, di tiap negara yang terserang kolera tetap memakan korban jiwa hingga ratusan ribu orang. Selepas itu, berkat penemuan vaksin dan semakin gencarnya kampanye pola hidup sehat, citra kolera sebagai penyakit mematikan perlahan pudar.


Epidemi

Wabah kolera menghantam Hindia Belanda pada pandemi gelombang pertama. Pada Desember 1819 pemerintah Hindia Belanda menerima peringatan kematian massal yang terjadi di Mauritius, Penang, dan Malaka akibat penyakit kolera. Saat itu diketahui bahwa daerah-daerah itu, dan tentu saja Hindia Belanda, punya hubungan dagang dengan Bengal.

“Kolera mulai masuk ke wilayah Jawa pada tahun 1819 akibat hubungan dagang antara India dan Jawa melalui Malaka. Daerah yang pertama terindikasi penyakit kolera adalah daerah di sepanjang pantai utara Jawa, mulai dari Batavia, Semarang, hingga Surabaya,” tulis Usman Manor dalam skripsi di Program Studi Ilmu Sejarah FIB UI bertajuk Wabah Kolera di Batavia 1901-1927 (2015: 33).

Di Batavia penyakit ini mudah mewabah karena lingkungan kota yang kotor dan sanitasi yang buruk. Di awal abad ke-19 itu kebanyakan rumah di Batavia tak memiliki kakus atau kamar mandi. Kualitas air tanah dan kanal di Batavia juga sudah menurun sejak seabad sebelumnya. Ini karena segala limbah dan kotoran yang dihasilkan manusia Batavia dibuang begitu saja ke kanal-kanal. Kondisi kanal juga makin rusak gara-gara gelontoran limbah penggilingan tebu hingga penyulingan arak dari daerah selatan kota.

Padahal kondisi lingkungan yang buruk dan permukiman yang semakin padat adalah lahan subur bagi berkembangnya kuman penyakit kolera. Lain itu, keterbatasan pengetahuan terkait muasal penyakit dan cara terbaik menanganinya membuat kolera makin sulit dibendung. Kuman kolera, Vibrio cholerae, baru berhasil diidentifikasi pada 1883. Bahkan, sampai setidaknya 1860-an, tenaga kesehatan masih berdebat apakah kolera itu penyakit menular atau bukan.

“Sejak awal abad ke-19 dan seterusnya, kaum medis profesional berjuang mencegah pecahnya wabah kolera, tapi meraba-raba dalam gelap, mencari-cari penyebab penyakit mematikan ini,” tulis Patrick Bek dalam Gelanggang Riset Kedokteran di Bumi Indonesia: Jurnal Kedokteran Hindia-Belanda 1852-1942 (2019: 148).

Kondisi itu membuat korban kolera selama masa epidemi membengkak. Sepanjang 1821 sekira 125.000 orang di Jawa tewas gara-gara kolera. Tak hanya berjangkit di permukiman pribumi dan Cina, kolera juga berjangkit di permukiman orang Eropa yang nisbi lebih baik kondisinya. Statistik itu, dan kenyataan bahwa belum ada obat atau vaksin untuk kolera, membuat komunitas Eropa larut dalam kepanikan.

Runyamnya kondisi saat itu bisa dibaca dari catatan Roorda van Eysinga yang dikutip Susan Blackburn dalam Jakarta: Sejarah 400 Tahun (2011). Di saat epidemi pecah, ada 160 orang mati dalam satu hari. Banyaknya pasien kolera di Batavia bahkan sampai membuat tenaga medis yang jumlahnya tak seberapa saat itu kewalahan.

“Saya beruntung tidak terjangkit dan melihat banyak pasien saya yang kembali sehat. Namun saya kelelahan hingga hampir tak dapat terus bekerja. [...] Kondisi menyedihkan mereka membuat perawatan ini menjadi pekerjaan yang tak tertahankan dan dapat dikatakan sangat menyengsarakan,” catat van Eysinga sebagaimana dikutip Blackburn (hlm. 101).

Kolera kemudian jadi wabah musiman karena lambannya penanganan. Penyakit ini dengan cepat melejit jadi urutan ketiga penyakit yang paling fatal setelah cacar dan tifus dalam kurun 1800-1880. Dan lagi, epidemi 1820-1821 itu baru babak awal dari beberapa epidemi kolera yang mengguncang Hindia Belanda hingga paruh pertama abad ke-20.

Seturut penelusuran Usman, wabah kolera yang besar terjadi lagi pada 1881-1882, 1889, 1892, 1897, 1901-1902, dan 1909-1911. Dari serentetan epidemi itu yang paling parah adalah epidemi 1909-1911. Bermula dari Jambi, wabah lalu menyebar ke daerah lain di Sumatra, Jawa, dan Madura. Dalam tahun 1910 saja diperkirakan 60.000 jiwa tewas di Jawa dan Madura.

“Hal ini membuat tahun 1910 dan 1911 dianggap sebagai tahun kolera,” tulis Usman (hlm. 40).


Penyakit Asing

Kolera adalah sebutan dari orang Inggris untuk penyakit ini. Orang Belanda menyebut penyakit ini bort. Sementara pribumi mengenalnya sebagai penyakit muntaber—muntah dan berak. Sebagaimana sebutannya penyakit ini ditandai dengan serangan demam tinggi, kram perut, muntah, dan diare akut. Dua gejala terakhir membuat penderitanya dehidrasi berat dan berakibat fatal jika tak segera diobati.

“Penyakit ini dapat membuat penderita menjadi kolaps dan gagal ginjal. Apabila tidak segera mendapat pertolongan, penderita penyakit kolera akan mengalami kematian dalam jangka waktu 12 jam setelah terkena penyakit ini,” tulis Usman (hlm. 36).

Orang Batavia dan tenaga medis kolonial agaknya sudah menduga bahwa lingkungan kota yang tak sehat memicu wabah kolera mengganas. Tapi mereka belum tahu sebab yang sebenarnya dan bagaimana cara penularannya sampai 1883. Karena itu pemerintah kolonial kesulitan menentukan langkah pengobatan dan eradikasi yang tepat selama beberapa dasawarsa. Karena itulah tenaga medis kolonial saat itu menyebutnya “perang melawan musuh yang tidak terlihat”.

Karena keterbatasan peralatan, rumah sakit zaman itu tidak bisa melakukan investigasi terhadap jenazah atau spesimen feses penderita kolera. Waktu mereka juga habis untuk masalah wabah lain yang juga sama gawatnya seperti cacar, malaria, beri-beri, atau tifus.

“Pada waktu itu, kolera dianggap menular lewat udara, sehingga peraturan mewajibkan bahwa feses dan jasad kolera harus segera didisinfektasi dengan cairan sublimat dan dikubur di lubang dengan kalsium klorida. Hasilnya, Stratz [peneliti Lembaga Patologi] mengklaim bahwa materi penelitian yang berharga hilang dan kaum medis profesional harus puas dengan ‘kemungkinan lapangan samar-samar’ bila harus bicara tentang efek langkah pencegahan,” tulis Bek (hlm. 151).

Jika tenaga medis kolonial kesulitan mengambil langkah eradikasi yang tepat, warga biasa di kampung-kampung lebih kacau lagi. Sebagaimana disebut sejarawan Susan Blackburn, masing-masing komunitas punya cara-cara tersendiri menghadapi penyakit asing ini. Warga muslim, misalnya, percaya penyakit ini bisa disembuhkan oleh “air suci” yang sudah ditiupi doa oleh kiai. Sebagian lainnya mengadakan ritual massal pengusiran pageblug.

“Sementara itu, di kalangan orang Cina muncul kebiasaan memanggil barongsai untuk berkeliling Pecinan jika terdapat ancaman wabah kolera karena mereka percaya bahwa setan penyebar kolera takut pada barongsai,” tulis Blackburn (hlm. 102).



Infografik HL Indept Sejarah Wabah
Infografik HL Indept Sejarah Wabah Kolera Era Kolonial. tirto.id/Lugas

Eradikasi

Langkah eradikasi kolera mengalami kemajuan saat bakteriolog Jerman berhasil mengidentifikasi kuman Vibrio cholerae. Bakteri berbentuk koma itu diketahui mempunyai flagel sehingga aktif bergerak. Ia biasa dijumpai pada tinja atau muntahan penderita kolera. Bakteri ini seringnya mencemari air sumur dan kanal Batavia yang kotor atau terbawa oleh lalat.

Maka segera ketahuan bahwa kebiasaan mandi-cuci-kakus di sungai yang terkontaminasi atau meminum air sumur yang tak dimasak lebih dulu ikut andil bagi cepatnya penularan penyakit ini. Statistik juga menunjukkan bahwa wabah kolera umumnya meledak pada musim kemarau saat air bersih lebih sulit didapat.

“Penyakit mematikan ini mewabah pada musim panas, terutama saat air sungai menjadi dangkal sehingga masyarakat mengalami kesulitan dalam mendapatkan air bersih. Periode mewabahnya penyakit dimulai ketika perubahan musim pada bulan Juli-Agustus dan mencapai puncaknya pada bulan September-Oktober hingga menurun pada bulan Desember,” tulis Usman (hlm. 42).

Setelah pengetahuan terhadap penyakit ini cukup lengkap di akhir abad ke-19, usaha eradikasinya pun jadi lebih terarah. Dengan pemahaman yang lebih memadai, menurut sejarawan Patrick Bek, pemerintah kolonial pada akhirnya berhasil menekan laju penyebaran kolera pada dekade 1910-an.

Pemerintah kolonial lantas menggencarkan usaha penerangan tentang kesadaran hidup bersih di antara warga kota. Regulasi higiene diperkuat dan langkah disinfeksi di daerah-daerah langganan kolera pun dilakukan. Rumah sakit sipil dan militer juga selalu menyiapkan bangsal khusus untuk merawat pasien kolera agar tidak menular ke pasien lain.

Langkah taktis lain yang diambil pemerintah kolonial adalah meningkatkan kemampuan deteksi dini dengan membentuk Jawatan Intelijen Kolera pada 1909. Sebelumnya, sistem penanganan kolera berjalan jika mulai muncul laporan kasus kolera dari rumah sakit. Cara ini dianggap tak lagi bisa diandalkan karena tak bisa menyentuh kasus-kasus tak terlapor yang biasa terjadi di kampung-kampung.


Maka itu Jawatan Intelijen Kolera ini ditugaskan untuk blusukan memantau langsung dari kampung ke kampung. Kegiatan ini akhirnya menguak adanya “kasus sporadis” yang terjadi dalam periode antara dua epidemi yang biasanya tak tercatat oleh rumah sakit. Dengan begitu wabah bisa ditekan sebelum meluas.

“Temuan jawatan ini menyoroti area-area yang terkena wabah kolera paling parah dan paling sering. Jawatan kesehatan memetakan titik pusat wabah terakhir, yang disebut ‘kampung kolera’, yaitu di bantaran Sungai Ciliwung dan Kali Krukut, di mana kuli-kuli Cina dan pribumi tinggal,” tulis Bek (hlm. 152).

Kebijakan lain yang juga cukup signifikan hasilnya adalah vaksinasi massal. Eksperimen pertama pembuatan vaksin kolera dilakukan pada 1910. Direktur Institut Pasteur A.H. Nijland menyebut data vaksinasi pada 1912 yang hasilnya cukup menggembirakan. Angka kematian relatif orang yang divaksin nol persen, sementara yang tidak divaksin adalah 53,8 persen.

Menilik hasil itu, ketika mendapat laporan munculnya beberapa kasus kolera pada September 1914 di Batavia, pemerintah segera melakukan vaksinasi massal. Dokter Eropa, dokter Jawa, juru rawat, hingga mahasiswa STOVIA diterjunkan dengan target memvaksin sepuluh kampung sehari. Keberhasilan program vaksinasi ini ditandai dengan semakin menurunnya kasus kolera dari tahun ke tahun.

“Sejak 1919 dan seterusnya, Batavia tidak lagi diserang wabah kolera musiman yang berlangsung cepat dan mematikan, walaupun pada 1930-an terjadi beberapa wabah di daerah-daerah terpencil di Hindia,” tulis Bek (hlm. 157).

Baca juga artikel terkait WABAH atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
Artikel Lanjutan
DarkLight